CEO, Gadis Bersyarat

CEO, Gadis Bersyarat
Seperti anak kecil.


__ADS_3

Carcas semakin menantang Keanu, menatap lekat pada wajah pria berdarah Prancis yang memang jelas adalah ayah kandungnya keturunan bangsawan Keluarga Alister.


"Hubby, please," Guen menahan Carcas agar tidak memulai peperangan sepagi ini.


Keanu mengalihkan pandangannya pada Guen, "sudah berani kau menantangku. Ingat Cars, kau bisa seberani ini karena ada Guenhumura bersama mu. Jika tidak, mungkin kau akan menjadi abu diluar sana."


Tawa Keanu semakin menyulut emosi Carcas. Guen berdiri segera memeluk pria bertubuh tegap yang berada disampingnya.


"Pa, kami akan melunasi hutang butikku. Setelah ini, kami akan pergi meninggalkan Loumarin, aku mohon hentikan pertikaian kalian. Aku mohon," Guen menatap wajah Keanu dengan wajah memerah.


Keanu mengalihkan pandangannya, "silahkan pergi dari kediamanku. Aku tidak ingin melihat keberadaan dia disini."


Guen mengangguk, "kita pergi hubby, please jangan saling menyakiti lagi. Aku mohon."


Carcas mengusap wajahnya dengan sangat kasar, menarik nafas dalam, mengangguk menatap lekat wajah cantik istrinya, "kita pergi."


Carcas menarik tangan Guen, meninggalkan kediaman Keanu. Tapi Keanu masih ingin menyakiti hati putranya demi mendapatkan pengakuan dari putra pewaris kekayaan Keluarga Alister tentang Elizabeth.


"Ingat Cars, kau adalah anak dari Elizabeth, bukan dari Gerry. Kau tidak bisa melupakan asal usul dari rahim wanita mana kau dilahirkan," teriak Keanu sangat menyayat hati seorang anak.


Carcas melepaskan tangannya dari Guen, berbalik arah, memberi tendangan sekuat tenaga pada dada Keanu.


Bhuuuug,


Tendangan anak muda dengan kaki kanannya, tepat mendarat didada Keanu.


Braaak,


Tubuh Keanu tumbang seketika, menerima tendangan dari putra satu-satunya.


"Jaga mulutmu, jika kau masih ingin selamat dihadapanku," Carcas menunjuk kearah wajah Keanu dengan telunjuk kirinya, menegaskan bahwa dia tidak ingin mendengar semua tentang Elisabeth.


Guen menarik tubuh Carcas agar tidak melanjutkan pertengkaran antara ayah dan anak itu, "Carcas, aku mohon, hentikan. Dia Papamu. Kita pergi yah?"


Carcas masih menatap benci kearah Keanu, "jangan pernah menyanjung wanita rendah itu dihadapanku. Bagiku, hanya Gerry Alister menjadi ibu kandungku. Kau mengerti Tuan!"


Keanu meringis kesakitan, menahan sakitnya tendangan Carcas tepat didadanya. Beberapa pelayan dan pengawal, membantu majikan mereka untuk bangkit dari tempat dia terjatuh.

__ADS_1


"Tuan muda, silahkan pergi dari kediaman Tuan besar. Jangan dilanjutkan, ini akan berdampak buruk pada kesehatan Tuan besar," pengawal pribadi Keanu mendekati Carcas.


Carcas tersenyum smirk, "kau jaga pria tua tidak tahu malu itu."


Tangan Carcas meraih jemari Guen, meninggalkan kediaman Alister, melupakan Gerry masih berada didalam kamar.


Carcas bergegas memasuki mobil, membawa Guen bersamanya, menuju Bank Alister. Emosi masih menyelimuti relung jiwanya, sangat menyayat hati dan perasaan. Tidak menyangka dia akan menyakiti Keanu dengan sesadis ini selama menjadi anak yang selalu dibanggakan sebagai pewaris tahta.


"Aaaaaaaagh," Carcas memukul keras stir kemudi, merasa frustasi.


Dia menghentikan kendaraannya di pinggir jalan saat keluar dari gerbang Kediaman keluarga Alister.


"Damn!"


Carcas merutuki diri sendiri, menangis sejadi-jadinya, tanpa mau mendengar suara Guen sejak tadi membujuknya.


Guen hanya menatap punggung Carcas yang tampak semakin rapuh. Beberapa kali dia mengusap lembut punggung suaminya, agar tangis itu terhenti, tapi Carcas masih terus maratapi perbuatannya.


"Bagaimana jika Papa mati, Guen. Aku tidak bisa membendung emosiku. Aku tidak terima dengan kenyataan ini. Elizabeth bukan ibuku. Gerry yang merawatku, bantu aku Guen. Bantu aku!" tangisnya semakin keras beralih kepelukan istri tercinta.


Guen menyambut kepala Carcas sudah berada didadanya, "tenanglah, semua akan baik-baik saja. Ibu Elizabeth adalah ibu asuh yang baik, Mama juga baik, Cars. Jangan menolak takdir, ini adalah kenyataan yang harus kita terima. Aku tahu perasaanmu saat ini. Tenanglah, kita fokus pada tujuan kita ke Loumarin, jangan terlalu berlarut Cars, aku mohon. Aku butuh kamu."


"Apa kamu bisa menyetir, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ini. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku," Carcas merenggangkan pelukannya.


Guen mengangguk, Carcas bergegas keluar dari mobil, sementara Guen pindah ke stir kemudi.


"Kita jalan sekarang?" Guen masih menatap kearah Carcas.


Carcas kembali memeluk Guen, "kita ke butik, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu disana. Kepalaku terasa akan meledak. Aku sangat merindukanmu."


Guen mengangguk setuju, "lepaskan pelukanmu, karena dekapanmu membuat nafasku semakin sesak."


Carcas mengecup puncak kepala istrinya, "jalanlah, kita mampir ketoko roti Citra, aku sangat merindukan susu coklat disana."


"Hmmmm."


Guen melajukan kecepatan mobil menuju toko roti milik Citra sesuai keinginan Carcas.

__ADS_1


Carcas tidur disamping istrinya, menikmati bahu Guen tengah fokus dengan stir kemudi.


"Bisa nggak kamu duduk dengan baik, jangan menggangguku," Guen tersenyum melirik kearah suaminya.


Carcas tertawa merangkul bahu Guen, "ternyata kamu sangat pintar, semua bisa. Kamu sangat mandiri dan aku semakin mencintaimu."


Guen menghentikan kendaraannya, "bisakah kamu jangan terus menggodaku, atau aku akan menurunkanmu disini."


"Jangan begitu sayang, aku benar-benar sangat mencintaimu," Carcas semakin mendekapnya.


"Kenapa kamu seperti anak kecil, Cars. Aku risih jika kamu seperti ini padaku," Guen semakin kesal.


Carcas menatap lekat wajah cantik alami Guen, "baik, aku akan diam, tidak menggangumu lagi selama mengemudi, tapi jika tiba dibutik, aku tidak ingin diganggu dengan kehadiran dua sahabatmu."


Guen semakin menaikkan kedua alisnya, merasa heran, "terserahlah."


Dia kembali melajukan kecepatannya, menuju toko roti milik Citra. Dikepalanya saat ini hanya ada perasaan kasihan pada Carcas yang telah menemani hari-harinya selama enam bulan pernikahan mereka. Begitu banyak cobaan yang dihadapi, hingga keadaan benar benar merubah segalanya.


Gue memarkirkan mobil milik William di depan toko roti Citra, terlihat wanita tinggi semampai itu tengah menikmati secangkir susu coklat bersama Samuel.


Citra tersenyum sumringah saat melihat Guen dan Carcas turun dari mobil, "hai beib, apa kabar, aku sangat merindukanmu. Padahal kita baru beberapa hari tidak bertemu. Kapan kalian tiba di Loumarin?"


Wanita berdarah Prancis itu membawa Guen masuk ketoko roti miliknya. Meminta pelayan toko menghilangkan beberapa makanan untuk Guen dan Carcas.


"Kapan kalian tiba di Loumarin?" Citra menatap wajah Carcas terlihat memar.


"Apa kau habis ribut dengan seseorang, Cars?" Citra semakin penasaran menatap Guen penuh selidik.


Guen menggeleng, enggan untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi, karena menurutnya semua adalah aib keluarga yang harus ditutup rapat.


"Tidak usah dibahas, karena Carcas butuh istirahat. Kami akan kembali ke butik. Mungkin nanti malam kita akan bertemu, karena Carcas masih belum tenang," Guen menjelaskan dengan sedikit sungkan.


Samuel dan Citra saling tatap, "baik, aku tunggu nanti malam kalian di hotel. Kita makan malam di restoran. Aku akan memesan beberapa makanan terlezat yang ada di Loumarin. Apa kalian setuju?"


Guen mengangguk setuju, tidak ingin menolak tawaran sahabat yang sudah membantunya, untuk melunasi hutang butik di Loumarin.


Carcas hanya diam, enggan menjawab, dia enggan berbasa-basi saat ini.

__ADS_1


______________


__ADS_2