CEO, Gadis Bersyarat

CEO, Gadis Bersyarat
Berpisah...


__ADS_3

Apartemen milik Carcas tampak sepi, tanpa ada siapapun disana. Suasana hangat yang pernah terasa kini tampak dingin sedingin cuaca Loumarin saat ini. Hari menunjukkan pukul 19.30 waktu setempat.


Pria oriental itu masih enggan beranjak dari ranjang kingsize, dikepalanya masih berkecamuk tentang pertikaian hari ini.


"Aku akan berpisah dari Guenhumura, aku tidak ingin memiliki istri seperti dia, benar benar memalukan. Aku akan menagih hutang pada wanita miskin itu. Tidak tahu diri, berani sekali dia merahasiakan semua ini dari aku. Apalagi selingkuhan Keanu adalah ibu angkatnya, berarti dari awal dia mengetahui semua," bisik Carcas menggeram.


Tok tok tok,


Pelayan mengetuk pintu kamar Carcas dengan sangat hati hati, "Tuan muda, makan malam sudah selesai," panggilnya dari balik pintu.


Carcas bergegas membuka pintu, menatap lekat pelayan dapur, "buatkan saya pasta," perintahnya.


"Sudah Tuan," tunduk pelayan.


Mata Carcas masih berkeliaran mencari keberadaan Guen istrinya, tapi bibirnya masih enggan untuk bertanya pada pelayan.


Pelayan yang mengetahui majikannya mencari keberadaan istrinya, memberitahu sebelum Carcas bertanya.


"Nyonya Guenhumura sudah kembali sesuai perintah Tuan," ucap pelayan menunduk hormat.


"Hmmm," Carcas tidak bergeming.


"Pergi juga kau kan? dasar wanita rendah! kau pikir kali ini aku akan mencarimu? mimpi kau Guen, aku tidak akan pernah mengejarnya lagi, justru aku akan menghancurkan butikmu," batin Carcas tersenyum smirk.


Carcas menyantap makanan dengan sangat lahap, perut yang sejak pagi tidak terisi kini terasa penuh, sesekali matanya menatap masakan Jepang buatan Guen tadi pagi, sushi dan sashimi.

__ADS_1


"Hmmm, aku tidak akan menyentuhnya," batin Carcas berlalu meninggalkan meja makan.


Jika ditanya emosi Carcas saat ini sungguh diluar dugaan para pelayan.


"Kenapa mesti Guen yang harus menjadi korban? kenapa tidak Keanu dan Nyonya Elizabeth yang harus menderita? bukankah mereka baru menikah dan harus menghadapi semua permasalahan ini, sangat egois Tuan muda, bagaimana jika Nyonya Guen hamil? bagaimana jika Nyonya Guen pergi dari kehidupan Tuan? apakah dia akan tambah arogan dan tidak akan ada kehangatan seperti beberapa bulan ini?" batin pelayan saat membersihkan piring makan yang ditinggalkan oleh Carcas.


"Bu, tolong buatkan aku kopi tanpa gula," perintah Carcas dengan suara beratnya.


"Baik Tuan," tunduk pelayan.


Berpisah, hanya itu yang ada dikepala Carson Carcas Alister.


.


Disudut kota yang lain Guen masih berada didalam kereta menuju Prancis. Segala sesuatu telah dipersiapkan oleh William, dari sopir pribadi yang akan menjemput Guen di stasiun hingga menyediakan hotel mewah untuk wanita cerdas yang memiliki tubuh mungil itu.


"Nyonya sebentar lagi kita akan berhenti di Paris, apa kau akan menggunakan taksi?" tanya seorang marsinis kepada Guen.


Tentu sapaan dari marsinis memecah lamunan Guen, "ooogh tidak, saya bisa sendiri," senyumnya ramah.


Marsinis kereta meninggalkan Guen sendiri, kembali menikmati masa terburuknya.


"Apakah pernikahan serumit ini? kenapa pasangan yang tidak bisa bertutur kata lembut sangat menyakitkan? apa aku harus berpisah darinya? apa aku mampu berpisah saat hati sudah memiliki perasaan yang berbeda selama pernikahan ini," batin Guen mengusap kasar wajahnya dengan perasaan frustasi.


"Ooogh Carcas, begitu buruknya pikiranmu pada ku, sehingga sulit bagimu untuk menerima kenyataan bahwa kau bukan seorang bangsawan seperti bayangan mu," tambah Guen semakin berkecamuk.

__ADS_1


Ada perasaan hampa seketika kosong didalam lubuk hati paling dalam bahkan enggan berucap kata untuk kembali.


Cinta biasa datang dan pergi, tapi kelukaan yang diciptakan oleh Carcas sangat menyayat hati Guenhumura selama pernikahan mereka.


Hanya berpisah yang ada dikepala Guen dan Carcas saat ini, karena perlakuan kasar yang sangat mengiris bahkan mampu menyakitkan secara fisik.


Guen turun dari kereta mencari orang yang bernama Nanta, orang kepercayaan William yang menjemput wanita oriental itu di stasiun.


Suasana stasiun masih terlihat ramai, mata Guen tertuju pada nama Guenhumura tertulis di sebuah plang.


Berdiri seorang pria bule tampan, menggunakan switer dongker berkerah dipadu celana jeans biru.


"Tuan Nanta?" sapa Guen ramah.


"Nona Guenhumura?" Nanta balik bertanya.


Guen tersenyum lega, mengangguk menyambut tangan Nanta dengan sangat ramah.


"Saya pikir anda sudah berumur bahkan wanita paruh baya, ternyata anda masih kecil, tampak seperti anak SMA," kekeh Nanta membawa Guen bersamanya menuju parkiran mobil.


Guen hanya tersenyum tipis, mengikuti langkah Nanta, tanpa ingin berbasa basi lebih lama. Saat ini yang dia butuhkan hanya tidur untuk melupakan semua kejadian hari itu.


Sabar yah Guenhumura,🤧


Tobe continue...

__ADS_1


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah.❤️


__ADS_2