
Cuaca dingin mendekati -5 derajat celcius di kota Loumarin, jam dinding menunjukkan pukul 03.00 waktu setempat. Guen menggeliatkan tubuhnya menatap ke arah ranjang yang sudah di miliki Carcas dengan kaki melilit diatas selimut.
Guen menutup laptop, merapikan semua berkas, meneguk segelas air putih. Entahlah, pikirannya saat ini hanya ingin terlepas dari hutang, tanpa mau memikirkan masalah hati. Perlahan dia menggeser kaki Carcas yang menguasai ranjang kingsize milik Guen, perlahan dia meringkuk menarik selimut tebal tidur membelakangi tubuh suaminya.
Carcas yang tersadar dengan gerakan tangan Guen, mendekap tubuh mungil itu dengan sangat lembut. Lilitan tangan kekar yang sangat Guen rindukan sangat menenangkan perasaannya. Ntahlah, kebodohan apa yang ada di kepalanya saat ini.
"Maafkan aku Guen," bisiknya.
Guen menahan tangisnya, tak ingin membahas masalah ini.
"Tidurlah," ucap Guen menyambut tangan Carcas yang berada di perut rampingnya.
Carcas mendekatkan tubuhnya, sangat membingungkan bagi keduanya. Kenapa perasaan ini semakin menjebak? kenapa aku semakin tidak bisa jauh darinya, batin dua insan yang diselimuti kabut masa lalu.
Guen berusaha memejamkan mata, agar dapat melupakan semua kenangan pahit yang mereka alami beberapa waktu lalu.
"Aku merindukan mu Guen," bisik Carcas.
Guen menarik nafas dalam, jujur dia merasakan hal yang sama, tapi enggan untuk melakukannya.
Carcas menghembuskan nafas di daun telinga Guen, agar tahu reaksi wanita itu terhadapnya.
Guen masih tak bergeming, kali ini jangankan kalah, seri saja dia tidak sudi. Carcas sudah mengkhianati kepercayaannya. Sampai kapanpun itu akan terus terjadi seperti ayah dan ibu beberapa tahun silam, hanya itu yang membekas di benaknya.
Carcas terus mendekati Guen, menciumi tengkuk belakang wanitanya kembali. Guen masih menahan, bulu halus yang meremang tampak terlihat jelas saat pria itu semakin berani mengelus lembut bahu, lengan hingga paha yang masih tertutup rapat.
Guen menutup rapat bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang menyatakan keinginan akan hal itu, dengan sangat pelan Carcas membalikkan tubuh Guen agar posisi mereka saling berhadapan.
Guen menggigit bibir bawahnya, masih enggan membuka mata, perlahan Carcas melahap mesra bibir mungil yang sangat dia rindukan.
Carcas menggigit kecil bibir Guen agar terbuka agar menyambut kedatangan lidahnya untuk penyatuan cinta yang mungkin sedang sakit untuk mengobati luka dihati.
"Hmmmmfgh stop, berhentilah! aku lelah," tolak Guen kembali dingin.
"Maafkan aku Guen! aku melakukannya karena sakit melihatmu dengan Samuel," jujur Carcas.
"Tidurlah,"
Guen tidak ingin membahas apapun tentang Samuel, Anggel, baginya Carcas telah melanggar komitmen pernikahan mereka.
Carcas mendengus kesal, ingin sekali dia memecahkan kepalanya, karena kebodohan yang dia ciptakan sendiri.
"Siapa yang memberi tahu pada Guen? apakah Papa? besok aku akan menemui Papa," geram Carcas membatin.
__ADS_1
Keduanya bersusah payah menutup mata, sulit bagi mereka menahan semua rasa. Carcas memeluk Guen kembali agar memberi kehangatan, karena sulit bagi keduanya untuk tetap bersahabat dengan situasi yang sangat membingungkan.
Akhirnya mereka terlelap masuk ke alam mimpi yang berbeda. Sakit teramat dalam membuat luka semakin ternganga. Entahlah, hanya mereka yang tahu bagaimana jalan keluarnya.
.
.
🌹🌹🌹
Carcas meninggalkan butik lebih pagi, sengaja berangkat sebelum Guen membuka mata, agar bisa mengunjungi Keanu di kediamannya tanpa membawa Guen bersama.
Saat memasuki gerbang mata Carcas melihat mobil miliknya terparkir di halaman. Dia memarkirkan mobil sport pribadinya tepat disamping mobil yang terparkir di apartemen.
Carcas keluar dari kemudi, disambut oleh dua orang pengawal Alister.
"Siapa yang membawa mobil ku kesini?" tanya Carcas.
"Nona Anggel, Tuan," jawab pengawal.
Sheeeer,
Carcas bergegas masuk kedalam mencari keberadaan Gerry dan Keanu.
Carcas melirik kesebelah kiri, terlihat Keanu tengah berada di ruang kerjanya dengan pintu sedikit terbuka.
"Pa,"
Carcas bergegas masuk ke ruangan kerja Keanu dengan wajah sedikit emosi.
"Apa yang Papa lakukan haaah? kenapa Papa menyuruh orang mengikuti ku selama di New York? hingga memberitahu pada Guen. Apa maksud Papa?" teriak Carcas.
Keanu yang mengetahui putranya meledak ledak karena kebodohan sendiri hanya tersenyum.
"Apakah itu sahabatmu? jika kalian bersahabat kenapa kau emosi? apa yang kalian lakukan hingga kau mempersilahkan wanita lain tinggal di apartemen milikmu dan membawa mobil pribadimu? apakah putraku terlalu lemah jika berhadapan dengan wanita? pegawai hotel yang memberitahu pada istrimu, bukan aku! jika kau ingin memakan bangkai, makanlah di tengah hutan Cars, jangan di ladang keluarga sendiri! kau mengerti?" sarkas Keanu.
"Kau sudah menikah, bagaimana jika Anggel hamil anak mu? atau dia hamil dengan pria lain dan meminta pertanggung jawaban pada mu! apa kau mau menikahi dia?" bentak Keanu menatap lekat mata coklat milik putranya.
"Ingat Cars, aku sangat membenci pengkhianatan, jika kau melanggar komitmen diawal, aku jamin pernikahan mu tidak akan kekal. Berubah lah, jika kau memang mau berubah. Pantas Carenina sangat membenci mu! dan memilih hidup bersama Ken, ternyata kau seorang yang tidak setia. Gampang luluh dengan wanita seperti Anggel. Apa kurang Guen? dia istrimu Cars! lihat wajahmu, lebih lusuh dari sebelum ke New York. Kau selesaikan urusanmu dengan Anggel, atau kau lepaskan Guen. Aku akan memberi dispensasi untuk pelunasan hutangnya. Dia gadis baik, tapi kau sia siakan karena tidak setia mu,"
Keanu berlalu meninggalkan Carcas termenung di ruang kerjanya.
"Dasar anak tidak tahu diri! dia yang meminta menikah dengan Guen, dia pula buat malu keluarga!" umpatnya menuju ruang makan.
__ADS_1
Ternyata Anggel tengah tersenyum sumringah memeluk Gerry istrinya.
"Aku akan keluar, mungkin pulang malam!" tegas Keanu menatap tajam pada Anggel.
Keanu berlalu, melirik ke ruang kerjanya Carcas sudah tidak ada disana, "kemana anak itu?" bisiknya bergegas keluar.
Terlihat salah satu pengawal akan membawa kembali mobil Carcas yang terparkir menuju apartemen milik putranya.
"Kemana putraku?" tanya Keanu.
"Dia kembali ke kediaman istrinya Tuan," jawab pengawal.
"Baik, antarkan saya ke butik Guen," perintahnya pada sopir.
Keanu berlalu meninggalkan kediamannya menuju butik milik Guen, dia penasaran sangat penasaran, "apa yang terjadi dengannya?" batinnya.
Sepanjang perjalanan Keanu merutuki sikap Carcas yang sangat memalukan bagi Keluarga Alister. Perselingkuhan yang akan mencoreng nama baik Keanu. Apalagi jika sudah menikah. Saat dia menjalin hubungan dengan Elizabeth kala itu, dia mesti membawanya jauh dari Loumarin. Tidak mudah untuk dilakukan di kota kecil itu, karena akan mudah di ketahui. Apalagi Anggel sudah berani tinggal diapartemen Carcas. Ini tidak akan mudah bagi Keanu.
"Kenapa mesti Anggel? kenapa dia tidak membawa Guen bersamanya? apakah Gerry yang memberi kabar pada Anggel tentang keberangkatan Carcas ke New York?" batin Keanu saat tiba didepan butik menantunya setelah 20 menit perjalanan.
Keanu menatap suasana luar yang masih terasa sepi karena terlihat Salsa dan Kasih masih melakukan aktivitas pagi.
"Mana Guen? apakah dia masih tidur?" batin Keanu.
Sopir memarkirkan mobil di halaman depan persis disebelah mobil putranya. Terlihat wajah Salsa agak terkejut dengan kehadiran Keanu turun dari kendaraannya.
"Pagi, mana Guen?" sapa Keanu mendekat pada Salsa tengah bersih bersin.
"Pagi Tuan, Guen ada di atas bersama suaminya," senyum Salsa.
"Hmmmm bisa saya bertemu?" tanya Keanu dingin.
"Sepertinya belum ada perintah untuk menerima tamu Tuan," tunduk Salsa.
"Baik sampaikan saja, saya akan kembali pukul 11.00," ucap Keanu dan berlalu memasuki mobilnya.
Terlihat Salsa berusaha menarik nafas panjang, saat Keanu berlalu meninggalkannya.
"Untung saja," bisik Salsa melihat kepergian mobil mertua Guen.
"Horang kayaaaah maah bebas," tambah Salsa tersenyum tipis.
Tobe continue...
__ADS_1
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...🙏