
Pagi menyingsing, matahari bersinar cerah menyinari kota Loumarin dengan sangat indah. Terdengar suara gong gongan Snowy diapartemen milik pemuda oriental putra kesayangan Keanu Alister, para pelayan tengah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan Snowy yang sejak kemarin kurang perhatian dari sang majikan.
"Haaaizz Snowy, ayo makan disini," perintah pelayan pada anjing kecil yang sangat lucu menggemaskan bagi penghuni apartemen yang berada disana.
Pelayan meletakkan makanan Snowy, dengan penuh perhatian, agar tidak kehilangan kasih sayang dari Tuannya.
Guk guk guk,
Snowy berlari menuju makanan sehat dan susu segar yang sudah dipersiapkan khusus untuknya.
Dibalik kamar nan luas, terlihat pemuda tampan yang arogan masih terlelap dalam selimut tebal. Carcas enggan beranjak meninggalkan ranjang kingsize bernuansa dongker itu. Matanya tertuju pada handphone sejak kemarin tidak terdengar lagi suara bergetar ataupun pesan yang masuk.
"Guen? dimana dia? kenapa sama sekali dia tidak mengabariku? apakah dia benar benar pergi meninggalkan aku?" rundung Carcas mencari nomor telepon Guenhumura.
Entah kenapa saat terjaga dia mencium aroma tubuh istrinya, tapi Carcas tidak menemukan keberadaan Guenhumura berada didekatnya.
Berkali-kali Carcas menghubungi nomor telepon Guenhumura, tapi tidak kunjung ada jawaban.
Deg,
"Apakah dia benar benar meninggalkan Loumarin?" tanyanya dalam hati.
Carcas bergegas turun dari ranjang, tanpa sengaja kakinya menabrak meja jati yang berada di hadapannya.
Braaak,
"Aaauuugh shiiit, aaagh ini sakit sekali," rutuknya pada diri sendiri.
"Guen! Guen, kita akan ke Paris, dan aku yakin kau menungguku, jangan tinggalkan aku sendiri, Guen. Aku mohon. Kita tidak akan pernah berpisah, bagaimana jika aku benar benar dibuang oleh Keanu keparat itu, mau jadi apa diluar sana? ooogh sial," kesalnya memaki diri sendiri.
Carcas bergegas masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Pagi ini dia akan menemui Guen dibutik milik istrinya. Kepala yang panas kemaren siang sehingga dia menyakiti istri tercinta, seketika buyar mengingat perlakuan kasar yang dia lakukan pada Guenhumura.
.
.
Kota Paris, lebih tepatnya di sebut kota penuh cinta, karena begitu banyak kisah romantis disana. Seorang wanita mungil nan cantik tengah menikmati secangkir teh hangat dan roti kesukaannya. Guen tengah duduk di balkon kamar tengah memandang menara Eiffel yang tinggi menjulang.
Matanya tertuju pada layar handphone yang berkedip memberi sinyal bahwa ada panggilan masuk yang tidak terangkat olehnya. Guen meraih handphone miliknya, melihat siapa yang baru menelfon.
"Carcas," batinnya tersenyum tipis.
"Kenapa dia menelepon ku? apakah dia ingin menceraikan aku? Cars, aku sangat merindukanmu," senyumnya membayangkan wajah tampan suami tercinta.
__ADS_1
Guen kembali menghubungi nomor yang sama, bertuliskan nama Carcas disana.
"Kemana dia? kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?" bisik Guen.
Dia meletakkan kembali handphone dimeja, melanjutkan pekerjaannya. Rancangan wedding dress yang harus dia selesaikan dalam waktu beberapa jam lagi karena sudah ditunggu oleh clien barunya William.
Pria metroseksual, yang menjalin hubungan khusus dengan asisten pribadinya Nanta membuat Guen terkekeh geli membayangkan pasangan homo itu.
"Ganteng ganteng homo, aku fikir mereka bersahabat, ternyata aku salah," batin Guen menatap lekat laptop yang ada didepannya.
Ting tong,
Bel kamar Guen berbunyi. Bergegas Guen meraih sendal hotel, membuka pintu kamar.
"Selamat pagi Nona Guenhumura," sapa William.
"Pagi Tuan," sambut Guen menerima William dan Nanta dikamar miliknya.
"Silahkan," Guen mempersilahkan William dan Nanta masuk kekamar.
Mereka menuju balkon untuk menjelaskan beberapa hasil rancangan Guen yang sudah berhasil dia revisi.
"Tuan, ini ada beberapa yang saya revisi sesuai permintaan anda," jelas Guen mengarahkan layar laptop ke hadapan William.
"Bagaimana honey? bagus? kita tidak salah pilih desainer? bener kata Citra, rancangan wanita Jepang ini sangat menarik dan elegan. Aku menyukainya," jelas William pada Nanta.
"Hmmm, kita akan memberi brand pada gaun pengantin terbaru ini. Bagaimana jika kau menjadi brand ambassador untuk butik ku dan khusus wedding dress, anda yang mengelolanya Nona?" tanya Nanta menatap wajah Guen.
Guen tersenyum senang, setidaknya ini langkah awal yang baik baginya untuk mengepakkan sayapnya di dunia fashion dikota Paris.
"Apakah brand yang kalian maksud dari saya atau dari kalian Tuan?" tanya Guen bersemangat.
William dan Nanta saling berhadapan, "tentu nama kamu nona kecil, jika nama saya tidak mungkin, karena saya bukan desainer. Saya memiliki brand tersendiri. Rabbit hole," jelas William pada Guen.
"Tapi saya hanya memiliki nama pribadi saja untuk semua rancangan saya Tuan, yaitu Guen. Tidak ada brand special," jelas Guen.
Nanta mengangguk setuju, "why not, Guen. Nama yang bagus untuk sebuah wedding dress yang akan menjadi rebutan para wanita seluruh Eropa," jelasnya membuat mata Guen berbinar binar.
"Oya, apakah kau bersedia kita melakukan perjalanan ke Netherland setelah acara disini selesai Nona?" tanya William.
Guen termenung, "ini akan menjadi tantangan baru bagiku, bagaimana dengan butikku di Loumarin?" batinnya ragu.
"Guenhumura! apakah kau setuju kita melanjutkan perjalanan menuju Netherland?" William kembali bertanya.
__ADS_1
Guen menarik nafas panjang, menyandarkan tubuhnya kekursi, memijat pelan pelipisnya.
"Bagaimana saya menjawabnya Tuan, karena saya memiliki tanggung jawab yang harus saya selesaikan di Loumarin. Saya harus memberikan upah kepada dua sahabat saya yang mengelola butik saya disana. Jika saya tidak ada disana, mereka akan kesulitan," jujur Guen.
William kembali bertanya, "apakah itu menyangkut tunggakan anda pada salah satu bank disana? maaf, Citra menceritakan point penting tentang perkembangan butik anda pada saya. Hanya butik, tidak yang lain. Saya rasa anda tidak marah pada Citra," jelasnya panjang lebar.
Guen tersenyum tipis, "ya, saya harus melunasi hutang saya, sebelum mereka meratakan tempat itu, Tuan," jelasnya sambil tersenyum.
"Hmmm, menarik! apakah kau berurusan dengan bank milik Alister?" tanya William.
Guen tertawa kecil mendengar nama Keluarga Alister disebut oleh William.
"Apakah anda mengenal mereka, Tuan?" tanya Guen penasaran.
"Hmmm, ya. Kami beberapa kali berurusan dengan putra Keanu Alister yaitu Carson, dia mantan saya beberapa tahun silam," jujur William.
Mata Guen membelalak, "what? Carson Carcas Alister? gay?" tanyanya dengan suara lantang.
Hatinya sedikit perih mendengar kejujuran William yang polos.
William mengangguk, "kami menjalin hubungan beberapa bulan dan berakhir karena dia memilih kembali ke Loumarin untuk meneruskan kariernya sebagai CEO penerus kekayaan Keluarga Alister," jelasnya.
Guen shoock, saat mendengar bahwa Carcas memiliki dua kepribadian, "oooogh my God, ini tidak mungkin. Carcas tidak mungkin seorang gay, dia suami saya!" tegasnya.
"What? are you kidding me? apakah pernikahan yang kemaren itu anda Nona?" tanya William penuh selidik.
Tubuh Guen terasa panas, keringatnya keluar sehingga dia berkali kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"No, ini nggak mungkin, Carcas bukan gay, ini nggak mungkin," Guen merasa tertipu oleh ketampanan pria oriental yang sangat romantis.
"Carcas," tangisnya pecah saat mendengar ucapan William.
William menepuk bahu Guen, "tenanglah, saya hanya menjalin relationship beberapa waktu saja, tidak begitu lama, karena dia pria melankolis dan sangat kaku. Saya yang meminta kala itu. Maaf jika kejujuran saya menyakiti perasaan anda Nona," jelasnya tersenyum tipis.
Nanta hanya tersenyum menatap wajah cantik Guen yang sangat alami, "kami hanya beberapa kali menghabiskan waktu bersama. Dia tidak begitu menyukai hubungan sesama jenis. Hanya cara bergaul saja."
Guen tersenyum tipis, geleng-geleng kepala menatap lekat kedua pria tampan yang sangat aneh baginya.
Ganteng ganteng pacan alias Papa cantik, 😬
Tobe continue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah.❤️
__ADS_1