
Loumarin Prancis masih sangat dingin saat malam menjelang, sinar rembulan bersinar indah menyinari kota cinta untuk Carcas dan Guen tengah menghabiskan waktu berdua. Sudah hampir 5 jam mereka duduk di restoran Jepang di depan panti.
"Kenapa Papa masih berada didalam?" batin Carcas.
Matanya melirik kearah Guen, terlihat wajah istrinya sudah tampak kelelahan.
"Kita pulang sekarang?" tanya Carcas menggenggam jemari Guen.
Guen mengangguk setuju, "sepertinya Papa masih sangat lama, bahkan tidak keluar dari panti," ucapnya.
Mereka bergegas meninggalkan restoran menuju panti asuhan. Terlihat sopir dan pengawal pribadi Keanu masih setia menunggu majikannya.
Carcas mendekati sopir pribadi meminta agar diantar kekantor untuk mengambil kendaraannya.
"Antarkan saya, kau tunggu Tuan hingga selesai," tegas Carcas pada pengawal dan sopir agar tetap menjaga majikan.
Pengawal mengangguk mengerti, membukakan pintu mobil mengantarkan Putra Keluarga Alister kekantor sesuai perintah anak majikan.
Sepanjang perjalanan kepala Carcas tidak berhenti memikirkan Keanu. Bagaimana mungkin ayahnya akan berlama lama menghabiskan waktu bersama Elizabeth. Ada hubungan apa antara Keanu dan Elizabeth? batinnya sepanjang perjalanan.
Guen tertidur sepanjang perjalanan, sangat melelahkan baginya setelah menghabiskan waktu bersama Carcas.
"Hmmm kau sangat cantik Guen," bisik Carcas tersenyum melihat istri kemudian meraih tubuh itu masuk kedalam dekapannya.
Carcas sangat menikmati hari yang indah dalam menghabiskan waktu bersama Guen. Ini kali pertama mereka menghabiskan waktu selama pernikahan. Sangat indah bahkan berkesan bagi keduanya.
Carcas menggendong tubuh Guen saat tiba didepan kantor menuju mobilnya. Meletakkan tubuh mungil itu secara hati hati.
"Tuan muda, saya kembali menjemput Tuan besar," tunduk sopir pribadi hormat.
Carcas yang dibalut rasa penasaran mendekati sopir Keanu. Bertanya agar jauh dari pemikiran negatif yang bertengger di benaknya.
"Apakah kalian sering menemani Tuan besar ke tempat itu?" tanya Carcas penasaran.
Deg,
Sopir merasa kaget, tidak berani menjawab secara jujur, karena Keanu sering menyambangi panti asuhan walau hanya dimobil melihat sang pujaan hati dari kejauhan.
"Enggak mungkin aku jujur pada Tuan Muda," batin sopir pribadi Keanu.
"Heiii, aku bertanya padamu," tegas Keanu.
Sapir tersentak dari lamunannya, "ooogh, ya Tuan Muda maaf. Saya baru sekali ini mengantar Tuan Besar kesana, selama ini Tuan Besar ada di apartemen pribadinya, Tuan," jelasnya menutupi.
Carcas menarik nafas dalam, bergegegas meninggalkan parkiran kantor membawa Guen kembali ke butik. Sepanjang perjalanan Carcas memikirkan sesuatu tentang Keanu.
"Apakah Papa memiliki hubungan dengan Nyonya Elizabeth? jika tidak kenapa lama sekali dia berada di ruangan itu ehmm," batin Carcas.
Carcas memarkirkan mobil dihalaman depan, menggendong tubuh mungil Guen untuk segera naik ke kamar gadis itu.
__ADS_1
"Tolong bantu saya," perintah Carcas pada Kasih dan Salsa saat memasuki butik.
"Baik Tuan," ucap Salsa dan Kasih bersamaan membantu Carcas memasuki lift dan membukakan pintu kamar untuk pasutri itu.
Saat Carcas meletakkan Guen diranjang, Kasih dengan sigap memberikan baju piyama agar sang suami menggantikan pakaian istrinya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?" tanya Kasih.
Carcas tersenyum, "tidak, panggilkan saja Salsa," perintahnya.
"Baik Tuan," tunduk Kasih berlalu meninggalkan kamar Guen.
Menjelang Carcas melakukan ritual mereka untuk bersih bersih, dia menyempatkan waktu untuk memeriksa cctv butik. Benar saja, dia menemukan bahwa Gerry dan Anggel datang menghampiri butik Guen.
"Ada apa ular betina itu mendatangi butik istriku?" batin Carcas.
Matanya tertuju pada amukan Gerry pada Salsa, tanpa bisa mendengarkan suara keributan mereka.
Tok tok tok,
Salsa membuka gagang pintu setelah mendengar izin dari Carcas. Sedikit gugup dia melihat kearah Guen dan mencari keberadaan Carcas. Mata mereka saling bertemu.
"Anda mencari saya Tuan?" tanya Salsa menunduk sopan.
"Hmmmm, duduklah," perintah Carcas.
Salsa tersenyum menuruti semua perintah Carcas sedikit sungkan. Matanya tertuju pada layar televisi yang terpajang jelas dihadapan suami sahabatnya.
Salsa sedikit terkejut karena pertanyaan Carcas. Dia tidak mampu menjelaskan tentang Gerry dan Anggel yang mengamuk mengancam Salsa dan Kasih bahkan berniat menyakiti Guen.
"Hmmm ya Tuan, ibu anda ke butik, menanyakan tentang istri anda," ucap Salsa berbohong.
"Jangan berdusta, coba kau ceritakan apa yang dia inginkan?" tanya Carcas tegas.
Deg,
Salsa terdiam, jika dia jujur takut akan menyakiti hati Carcas, tapi jika tidak di bicarakan akan berdampak pada keselamatan Guen sahabatnya.
"Ya Tuan, Nyonya besar sempat mengancam Guen, dia akan mengambil paksa butik ini bahkan meratakannya dengan tanah setelah enam bulan kalian bercerai," cerita Salsa jujur.
Carcas semakin emosi, bahkan kini buku buku tangannya memutih, ingin sekali dia kembali ke kediaman keluarga untuk memberi peringatan pada Gerry sang ibu.
"Baik, terimakasih. Keluarlah, saya ingin beristirahat," tegas Carcas masih terdiam di sofa.
Salsa menunduk, memilih berlalu meninggalkan kamar Guen, sesekali menatap wajah imut sahabatnya tertidur dengan nyenyak.
"Semoga kau selalu kuat Guen, menghadapi Nyonya besar Alister," batin Salsa.
Carcas memandang punggung sahabat Guen saat keluar hingga merapatkan pintu kamar kembali. Perlahan dia meraih handphone miliknya dinakas meja.
__ADS_1
"Apakah yang Mama inginkan?" batinnya mencari nomor Gerry.
Berulang ulang Carcas ingin menekan tombol hijau tapi di urungkan olehnya karena mengingat akan tidak baik jika dia berdebat melalu ponsel.
"Lebih baik aku tunggu hingga besok pagi. Aku akan membawa Guen kesana," batin Carcas.
Bergegas pria oriental itu menggantikan pakaian Guen dengan piyama kemeja berbahan lembut. Tentu tidak mudah baginya menahan semua saat melihat keindahan tubuh istrinya sendiri.
"Hmmmm kau begitu sempurna, maafkan ibuku Guen," batin Carcas.
.
.
Dikediaman Keluarga Alister Gerry justru tengah risau menunggu kepulangan Keanu sang suami. Rumah besar itu tampak duduk seorang gadis muda dengan sangat santai di ruang tengah sambil memperhatikan kecemasan Gerry.
"Bi, duduklah! biarkan Paman keluar, dia pasti kembali," ucap Anggel santai.
"Aku sangat khawatir, kemana si tua bangka itu? apakah dia akan memulai hmmm," ucap Gerry terputus.
Gerry tampak gelisah, hatinya sedikit terganggu jika mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Apakah Keanu menghabiskan waktu bersama Elizabeth lagi? karena hanya wanita itu yang mampu menarik perhatian suamiku," batin Gerry semakin berkecamuk.
Anggel hanya diam enggan beranjak dari tempat duduknya, sambil membalas pesan dengan kekasih gelapnya yang berprofesi sebagai karyawan toko roti di Paris.
"Anggel, apakah Carcas ada menghubungimu?" tanya Gerry masih khawatir.
"Hmmmm, tidak Bi. Semenjak perpisahan kami di bandara dia justru tidak pernah menghubungi aku. Putramu akan menyesal membuat aku seperti ini karena memilih gadis sampah seperti pemilik butik miskin itu," jelas Anggel santai.
"Ck," Gerry masih berfikir.
"Kenapa Bi? bukankah Paman biasanya di apartemen? mungkin dia tertidur, coba bibi hubungi sopir pribadi atau pengawal Paman," senyum Anggel menepuk bahu Gerry.
Gerry hanya menarik nafas dalam, dia sangat tahu kebiasaan Keanu yang tidak menyukai sifatnya jika sudah ribut dengan Carcas.
"Apakah Keanu akan membuka cerita sebenarnya? aaagh,"
Gerry berlalu menuju kamar, karena perasaannya sedang tidak karuan.
"Bi, bibi!" panggil Anggel.
"Aku lelah, jangan ganggu aku!" teriak Gerry meninggalkan Anggel dalam keadaan kesal.
"Ck, aaagh, anak sama ibu sama saja! tidak propesional," kesal Anggel berlalu menuju kamar yang berada di lantai dua.
"Dasar keluarga aneh," gerutunya.
Kesiaaan yah.... 😂
__ADS_1
Tobe continue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah.