CEO, Gadis Bersyarat

CEO, Gadis Bersyarat
Perih..


__ADS_3

Kejadian di kediaman Keluarga Alister membuat Carcas semakin membenci Anggel dan Ibunya Gerry. Wajah bangsawan yang mereka akui, ternyata memiliki akal yang sangat rendah dalam menyelesaikan satu permasalahan.


"Cepat obati istri saya!" tegas Carcas saat Guen meringis di bangkar rumah sakit.


Dokter sengaja menggunting gaun malam Guen, dengan sangat hati-hati. Perlahan kulit yang melepuh dan sangat memerah.


"Hmmm, saya poles dengan salap yang dingin saja Tuan! agar tidak infeksi," jelas Dokter.


Guen meringis menahan perih. Bagaimana tidak perih, air panas menyiram bagian bawah dada dan melekat digaun yang sangat cepat menyatu dengan kulit halus istrinya Carcas.


"Kita kasih penghilang rasa perih yah Nyonya," ucap dokter mengusap dengan kapas yang lembut secara perlahan.


"Huuuzh, sakit banget! perih Cars," rengek Guen saat menatap mata suaminya yang berdiri disamping dokter.


Perlahan, rasa perihnya hilang, kulit mulus berubah menjadi merah berair. Dokter sengaja membiarkan bagian yang terkena air panas terbuka lebih lebar.


"Kamu nggak apa apa, jika kita pulang ke apartemen?" tanya Carcas saat dokter sibuk memberi resep salap agar luka cepat mengering.


Guen mengangguk, "enggak apa apa, yang penting kita besok ke Paris. Aku nggak mau kita gagal kesana," jelasnya.


Carcas mengusap lembut kepala istrinya, membantu Guen untuk duduk dengan perut terbuka. Dokter memilih menutup luka dengan perban, agar tidak terkena kuman atau bakteri.


"Nanti dirumah dibuka yah Nyonya Carcas, jangan biarkan tertutup. Takutnya melunak," senyum dokter menjelaskan.


Guen mengangguk, entah kenapa perutnya terasa sangat lapar, dia sedikit berbisik ketelinga Carcas, agar mereka mampir disalah satu restoran untuk membeli beberapa makan malam yang akan disantap diapartemen.


"Kenapa mesti berbisik sayang, aku kan suami kamu, terbuka saja. Ngomong apa yang kamu mau. Aku akan memberikan padamu," kecup Carcas pada kening Guen.


Guen menunduk malu, dia merasa bahwa sangat sungkan jika harus selalu merepotkan Carcas walau itu suaminya sendiri.


"Aku malu," senyumnya memeluk tubuh Carcas yang berdiri dihadapannya, dengan penuh kasih sayang.


"Ehmmm, malu! kenapa mesti malu? aku sangat menyayangimu Guenhumura, melebihi Gerry ibuku," bisik Carcas.


Deg,


Guen teringat akan sesuatu yang sangat menggangu pikirannya beberapa jam ini atas kejujuran ibu angkatnya Elizabeth.


"Hmmm, apakah kamu mau menggendong ku hingga ke mobil? aku malas jalan," rengek Guen.


Carcas tersenyum tipis, dia langsung menggendong tubuh mungil Guen. Membawa ke mobil disusul oleh perawat yang mengikuti Carcas untuk memberikan salap pereda perih luka bakar.


"Ini Tuan Alister, kami harap cepat sembuh untuk istri anda," senyum perawat memberi salap dan kapas steril.

__ADS_1


Carcas tersenyum, berlalu meninggalkan rumah sakit. Dia melihat wajah Guen sangat imut dan cantik. Tidak lupa Carcas berhenti disalah satu restoran cepat saji, untuk membeli beberapa makan malam.


"Kamu mau apa sayang?" tanya Carcas.


Guen melihat beberapa menu, menunjuk salah satu pitzza vegetarian dan vanila flute untuk dirinya.


Carcas memberitahu pada petugas restoran, kemudian menekan tombol untuk pembayaran secara tunai.


Pesanan mereka tiba dalam kurun waktu hitungan menit, karena pemesanan pitzza. Carcas memberi paper bag berisikan makanan pada Guen, melanjutkan perjalanan mereka ke apartemen suaminya.


"Sayang, kamu mesti jaga kesehatan untuk saat sekarang. Aku ingin kamu segera hamil, aku tidak menginginkan perjanjian apapun, yang aku inginkan hanya menikah dan memiliki anak dengan mu," jelas Carcas masih fokus dengan stir kemudi.


Sheeeer,


"Hmmm, lebih baik jalanin dulu. Terlalu berat yang harus kita hadapi Cars. Aku belum tentu siap, karena ibumu tidak menyukai aku," jelas Guen mengisyaratkan trauma atas apa yang menimpanya hari ini.


Carcas tersenyum, dia mengambil jemari Guen mencium berkali kali agar istrinya tidak merasa takut, melainkan kenyamanan.


"Kamu tenang saja. Aku sedang mencari sesuatu dari Papa, tentang kedekatannya dengan ibu angkatmu. Mereka menghabiskan waktu hingga larut malam, bahkan dia tidak kembali kekediaman ku. Aku takut sesuatu terjadi pada keluarga kita sayang," jelas Carcas tanpa mengetahui Guen sudah lebih dahulu mendengar berita itu.


"Bagaimana jika Carcas tahu, bahwa dia bukanlah putra kandung Gerry dan Keanu?" batin Guen.


20 menit kemudian mereka tiba di kediaman Carcas. Membawa beberapa makanan, tentu disambut oleh pelayan untuk segera dihidangkan di meja makan.


Pelayan mengangguk, bergegas memanggil pelayan yang lain untuk mengobati Guen yang tengah mengganti baju didalam kamar majikannya.


"Hubby, help me please!" ucap Guen, saat meraih resleting belakangnya.


Carcas segera membantu Guen melepas gaun malam istrinya, mengecup punggung itu perlahan. Saat gaun indah itu terbuka, tangannya segera meraup dua benda kenyal yang sangat padat dan cukup ditelapak tangannya dari belakang.


"Hmfgh, Cars stop," bisik Guen membuat suaminya enggan menghentikan gerakannya.


"Nikmati Guen," bisik Carcas masih melanjutkan aksinya.


"Aku akan membuat dirimu hamil apapun keadaannya Guen!" batin Carcas.


Guen tidak mampu menolak, mereka melanjutkan ritualnya, dengan cara membelakangi Carcas. Entahlah, walau masih tubuh istrinya masih merasakan perih bagi Carcas tidak menutup keinginannya untuk melakukan hal itu.


"Aaaagh Cars, please!" teriak Guen saat merasakan sesuatu akan ada yang meledak di tubuhnya.


"Hmmm Guen!" sentuhan Carcas sangat berbeda bagi wanita oriental itu saat mencapai satu titik kebahagiaan secara bersamaan.


Carcas memeluk erat kemudian menghentakkan laras panjang lebih keras membuat Guen sedikit menjerit.

__ADS_1


Nafas keduanya masih menderu, Carcas mengusap lembut punggung istrinya yang masih berada dihadapannya, meraih benda kenyal yang sangat menggemaskan itu.


"Masih sakit sayang?" tanya Carcas saat melepas laras panjang dari syurganya Guen.


"Nggak, udah enakan," ucap Guen meraih kimono yang Carcas belikan untuknya.


Carcas masih mengecup istrinya, menatap lekat wajah cantik yang ada di hadapannya.


.


.


Di Italia, Samuel dan Citra tengah menikmati malam yang indah. Mereka menginap disalah satu hotel bintang lima dikota Roma saling menggoda dan menikmati malam panjang dengan secangkir teh dan kopi.


"Kamu memang kaya luar dalam! makanya cuma aku aja yang bisa naklukin kamu!" kekeh Samuel.


"Siapa bilang!" kesal Citra.


"Emang ada yang lain? siapa? siapa? siapa?" Samuel sudah mulai nakal mencari celah untuk melakukan manuver dilandasan dunianya.


"Sam!" teriak Citra, saat serangan Samuel bertubi-tubi diwajahnya.


Samuel membawa Citra keranjang peraduan mereka, mencumbu wanita yang sangat dia cintai itu, meninggalkan beberapa tanda merah.


"Sam," panggil Citra lembut.


"Hmm, aku makin seneng kamu manggil kayak gitu," bisik Samuel pada telinga Citra.


Citra terhanyut dalam permainan Samuel yang tak pernah berhenti memberikan kebahagiaan bathin padanya, sangat indah bagi mereka pasangan baru.


Samuel menganggap jujur lebih baik, dari pada nanti tau dari pihak lain atau hoax. Ya, Samuel berusaha jujur pada Citra tentang masa lalunya dengan Guen. Begitu terkejutnya wanita itu, mendengar kejujuran pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Sam, I love you," dengan nafas terengah Citra menjatuhkan kepalanya didada Samuel.


"I love you too Cit."


Samuel mengatur nafas, mengusap lembut kepala Citra diatas tubuhnya, membawa masuk kedunia mimpi mereka. Semoga kedepannya hubungan mereka bisa menjadi lebih baik dari saat ini.


Ingat yah... jujur...🤧


Tobe continue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah.❤️

__ADS_1


__ADS_2