
Beberapa kali Guen ingin mencoba melupakan semua kenangan buruk yang menari nari dikepalanya, tentang pengkhianatan yang dilakukan Carcas selama masa pernikahan, masih terasa sakit dan sulit untuk dilupakan. Kini usia pernikahan Carcas dan Guen sudah berjalan empat bulan. Berarti tinggal dua bulan lagi wanita oriental itu harus melunasi hutang butik di Loumarin.
Dua bulan lamanya Guen berada di Paris, meninggalkan Loumarin, tinggal diapartemen yang dipersiapkan oleh William seperti janjinya. Apartemen yang memiliki tiga kamar tidur, berlantai marmer buatan Italia, dibalut dapur tertata rapi dengan kichen set yang unik berwarna coklat muda, arsitektur bangunan clasik modern menambahkan kesan nyaman saat berada didalamnya.
Pencahayaan kamar yang sangat baik, kamar utama yang terletak dilantai dua itu memberikan kenyamanan khusus bagi pasangan suami isteri Carcas dan Guen.
Guen tengah disibukan dengan urusan pekerjaan didalam kamar apartemen, ditemani Carcas yang sedang menikmati secangkir teh hangat dan kripik kentang yang dia beli di supermarket.
"Sayang, kamu mau kripik kentangnya? ini enak banget, buatan Netherland," puji Carcas masih menatap lekat laptop yang diberikan Guen padanya beberapa waktu lalu, agar bisa fokus melakukan pekerjaan sebagai keuangan pribadi wedding dress Guen.
"Hmmm," Guen masih menata titik titik hitam, yang akan dipadu menjadi garis mengikuti titik, agar terlihat seperti gambar dasar, untuk sebuah gaun indah sesuai permintaan salah satu artis ternama di Paris.
"Guen, kamu mau nggak sayang? nggak baik menolak permintaan suami," goda Carcas pada Guen sedikit memaksa, membuat istrinya yang tengah serius menatap laptop tercanggih, menghentikan aktivitasnya.
Guen beringsut dari ranjang, mendekati Carcas, meraih teh manis hangat dari tangan suaminya, kemudian menyesapnya.
"Emmmm, ini enak banget hubby. Kamu yang bikin?" tanya Guen menatap iris mata elang Carcas.
Carcas mengangguk, "kamu cobain kripik kentang ini, tadi aku juga beli coklat," dia menyodorkan kripik dan coklat untuk Guen istri tercinta.
"Hmmm, thankyou hubby," Guen memeluk Carcas yang ada dihadapannya, mengecup bibir basah suaminya.
Carcas tersenyum, memeluk tubuh Guen sangat erat, "aku lanjutkan menyelesaikan laporan keuanganmu, agar kamu bisa fokus memberikan ku upah akhir bulan," rungutnya.
"Cars," bisik Guen geram.
Mereka tertawa saling menggoda, Carcas yang awalnya menolak untuk menjadi bagian penting dari butik wedding dress milik Guen, kini tengah menikmati setelah menerima gaji pertamanya bulan lalu, yang mampu membangkitkan semangatnya kembali untuk bekerja.
Guen kembali mengerjakan tugas akhir dalam membentuk sebuah pola, yang harus dia kirim ke artis cantik yang menyukai karyanya saat berada di Netherland.
Lebih dari tiga jam pasangan muda itu menghabiskan waktu dengan pekerjaan masing-masing. Terdengar bel pintu ruang tamu berbunyi, mereka saling bertatapan.
"Siapa Cars? apa kamu ada janji dengan seseorang?" tanya Guen penasaran.
Carcas bergegas turun kebawah, memeriksa cctv yang berada sebelum menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Citra? Guen, ada Citra dan Sam diluar," panggil Carcas saat akan turun kebawah.
Guen bergegas keluar dari kamar, mengikuti langkah Carcas yang lebih dulu sudah berada didepan pintu utama.
Cekreeek,
Carcas membuka pintu, menyambut Citra dan Samuel, "hai," sapanya tersenyum garing.
"Hmmm, baby kenapa kamu memblokir semua akses media mu untukku?" rengek Citra memeluk Carcas yang berdiri dihadapannya.
Carcas menyambut tubuh langsing semampai istri sahabatnya, "aku tidak memblokir mu, hanya saja ingin lebih tenang menikmati hidup baru ku sebagai seorang keuangan butik Guen," ucapnya tanpa sungkan.
Citra mencubit kecil perut sahabatnya, merasa kesal akan apa yang diucapkan Carcas.
"Hubby, jangan ada lagi permusuhan antara kalian, karena kita itu keluarga besar. Aku tidak mau ada permusuhan antara kau dan sahabatku," rungutnya menatap Samuel.
Samuel mengangguk mengerti, memeluk Carcas sebagai permohonan maaf.
"Apa kabar bro? maafkan aku," bisik Sam.
Citra mendekati Guen, "ooogh desainer terbaik Rabbit hole, selamat yah? William berkali kali memuji karya mu pada ku," kekehnya memeluk tubuh mungil nan cantik dihadapan sahabat.
"Apa kalian akan menghabiskan malam bersama disini?" tanya Guen menatap wajah dua pria yang masih kaku.
"Hmmm bolehkah kami menginap? karena aku akan membicarakan tentang pelunasan butikmu di Loumarin," celoteh Citra.
Guen menatap Carcas meminta persetujuan, tentu diangguki oleh suami tercinta wanita oriental yang memiliki kecerdasan melebihi standar wanita dewasa.
"Masuklah, apa kalian sudah makan? atau kita akan minum kopi atau teh hangat buatan suamiku?" tanya Guen mempromosikan suaminya.
Samuel menaikkan kedua alisnya, "Carcas membuat teh? apakah anak bangsawan ini kau siksa untuk menjadi pria pencinta dapur, Guen? goda Samuel melirik kearah sahabatnya berdarah bangsawan itu.
Guen mengangguk, "dia aku siksa selama Tuan besar mengambil semua fasilitas yang dia miliki," jelasnya tanpa malu.
Carcas memeluk tubuh mungil Guen, "setidaknya aku belajar menjadi suami idaman untukmu," ucapnya tanpa peduli pikiran Citra dan Samuel.
__ADS_1
"Ya, aku mendengar cerita dari Mama saat aku pulang dari Italia. Tuang Keanu mengambil semua fasilitas Carcas, kini kau bukan seorang CEO," kekeh Citra.
Carcas menatap kesal pada kedua pasangan yang menjadi sahabatnya sejak usia delapan tahun itu.
"Jangan terus menggoda ku. Setidaknya kini aku bisa menafkahi istri dari hasil kerjaku. Walau harus menjadi bagian keuangan Guenhumura," jujur Carcas.
Samuel mengangguk setuju, merangkul bahu Citra menuju ruang keluarga apartemen milik William.
"Sampai kapan kalian disini?" tanya Samuel pada Carcas.
"Hmmm, kemungkinan minggu depan kami sudah berada di Loumarin," jelas Carcas.
Guen sengaja meninggalkan mantan kekasihnya, membawa Citra bersama untuk membuat sesuatu.
"Guen," panggil Citra menahan lengan sahabatnya sedikit berbisik.
Guen menoleh dengan perasaan sedikit aneh, "what?" tanyanya dingin.
"Kenapa kau tidak mengatakan pada ku tentang hubunganmu dengan Sam? bahkan hampir menikah dengannya? maafkan aku Guen, semua terjadi begitu saja. Aku benar-benar tidak tahu tentang hubunganmu dengan, Sam," jelas Citra panjang lebar sedikit bertanya karena rasa penasaran.
Guen mengusap lembut lengan Citra, "kamu sudah menikah dengan, Sam. Kamu adalah wanita baik untuk dia, kalian berjodoh," jawabnya enteng.
"Tapi kenapa kau tidak bercerita tentang hubunganmu dengan Sam pada, ku? apakah dia telah menyakiti hatimu?" tanya Citra memaksa kejujuran Guen.
Guen menelan salivanya, "dengar, aku dan Sam tidak pernah melakukan apapun. Hubungan kami tidak lebih hanya sebagai sahabat, bukan kekasih seperti kebanyakan. Saat itu dia meninggalkan aku karena kejenuhannya terhadap ku, tidak ada yang lain. Setelah lima tahun berlalu, aku baru tahu jika wanita itu adalah dirimu sayang. Sudahlah, aku sudah menikah dengan Carcas, aku bahagia saat ini," tegasnya tanpa ingin melanjutkan cerita masa lalu yang hanya menyayat hati dan perasaan.
Citra masih merasa bersalah, "wait! aku mendengar dari William, danamu untuk melunasi butik di Loumarin masih kurang, kapan kau membutuhkannya? sebelum gedoran keras menghantam ketenangan Salsa dan Kasih," tanyanya pada Guen.
Guen tersenyum senang, "terimakasih kamu masih peduli sama aku. Nanti kita bicarakan semua itu. Saat ini biarkan aku menyelesaikan tugas, mempersiapkan makanan dan minuman untuk tamu terbawel ku," kekehnya berlalu menuju dapur yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Citra semakin penasaran, 🤧
Tobe continue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah.❤️
__ADS_1