
Kepergian Carcas dari kediaman Alister sangat mengejutkan bagi Gerry. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari Jenar, mengatakan bahwa putra pewaris tahta Keanu Alister telah menyakiti secara fisik ayah kandungnya.
"Bagaimana keadaan Keanu?" Gerry merasa khawatir.
"Saya hanya mendengar dari beberapa pelayan Nyonya, tidak melihat kejadian sebenarnya," Jenar mengambil jaket hangat milik Gerry.
Gerry merasa khawatir, langsung mencari keberadaan Keanu, dia mencari keberadaan Keanu ditiap sudut ruangan.
"Dimana Tuan besar?" Gerry sudah berdiri didepan pintu kamar Keanu yang berada dilantai dua.
"Tuan sudah pergi Nyonya," salah satu pelayan menjelaskan pada Gerry.
Wanita paruh baya itu terlihat lemas, kakinya sulit untuk bergerak, "pasti dia menemui Elizabeth."
Gerry bergegas menuju lantai dasar, mencari salah satu seorang sopir keluarga Alister, "siapkan mobil, bawa saya mencari keberadaan Tuan besar."
"Maaf Nyonya, Tuan besar dilarikan kerumah sakit," pengawal memberitahu pada Gerry.
Sontak Gerry terkejut mendengar penjelasan pengawal, "apa yang dilakukan Carcas pada Ken, ini tidak bisa dibiarkan. Sampai hati dia melakukan itu pada Papanya sendiri," isaknya semakin menjadi.
"Silahkan Nyonya," pengawal membukakan pintu mobil untuk Gerry segera membawa Nyonya Alister kerumah sakit terbesar di Loumarin.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba dirumah sakit, terlihat Natalia berada disana ditemani Elizabeth bersama mereka.
"Hmmm, akhirnya datang juga kau, Ger. Apa yang telah kau lakukan kepada Abang sepupuku, hingga dia mengalami penurunan kesadaran. Jika kau tidak mencintainya katakan kepada kami, agar keluarga tahu, tindakan apa yang akan kami lakukan padamu," terdengar suara Natali membela Keanu.
Gerry terdiam, menatap nanar wajah Elizabeth berdiri di sebelah Natalia, "apakah karena perempuan ini, kau membela Ken. Jika kau tidak tahu apa yang mereka lakukan, lebih baik kau diam, jangan menuduhku yang menyakiti Ken. Karena tidak ada seorang istri mau menyakiti suaminya. Kau mengerti?"
Guen meninggalkan Natalia, menuju kamar dimana Keanu dirawat. Sakit hatinya semakin dalam, saat mendengar kata kata pedas yang dilontarkan Natalia.
"Dasar wanita murahan, berani sekali dia menuduhku, bahwa aku yang menyakitinya. Ini semua karena kelakuan Elizabeth," geram Gerry.
Gerry menghubungi Carcas, melalui handphone miliknya, tapi tidak kunjung ada jawaban, "kemanakah mereka?"
Kembali Gerry menghubungi Guen sang menantu, tetap sama tidak ada jawaban, "apa yang mereka lakukan, sehingga tidak ada satupun yang menjawab panggilan teleponku?" perasaan Gerry semakin berkecamuk.
Keindahan mata Gerry dan Keanu saling menatap, "Ken, kenapa perbedaan membuat kita hancur seperti ini, bisakah kita memperbaiki semuanya?"
Keanu enggan untuk menjawab, dia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk segera memiliki Elizabeth, "pergilah Ger, tinggalkan aku. Aku tidak ingin menyakitimu lebih lama. Aku masih mencintaimu, tapi aku tidak bisa membiarkan Elizabeth sendiri diluar sana."
__ADS_1
Gerry semakin kesal, wajah cantiknya memerah, "jangan kau bicarakan cinta padaku, Ken. Ini sangat menyakitkan dan menyayat hati. Elizabeth ada diluar, silahkan dia menemanimu disini. Aku keluar, karena kau masih berharap agar Carcas mengakuinya sebagai ibu kandung."
Gerry berlalu meninggalkan Keanu. Sementara dada Keanu terasa sesak karena tendangan Carcas yang hampir merenggut nyawanya.
"Ger, Gerry!" Keanu menatap punggung istri sahnya dengan penuh perasaan iba.
Gerry mengehentikan langkahnya, "katakan apa yang ingin kau ucapkan, aku tidak ingin berlama-lama dalam kondisi ini."
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, karena aku sangat mencintaimu," Keanu meluluhkan hati Gerry dengan sangat mudah, tapi wanita itu justru menelan salivanya, memberikan jari tengah kepada suaminya.
"F u c k you, Ken."
Gerry meninggalkan kamar Keanu, membendung air mata yang akan mengalir deras dihadapan Natalia dan Elizabeth, "temani Keanu. Saya permisi."
Gerry menarik nafas panjang, mengusap lembut kepalanya, tidak ingin menatap kembali kearah Elizabeth. Wajah hasil operasi plastik, dia rawat sejak dahulu, terlihat sangat lelah. Begitu banyak PR didalam kepalanya, membuat dia terus berfikir keras agar terlepas dari Keanu Alister.
"Kenapa dia tidak ingin melepaskan aku, kemaren dia yang mengatakan akan menceraikan aku. Sekarang dia bahkan tidak mau membebaskan aku dari ikatan pernikahan ini," Gerry berjalan menuju parkiran, menghampiri sopir pribadi.
"Bawa saya ke butik milik Guenhumura," perintah Gerry.
"Baik Nyonya."
Sopir pribadi Gerry memarkirkan mobil dihalaman butik milik menantu kesayangan, "sudah sampai Nyonya."
"Ya," Gerry turun dari mobil, melihat kondisi butik milik menantu dari luar, kaca mata hitam biasa dia kenakan, mata indah berwarna kebiruan itu membuka pintu masuk dengan lebar.
Salsa menyambut kedatangan Gerry sedikit terkejut, "selamat siang Nyonya besar," tunduknya.
"Mana Guen, aku melihat mobil mereka terparkir didepan!" Gerry mencari keberadaan menantunya.
"Hmmm, Ibu Guen tidak ingin diganggu Nyonya. Mereka ada dikamar," Salsa menunduk takut.
"Antarkan aku kekamar mereka," perintah Gerry.
Salsa menelan salivanya, menahan diri agar tidak keceplosan bicara mengenai kegiatan mereka siang ini.
"Tadi Tuan Carcas bilang tidak ingin diganggu Nyonya, saya tidak berani."
Gerry menautkan kedua alisnya, menatap selidik penuh tanya, "apakah mereka sedang bertengkar, atau bertempur. Sudah, tolong antarkan saja saya menuju kamar majikanmu."
__ADS_1
Salsa hanya terdiam, tidak bisa membantah. Dia mengikuti permintaan Gerry, segera naik kelantai tiga, "silahkan Nyonya."
Gerry tersenyum tipis, melangkah mendekati pintu lift, terbuka. Perlahan tapi pasti mereka dengan cepat tiba dilantai tiga butik milik Guen.
"Kasih," Salsa terlonjak kaget melihat kehadiran orang kepercayaan mereka, tengah sibuk mengurus perkakas dapur dari depan pintu kamar majikannya.
Salsa berbisik ketelinga Kasih, "apakah Guen sudah selesai?"
Kasih tersenyum tipis, dia mengangguk, "tadi saya lihat Tuan sudah menggunakan kimono, nggak tahu kalau Ibu."
Gerry tersenyum, melangkah menuju pintu kamar Guen.
Tok tok tok,
"Hmmm," suara bariton Carcas terdengar dari balik pintu.
"Cars, ini Mama. Buka pintu Nak," Gerry berbisik pelan.
Salsa dan Kasih saling menatap, bagaimana tidak, beberapa waktu lalu, Gerry datang masih dengan angkuhnya, kini justru berbalik 180 derajat.
Carcas membuka pintu kamar, betapa terkejutnya dia melihat Gerry berdiri anggun dihadapannya, "Ma, ngapain kesini?"
Gerry menerobos masuk kedalam kamar tanpa harus permisi pada putra angkanya.
Carcas hanya tersenyum, menutup pintu kamar dengan cepat, membawa Gerry untuk duduk disofa kamar mereka, "maafkan aku sedikit melupakan Mama, karena kondisi tadi pagi, aku harus cepat meninggalkan kediaman kalian."
Gerry tersenyum menatap wajah Carcas dan mencari keberadaan Guen masih tertutup selimut tanpa busana, "apa kamu tidak tahu bahwa Papa masuk rumah sakit, apa yang kalian lakukan?"
Carcas terdiam kaku, "seriuskah Papa masuk rumah sakit?"
Gerry mengangguk meyakinkan, menatap wajah putranya penuh penyesalan.
"Maafkan aku Ma, tapi aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa Papa akan menikahi wanita itu," tangis Carcas pecah seketika.
Wajah tampan oriental itu meringkuk dipangkuan Gerry, tanpa peduli harga diri dihadapan Guenhumura istrinya.
Guen tersentak mendengar isak tangis suaminya, "hubby?"
____________
__ADS_1