Ceo Jatuh Cinta

Ceo Jatuh Cinta
chapter 19


__ADS_3

chris reflek kembali menutup matanya saat bibir hendru menjauh dari bibirnya. Perasaan tak menentu hinggap didalam berdetak tak karuan saat ini, chris mati matian menekan rasa yang kini campur aduk didalam hatinya karena ulah hendru yang mencuri ciuman pertamanya saat tidur.


Ia akui ia kolot karena belum pernah ciuman dengan lawan jenis selama ini, meski dirinya selama ini tinggal di Amerika yang terkenal dengan budaya barat yang ciuman itu sudah biasa saja dan pergaulan bebas yang ekstream,namun chris tak terpengaruh oleh semua itu.


chris menjauhi semua itu,ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan belajar ilmu kedokteran karena tujuannya pergi ke Amerika agar ia bisa menjadi seorang dokter hebat suatu saat nanti, meski kini kenyataannya berbeda.


Setelah menjauhkan wajahnya dari chris, hendru memandang lembut gadis didepannya yang ia kira masih tertidur.


Lama pria tampan berambut raven itu memandangi hendru yang menutup mata. Tangannya bergerak dan mengusap pelan sudut bibir ranum chris yang tadi ia cium. Seulas senyum tipis terukir dibibir tipis hendru.


Dengan pelan hendru menggendong tubuh chris, pria itu membawa chris kekamar, karena pria wijaya itu tidak akan tega jika chris tidur semalaman disofa. hendru awalnya ragu, apa benar itu kamar gadis yang saat ini ada dalam gendongannya, tapi rasa ragunya lenyap saat ia masuk kedalam kamar tersebut.


Kamar bernuansa pink, hendru yakin ia tak salah, ini pasti kamar chris. Apartemen chris memiliki dua kamar. Kini hendru yakin kamar disebelah adalah kamar tamu dan ia akan tidur dikamar itu nanti dan semoga saja tidak bernuansa pink juga, pikir hendru.


Perlahan hendru membaringkan tubuh chris diatas kasur, dengan pelan pria itu menyelimuti tubuh gadis yang ia cintai. Kecupan ringan ia berikan pada kening chris.


"Mimpi indah, chris"


Gadis merah muda itu pun menampakkan emeraldnya perlahan setelah hendru keluar dari kamarnya. Rona merah semakin menghiasi wajah cantiknya.


"hendru" Gadis yang mengidap kanker otak stadium 2 itu menggumamkan nama pria itu lirih sambil menatap pintu kamarnya yang tertutup.

__ADS_1


.


.


Langit malam di Chicago sangat terang malam hari ini,banyak bintang bintang itu sedikit tak kelihatan cahayanya karena terangnya cahaya lampu kota Chicago.


hendru memandang gedung rumah sakit yang kini ada dihadapannya. Ia memutuskan pergi mengunjungi hendrik malam ini juga tanpa memberitau chris. Lagi pula ia tak mau menganggu tidur gadis itu yang terlihat damai tadi.


hendru melangkah dengan mantap memasuki gedung Memorial Hospital. Saat ia masuk kedalam rumah sakit yang terkenal 'wah' itu ia segera menghampiri meja resepsionis untuk bertanya tentang hendrik, kakak yang sangat ia rindukan.


"Bisa saya bantu, tuan?" Tanya perawat yang menjaga tempat itu.


"Ya, dokter wijaya saat ini ada diruangannya, maaf anda siapa? Apa sebelumnya anda sudah membuat janji temu dengannya? "


"Tidak, bilang saja hendru wijaya datang dan ingin bertemu dengannya"


"wijaya? Ah.. Anda keluarga dokter wijaya ternyata." Perawat itu nampak sedikit terkejut. "Saya akan segera memberitaunya."Sambungnya.


"Hn"


.

__ADS_1


.


hendru duduk disebuah ruangan yang ia yakini adalah ruang kerja dokter hendrik. Sesekali pria itu menghela nafas panjang, ia akui saat ini ia sedikit gugup, sudah lama ia tak bertemu dengan kakaknya. Apa nanti kakaknya mau membantunya?, itulah yang ada dipikiran hendru yang paling utama saat ini.


CEKLEK


Suara pintu terbuka menginterupsi secara tiba tiba, hendru segera menoleh kearah pintu tersebut. Sosok pria berjas putih muncul dari balik pintu, pria yang memiliki mata yang sama sepertinya berdiri mematung diambang pintu.


"hendru? " Pria berambut raven panjang yang terikat itu memanggil nama hendru lirih. "Kau, hendru? Adikku? " Tanyanya kemudian.


"Hn,lama tak bertemu. kak" Jawab hendru datar. Meski kenyataanya dalam hatinya, ia sangat senang bisa bertemu dengan kakaknya saat ini.


.......


.


.


bersambung.....


.

__ADS_1


__ADS_2