
chris turun dari mobil hendru, Setelah pria itu bersedia bertemu dengannya besok disebuah caffe didekat kantor wijaya Corp.
Pagar secara otomatis terbuka dan chris pun masuk kedalam.
Naro dan hendru memperhatikan chris hingga gadis itu masuk kedalam rumahnya. Mobil hendru pun berlalu pergi dari rumah chris.
"Hei, Naro. Apa dia memang seperti itu?" Tanya hendru tiba tiba.
"Apa maksudmu?" Naro menoleh kearah hendru yang tengah mengemudi.
"Dia aneh."
Naro tak mengerti maksud sahabat rupawannya itu. "Aneh bagaimana, hen?".
hendru mendengus akan kebodohan sahabatnya itu. "Kau tidak lihat, Ia tersenyum tapi matanya menyimpan kesedihan." Ujar hendru.
"Eh?" Naro mengerutkan dahinya. Ia memandang lekat hendru. "Hei, hen. Apa kau menyukainya?. Apa kau menyukai chris? Kenapa kau begitu peduli pada orang lain? Tidak seperti dirimu saja." Cerocos Naro.
"Diam kau, dasar bodoh".
"Besok, Aku ikut" Naro memutuskan. Ia sepertinya tak rela jika chris bertemu berduan dengan hendru besok.
"Tidak". Tolak hendru mentah mentah.
"Kenapa?"
"Karna dia, hanya ingin bertemu denganku. Bodoh"
"Cih! Kau menyebalkan, hen."
"bising".
.
.
chris berjalan memasuki kamarnya yang begitu luas. Kepalanya semakin pening. Ia berjalan terhuyung huyung menuju tempat tidurnya.
PRAAAK
Tanpa segaja ia menjatuhkan lampu tidur dinakas samping tempat tidurnya. "AAARGH.." Rintihnya seraya memegang kepalanya yang berdenyut. "Sakit sekali, Ibu..." chris menangis kesakitan didalam kamarnya seorang diri. Pasalnya ibunya saat ini sedang berada di Shibuya untuk mengurus Hotel mereka disana.
DRRTT... DRRRT...
Ponsel chris bergetar didalam tasnya. Dengan susah payah gadis merah muda yang kesakitan itu merogoh ponselnya yang ada didalam tas. Nama kelvin tertera dilayar ponselnya. Sahabatnya itu seakan tau saja jika saat ini ia butuh bantuannya. Dengan cepat chris menekan tombol hijau untuk menjawab telephone.
"kelvin..."
"Hei, Gadis musim semi kecilku, kau sedang apa sekarang, hm?" Tanya kelvin diseberang sana.
"k-kelvin... T-tolong..."
"chris, Kau kenapa? Kau dimana sekarang?" Nada panik terdengar jelas dari pria itu ditelephone.
__ADS_1
"Dirumah...cepatlah..."
BRUKKK
chris tak sadarkan diri ditempat tidurnya. kelvin terus memanggil nama gadis itu diseberang sana karna sambungan telephonenya yang belum terputus.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Tanya kelvin. Ia telah memanggil dokter setelah pria itu dibuat terkejut karna menemukan chris yang pingsan diatas tempat tidurnya.
"Sepertinya chris mengalami sakit kepala. Saya belum bisa memastikannya, Akan lebih baik jika chris segera memeriksakan diri kerumah sakit." Ujar Dokter cantik itu meski usianya sudah tak lagi muda. Dokter wanita ini adalah dokter keluarga Haruno.
"Baiklah kalau begitu. Besok akan ku suruh ia segera periksa kerumah sakit."
"Kalau begitu, Saya permisi.".
"Terima kasih, Dokter suna".
suna tersenyum dan berlalu pergi. Meninggalkan kelvin dan chris dikamar gadis itu. kelvin duduk ditepi ranjang chris. Ia memperhatikan chris yang menutup mata dengan tenang meski wajahnya masih sedikit pucat. Pria itu membelai pucuk kepala sahabatnya itu.
"Cepatlah bangun, Gadis musim semi kecilku yang jelek." Ujar kelvin. "Apa kau begitu kesakitan tadi? Maaf aku datang terlambat. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, hm?" Lanjutnya. kelvin sadar saat ini chris tak dapat mendengarnya. kelvin merasa bersalah karna tak bisa menjaga sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini, padahal ibu chris sudah berpesan padanya untuk menjaga chris disaat ia sedang pergi.kelvin merasa gagal menjalankan amanat itu.
"Ngh..." chris melenguh. Ia mulai sadarkan diri.
"kelvin?"
"Ya. Ini aku. Kenapa kau tidak segera menghubungiku jika kau sakit. dasar gadia bodoh." Omelnya.
"Aku baru sadar tapi kau, sudah memarahiku." Gerutu chris sambil bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
kelvin mendengus dan menyentil kening chria yang membuat gadis itu meringis kesakitan. "Apa yang kau lakukan, Mayat hidup!" chris tak terima.
"Memberimu hukuman. Dan besok kau harus ikut aku kerumah sakit."
"Tidak mau" Tolaknya.
"Kenapa?".
"Pertama, Aku sibuk besok. Dan kedua, Aku baik baik saja. Untuk apa aku kerumah sakit."
"Cih! tentu saja untuk memeriksa otakmu itu.". Hardik kelvin ketus.
kelvin mendegus. "Otak ku baik baik saja, Bodoh." Sanggah chris. "Aku hanya sakit kepala biasa dan butuh istirahat. Kau pikir aku ini siapa? Jika kau lupa, aku ini mantan calon dokter." Tukasnya.
kelvin mendesah, percuma saja jika berdebat dengan chris yang memiliki sifat keras kepala. "Terserah kau sajalah. Jika kau sampai sakit lagi, Aku akan jadi orang pertama yang akan menghajarmu.".
chris berdecak. "Kau kejam sekali." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. kelvin mengangkat bahu tidak peduli. Membuat gadis itu semakin geram. "Pulang sana." Usirnya.
"Tidak mau, Aku mau tidur disini." kelvin merangkak naik ketempat tidur dan berbaring disamping Sakura. Mulut gadis itu menganga melihat tingkah pria itu. "Kau gila ya. Pergi sana, dasar jelek." chris memukul kelvin dengan guling tapi pria itu tak bergeming dan pura pura tidur. Membuat chris menghela nafas pasrah. Ia pun berdiri, kelvin menatapnya bertanya. "Kau mau kemana? kau tak mau tidur dengan tunanganmu ini?" kelvin mengerling jail.
__ADS_1
"Aku tidak mau tidur dengan orang jelek." chris mendesah dan menoleh pada pria yang ada diatas tempat tidurnya itu. "Dan jangan menyebutku tunanganmu. Tunanganku sudah mati, asal kau tau itu."
kelvin mendengus. "Astaga. Kau menyumpahiku mati?" chris mengangkat kedua bahunya acuh sebagai jawaban. kelvin berdecak kesal. "Cepat sana pergi." Usir kelvin seraya kembali memejamkan matanya dan tidur dikamar gadis merah muda itu. Kini chris yang berdecak kesal kenapa jadi dia yang terusir dari kamarnya. Dengan enggan chris keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar tamu yang ada disebelah kamarnya.
.
.
.
.
Sesuai rencana, Pagi ini chris datang lebih awal ke caffe dimana ia dan hendru janji bertemu. 10 menit setelah kedatangannya, hendru baru datang ke caffe tersebut. hendru duduk berhadapan dengan chris.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku disini?" Tanya hendru to the point.
"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu?".
hendru memperhatikan gadis didepan lekat lekat. Ia tersenyum saat chris sedikit salah tingkah saat ia menatapnya. "Apa kau ingin bilang kau tertarik padaku?" Ujar chris.
chris mendengus geli dan menatap tak percaya pria raven didepannya yang begitu percaya diri sekali. "Jangan bercanda. Aku ingin berbicara bisnis denganmu." Ujar chris.
Alis pria itu terangkat sebelah. "Bisnis?". Ulangnya.
chris mengangguk. "Bekerja samalah dengan perusahaan kami. Aku yakin wijaya Corp. takkan rugi sama sekali.".
hendru tersenyum meremehkan. "Sayang sekali, wijaya Corp. tidak sembarangan bekerja sama dengan perusahaan lain". Katanya.
"Haruno Corp. bukanlah perusahaan sembarangan, Asal kau tau itu. tuan" Tegas chris penuh penekanan.
Pria itu menyeringai. Entah kenapa ia merasa terhibur saat melihat gadis yang memiliki paras cantik didepannya ini menjadi marah. "Baiklah. Aku akan bekerja sama dengan perusahaan kalian. Dengan syarat.".
Dahi chris mengerut. "Apa itu?" Tanyanya tak mengerti.
hendru sedikit memajukan wajahnya kedepan membuat chria berkesiap. "Tidurlah denganku, satu malam." Ujar hendru sedikit berbisik.
chris tersentak dan matanya chris menatap tak percaya pada pria didepannya saat ini. hendru menyeringai dan kembali memundurkan wajahnya. "Bagaimana? kau mau?". Tanyanya lagi.
chris menghela nafas panjang. Kemudian ia tersenyum manis pada pria itu. hendru memandang curiga senyuman itu. chris berdiri dan mendekat padanya.
"Tentu saja..." Jawab chris
DUAAK
"...Dalam mimpimu." Sambungnya. chris merintih kesakitan akibat tendangan chris pada tulang kakinya yang cukup keras. Gadis itu pergi begitu saja, mengabaikan hendru yang meneriakinya tak terima.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1