
Chicago - Amerika Serikat.
chris dan hendru sarapan pagi disebuah restauran asia yang berada tak jauh dari rumah sakit dimana hendrik bekerja. hendru memang sengaja mengajak gadis musim semi itu makan direstauran ini. hendru tersenyum tipis saat memandangi gadis itu makan dengan lahapnya.
"Kenapa kau tidak makan?" Tanya chris saat menyadari bahwa pria dihadapannya hanya memandanginya saja tanpa menyentuh makananya.
"Hn."
chris mendengus mendengar jawaban ambigu dan aneh hendru itu. Ia pun meneguk air minum setelah selesai makan. Saat mengusap bibirnya setelah minum dengan tissu dihadapannya, chris jadi teringat kejadian semalam. Dimana hendru mencium bibirnya diam diam. Wajah chris memerah mengingat kejadian itu, jantungnya jadi berdetak tak beraturan. hendru menyerngit menatapnya heran.
"Kau kenapa? Wajahmu memerah, kau demam?" chris menggeleng.
"Aku baik baik saja" Jawabnya sedikit ketus dan memalingkan wajahnya. hendru tersenyum geli melihat tingkah chris saat ini. "Benar benar menggemaskan" Batin hendru.
"chris?" Seseorang yang baru datang tiba tiba memanggil nama gadis itu, chris yang merasa namanya dipanggil pun menoleh kearah orang tersebut, begitu juga hendru.
chris tertegun melihat pria yang ia kenal tersebut dan tak menyangka akan bertemu disini. "Dokter hendrik?"
"kakak?" Gumam hendru.
Pria dewasa yang memiliki mata yang sama dengan hendru itu pun berjalan menuju meja dimana chris dan hendru tempati saat ini. "Hei, Kalian ada disini? Di Chicago? dan saling mengenal?" hendrik bertanya dan berpura pura terkejut melihat hendru dan chris ada di Chicago dan saling mengenal.
"Dokter, Aku disini diajak hendru" chris memandang hendru yang nampak diam ."Dia ingin bertemu denganmu". chris kembali memandang hendrik.
hendrik tersenyum dan menatap hendru. "Hn, senang bertemu denganmu,hendru" Pria itu pun memeluk hendru tanpa aba aba,Adik yang ia peluk mendelik kesal.
"Apa yang kau lakukan?" Bisik hendru.
"Ini supaya sandiwara kita lebih nyata,adikku" hendrik melepas pelukannya. Dan tersenyum pada chris yang tersenyum kaku melihat dua pria dewasa yang saling berpelukan.
"chris,terima kasih sudah mempertemukanku dengan adik kesayanganku ini" Ujar hendrik.
"Tidak masalah" Jawab chris. Tiba tiba gadis itu terbatuk,membuat dua pria tampan wijaya menatapnya khawatir.
"Kau kenapa?" hendru segera mengambil gelasnya dan memberikan air minum itu pada chris. chris mengambil air itu dan langsung meminumnya.
hendrik tersenyum tipis memperhatikan adiknya yang begitu perhatian pada chris. Namun senyum itu segera hilang dan berganti sendu saat ia ingat apa yang diderita gadis yang adiknya cintai itu."chris" Panggil hendrik.
chris menoleh,begitu juga hendru.
__ADS_1
"Bisa kita bicara berdua?"
chris tersentak dan menatap heran hendrik. Ia lekas beralih menatap hendru. "Pergilah,Aku akan menunggumu ditaman dekat sini" Kata hendru saat tau arti tatapan chris padanya.
Dengan ragu chris pun menjawab."Baiklah,dokter hendrik".
hendrik dan chris pun pergi berdua,hendru menatap keduanya.
"Ku serahkan chris padamu,kak"
...•••••••...
chris dan hendrik kini berdua duduk disofa diruang kerja hendrik. "Kenapa kau membawaku kesini, Dokter hendrik?" Tanya chris heran. Katanya pria itu ingin bicara berdua dengannya, kenapa malah membawanya kerumah sakit? apa tidak ada tempat lain lagi untuk bicara?,pikir chris.
"Hn, aku akan bicara pada intinya saja. " Ujar hendrik. chris mengangguk, sangat jelas gadis itu sudah tak sabar menunggu apa yang ingin dikatakannya. "Apa kau berhenti kuliah karena kau sakit, chris?".
Mata nya gadis itu membulat sempurna. "K-kau ini bicara apa, hendrik". Elaknya gugup.
hendrik tersenyum simpul. "Aku seorang dokter, dan aku tau itu dari profesor mu, chris" hendrik sengaja berbohong.
chris menegang. ia menundukan kepalanya dan meremas ujung roknya. "Jangan beritau ini padanya" Ucap chris.
"Stadium 2" chris menghela nafas, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada hendrik. "Jangan khawatir, aku bisa bertahan sampai saat ini".
"Sampai kapan kau mampu bertahan? Kanker otak bukanlah penyakit yang sepele, chris" wajah hendrik berubah serius kali ini.
"Aku tau itu. "
"Tentu kau tidak tau, jika kau tau kau akan bersedia menjalani kemoterapi atau operasi,bukan?" Sindir hendrik
chris membuang muka."Aku punya alasan untuk itu" Elaknya lagi.
"Apa kau tidak mau sembuh?"
"Tentu saja aku mau" Nada bicara chris sedikit meninggi. chris diam mendengarkan gadis itu melanjutkan ucapannya."Ibuku akan sangat menderita jika aku mati" Tetesan air mata mulai membasahi pipi gadis itu."Aku...jika aku melalukan operasi,belum tentu akan berhasil dan aku takut itu." Sambungnya.
"Bagaimana dengan kemoterapi?"
"Ibuku akan tau penyakitku nanti jika aku menjalani kemoterapi" chris menyeka air matanya kasar."Aku tidak ingin ibuku tau."
__ADS_1
hendrik menghela nafas panjang."Aku tau,kemoterapi akan membuat pasien mengalami kerontokan rambut sebagai efek kemoterapi itu sendiri. Tapi jika kau sembunyikan ini terus dan tidak melakukan apapun pada penyakitmu itu,kau tak kan mampu bertahan lebih lama lagi,chris" Terang hendrik.
chris meremas lebih kencang ujung roknya."Aku..." suara gadis itu melemah.
"Aku akan membantumu" Potong hendrik.Gadis musim semi itu menatap tak percaya."Percayalah padaku,chris." Tukasnya.
"Senior"
Disisi lain,hendru duduk sendirian dibangku taman dimana tak jauh darinya duduk ada sebuah kolam dengan air mancur ditengahnya. Banyak koin didalam kolam tersebut. Mata nya hendru memperhatikan seorang anak kecil berambut pirang melempar koin kedalam kolam tersebut. Setelah itu,anak kecil berusia 15 tahun itu mengepalkan kedua tangannya kedada sambil memejamkan matanya. Anak kecil pirang itu sedang berdoa ternyata. Karena penasaran hendru menghampiri anak lelaki berusia 15 tahun itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya hendru yang kini berdiri disamping anak lelaki itu.
Anak kecil itu pun membuka mata dan menoleh kearah hendru."Aku sedang memohon." Jawabnya polos.
"Memohon?"
Anak itu mengangguk."Kau tidak tau? orang Chicago sangat percaya tentang ini."
"Benarkah,apa itu?"
"Jika kau melempar koin kedalam kolam dan koin itu masuk kedalam sebuah tempat kosong didalam air kolam yang ada disana,maka segeralah memohon,permohonanmu akan dikabulkan nanti" Jelas anak kecil tersebut.
hendru mendengus."Konyol. Aku tidak percaya itu".
"Tapi aku percaya. Asal itu bisa membuat ibuku sembuh" Ujar anak lelaki itu lagi. Anak lelaki itu lalu merogoh koin disaku celananya dan memberikannya pada hendru. "Ambillah" Setelah memberikan koin pada hendru, anak kecil itu pun pergi, sedang hendru mematung dan menatap telapak tangannya yang terdapat satu buah koin.
Adik dari hendrik itu pun menggenggam erat koin tersebut dan berbalik memandangi kolam tersebut. hendru mulai menutup matanya dan mengatur nafas sebelum melempar koin tersebut kedalam air kolam. Setidaknya dicoba, tidak ada salahnyakan?, pikir pria itu.
Setelah melempar koin itu kedalam kolam,hendru mulai berdoa. Untuk pertama kalinya dan untuk gadis musim seminya,hendru wijaya melakukan hal yang di anggapnya konyol dan mempercayai mitos seperti ini. Apapun itu pria wijaya tersebut akan melakukannya demi chris, asal gadis itu bisa tetap bersamanya dan berada disisinya.
"Aku mohon, buatlah chris menerima tawaran kak hendrik"
"Baiklah, kapan pengobatan itu akan dilakukan?"
"Besok lusa."
.
.
__ADS_1
bersambung