
Embun pagi membasahi dedauan di halaman besar kediaman Haruno, Udara dingin pagi pun begitu terasa diluar sana. Namun itu tak membuat gadis merah muda yang sudah bersiap untuk joging pagi mengurungkan niatnya. Dengan baju olah raga, chris berlari keluar dari kediaman mewahnya menuju taman yang tak jauh dari jl.presiden rumahnya. CEO Haruno Corp. itu memang selalu menyempatkan waktunya untuk joging setiap minggunya. Setelah sampai ditaman, chris duduk sebentar dibangku taman itu untuk istirahat sejenak. Nafas gadis itu terengah engah karna efek berlari tadi. Ia edarkan pandangannya kesekeliling taman, Bibirnya tersungging saat melihat seorang gadis kecil belajar sepeda dengan ayahnya. Namun senyum itu tak bertahan lama, tampak raut wajah chris yang berubah sedih saat ayah gadis itu meniup luka anak gadisnya yang terluka karna jatuh dari sepedanya. Ayah dari gadis kecil itu bahkan membuat anaknya tertawa dan tak menangis lagi. chris tersenyum miris melihatnya, pemandangan itu membuatnya teringat akan sosok ayahnya dulu. chris masih ingat dengan jelas dan tak kan bisa ia lupakan dimana dulu waktu masih kecil ayahnya selalu membuatnya tertawa saat chris kecil menangis dan ayahnya juga akan meniup lukanya saat chris kecil terluka.
Mengenang itu membuat air mata chris membasahi pipinya. Ia menundukan kepalanya dan menangis sesegukan. "Ayah, Buatlah aku tertawa hiks... Ayah... Hiks... Tiuplah luka ku, chris sakit ayah... hiks..." Dengan suara gemetar chris menangis terisak seorang diri dibangku taman tersebut. Gadis merah muda itu bahkan menutup mulutnya dengan tangannya agar mereda suara tangisannya.
DRTTT DRTTT...
Ponsel chris bergetar didalam saku celananya. Gadis itu menyeka air matanya dan mengatur nafasnya agar tak sesegukan lagi. Dahinya mengerut dalam saat dilayar ponselnya tertera nomor asing tak ia kenal. Dengan segera ia mengangkat panggilan itu.
"Siapa ini?" Tanyanya pada seseorang di seberang sana.
"Hn. Ini aku, hendru wijaya."
chris tersentak, hendru menelphonenya dan darimana CEO wijaya itu tau nomer ponselnya, itulah yang dipikiran chris. "Kau, Ada dimana?" Tanya hendru lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Apa kau menangis?" Tebak hendru.
"Apa kau menghubungiku cuma karna itu?"
"Hn. Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja." Akunya.
chris mendengus. "Jangan bercanda dipagi hari, tuan wijaya"
"Aku serius, Nona Haruno".
Hening sesaat
Mereka tak memutuskan sambungan telephone mereka, Hingga chrislah yang memulainya. "Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, akan ku tutup" Ujar chris.
"Hn. Aku ingin bertemu denganmu sekarang" Kata hendru cepat.
"Untuk apa? Apa kau masih ingin tidur bersamaku?"
hendru terdengar mendengus diseberang sana. "Temui aku ddi caffe yang dulu aku menunggumu disana."
TUT... TUTTT
Setelah berujar, hendru lantas memutuskan sambungan telephonenya secara sepihak. chris berdecak kesal. "Mau apa dia bertemu dengan ku." Gerutunya.
.
__ADS_1
.
.
kelvin, Duduk dikursi kerjanya. Sekertaris perempuannya masuk kedalam dengan membawa sebuah berkas ditangannya dan menyerahkannya pada kelvin. Pria itu menerimanya dan menandatangi berkas tersebut. kelvin kembali memberikan berkas itu pada sekertarisnya yang cantik tersebut.
"Apa ada telephone untukku sebelum aku datang kesini?" Tanya kelvin pada sekertarisnya.
"Tidak ada tuan. Tapi tadi ayah anda datang kemari" Jawab sekertaris itu.
"Ayahku? Ada apa dia datang kesini?" kelvin tak mengerti dan sedikit terkejut mendengar ayahnya menemuinya.
Seingat kelvin, ayahnya sibuk mengurus bisnis hotel mereka diluar negeri dan jika ayahnya datang kesini, itu berarti ada hal penting yang ingin ayahnya sampaikan padanya. Dan kelvin yakin itu hal buruk untuknya.
"Beliau cuma berpesan, Anda harus datang kepesta pernikahan tuan Hatake bersama tunangan anda, nona Haruno."
kelvin, nampak terdiam sejenak, raut wajahnya berubah serius. "Hn. Baiklah, kau boleh pergi." Sekertarisnya itu pun berlalu pergi dari ruangan kelvin. kelvin menghela nafas seraya menyadarkan kepala serta punggungnya kesandaran kursi kerjanya.
Tangan kirinya memijat pangkal hidungnya. Kemudian ia mengambil ponselnya yang ada dimeja kerjanya. Mata obsidiannya memandang nanar sebuah foto gadis berambut pirang dilayar ponselnya yang tersenyum sangat manis. "Aku merindukanmu, ina" Gumamnya lirih.
Tiba-tiba, ia mendapatkan satu buah pesan singkat diponselnya. Dari chris.
kelvin, Mendengus geli membaca pesan singkat dari chris. "Dasar, Gadis musim semi jelek" Umpatnya. Pria yang sudah menjadi tunangan chris sejak mereka lulus SMA ini pun mendesah dan menutupi kedua matanya dengan tangan kanannya.
Bibirnya tersenyum miris jika mengingat tunangannya tersebut. Bagaimana tidak, Dano, Ayahnya memaksanya untuk bertunangan dengan chris. Padahal dia sudah memiliki gadis yang ia sukai. Saat itu kelvin dan chris sama-sama menolak, Ayah chris pun menerima hal itu.
Berbeda dengan ayahnya yang tidak menerima dan jika dengan chris gagal maka dia akan tetap dijodohkan dengan gadis dari keluarga kaya lainnya. kelvin tidak mau akan hal itu, karna itulah ia meminta tolong pada sahabat musim seminya itu untuk menerima pertunangan ini agar ia tak ditunangkan dengan gadis lain, Setidaknya jika dengan chris, Ia bisa tetap bisa mendekati gadis itu meskipun gadis itu tak tau perasaannya.
Pria itu terlalu takut jika gadis itu menjauh darinya. Namun semenjak lulus kuliah gadis itu bilang bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun karna ancaman ayahnya yang melarang kelvin menemui gadis itu. kelvin menjauhi gadis itu demi kebaikan gadis itu, meski tanpa disadari gadis itu maupun ayahnya ,kelvin diam diam memperhatikannya meski dari kejauhan.
Hanya chris yang tau akan hal itu. Dan tunangannya itu mendukung hubungannya dengan gadis yang ia cintai. Hanya karna gadis itu dari keluarga biasa, Ayahnya tak merestuinya. Sungguh miris.
.
.
chris meminum jus strawberry disebuah caffe dimana ia dan hendru janjian bertemu. Gadis itu mendengus kesal harus menunggu pria wijaya itu yang tak kunjung datang. Padahal pria itu yang membuat janji.chris berdiri dari duduknya dan hendak pergi namun niatnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria yang ditunggunya masuk kedalam caffe. Pria itu berjalan santai menghampirinya.
"Hn. Apa kau menungguku?" Tanyanya datar dan langsung mendudukkan pantatnya dikursi yang sudah chris pesan tadi.
Gadis itu mendecih dan kembali duduk. "Katakan, apa mau mu, tuan?".
__ADS_1
hendru tersenyum tipis. "Kita bicara nanti saja. Aku lapar" Ujar hendru seraya mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan. Dengan segera pelayan wanita datang menghampiri meja hrndru dan chris. hendru langsung memesan omelet ekstra tomat dan jus tomat favoritenya. chris terkekeh saat tau makanan favorite pria itu. "Ternyata, Kau maniak tomat, eh?" Ejek chris pada pria yang duduk didepannya.
"Hn." Respon hendru datar.
"Ku harap kau membicarakan hal penting, tuan wijaya"
"Hn. Santai saja, chris." chris mengerutkan dahinya saat mendengar pria itu memanggil nama kecilnya.
"Ku kira kita tak seakrab itu, tuan" Komentar chris.
hendru mengidikan bahunya acuh. Membuat gadis merah muda itu mendengus kesal. "Cih! Terserah kau saja lah." Pasrah chris. hendru menyeringai. Pelayan wanita tadi pun kembali datang dengan membawa pesanan hendru. Dengan segera pria itu menyantap sarapan paginya dengan lahap.
"Apa kau sangat kelaparan?" Tanya chris memandangi hendru yang makan dengan lahapnya.
"Hn" Jawabnya sambil memakan makanannya. "Apa kau tidak ingin makan?" .
"Aku sudah kenyang melihatmu makan." Komentarnya.
chris membali meminum jusnya yang masih tersisa dengan menatap pemandangan diluar jendela caffe yang ada disebelahnya. Tiba-tiba penglihatannya menjadi buram, beberapa kali ia menggosok-gosok matanya agar penglihatannya menjadi jelas. Sasuke menyadari hal itu. "chris" Panggilnya.
Gadis itu pun menoleh. "Ya?" Jawabnya. hendru tersenyum miris, Dia menyadari chris tak baik baik saja saat ini, tapi ia tak mungkin menanyakan hal itu. Ia tak mau gadis itu tau, bahwa dia tau kondisi chris sebenarnya. "Untuk masalah kerja sama, aku akan memikirkannya. Kau berikan saja berkas yang perlu ku baca" Ujarnya.
chris mengerutkan dahinya. "Kenapa? Apa kau berubah pikiran? atau kau begitu ingin tidur denganku?" Tanyanya sinis.
hendru berdecak kesal, dia sudah sedikit menurunkan egonya dan peduli dengan gadis itu tapi gadis itu malah berkata seperti itu. "Hn. Aku sudah tak berminat lagi tidur dengan gadis penyukai anak kucing" Kata hendru sekenaknya.
"Apa maksudmu?"
"Hn. Tidak ada, jika kau tidak mau bekerja sama denganku. Tidak masalah."
'Sial! Jika aku menolaknya kali ini, Tua bangka itu pasti akan membuat masalah lagi denganku dan perusahaan.' Batin chris. "Baiklah, Aku akan datang ke kantormu dengan membawa berkas kerja sama besok." Ujar chris.
"Hn" hendru memandangi gadis didepannya intens sedangkan yang dipandang kembali memandangi pemandangan diluar sana, seakan pemandangan diluar sana jauh lebih menarik daripada pria rupawan didepannya. hendru dapat melihat wajah chris yang sedikit pucat. Pria itu semalaman bergelut dengan pemikirannya sendiri tentang gadis itu. Dan saat tadi pagi dia joging ditaman , tanpa sengaja ia melihat chris menangis pilu dan itu membuat pria wijaya tersebut memutuskan membantu gadis itu dengan bekerja sama dengan perusahaan gadis merah muda tersebut. Setidaknya itu akan membuat beban pikiran chris berkurang dan siapa tau akan membuat gadis musim semi itu tersenyum. Entah kenapa hendru tak suka melihat chris menangis seperti itu.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1