Ceo Jatuh Cinta

Ceo Jatuh Cinta
chapter 8


__ADS_3

Gadis musim semi itu berjongkok dan menyembunyikan wajahnya dikedua lututnya tepat didepan pintu lift dikantornya sambil bergumam tidak jelas. "Apa yang tadi ku lalukan, Aaargh dasar bodoh. Kenapa aku tadi menendangnya.". Para karyawan yang melihatnya, memandanginya heran melihat CEOnya yang pagi pagi datang berjongkok didepan pintu lift yang tertutup. Benar benar aneh.


"Hei, Apa yang kau lakukan?" Tanya seseorang yang berdiri disamping chris. Gadis itu mendongak dan menoleh kesamping. "Kau seperti anak kucing yang tersesat saja." Sambungnya.


chris berdiri dan memukul pria yang mengatainya itu. "Untuk apa kau kemari, Mayat hidup!" Ketusnya. Siapa lagi pria yang dipanggil mayat hidup kalau bukan presiden direktur dari Shimura Kingdom, kelvin Shimura.


"Kenapa ? Apa aku tidak boleh berkunjung kesini?"


"Tidak boleh, pergi sana."


kelvin menggeleng tidak percaya. "Hei, berani sekali kau mengusir CEO dari Shimura Kingdom." Kata Sai.


chris bergidik bahu. "Aku tak peduli. CEO wijaya Corp. saja tadi ku tendang kakinya." Ujarnya.


kelvin nampak terkejut mendengarnya. "Kau, bilang apa tadi? Kau menendang kaki hendru? bagaimana bisa?".


Sakura kembali memasang wajah menyesal dan ingin menangis. Gadis itu mengangguk."Ya, dan aku menyesali itu hiks... Bagaimana ini... Aku yakin dia pasti semakin tidak mau bekerja sama dengan perusahan ini dan dewan direksi pasti akan memarahiku hiks... " chris kembali berjongkok seperti semula.


kelvin mengeleng. "Bangunlah. Jaga wibawahmu. Kau ini CEO." Tegur kelvin.


"Aku tidak peduli."


TING!


Pintu lift terbuka. Didalam lift ada maru yang menatap heran chris yang berjongkok seperti anak kucing , didepan lift. "Sedang apa, Kau?" Tanyanya heran.


chris mendongak dan tersentak saat melihat pria yang ia tak sukai itu berdiri didepannya. Seketika chris berdiri. "Tidak apa apa." Jawabnya sambil masuk kedalam lift dan bersikap seolah olah tak terjadi apa apa. maru keluar saat gadis itu dan kelvin yang terkekeh geli ikut masuk kedalam lift.


TING!


Pintu kembali tertutup. chris kembali berjongkok dan menyembunyikan wajahnya dikedua lututnya. Benar benar seperti anak kucing yang tersesat.


.


.


.


.


.


"Bwahahahahah..." Naro tertawa terbahak bahak saat hendru menceritakan pertemuan pria itu dengan chris tadi pagi. Naro lupa memperingatkan hendru agar tak membuat gadis itu marah, Karna yang Naro tau kebiasaan chris kalau marah sangat menakutkan, Seperti ibunya jika marah.


Apa gadis cantik kalau marah seperti itu ya, Menyeramkan. "Maaf hen, Aku lupa memberi tau mu. Kau jangan membuat chris marah. Untung saja kau hanya ditendang olehnya. Dulu aku saja pernah dipukul hingga terlempar jauh olehnya. chris itu dari luarnya saja seperti gadis lembut yang lemah tapi sejujurnya kekuatannya melebihi anak laki laki" Ujar Naro.


hendru mendengus. Kenapa sahabat bodohnya tak bilang sebelumnya."Cih! Gadis itu akan menyesal nantinya." Gumam hendru. Naro mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya, Apa yang akan kau lakukan padanya, hen? Awas ya jika kau mau melukainya aku tak akan tinggal diam." Ancam Naro. hendru mendengus geli. "Memangnya apa yang mau kau lakukan jika aku mau melukainya, hn?" Tanya hendru.


Pria blonde itu mengerang dan menatap sebal sahabatnya. "Jangan berbuat macam macam pada chris ku. Dia itu gadis baik. Dulu dia selalu menolongku jika ada anak laki laki yang mengangguku waktu sekolah. Bagiku chris adalah pahlawanku dan cinta pertamaku" Kata Naro menerwang dan tersenyum tidak jelas. hendru menatap sebal sahabat bodohnya itu. "Cih! kau saja yang lemah." Cerca chris berlalu pergi meninggalkan Naro yang masih bernostalgia.


"Hei, hen. Kau mau kemana?" Teriaknya setelah sadar. Ia segera berlari mengejar hendru . "Tunggu heb, katakan padaku dulu, apa yang akan kau lakukan pada chris." Sambungnya. hendru terus berjalan dan menghiraukan Naro.


.

__ADS_1


.


Malam yang penuh bintang menghiasi kota tokyo malam hari ini. Semilir angin menerbangkan daun mapple yang ada dipinggir jalan. Seorang gadis dengan menggunakan syal dilehernya duduk seorang diri dibangku halte bus. Gadis itu nampak melamun dengan kepala tertunduk.


Dipangkuan gadis itu ada sebuah amplob besar berwarna coklat dengan tertera cap sebuah rumah sakit umum dikota H. chris, gadis yang duduk seorang diri dihalte bus itu menghela nafas panjang. Kemudian ia mendongakkan kepalanya dan tersenyum tegar. Bus yang ia tunggu akhirnya datang. Ia pun berdiri dan naik ke bus tersebut, Namun betapa terkejutnya ia saat mencari tempat duduk dan matanya chris menangkap sosok pria yang tadi pagi ia tendang kakinya , tengah duduk santai dibangku penumpang dan menyeringai padanya.


"Hn, Kita bertemu lagi. chris". Sapanya. Pria itu, hendru wijaya begitu menarik perhatian para penumpang wanita yang ada dibus itu. Bagaimana tidak, penampilannya saat ini yang hanya menggunakan kemeja putih dengan lengan yang dilipat hingga batas siku siku dan kancing yang sedikit terbuka, sangat seksi dimata para wanita apalagi tampangnya yang rupawan. Hanya satu gadis yang tak terpesona dengan penampilan pria itu saat ini, siapa lagi kalau bukan chris. Gadis itu malah nampak terkejut sekaligus sebal melihat hendru.


"Kau, Sedang apa kau disini, heh?" Tanyanya ketus.


"Kau pikir, cuma kau saja. CEO yang naik bus malam. hn?"


chris mendengus tak suka. Pria wijaya ini sebenarnya apa maunya. Jangan jangan ia benar benar mau mengajaknya tidur bersama, Pikir chris.


Gadis itu berkesiap dan berniat mencari tempat duduk lain daripada meladeni pria menyebalkan itu. "Hei, kau mau kemana? disebelahku masih kosong jika kau mau duduk disampingku." Ujar hendru. chris menoleh dan menatapnya tajam. "Tidak. Terima kasih." Tolaknya.


hendru terkekeh. Gadis itu benar benar membuatnya penasaran dan tertarik padanya. chris tidak mendapatkan tempat duduk karna penuh, akhirnya ia berdiri didepan seorang pria yang terlihat mesum karna sejak tadi pria itu terus memperhatikan tubuh chris yang berdiri didepannya. hendru yang mengetahui hal itu terus memperhatikan gerak gerik pria mesum tersebut . Tangan pria itu bergerak menuju pantat chris namun dengan sigap hendru menghentikan tangan kurang ajar tersebut.


"Mau apa kau?" Tanya hendru dingin. Pria itu nampak tertegun dan gugup karna ketahuan hendak melakukan pelecehan. chris menoleh kebelakang dan menatap keduanya heran. Gadis itu tak tau bahwa hendru telah menyelamatkannya. Meski sebenarnya chris mampu mengatasinya karna gadis itu juara karate dulu waktu disekolah.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya heran.hendru menatap chris dan menarik tangan gadis itu dan menyeretnya kebangku dimana hendru duduk tadi. Pria wijaya itu memaksa chris duduk, dengan enggan gadis itu pun menurut. chris melirik tajam pada pria yang kini duduk disampingnya.


"Apa yang pria itu lakukan tadi?" Tanya chrisketus.


"Kenapa kau suka naik bus? Banyak pelecehan terhadap wanita didalam kendaraan umum." hendru malah balik bertanya pada chris.


"Jangan khawatir aku bisa mengatasinya."


hendru menatap sinis chris. "Benarkah? Jika tadi aku tak menghentikanmu, pria itu pasti sudah keenakan menjamah pantatmu." Terang hendru kesal.


"Aku berbeda dengannya. Aku bernegosiasi denganmu." Sanggah hendru.


chris mendengus. "Aa, jadi itu caramu bernegosiasi,eh? jadi sudah berapa banyak wanita yang sudah kau tiduri jika mereka ingin bekerja sama denganmu, hn?" Tanya chris ketus.


hendru tersenyum sinis pada chris dan mendekat kearah gadis merah itu, chris berkesiap dan mundur sedikit kebelakang hingga kepalanya menyentuh kaca jendela bus. "Kau lah, yang pertama. Jika kau bersedia melakukannya." Ujarnya dingin dan menatap dalam matanya chris. Gadis itu menelan ludahnya susah payah, pria didepannya saat ini benar benar membuatnya gugup. Bus berhenti dihalte, chris yang tau hal itu lantas segera berdiri kaku. "A-aku sudah sampai. Minggir" Titahnya.


hendru mendengus dan memberi gadis itu jalan. chris pun tak menyia nyiakan kesempatan itu dan segera turun dari bus. Namun gadis itu tak menyadari bahwa amplob besar yang ia bawa tadi terjatuh dibawah kursi bekas tempatnya duduk tadi. hendru yang masih duduk didalam bus tanpa sengaja melihatnya dan memungut amplob itu. Tertulis jelas nama chris di amplob itu.


"Ini milik, gadis itu." Gumamnya. hendru menyerngit saat nama sebuah rumah sakit juga tertulis di amplob besar itu. "Rumah sakit umum kota H ?". Dengan pelan hendru membuka amplob besar itu dan mengambil isi dari amplob tersebut. hendru membaca berkas pemeriksaan kesehatan chris Matanya hendru terbelalak saat membaca berkas itu. "Dia..." Gumam hendru.


.


.


.


.


.


.


chris berjalan kaki menuju distrik kota H dimana rumahnya berada. Ia berjalan santai dengan pandangan kosong.

__ADS_1


Flashback...


"Apa tingkatanya bertambah?" Tanya chris pada dokter suna.


"Jadi. Kau sudah tau, bahwa kau terkena kanker otak?". Tanya balik suna. Dokter wanita itu nampak sedikit terkejut mengetahui bahwa chris ternyata sudah tau penyakitnya,suna tau chris adalah mahasiswa kedokteran, mungkin karna itu gadis itu mengetahui kondisi tubuhnya. Namun yang suna tak mengerti kenapa gadis itu nampak biasa saja dan tidak segera melakukan pengobatan.


"Hn. Begitulah. Aku sudah mengetahuinya saat masih di Amerika." Ujar chris.


suna tersentak. "Lalu kenapa kau tak melakukan pengobatan lebih dini. Jika itu kau lakukan, mungkin kanker otak yang kau derita tidak meningkat menjadi stadium 2, chris." Omelnya.


Gadis merah muda itu tersenyum miris. "Bagaimana aku bisa mengobatinya, dokter? saat itu ayahku meninggal, aku harus pulang dan mengurus perusahaan ayah. Aku tak punya waktu untuk melakukan operasi atau pun kemoterapi." Ujarnya.


"Jadi maksudmu kau akan membiarkan kanker otak mu ini menjadi stadium akhir, begitu.? Apa kau sudah gila!" Bentak suna. Sejujurnya ia tak mengerti dengan pemikiran chris. Kenapa ia tak punya keinginan untuk sembuh.


"Bukannya aku tak mau sembuh, dokter. Hanya saja aku tak punya waktu untuk itu."


suna mendengus. "Jika merry tau tentang ini, Aku yakin dia akan menyuruhmu untuk melakukan pengobatan penyakitmu.". Kata suna.


chris menatap datar dokternya itu. "Dokter, jawab pertanyaan ku. Jika aku melakukan operasi apa itu tidak akan membahayakan nyawaku? yang ku tau, operasi itu beresiko tinggi. Karna sedikit kesalahan saja, pembulu darah di otakku bisa pecah dan infeksi. Apa aku benar?" Tanya chris.


suna menghela nafas dan mengangguk. "Ya, kau benar." Jawabnya. "Tapi jika operasi itu berhasil kau bisa sembuh, chris. Apa kau tak percaya padaku?".


Gadis itu tersenyum. "Aku percaya padamu, dokter. Kau adalah guruku dan karnamu aku mempunyai cita cita ingin menjadi dokter yang hebat sepertimu, Tapi aku tak bisa untuk saat ini, karna aku harus melakukan sesuatu dulu pada Haruno Corp. , aku ingin membuat ayahku disurga bangga padaku." Tukasnya.


suna mendesah, Pasiennya ini benar benar keras kepala. "Baiklah, Aku akan memberimu waktu dan obat agar kankermu tak semakin menyebar dan meningkat. Tapi ingatlah chris, obat ini hanya menghambat agar kanker otak mu tak cepat meningkat. Kau harus secepatnya operasi atau menjalankan kemoterapi. ".


"Aku mengerti dokter, terima kasih" Ucap chris tulus.


Flashback Off...


chris meneteskan air matanya, Ia tak tau dosa apa yang ia lakukan dimasa lalu sehingga mengalami semua ini, Awalnya chris ingin mengobati penyakitnya saat di Amerika , Ia ingin sembuh karna gadis itu ingin menjadi dokter. Bahkan berkat dukungan seorang teman prianya yang sudah dulu menjadi dokter disana, chris ingin sembuh, namun saat ia hendak melakukan pengobatan, chris mendapatkan kabar kematian ayahnya.


Sejak itulah chris memutuskan untuk melupakan cita citanya menjadi dokter dan meneruskan perusahaan ayahnya serta mengabaikan kondisinya. Ia sudah tau hal ini akan terjadi, sebagai mahasiswa kedokteran ia tau, bahwa kanker otak yang ia alami akan meningkat tingkatannya jika tak segera di obati, dan benar saja sekarang kanker otaknya menjadi stadium 2.


chris menyeka air matanya, Ia tak boleh menjadi gadis yang lemah. Dia adalah Haruno chris, pewaris tunggal Haruno Corp. Ia akan bertahan dan tak kan menyerah, dengan penyakitnya maupun dengan usahanya meneruskan kembali perusahaan ayahnya.


"Meong..." Dengar suara anak kucing disekitar jalan yang chris lewati. Langkah chris terhenti dan matanya mengedarkan pandangan kesekeliling untuk mencari sumber suara kucing itu. chris akhirnya menemukan anak kucing itu yang ada disebuah kotak kardus karton yang ada didekat tempat sampah dirumah yang ada disana. Sakura mendekat dan berjongkok. "Kau, lucu sekali. Apa kau dibuang?" Tanya chris pada anak kucing berwarna putih itu. Anak kucing itu hanya mengaung dan menatap chris seakan ingin gadis itu merawatnya.


chris tersentuh dan kasihan pada anak kucing itu. Lalu ia menggendong anak kucing itu seraya berdiri. "Hei, kau tau. Sai tadi pagi mengataiku seperti anak kucing. Dan sekarang aku bertemu dirimu, kau benar benar mirip denganku, lihat saja. Kau memiliki mata yang sama denganku." Kata chris pada anak kucing itu.


"Meong... Meong..." Jawab Anak kucing itu. chris tersenyum , melihat anak kucing ini membuat ia terhibur dan melupakan kesedihannya sejenak. "Dengar, Aku akan merawatmu mulai sekarang. Aku juga akan memberimu nama. Bagaimana jika namamu Siro, seperti warna bulumu yang putih , apa kau setuju?" Tanya chris pada anak kucing itu dan lagi lagi Siro hanya menjawabnya dengan mengaung.


chris, kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah mewahnya dengan menggendong Siro ditangannya. Tak lupa ia selalu mengelus elus Siro dengan lembut serta mengajaknya bicara. Sakura tak menyadari bahwa dibelakangnya ada seorang pria yang berjalan mengikutinya dari belakang. Pria yang memegang amplob ditangannya itu, menatap punggung chris dengan pandangan sulit untuk di artikan. hendru, Pria itu tak mengerti kenapa ia bisa begitu peduli dengan gadis itu. Gadis yang mungkin tak kan bisa hidup lebih lama lagi. Sungguh gadis yang merepotkan.


"...Tak ada seorang gadis yang bisa menyentuh hatiku. Jika ada, Mungkin aku akan menikahinya."


hendru tiba tiba teringat kembali kata katanya saat diwawancara dulu. Apa mungkin gadis itu berhasil menyentuh hatinya? ,pikir hendru. Yang ia rasakan saat ini hanyalah ia peduli pada gadis merah muda tersebut.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2