
Arinda sudah masuk ke kamar dan tidak lama disusul Gavin dari belakang gadis itu.
"Udah siap??"
Ya kak"
"ya udah ayo!"
Mereka turun beriringan sambil menarik koper. Gavin dan Arinda sudah ada di ruang tamu, pengurus villa mengambil koper dari tangan Gavin dan mengikutinya dari belakang. Pengurus villa dengan cekatan membuka bagasi mobil dan memasukkan dua koper ke dalam bagasi.
Terima kasih kang" Ucap Gavin tulus
"Sama-sama tuan muda" Balas pengurus villa
Gavin dan Arinda masuk ke dalam mobil dan mesin mobil menyala, Arinda melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan dan pengurus villa membalas dengan senyum sumringah.
mobil melaju keluar dari gerbang villa melewati jalan yang berkelok dan tidak.lama jalan besar pun terlihat. Mereka sudah keluar dan senyum Arinda surut dan di gantikan tatapan sendu. Ia bingung sebenarnya ada apa dengannya rasa sesak itu tidak menghilang. Ada yang aneh dengan dirinya dan apa ada yang disembunyikan oleh kekasihnya.
Arinda bertekad untuk mencari tahu dan apa yang sebenarnya ia rasakan. mudah-mudahan tidak ada kejadian buruk nanti karena Arinda sendiri sudah pasti ketakutan.
__ADS_1
Arinda melamun dan tidak mendengarkan Gavin memanggilnya, setelah sekian kali Gavin memanggil akhirnya Arinda menjawab panggilan dari Gavin
"Maaf ka"
"Kamu kenapa sih sayang"
"Aku ngga apa-apa koq ka, beneran dech"
"Kalo ada yang kamu rasakan dan ngga enak, kasih tahu aku sayang"
"ya ka"
Gavin sebisaungkin bersikap biasa karena ia tidak ingin tunangannya itu curiga dan memilih untuk pergi darinya. Gavin benar-benar tidak ingin itu terjadi, Gavin bakalan mengambil tindakan paling nekat kalo sampai itu terjadi.
Sepanjang perjalanan Arinda hanya diam dan sesekali menanggapi ucapan Gavin. Gavin yang sebenarnya pendiam, ia mulai kesulitan mencari topik pembicaraan. Ia benar-benar kaku, tapi akhirnya ia bisa berbicara dengan leluasa setelah Arinda menanggapi perkataan darinya.
Tiga jam berlalu dan akhirnya mereka sampai di depan rumah orang tua Arinda. Tapi kebingungan menerpa mereka karena tidak ada siapapun di saat mereka sampai.
Arinda sudah mengetuk berkali-kali tapi tak ada sahutan dari dalam rumah. Gavin juga menelpon calon ayah mertuanya dan telepon tidak aktif karena hanya operator yang menjawabnya.
__ADS_1
Kegelisahan menerpa Arinda dan ia bingung kemana orang tuanya pergi. Rumah kosong padahal mereka cuma pergi selama tiga hari. Tapi siapa sangka orang tuanya ngga ada di rumah.
"papa, mama dimana kalian?" ucap Arinda lirih dan air mata jatuh membasahi wajahnya yang cantik.
Arinda menangis histeris karena mama dan papanya tiba-tiba saja menghilang, entah kemana rimbanya.
"Sayang" Panggil Gavin
Tidak ada sahutan dari gadisnya, ia madih menangis dan Gavin mengulurkan tangannya dan mendekapnya. Pelukan Gavin akhirnya menenangkan Arinda dan Arinda mulai berhenti menangis walaupun masih sesegukan.
"Kita ke apartemen ya?"
arinda menggeleng karena ia hanya ingin di rumah orang tuanya. Arinda masih menegang kunci cadangan rumah orang tuanya dan Gavin juga tidak visa memaksa keinginan gadisnya. Arinda mengambil.kynci dan memasukkan ke dalam bagian kunci dan memutar kunci
Ceklek
bunyi kunci yang di putar dan pintu rumah terbuka, hanya ada keheningan dan rumah yang ia lihat kosong. Arinda melangkah masuk ke dalam dan berhenti di ruang tamu. Perabotan masih lengkap dan tidak ada yang kurang.
"Sebenarnya papa dan mamanya kemana?"
__ADS_1
Maaf ya readers baru bisa update lagi, jangan lupa like, comment, vote dan gift ya. 😘😘😘🙏