
kota H
"Ngh..." Merry mulai sadarkan diri dari pingsannya. kelvin yang sedari tadi menjaganya pun sedikit lega saat menyadari calon mertuanya itu sudah mulai sadar. Ia merasa bersalah telah membuat ibu sahabatnya ini pingsan karenanya.
"Bibi,apa bibi baik baik saja?" Tanya kelvin cemas.
Merry mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan kelvin segera membantunya. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling.
"Maaf bi,karena gara gara aku bibi jadi masuk rumah sakit" Sesal kelvin.
Mendengar ucapan kelvin, Merry jadi ingat sekarang penyebab ia tiba tiba tak sadarkan diri. "kelvin, apa itu benar?" Tanya Merry.
Pria berambut klimis itu pun mengangguk lemas. "Maaf".Sesalnya lagi.
Merry menghela nafas, ia mencoba mengatur emosinya agar hipertensinya tidak bertambah. "chris, aku tidak menyangka dia rela melakukan ini untukmu dan kekasihmu. "Merry kini menyadari sesuatu. "Apa kekasihmu itu bernama Ina?".
kelvin, nampak terkejut mendengarnya. Darimana ibu chris bisa tau tentang Ina?, pikir kelvin.
"Bibi, Ina sama sekali tak bersalah dalam hal ini, chris pun sama. Akulah yang... "
"Aku tau, kau tenang saja. Gadis bernama Ina yang kalian berdua lindungi dari ayahmu itu, tak kan ku sebut namanya didepan ayahmu nanti." Potong Merry.
"Apa bibi ingin memberitau yang sebenarnya antara aku dan chris pada ayahku? " Terdengar rasa khawatir dikalimat pria itu.
"Sandiwara kalian harus berakhir sampai disini sebelum ayahmu akan semakin melanjutkan pernikahan kalian. Tapi kau tak perlu khawatir, biar aku yang mengakhiri sandiwara kalian." Merry melanjutkan. "Aku melakukan ini, demi putriku, chris. Sudah cukup ia mengorbankan dirinya untuk orang lain. Putri ku yang bodoh itu, juga pantas bahagia,kelvin".
"Maafkan aku, bi. Kau benar"kelvinmelanjutkan. "chris, pantas bahagia dan harus bahagia".
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
Northwestern Memorial Hospital, Chicago - America Serikat.
..Jadi, kau tau tentang ku dari chris?" Tanya hendrik. Saat ini mereka duduk berhadapan dikantin rumah sakit yang terlihat sedikit sepi karena waktu menunjukkan jam 12 malam.
"Hn" hendru mengangguk.
hendrik terkekeh. "Aku tidak menyangka kalian saling mengenal. Dia gadis manis yang baik".
hendru mendengus, entah kenapa ia sedikit tidak suka saat ada pria lain menyebut chrisnya manis, meski itu kakaknya sendiri yang berucap. "Hn, dan aku datang kesini juga bersamanya".
hendrik nampak terkejut mendengarnya. Lalu dokter tampan itu menoleh kekanan dan kekiri guna mencari sosok gadis yang mereka bicarakan. "Dia ada diapartemennya saat ini." Ujar hendru saat melihat tau maksud hendrik.
"Aa, sayang sekali. "hendrik nampak kecewa, lalu seringai muncul dibibir pria itu ."Apa kau juga tinggal di apartemennya? Kalian pacaran ya? "Tebak hendrik.
hendru memutar bola matanya, kakaknya ternyata tak berubah. Meski kini ia seorang dokter hebat tapi sifatnya masih sama seperti dulu. hendru mendengus kemudian. "Aku jauh jauh datang kesini dan membawanya ke Chicago bukan untuk kau godai, kak. Ada sesuatu hal penting yang ingin ku katakan dan ini menyangkut hidup chris". hendru mengucapkan dengan nada serius yang nampak jelas dari raut wajahnya. hendrik bisa melihat itu.
"Katakan"
hendrik tertegun,Untuk pertama kalinya adiknya, hendru wijaya memohon untuk orang lain. Dan hendrik pun bisa melihat wajah adiknya yang begitu berharap padanya.
Adiknya sudah berubah ternyata. Dan hendrik yakin itu karena chris. Gadis itu telah menyentuh hati adiknya yang dulunya dingin dan tak peduli dengan orang lain. hendrik tersenyum hangat kemudian.
"Kau, sudah berubah, hen. Sepertinya aku sudah melewatkan banyak hal."Batin hendrik.
"chris, memangnya sakit apa? ".Tanya hendrik. Pria itu sepertinya mempunyai firasat tidak baik tentang chris, jika adiknya itu saja rela memohon padanya demi gadis itu, mungkin saat ini chris mengindap penyakit parah.
Apalagi hendrik sampai sekarang masih tidak mengerti alasan gadis itu tiba tiba berhenti kuliah sebelum mendapatkan gelar dokternya dan tiba tiba saja pulang ke jepang.
hendrik sempat bertanya pada profesor Smith yang membimbing chris selama disini, tapi profesor Smith bilang gadis itu berhenti karena ayah gadis itu meninggal. hendrik merasa janggal kan hal itu. Dan mungkin inilah alasan gadis itu yang sesungguhnya, dia akan segera tau malam ini lewat adiknya, hendrik.
"Kanker otak, stadium 2" Jawab hendru.
hendrik tercengang mendengar penyakit yang diderita juniornya dulu dari hendru.
__ADS_1
...•...
...•...
...•...
kota B
Dano yang baru selesai menghadiri rapat disebuah hotel salah satu milik rekan bisnisnya, berjalan dengan langkah penuh wibawah menuju ruang kerjanya. Saat ia berhenti dan berdiri didepan pintu lift yang masih tertutup, tiba tiba ponsel yang ada disaku dibalik jas yang ia kenakan saat ini pun berbunyi. "Mei Trawira?" Gumam pria paruh baya itu saat melihat nama panggilan yang ada dilayar ponselnya.
Ting!
Bersamaan dengan pintu lift terbuka, Dano segera menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan dari putri dari Trawira sahabatnya tersebut. "Ada apa kau menghubungiku, Mei?" Tanya Dano pada orang diseberang sana sambil masuk kedalam lift.
"hendru, pergi ke Amerika hari ini dengan gadis itu, Paman!" Suara Mei terdengar marah diseberang sana."Calon menantumu itu membawa pergi priaku".
"Kau, jangan bercanda. Mei" Suara pria tua itu terdengar dingin, wajahnya nampak menahan emosi.
Ting!
Pintu lift kembali terbuka, Dano pun keluar dari lift itu. Ponselnya masih ia tempelkan ditelinganya. Langkahnya terhenti saat ia melihat seorang wanita paruh baya berdiri didepan pintu ruang kerjanya.
"Aku akan menelphonemu nanti" Setelah mengucapkan itu, Dano segera menekan tompol merah pada ponselnya dan kembali berjalan mendekati wanita yang sepertinya sudah sejak tadi menunggu kedatangannya.
"Aku ingin bicara denganmu,Dano" Ucap wanita tersebut tegas.
"Hn. Aku pun sama, Merry. Masuklah"
.
.
bersambung.....
__ADS_1