
Anye POV
Gw sedikit kaget dengan pertanyaan Devan tadi di rumah papa, kenapa dia sampai tanya siapa gw??
apa jangan-jangan dia udah sadar kalo gw cewek yang menghajar lelaki b******k yang membuat dia babak belur waktu di klub.
tapi gimana dia bisa sadar sih, selama ini juga udah gw tutup rapih masalah itu, ga mungkin kan dia bisa tau??
gw benar-benar dibuat kaget saat Devan berhenti di depan gedung apartemen gw, ternyata cowok ini bukan orang biasa, dia punya insting yang kuat juga ternyata, bahaya kalau sampai dia tau gimana masa lalu gw,
papa pasti bakal tau juga ..habislah gw.
gw bukan takut kehilangan sosok Devan yang udah bisa bikin gw nyaman, eehm..kok jadi takut dia bakal ninggalin gw ya...ah terserahlah tapi yang gw khawatir dia ga bisa diajak tutup mulut dan tetap merahasiakan masa lalu gw sebagai seorang intel, tapi kenapa juga gw harus khawatir toh juga sekarang gw udah resign dan hampir 3 bulan ini ga pernah lagi komunikasi dengan rekan-rekan Intel disana kecuali dengan George.
turun dari mobil tangan gw ditarik gitu aja sama nih cowok, tanpa banyak tanya dia juga samperin reception yang emang kenal sama gw, dan minta kunci cadangan dengan alasan gw lupa bawa kunci apart gw.
kayaknya gw harus nyerah sama ni cowok, gw ga bisa berkelit lagi sama dia, kalau ini memang apartemen gw.
Anye POV end
klek...
pintu apartemen pun terkunci dari dalam dan disinilah kedua orang yang sedang bersitegang tersebut berdiri.
Devan melangkah lebih dalam memasuki apartemen Anye dan duduk di sofa tempat ia pernah di tidurkan oleh gadis yang menolongnya saat ia mabuk tempo hari.
Anye hanya bisa menghela nafas kasar, lalu mengikuti Devan dan duduk di samping lelaki itu.
"jadi.....apa yang lw mau tau??" tanya Anye ketus.
Devan tersenyum menyeringai, akhirnya gadis ini menyerah juga, awalnya Devan tidak yakin kalau gadis yang menolongnya dan Anyelir adalah orang yang sama terlebih Anye selalu menunjukkan sisi feminim nya saat bersama Devan,
"Jujur sama aku sekarang,....kenapa kamu punya dua karakter berbeda, kamu kan yang nolong aku dulu di klub??" tanya devan dengan suara yang begitu lembut, berbeda saat ia menarik tangan Anye tadi.
"ga usah pake aku - kamu gitu juga kali, sakit kuping gw dengernya" ketus Anye yang masih merasa kesal pada Devan.
tiba-tiba Devan berdiri lalu duduk bersimpuh dihadapan Anye, membuat gadis itu terkejut dan menatap aneh pada Devan.
__ADS_1
"DEV.....LW NGAPAIN" teriak anye yang kaget dengan tindakan Devan.
"Anyelir....." tangan Devan menggenggam kedua tangan Anyelir dan menatapnya dengan sendu.
"Akhirnya aku bisa nemuin kamu..., tadinya aku berniat untuk mencari tahu siapa gadis yang menolongku waktu dan berinisial AKP itu, wangi harum vanila dari tubuh gadis itu entah kenapa membuat sesuatu yang selama ini terpendam dalam diriku meronta ingin keluar, aku merasakan rasa yang asing didalam sini" Devan menarik tangan yang masih bertautan dengan jemari Anye ke arah dadanya.
"sesuatu yang asing namun membuatku nyaman dan merasa ingin tetap berada di tempat ini, menunggu hingga gadis itu kembali, tapi ketika kamu datang saat undangan makan malam keluarga kita dalam sosok Anyelir, perasaan itu muncul lagi dan semakin lama berdekatan denganmu membuatku merasa nyaman Princess" Devan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, Devan putuskan dia tidak akan melepaskan Anyelir, dia harus memiliki Gadis ini, tapi dia harus tau semua rahasia yang ada pada diri Anyelir terlebih dahulu.
'deg...'
'princess???....ah...tidak mungkinkan dia tau soal identitas Intel gw??' anyelir merasa kaget ketika Devan menyebutkan nama "Intel"nya itu.
ekspresi anyelir juga tidak luput dari penglihatan Devan, kenapa gadis ini terkejut saat ia memanggil nama princess?? bukankan nama panjangnya Anyelir Krisna Putri dan "putri sama dengan Princess?? Devan semakin penasaran.
mereka masih saling menatap dalam diam hingga suara ponsel Devan berbunyi.
"ya dad??"
"......."
"…......"
"bisakah kau mintakan ijin pada papa anye? sepertinya kami akan menginap, ya sekarang kami diluar kota, sepertinya tidak akan cukup waktu untuk kembali"
"......"
"ah...momm...ya aku tidak akan macam-macam"
"......"
"ya...thanks momm....i love you"
panggilan pun terputus, anye mendorong Devan hingga terjatuh.
"hei apa-apaan lw bilang...kita mau nginep!!?, luar kota??, baiknya lw pergi dari sini, sebelum.." kata-kata anye terputus ketika Devan tiba-tiba berdiri dan menjatuhkan tubuh Anye ke sofa dan Devan berada diatas nya, jarak mereka begitu dekat, jantung anye berdegup kian kencang, otaknya seolah mati dan tidak bisa berbuat apapun, pikirannya berkata untuk melawan Devan seperti layaknya melawan para b******n yang akan berlaku jahat pada Anye, namun hatinya membiarkan Devan melakukan apapun.
"sebelum,....apa Princess??" Devan merasakan tubuh anye sedikit menegang kala Devan mengucapkan kata princess lagi.
__ADS_1
"de...Dev....lepas..." Anye berusaha mendorong tubuh Devan, namun kekuatan Devan ternyata lebih besar dari Anye.
"lepas b******k....lw ngapain....atau gw bakal ter....hmmpp" bibir Anye berhenti berteriak kala Devan menyatukan benda kenyal itu dengan miliknya, awalnya hanya mengecup, namun kecupan itu berubah menjadi *******, dan menuntut.
Anye yang terkejut dan hampir hilang kesadaran karena ini kali pertama untuknya dan itu ciuman pertamanya selama 20 th....ah tidak...ini ciuman keduanya, ya anye ingat dulu saat ia terakhir bertemu dengan keluarga Widya, ia ingat lelaki kecil yang sekarang telah menjadi pria dewasa ini pernah memberikan kecupan sama di bibirnya sekilas dan berkata "aku akan memberikan lebih dari ini ketika kita bertemu lagi"
tanpa mereka sadari ciuman yang mereka lakukan mengingat kan kembali saat masa kecil mereka bersama dan Devan juga mengingat dengan jelas apa yang ia katakan pada gadis kecil yang saat ini telah tumbuh menjadi wanita cantik yang berada dalam dekapan nya dan berbagi Saliva saat ini.
ciuman mereka terlepas...karena kehabisan oksigen dan membuat mereka sulit bernafas.
Devan menautkan keningnya pada kening Anyelir.
"I love you Anyelir" bisikan lembut di telinga anyelir membuat tubuh Anye menegang.
Devan melepaskan dekapannya dan memperbaiki pose duduk dan tatanan rambut anye yang tadi sempat sedikit berantakan karena kelakuannya dan devan tetap mempertahankan posisinya di hadapan Anyelir.
Anyelir tidak dapat mengatakan apapun, ia masih terlalu kaget dengan semua yang terjadi secara tiba-tiba, otaknya tidak sepintar saat ia menjalankan misi saat ia sedang bekerja.
apakah karena tidak pernah olah raga dan menghajar orang membuatnya menjadi lemah dan tak berdaya seperti saat ini??
"Anye....maafkan aku, tapi aku benar-benar ingin tau lebih tentang kamu, bisakah kamu berbagi cerita dengan ku Nye?? bisakah kamu percaya pada lelaki yang tulus mencintaimu dan jadilah kekasihku" Devan kembali menggenggam kedua jemari Anye.
"A..aku...maaf Dev...aku belum siap" lirih Anyelir.
Jujur ada rasa menyesal setelah mengucapkan kata-kata itu, anye begitu bodoh dengan tidak menyadari perasaanya sendiri, sebenarnya anye juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Devan, namun bibirnya berkhianat, ia masih belum siap untuk berbagi kisahnya dengan siapapun, karena ia masih memiliki misi pribadi yang belum terselesaikan.
Devan menghela nafas kasar, dia sadar ini semua terlalu terburu-buru, ia yakin anye masih ragu akan dirinya.
"kamu tidak siap untuk apa Nye? berbagi cerita dengan ku atau belum siap untuk menerima cintaku dan menjadi kekasihku?" tanya Devan kembali.
"kita berdua sudah di jodohkan, dan akan tetap berakhir bersama, namun aku ingin perjodohan ini juga didasari atas Cinta, aku ingin kita menikah nanti dalam kondisi saling mencintai dan saling terbuka dalam hal apapun" Devan kembali mengingatkan anyelir tentang perjodohannya
awalnya Anye ingin menolak, namun ketika melihat papanya begitu antusias bercerita tentang Devan sebagai calon menantu idamannya niatnya ia urungkan, anye tidak ingin membuat ayahnya bersedih karenanya.
"aku butuh waktu Dev...Bisakah aku istirahat dikamarku" pinta Anye yang dijawab dengan anggukan.
"istirahatlah dulu...aku akan memesan makanan untuk makan malam kita" Devan membenarkan posisi nya kembali duduk di sofa dan mulai memesan makanan, sedangkan Anyelir segera berlari masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamarnya rapat-rapat.
__ADS_1