
"Ma..maaf bos...saya sudah tidak bisa lagi memanipulasi data dan menggelapkan uang di perusahaan Krisna, karena sekarang mereka mempunyai pendukung yang handal dalam bidang teknologi, hampir semua akses digital sekarang di lindungi, saya kesulitan untuk bergerak"
'BRUK'
"BODOH!!.."
Farid ketakutan setengah mati melihat lelaki yang mengenakan setelan jas dan terlihat elegan berdiri sambil menggebrak meja dengan nafas yang memburu karena amarah.
Bramantyo Orke, lelaki blasteran yang saat ini menjadi pengusaha sukses dan menguasai pasar properti di belahan bumi Eropa juga Asia merupakan rival dari Krisna.
tidak hanya rival dalam bisnis namun juga rival dalam percintaan, Bram adalah sosok yang sangat terobsesi untuk memiliki Ayumi sebelum akhirnya Krisna menyelamatkan Ayumi dari tangan Bram dan menikahinya, Krisna juga memberikan pelajaran pada bram dan keluarga nya hingga membuat bisnis keluarga Bram sempat berantakan dan Bram beserta keluarganya harus rela meninggalkan negara A untuk membangun kembali bisnisnya mulai dari nol di negara x.
Hingga Bram berhasil membangun kembali jaringan bisnisnya dan merencanakan kehancuran untuk keluarga Krisna, namun malang tak dapat dihindari, saat target yang seharusnya adalah Krisna tergantikan oleh Ayumi yang menaiki mobil yang seharusnya dinaiki oleh Krisna, malang tak dapat dielakkan mobil yang dikendarai oleh Ayumi harus melesak masuk kedalam jurang dan terbakar, Krisna bukan tidak mengetahui mengenai kebusukan Bram yang menyebabkan istrinya meninggal dunia, saat ia mengusut motif dibalik kecelakaan tersebut ternyata yang di targetkan adalah dirinya sendiri maka sejak saat itu, Krisna memilih untuk diam, Krisna sengaja tidak mengangkat kasus meninggalnya istri dan juga adik beserta iparnya yang tak lain adalah orang tua Jonas, beruntung saat itu, Jonas dan Anye yang seharusnya ikut dalam mobil tersebut sempat dititipkan pada keluarga yang lain hingga mereka berdua dapat selamat dari kecelakaan berujung maut tersebut.
Hingga Krisna membuat skenario bahwa anaknya juga ikut terbawa dalam mobil yang ditumpangi oleh Ayumi, semua itu ia lakukan demi menyelamatkan putri kecilnya - Anyelir
"Siapa yang membantu lelaki b******k itu" gumam Bram, namun masih bisa di dengar oleh Farid dan beberapa anak buah Bram.
"Morgan, keluarga Morgan, namun yang menangani kasus ini adalah anaknya saja, namanya Devan"
"aaah...Devan Morgan, ya... good aku sedikit kenal dengan lelaki ini" sahut Bram dengan seringainya yang licik.
"ada berita terbaru juga bos, kalau sebenarnya Krisna masih memiliki anak yang masih hidup" Farid memberi informasi apa saja yang sekiranya dibutuhkan oleh Bramantyo.
"APA ...!!!"
"ma..maaf bos... Puteri Krisna dijodohkan dengan Devan Morgan" sahut Farid dengan terbata.
'jadi ini yang kau sembunyikan hampir dua puluh tahun Kris, hmm...menarik' Bram menyunggingkan senyum tipis.
"kita ikuti permainan mereka, kau tetaplah disana sambil memantau perkembangan mereka, dan laporkan semuanya padaku" titah Bram pada Ferdi.
'mungkin ini saatnya ku gunakan bocah sialan itu untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama puluhan tahun lalu, kita lihat saja Kris, aku akan mengambil semua yang kau miliki termasuk putri mu yang kau sembunyikan, kali ini aku memiliki jackpot.' Bram terkekeh sendiri dalam ruangannya.
______
Ting....
pesan masuk pada ponsel Anye, sudah beberapa bulan lamanya anye tidak pernah membuka ponsel tersebut, ponsel yang menghubungkan dirinya dengan keluarga besarnya di inteligent, ternyata pesan masuk tersebut berasal dari George, dan beberapa dari Damian.
//Princess, bagaimana kabarmu, sebaiknya kau hati-hati
//Princess kita harus bertemu
__ADS_1
//Princess balas pesanku
//Princess Kasus matrix database dibuka kembali, Murphy is back dan dia mencari "Princess", kau baiknya hati-hati, jangan pernah menunjukan kembali wajah princess di manapun,
ingat itu, aku akan berusaha selalu melindungimu
Pesan terakhir yang membuat Anyelir sedikit terkejut 'tidak mungkin, harusnya ia sudah mati, bagaimana ia bisa hidup kembali??
lalu anye menggulir kembali pesan chat nya mencari chat dari Damian
//Hai Princess, apa kabar
//kenapa kau tak bilang akan mengundurkan diri
//kenapa nomor ini susah sekali dihubungi??!
//Murphy kembali princess aku harap kau bisa menjaga diri baik-baik
//Aku akan menjagamu dari jauh
'hmm....Murphy kembali, baiknya aku kembali ke negara B untuk menyelesaikan masalah ini, lalu bagaimana dengan Devan?' anye membatin dalam hati.
Tut...tut....tut...
"George, Aku akan datang, bisa siapkan semuanya" belum sempat suara diseberang sana berbicara lebih Anye langsung memotong perkataan George.
"Tapi Princess, bukankah kau bilang kalau..." perkataan George terputus
"aku akan tiba besok lusa, sebaiknya kau bersiap George, aku yang akan mendatangi mu" panggilan pun di tutup.
'dasar wanita keras kepala' gerutu George setelah panggilan terputus sepihak.
klek..
"sayang ...." Devan masuk kedalam kamar Anye tanpa mengetuk pintu.
Hubungan Devan dan Anye belakangan ini mengalami kemajuan, sebentar lagi rencananya mereka akan segera meresmikan acara pertunangan mereka.
"ah...hai sayang, aku ga tau kamu sudah sampai" Anyelir segera memasukan ponsel yang hampir saja diketahui Devan keberadaan nya.
Anye juga sudah mengganti panggilan gw-lw bila berbicara dengan Devan.
"aku panggil dari depan tapi sepertinya kamu ga dengar" Sahut Devan yang saat ini telah berada tepat dihadapan Anyelir.
__ADS_1
"cantik..." Devan Anyelir dengan gaun pesta sederhana namun membuat tampilannya menjadi sangat anggun, saat ini mereka akan datang ke undangan salah satu klien Devan.
pipi anye bersemu merah dengan pujian Devan, entah mengapa jiwa jagoannya menguap entah kemana bila berhadapan dengan Devan.
"Ayo...kita bisa terlambat" Anye pun menarik tangan Devan untuk segera berangkat dari ruangan itu.
Ballroom hotel yang telah di dekor dengan begitu elegan, memanjakan setiap mata yang melihat, puluhan manusia sudah terlihat begitu banyak, undangan ini sebagai salah satu launching produk dari klien Devan.
Devan memasuki ballroom tersebut bersama Anyelir, namun sebelum mereka sepenuhnya berada di tengah kerumunan orang Devan membisikan sesuatu.
"Jangan jauh-jauh dariku" bisik Devan saat menautkan tangan anyelir ke lengannya
"Apa kamu juga akan dekat denganku jika aku ingin ke toilet" balas Anyer ikut berbisik sedikit menggoda
"mulai nakal ya" Devan mencubit sayang pangkal hidung anyelir.
"Ah.....tuan Devan....apa kabar" seorang lelaki paruh baya mendekati mereka berdua dan menyapa Devan.
"Tuan Tian.....kabar baik" sahut Devan membalas uluran tangan lelaki tersebut.
"wah ..siapa nona cantik ini, apa ia kekasihmu?" tanya lelaki tersebut.
"kenalkan ini kekasihku Anyelir" Devan menjawab pertanyaan lelaki tersebut.
"ah....baiklah salam kenal nona" Tian mengulurkan tangannya pada Anye yang langsung disambut dengan uluran tangan juga.
"ayo...kita ke tempat yang lebih tengah, aku akan perkenalkan kalian pada seseorang, dia banyak berinvestasi pada Bisnisku, kau harus mengenalnya tuan Devan" Tian membawa mereka masuk lebih dalam.
Anye dan menggenggam tangan Devan Karena ruang ballroom tengah ini begitu banyak orang, Devan tidak ingin kekasihnya terlepas dari genggaman nya.
"Murp.....kau sebaiknya menjelaskan padaku tentang ini!!" terlihat seorang lelaki memperlihatkan ponselnya kepada lelaki bule dengan wajah yang ditutupi setengah topeng.
"Sorry bos..aku hanya ingin bersenang-senang setelah lama bersembunyi" Jawab lelaki bule itu sambil terkekeh.
"sebaiknya kau tahu apa tujuanku membawamu kesini murp" sahut bram.
"tentu saja....apa gadis itu akan datang ke pesta ini, aku sudah lama tidak bersenang-senang dengan seorang gadis" senyuman menyeringai terukir disudut bibir pria bule yang bernama Murphy.
"apa kau akan mencari gadis itu juga?" Bramantyo bertanya pada Murphy.
"tentu !!! dia yang menyebabkan luka ini seumur hidup" tegas murphy dengan menahan amarah.
"jaga emosi mu murph...!!?" tegur Bramantyo.
__ADS_1