
Sejak pertemuan dengan Damian beberapa waktu lalu, pikiran Anyelir dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, mengapa selama bekerja sama dengan Damian, sama sekali tidak pernah ada yang tahu mengenai seluk beluk keluarga Damian seperti apa, Anyelir sengaja menjaga jarak dengan Devan untuk meminimalisir kecurigaan Devan dan George, ia memutuskan untuk mencari tahu benang merah dari masalah ini, dan apakah Damian kelak akan menjadi musuh atau lawan, ia harus memastikannya.
Dan disinilah mereka berdua, diatas roof top salah satu hotel bintang 5.
"Terima kasih sudah datang dan memenuhi undangan ku princess"
"Damian stop, apakah kita harus bicara formal disaat aku tahu kalau kamu itu partnerku, sekarang aku minta jawab pertanyaan ku kemarin, hubungan seperti apa antara kamu dan Bramantyo"
"hei....calm..." Damian berdiri dari tempat duduk di hadapan anyelir dan ia berjalan menghadap ke arah kota yang ada dibawahnya.
"dulu...aku hanya seorang anak kecil yang terlantar dibelahan kota besar ini, tanpa uang, baju layak bahkan untuk makan, aku harus mengais sisa makanan dari bekas makanan orang lain" tutur Damian kala mengingat masa kecilnya
"saat itulah aku bertemu papa..., bertengkar dengan seorang wanita yang sepertinya sudah berkeluarga, wanita itu menolak papa, karena ia telah memiliki seorang putri dan suami yang sangat ia cintai".
"berdasarkan dendam kepada perempuan itu akhirnya papa memutuskan untuk membuat keluarga mereka berantakan dan hancur, dan saat itulah ia melihat seorang anak yang tanpa orang tua, ia memungut ku dari jalanan dan menjadikanku seperti saat ini"
"awalnya aku tidak merasa keberatan hingga saat aku memutuskan keluar dari kesatuan dan datang kesini, aku baru tahu kalau ternyata keluarga yang harus aku hancurkan adalah KELUARGA MU princess", Damian memberikan penekanan pada kata keluarga.
Anyelir merasa terkejut, kenapa takdir sekejam ini, haruskah ia menyerahkan diri pada Damian demi untuk membantu Damian membalas Budi kepada Bramantyo, atau haruskan ia melawan Damian, orang yang selama ini ia jadikan panutan karena keberhasilan dan keuletannya dalam menjalankan misi di kesatuan.
Masih dalam pemikirannya sendiri Anyelir tidak sadar jika Damian berjalan mendekat ke arahnya, dan berlutut dihadapannya.
"katakan padaku Nye...aku harus bagaimana??" meraih jemari anyelir dan menatap anyelir masih dengan tatapan yang sama saat ia menyatakan cintanya pada anyelir namun berujung penolakan, karena selama ini anyelir menganggap Damian seperti kakak lelakinya bukan sebagai orang yang dapat dijadikan pasangan.
Sedikit terkejut dengan sikap Damian yang sangat berani, ini bukan seperti Damian yang ia kenal, anyelir seperti kehilangan sosok Damian yang selalu menyimpan emosinya dan berusaha untuk menenangkan orang lain.
"bangunlah Ian..tidak seharusnya kau seperti ini..." anyelir membantu Damian untuk berdiri.
saat ini mereka berdua berdiri berhadapan satu sama lain.
Anyelir merasa sedikit tidak nyaman dengan keadaan ini, bukan karena ia takut pada Damian, tapi lebih kepada sikap Damian yang agak berubah.
"perasaanku tetap sama untukmu princess" tutur Damian.
__ADS_1
"dan kau juga tahu Ian...perasaanku juga tetap sama kepadamu" Anyelir menjawab dengan tegas, ia tidak ingin memberikan harapan kepada Damian.
memalingkan wajahnya dan berbalik kembali ke tempat saat ia melihat ke arah kota yang ada dibawahnya.
"pergilah..., aku mungkin tidak bisa menahan diriku untuk tidak menculik mu, kalau kau masih tetap bertahan disana" tutur Damian dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"maksudmu...? kita akan berperang?" tanya anyelir.
"tidak bisakah kita berdamai dan bantu aku meyakinkan papa mu bahwa semua ini akan sia-sia"
"pergi..!!" sebelum aku berubah pikiran..., balas Budi ku jauh lebih penting dari perasaanku padamu Nye", Damian telah memutuskan.
Anyelir menghela nafas, ia tahu ini tidak akan mudah kedepannya
"aku pergi, jaga dirimu Ian.., kita akan segera bertemu kembali" anye pun melangkah menjauhi Damian untuk kembali kerumahnya
Damian mengepalkan ke dua tangannya dan menatap langit, mengapa takdir sekejam ini padanya, haruskan ia mengalah terhadap wanita yang ia cintai.
Di kediaman Krisna, semua orang sedang dibuat heboh karena tidak ditemukannya anyelir yang pergi tanpa berpamitan, dan tidak bisa dihubungi sejak tadi sore.
sudah ratusan kali ia mencoba menghubungi calon istrinya itu dan hanya dapat mendengarkan pesan suara.
"ini tuh salah Lo Dev..., sibuk banget sama keluarga Jhonson sampai Anyelir ada dimana pun Lo ga tau"
Jonas menyalahkan Devan, atas hilangnya anyelir dari sore, hingga hampir menjelang tengah malah ia belum kembali.
"kalian tenanglah dulu, duduklah.." Krisna berusaha menenangkan calon menantu dan juga keponakannya.
sepertinya anyelir tahu kalau kalung yang aku berikan dapat melacak keberadaannya.
tak berapa lama suara mobil memasuki pekarangan rumah Anyelir.
Devan serta Jonas segera berlari keluar disusul oleh George dibelakang mereka.
__ADS_1
"sepertinya ada yang disembunyikan olehmu nak..." Krisna membatin.
"sayang...kamu ga apa2, dari mana?"Devan mendekati anyelir lalu mendekap tubuh gadis tersebut.
"nye..Lo bikin kita semua khawatir tau ga??" tutur Jonas kesal.
"maaf..." kata maaf yang terucap dari bibir anyelir membuat 3 lelaki yang cukup dekat dengan anyelir menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan anyelir.
"kamu baik-baik saja?" Devan melepaskan pelukannya dan mengecek seluruh tubuh anyelir
"ada yang terjadi kah?" George yang paham dengan kondisi anyelir angkat bicara.
Anyelir tersenyum kepada tiga laki-laki yang mengkhawatirkannya, lalu ia tertawa.
"ternyata membuat kalian khawatir itu mudah ya.." masih sambil tertawa dan berusaha untuk menutupi ekspresi wajahnya agar semua tidak merasa curiga dengan kegalauan hatinya saat ini.
Devan yang merasakan bahwa anyelir menyimpan sesuatu berusaha untuk tidak memaksa di depan orang lain, ia akan menanyakan pada anyelir nanti setelah mereka berdua saja.
"Lo dah makan??" tanya Jonas sambil menggandeng tangan anyelir masuk.
Devan membiarkan hal itu, karena saat ini ia sedang berpikir apa yang sedang terjadi pada Anyelir nya.
"kau juga merasakan ada yang aneh pada anyelir?" tanya George
"ya.., tapi ini sudah terlalu malam untuk ku menanyakan hal apapun pada Anyelir" Devan melangkahkan kaki memasuki rumah anyelir bersama George.
"sebaiknya kalian istirahat...nak..papa istirahat dulu, kita bicara kembali besok pagi, yang lain juga" Krisna berpamitan pada semua yang ada di ruang keluarga karna saat ini sudah menunjukan pukul 1 dini hari.
"aku ke kamar duluan" George ikut berpamitan.
"gua duluan ya...besok pagi kita lanjut lagi..udah ngantuk banget" Jonas pun ikut beranjak dari tempatnya.
Anyelir memperhatikan dua laki-laki yang sudah seperti saudara kandungnya meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Aku antar kamu ke kamar ya.." Devan mengulurkan tangannya
Anyelir pun meraih tangan itu dan mengikuti Devan menuju kamarnya, hari ini adalah hari yang membuatnya lelah, bukan karena fisik namun mentalnya yang lelah, karena akibat pekerjaan yang ia pilih saat ini ia dihadapkan pada situasi yang amat sulit.