
Langit begitu cerah pagi ini, awan merah tanda pagi telah datang membuat langit semakin indah untuk dipandang, namun tidak demikian dengan wajah seorang gadis yang duduk meringkuk di sudut balkon sambil menatap selembar foto yang menampilkan sepasang kekasih tersenyum bahagia disana.
Air mata rasanya tidak mampu lagi mengalir membasahi pipi mulus seorang gadis yang tengah berduka saat ini, dalam diamnya seorang Anyelir, sejatinya tengah tersusun rencana pembalasan kepada orang yang ia targetkan merupakan otak dari kecelakaan yang menimpa kekasihnya itu.
Jonas yang berada di depan pintu kamar Anyelir hanya bisa merasakan sesak di dadanya atas apa yang menimpa sepupunya tersebut, hanya selang beberapa hari kenangan liburan bersama dengan lelaki yang di cintai terasa amat menyakitkan untuk Anyelir saat kecelakaan itu harus merenggut nyawa orang yang kita harapkan menua bersama.
"Nye...buka pintunya, biarin gw masuk..." Jonas terus mencoba untuk masuk dan menemani anyelir namun sepertinya anyelir tidak ingin menemui siapapun.
ini sudah hari ke 4 Anyelir tidak mau berbicara dan menemui siapapun, sejak pemakaman Devan.
Maxwell bahkan tidak tega melihat kondisi anyelir yang bahkan tidak menyentuh makanannya selama 4 hari ini dan ia ingin sekali memberitahu bahwa Devan baik-baik saja, namun ia tidak berdaya sebab, Devan dan Thomas sedang memantau pergerakan Murphy.
Bramantyo keluar dari kamar inap putra angkat nya yang sangat ia banggakan dan diharapkan mampu untuk membalaskan sakit hatinya pada keluarga Krisna, namun apa yang diharapkan tidak sesuai apa yang ia inginkan, rencana Tuhan lebih sempurna dari rencana manusia.
Damian duduk menghadap taman rumah sakit dari balkon kamar inapnya.
"selesai!!"
satu kata yang bisa terucap dari bibirnya, karena kecelakaan itu telah membuat kakinya lumpuh, dokter mengatakan tingkat kesembuhan hanya tergantung pada keinginan pasien untuk sembuh, namun itu dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun.
Bramantyo yang merasa telah rugi sudah membiayai Damian dan sekarang ia sudah tidak lagi mau bertanggung jawab dengan alasan sudah cukup ia membesarkan dan merawat Damian sejak dulu, Bramantyo tidak lagi ingin menjadi ayah yang selalu mendukung Damian karena tidak ada manfaat apapun yang ia dapatkan bila lelaki itu lumpuh dan duduk diatas kursi roda.
tok..tok...tok..
pintu kamar Damian terbuka
"apalagi??" suara Damian sarat akan kekecewaan, ia pikir yang datang kembali adalah Bram.
"Bagaimana kabar mu Ian?
SUARA ITU !!
suara yang begitu ia rindukan, Damian membalikan badannya dan...
"Dev...langkah pertama yang perlu kita waspadai adalah Bramantyo."
"aku rasa dengan kondisi anaknya yang saat ini cacat ia tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk mencelakai lawannya"
"tapi beberapa hari ini aku melihat Murphy menyuruh beberapa orang untuk masuk ke dalam lingkup perusahaan Bramantyo, kali ini sepertinya target Murphy adalah Bramantyo"
"masih menggunakan hal yang sama untuk mengambil alih perusahaan orang lain"
"kau tak perlu khawatir, meskipun Murphy bekerja dibawah ku namun semua bawahan yang ia miliki adalah milik ku"
__ADS_1
"kau terlalu percaya diri, aku sudah tidak sabar ingin melenyapkannya dari dunia ini"
"aku tahu kau tersiksa Dev, namun kita tetap harus mengumpulkan bukti-bukti yang bisa memberatkan Murphy jika saja kematian tidak mendatanginya"
"kalau begitu aku yang akan mendatangi dan menghabisinya, bukankah saat ini aku dianggap mati?!"
"hmm...ya, tenangkan dirimu, orang ku bilang Murphy sedang melakukan kerjasamanya dalam penjualan manusia, semakin lama ia, meminta semakin lebih atas hidupnya"
"ini sudah keterlaluan, apa kau tidak takut ia akan merugikan mu"
"aku sudah memikirkan semuanya, dan aku menemukan ini di kamar Murphy saat aku tidak sengaja masuk"
Devan mengambil selembar kertas yang bertuliskan nama dan juga foto yang berisi orang-orang yang ingin ia lindungi.
"jadi ini rencananya!!"
Thomas berdiri dari kursinya dan melangkah keluar.
"ada pekerjaan yang harus aku lakukan, aku pergi dulu Dev?"
Devan menempelkan kertas tersebut pada dinding, saat ini dia berada di sebuah apartemen yang disediakan Thomas, hanya Maxwell yang tau keberadaanya.
"ternyata targetmu selanjutnya Bramantyo, om krisna lalu anyelir, aku tidak peduli jika kau akan menghabisi Bramantyo, tapi aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti yang lainnya, tidak akan"
sementara itu di taman rumah sakit
Anyelir menoleh kan wajahnya menatap Damian.
"Maafkan aku" hanya kata itu yang keluar dari bibir gadis cantik yang ada di hadapan Damian
kerutan pada kening Damian menandakan bahwa lelaki itu tidak paham akan maksud permintaan maaf Anyelir
"maaf?.....tapi, untuk apa, rasanya tidak ada kesalahan yang kau buat padaku princess"
"tolong berhenti memanggil ku dengan sebutan itu!"
Damian makin tidak mengerti apa yang terjadi pada Anyelir
"baiklah...aku rasa sebaiknya kamu pulang dan beristirahat, terima kasih sudah datang melihatku Nye"
Damian menyentuh pundak anyelir memberikan semangat, namun bahu itu bergetar, isakan kecil terdengar dari bibir Anyelir
"hei...ada apa??"
__ADS_1
"ma..af kan....a..aku Ian, kalau bukan karena kesalahanku dulu, kalian pasti akan baik-baik saja"
kening Damian kembali berkerut tanda bahwa ia belum paham kemana arah pembicaraan Anyelir
"mungkin jika dulu aku tidak terlalu baik terhadap Murphy dan langsung menghabisinya, tidak akan ada kesempatan untuk nya mencelakakan orang-orang yang ada di sekitarku"
Akhirnya Damian paham maksud dari perkataan Anyelir, dan ia juga merasa bahwa ini semua adalah perbuatan Murphy, sayangnya ia tidak mempersiapkan diri dengan baik, hingga akhirnya sekarang ia hanya bisa duduk di atas kursi roda.
"jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi padaku, ini semua takdir, dokter berkata aku masih ada harapan untuk sembuh, setelah aku diperbolehkan keluar maka aku akan pergi ke suatu tempat untuk melakukan pengobatan", Damian menggenggam kedua tangan gadis yang ia cintai, saat ini perasaannya telah terkubur bersamaan dengan ketidakmampuannya untuk berjalan lagi.
"tapi, dokter bilang bahwa akan sulit untuk kamu kembali berjalan" masih terasa nada bersalah dalam kalimat yang keluar dari bibir Anyelir
Damian tersenyum pada Anyelir, gadis ini tidak berubah, ia tetap masih gadis yang sama, yang selalu mengutamakan orang lain, dari pada dirinya sendiri
"Anye...lihat aku"
Anyelir menatap Damian, namun ada pancaran kesedihan dan perasaan bersalah saat ia melihat pria yang ada dihadapannya.
"Jangan biarkan kesedihan membuatmu lengah, kamu harus tau kalau aku baik-baik saja, setelah kami, pasti akan ada target selanjutnya yang akan dihabisi oleh Murphy, kau boleh bersedih, namun harus tetap waspada, dan jangan biarkan lagi Murphy mengambil orang-orang yang kau cintai"
Anyelir menatap Damian dengan perasaan sendu, selama ini ia menganggap Damian sebagai sosok kakak yang paling mengerti dirinya, didekat Damian ia selalu merasa dilindungi sebagai adik, namun ketika ia tahu perasaan Damian kepadanya lebih dari sekedar pertemanan, Anyelir kembali merasa dunianya tidak seindah yang ia harapkan.
"Ian..., berjanjilah padaku, kau akan berusaha untuk sembuh, aku tidak ingin kehilangan sosok kakak yang selalu mengerti akan diriku"
Damian tertunduk, ternyata seperti itulah arti dirinya dimata Anyelir, meskipun ia ingin menjadi pria yang selalu ada untuk anyelir namun ternyata ia hanyalah seorang yang dianggap sebagai kakak bagi gadis itu.
"ya...aku berjanji" Damian berusaha kuat dan tersenyum meski rasa perih bersemayam di dadanya, mencintai dalam diam selama ini ternyata sesakit ini, ketika orang tersebut bahkan tidak pernah melihat kita sebagai orang yang pantas berada disampingnya.
"aku..akan membalas perbuatan Murphy, kali ini aku tidak akan memberikan ruang padanya meskipun ia memohon" anyelir memejamkan mata menahan gejolak amarah yang ada pada dirinya.
"berhati-hatilah dan jangan gegabah, tidak akan adalagi yang bisa melindungi mu, mintalah bantuan George, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik" sekali lagi Damian mengingat kan Anyelir
"ya..Ian, aku akan lebih berhati-hati sekarang, jaga dirimu, aku akan mengunjungi mu lagi nanti"
"tidak perlu Nye.., aku...aku akan pergi meninggalkan negara ini, dan entah apakah aku bisa kembali, jaga dirimu baik-baik"
"Ian...a..apa maksud mu"
"dengan kondisiku saat ini, aku harus menata kembali hidupku Nye, aku harap kamu bisa mengerti" Damian berusaha tersenyum
sekali lagi anyelir tidak mampu menahan bulir bening keluar dari sudut matanya
"maafkan aku Ian"
__ADS_1
"jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang tidak kamu lakukan, cukup hidup seperti sebelumnya dan balas kan dendam ku pada Murphy"
Anyelir mengangguk-angguk kepala tanda ia setuju, dan bertekad segera mencari dan menghabisi Murphy agar ia dapat kembali hidup tenang bersama ayahnya dan Jonas, ia juga perlu menata kembali hidupnya tanpa lelaki yang ia cintai.