
Devan berdiri di samping Thomas, berbekal pengetahuan yang diajarkan Anyelir dan George dulu kala membuat wajah samaran yang menyerupai wajah asli, Devan berhasil mengubah wajahnya sehingga sulit dikenali, bahkan ia menggunakan alat perubah suara.
Saat ini Thomas mengadakan pertemuan di kantornya, ia lebih suka membahas mengenai pekerjaan di kantor, ia tak lagi menggunakan tempat tinggalnya untuk bertemu dengan anak buah maupun kliennya, rumah yang dulu pernah di tempati olehnya dan Murphy saat ini tidak pernah ia datangi lagi karena ia tidak ingin privasinya bersama Devan terganggu, Murphy sendiri belum menyadari hal ini, dan tidak boleh sampai menyadari bahwa Thomas tidak pernah kembali kerumah itu lagi.
"Murph, kenalkan ini James dia orang kepercayaan ku, yang selalu berada dekat denganku, layaknya dirimu saat ini, aku ingin kalian bisa bekerja sama, untuk beberapa waktu mungkin aku tidak akan ada di negara ini, kabari aku jika semua urusan mu selesai, baru kita tentukan kembali langkah selanjutnya.
"Selama urusanmu belum selesai kau bisa memberikan semua informasi maupun rencananya kepada James, aku ingin istirahat dari dunia luar sementara waktu"
Devan dan Thomas memang berencana untuk memutus hubungan langsung antara Murphy dan pewaris keluarga Jhonson ini, hingga mereka menyusun rencana agar murphy bisa memberikan semua informasi yang akan dia lakukan kepada James alias Devan.
"Ada apa..? kenapa tiba-tiba? apa ada hal yang meresahkan?"
Thomas menggelengkan kepalanya
"aku ingin istirahat dulu Murph, kau tahu, kejadian kecelakaan gila yang kau rencanakan itu membuat namaku sedikit terseret, oleh karena itu keluarga ku mengutus James kesini dan menarik ku untuk meninggalkan negara ini sementara waktu, untuk urusan perusahaan, semua melalui email sedangkan pertemuan klien aku percayakan pada James dan dirimu"
Raut wajah Murphy terlihat tidak terlalu suka dengan adanya James
sepertinya orang ini kepercayaan keluarga besar Jhonson, aku harus berhati-hati, kalau untuk anak bau kencur seperti Thomas adalah hal mudah untuk aku mengaturnya, tapi orang ini dari sorot matanya terlihat berbeda
"ah baiklah, kurasa kau memang sebaiknya istirahat dulu, maafkan atas keteledoran ku atas kejadian itu, namun jika saja hal itu tidak aku lakukan maka aku tidak akan bisa menjalankan rencana selanjutnya "
"oh..lihatlah James, bukankah sudah kubilang kalau Murphy ini terbaik...bahkan semuanya sudah terperinci hingga rencana berikutnya!!" Thomas sengaja untuk mengecoh Murphy dengan memberikan sanjungan agar tidak ada kecurigaan atas James"
"betul tuan...anda terbaik" Devan bertindak layaknya seorang pelayan di depan Murphy untuk mendapatkan kepercayaan dari lelaki iblis yang bisa melakukan segara cara untuk menghancurkan hidup seseorang.
"kau terlalu memujiku tuan"
Murphy termakan omongan Thomas
"baiklah, mulai sekarang kau bisa berkantor di ruangan ini James, Murphy sudah kuberikan ruangan sendiri untuk privasi nya" Thomas kembali menaikan rasa percaya diri seorang Murphy dengan sengaja
"baik" Devan menjawab singkat
"baiklah, aku tinggal dulu, sepertinya kalian perlu banyak mengobrol bersama" Thomas menepuk pundak Devan dan juga Murphy lalu bergerak keluar ruangan.
"baiklah James, jika ada hal yang ingin kau tanyakan silahkan" Murphy kembali menatap ke arah Devan
__ADS_1
"sepertinya untuk hari ini cukup, saya akan ke ruangan anda bila memerlukan hal untuk di jelaskan"
Murphy berdiri dari kursinya begitu pula Devan, mereka berjabat tangan dan Murphy keluar dari ruangan tersebut
Ting...
satu pesan masuk ke ponsel Devan alias James
selamat bersenang-senang aku tidak akan kemana-mana, jalankan seperti langkah awal, aku akan memantau dari sini
Thomas menulis pesat teks tersebut kepada Devan, artinya dia memang harus mulai menjalankan misinya untuk membalas Murphy
Devan menaikan sudut bibirnya tanpa terlihat oleh Murphy
"Sepertinya hari ini Thomas akan datang ke tempat itu, apa kau sudah siap?" George berjalan beriringan dengan Anyelir yang mengubah sedikit saja penampilannya, namun untuk sebagian orang yang belum mengenalnya pasti tidak akan menyadari bahwa gadis di sebelah George adalah Anyelir.
"Always..." menaikkan sedikit kacamata yang bertengger di hidungnya, anyelir terlihat sangat dewasa dan matang dengan penampilannya saat ini.
"ku rasa Murphy akan cepat mengenali mu, karena ia sudah tau wajah aslimu, apakah tidak masalah untuk mu?
"rasanya tidak, lagi pula, aku sedang menjalani misi untuk mendekati pewaris keluarga Jhonson"
"baiklah, kita berpisah disini George, aku akan berkabar jika sudah bisa mendekatkan diri dengan orang ini"
George mengangguk kan kepalanya
Thomas berdiri dari jauh sambil memperhatikan seorang gadis yang tengah melukis, dulu ia bisa sangat dekat dengan gadis itu, namun saat ini rasanya hubungan mereka tidak akan berhasil.
"sepertinya anda datang kesini bukan untuk melihat karya-karya yang ada di galeri ini"
Thomas tersentak sesaat, ia tidak mengira bahwa akan tertangkap basah oleh seseorang.
"ah...maaf nona, saya tidak paham maksud mu berkata seperti itu"
Anyelir mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Thomas
"saya mercy, dan anda??"
__ADS_1
Thomas memperhatikan secara seksama anyelir dari atas sampai bawah.
"saya salah satu seniman disini, tidak ada niat apapun jika tidak ingin berkenalan, tidak apa-apa" anyelir menarik kembali tangannya yang menggantung di udara.
"Thomas..., namaku thomas...dan kau?"
"Princess.....,ayo aku tunjukan beberapa karyaku" anyelir berjalan mendahului Thomas.
wanita ini unik dan sedikit berani, siapa dia, tapi aku suka, akan ku lihat karyanya, semoga Leah tidak melihatku
Anyelir merasakan gerakan dibelakangnya, ya Thomas ikut berjalan mengikutinya.
ternyata pewaris keluarga Jhonson masih muda, seperti Devan...ah fokus Anyelir, bisa jadi orang ini juga dalang dari pembunuhan Devan
George sengaja mengambil tempat yang menjorok ke dalam agar tidak terlalu banyak orang lalu lalang, sehingga bisa membuat Anyelir leluasa dalam pergerakan nya mendekati keluarga Jhonson.
"kita sudah sampai.."
Thomas cukup terpukau melihat hasil karya dari anyelir...tidak seperti Leah yang memiliki kemampuan melukis, hasil karya anyelir ini merupakan seni photography yang unik menurut Thomas, lama berkecimpung di dunia seni membuat Thomas merasakan sesuatu yang berbeda dari hasil foto-foto tersebut.
"hei....lihat ini, dimana kau mengambil foto-foto ini, sepertinya candid" Thomas menunjuk beberapa foto yang memang sengaja ia pajang disana untuk bisa mengingatkan dia akan tujuannya saat ini, foto-foto itu adalah foto Devan dalam berbagai posisi, namun tidak terlihat wajahnya sama sekali.
"aku memang mengambilnya secara diam-diam, hasilnya bagus bukan? tempatnya juga cukup indah untuk dikunjungi, kau suka" anyelir menatap foto Devan yang ditunjuk oleh Thomas
Thomas mengamati gerakan anyelir saat menatap foto itu.
"sepertinya model di foto itu adalah orang yang kau kenal"
Anyelir berbalik dan tersenyum ke arah Thomas, dengan menampilkan dua buah lesung Pipit andalannya dan hal itu entah kenapa membuat dada Thomas berdetak lebih cepat
apa ini..ya tuhan dia...cantik sekali
"sayangnya kau tidak bisa mengenal lagi orang yang menjadi model di foto ku"
"lagi....?"
"ya...lagi..., karena orang yang berada di foto ini telah tiada dan....ia tunanganku" anyelir membalikkan kembali tubuhnya menghadap foto yang berisi foto Devan, ada rasa rindu yang begitu besar di dadanya ingin sekali rasanya ia menyusul Devan dan mewujudkan mimpi mereka untuk bersama selamanya.
__ADS_1
Thomas terhenyak sesaat, dia mengamati wanita di hadapannya dalam diam.
kenapa aku ingin mengenal lebih dekat wanita ini...