
Devan merasakan ada sesuatu yang berat menimpa dadanya. dengan perlahan ia berusaha membuka mata, namun sakit pada kepalanya akibat sisa alkohol semalam masih terasa.
'aakht...s**l sakit sekali' sambil memijit pelipisnya dengan kedua jari.
Devan mengedarkan pandangannya keruangan yang terasa asing buatnya, dan teryata memang benar ini bukan rumahnya dan bukan kamarnya.
Devan kembali melihat bahwa badannya tertutup selimut tebal, pantas saja terasa berat, tadinya Devan khawatir dia akan berada di ranjang bersama dengan seorang wanita, hal yang selama ini paling Devan takuti, namun kini ia bisa bernafas lega karena itu tidak terjadi, dan dia sedang berada diatas sofa yang ukurannya tidak dapat menampung kakinya hingga menggantung diujung lengan sofa.
Devan berusaha duduk dan mencoba mencari keberadaan si empunya tempat, apartemen yang cukup luas...dan banyak sekali foto-foto yang dibingkai di beberapa titik yang hampir kesemuanya Devan pastikan itu adalah foto-foto candid namun begitu pas dan indah.
matanya tertuju pada segelas air putih diatas meja dan kertas putih yang terselip dibawahnya.
//sorry ya semalam lw pingsan dan gw ga tau rumah lw dimana jadi gw bawa lw ke apartemen gw, dan sorry kalo lw harus tidur di sofa, karena gw ga bakal taro lw dikamar gw kan??
//gw dah siapin handuk sama kaos mana tau lw mau mandi dan ganti pakaian, tenang aja itu kaos yang gw kasih masih baru, bukan bekas, tapi ingat jangan tinggalin baju lw ditempat gw!!
//nanti kalo lw keluar titip key card-nya ke reception biar petugas kebersihan yang akan bersihin apart gw
thanks
-AKP-
begitulah isi surat yang ditulis Anyelir, singkat dan jelas.
Devan tersenyum melihat isi surat tersebut. kemudian ia letakkan kembali kertas itu dan meminum air di gelas yang disediakan tadi.
Devan berkeliling apartemen dan tidak mendapati petunjuk apapun mengenai pemiliknya, tidak ada foto atau data yang menjelaskan siapa pemilik tempat tersebut.
yang Devan tau bahwa pemiliknya pasti seorang gadis, karena alat mandi yang ada di kamar mandi yang baru saja Devan gunakan mayoritas adalah alat mandi seorang perempuan.
Devan juga mencium aroma vanila yang sama dengan gadis yang menolongnya semalam didalam kamar mandi ini, dan entah kenapa devan merasa candu untuk menghirup aroma itu lagi dan lagi ia harus mengenal gadis ini, entah mengapa rasa nyaman dan keinginan tahuannya mengenai gadis ini begitu tinggi.
puas berkeliling dan tidak menemukan apapun yang menjadi petunjuk tentang pemilik tempat, akhirnya Devan memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 dan Devan sudah sangat terlambat untuk ke kantor.
ketika tiba di reception dan memesan taksi online, Devan sempat menanyakan nama pemilik dari apartemen tadi namun sungguh di luar dugaan, pemilik nya meminta agar tidak diberikan identitas nya pada siapapun.
__ADS_1
Devan akhirnya menuliskan pesan untuk orang tersebut dan dititipkan pada petugas reception.
___________
Hampir dua Minggu sejak kejadian Anye menolong seorang lelaki yang tidak ia kenal dan membawanya ke apartemen nya, sejak hari itu anye hanya kembali satu kali ke apartemennya karena diinfokan bahwa ada surat yang ditinggal oleh orang yang menginap di apartemen Anye malam itu,setelahnya anye malas untuk kembali, toh juga ia berencana menyewakan apartemen itu karena akan tinggal bersama papanya.
Krisna berusaha untuk menjelaskan pada anye mengenai rencana perjodohannya dengan laki-laki bernama Devan, yang kebetulan juga setelah acara makan malam yang gagal mempertemukan Devan dan Anye beberapa waktu lalu ternyata keluarga Devan mengundang Krisna beserta putrinya untuk makan malam Bersama di kediaman Devan.
"Nye..." tegur Krisna pada putrinya yang sedang berkutat di meja makan menyiapkan makan pagi untuk mereka berdua
"pagi pa...., sebentar ya, papa duduk sini dulu"
Anye menarik kursi untuk di duduki oleh papanya.
"hmm...keliatannya enak, ini kamu yang masak?? " tanya Krisna saat melihat, udang asam manis dan tahu tofu crispy dan sayur pokcoy terhidang di atas meja makan.
"dibantu Bu jam lah pa...anye mana bisa masak" seperti biasa anye selalu merendah, baginya memasak adalah kewajiban seorang perempuan dan itu bukan sesuatu hal yang harus dibanggakan, beruntunglah anye yang mendapat pengasuhan dari Bu jam yang sangat pintar memasak hingga sedari kecil anye sudah diajari banyak resep makanan dan juga bagaimana membuat masakan menjadi lezat dan enak.
Krisna hanya menanggapi dengan senyuman ia tahu betul bagaimana anaknya ini bila dipuji.
"tante Widya pa? teman mama dulu??" tanya anye sambil menuangkan nasi di piring Krisna beserta lauk pauknya.
"kamu masih ingat Tante Widya?" tanya Krisna pada putrinya.
"Tante Widya yang dulu sering kerumah kita itu bukan!!?" seru anye, tentu saja ia masih Ingat betul siapa itu Widya.
"syukurlah kalau kamu masih ingat, apa kamu masih ingat Devan? " tanya Krisna kembali.
"Devan?? aku ga inget pa, kenapa memangnya?" tanya anye yang sudah mulai menyuapkan nasi berserta isinya kedalam mulut
"Devan itu anak mereka yang mengundang kita makan malam nanti...Hmm...ga apa nanti pelan-pelan juga kamu ingat" sahut Krisna sambil menyuapkan makanan pavoritnya udang asam manis buatan Puteri kecilnya itu
______
Krisna dibuat takjub oleh Putrinya karena malam ini Anyelir menggunakan dress floral dibawah lutut, berwarna hijau berlengan dan begitu pas dengan bentuk tubuhnya yang tinggi dan anggun, terlihat begitu elegan namun sederhana, ditambah make up flawless membuat tampilan putrinya semakin terlihat menawan.
__ADS_1
"Cantik" satu kata yang keluar dari bibir Krisna saat anyelir telah berdiri di depannya.
"papa....apaan sih" tersipu malu karena ia tidak pernah lagi mendapatkan pujian dari ayahnya sejak ia disibukan dengan urusannya sendiri.
papa anye hanya tersenyum dan melingkarkan tangan putrinya itu dilengan kirinya
"ayo...!!"
Mobil yang dinaiki Krisna dan Anye pun tiba di sebuah rumah di bilangan kota X, rumah mewah namun minimalis hampir sama dengan kediaman papanya, supir Krisna membukakan pintu untuk Anye dan Krisna tidak jauh dari mobil terparkir tampak sepasang suami berdiri menyambut tamu mereka dengan senyum cerah terukir di wajah mereka.
"Max...Widya" Krisna menjabat tangan kedua pasangan tersebut.
"Kris.." jawab mereka berdua dan Widya langsung memeluk Anye dengan begitu erat
Sesaat anye tersentak mendapati dirinya dipeluk begitu erat oleh wanita yang dulu pernah memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anye.
"Tante kangen sekali padamu" lirih suara Widya terdengar di telinga anye masih dalam posisi berpelukan.
"ehmm.." suara Barito laki-laki yang sepertinya baru saja tiba di depan pintu rumah tersebut membuat pelukan Widya dan Anyelir terlepas.
"ah Devan...ini kenalkan..., Anyelir" pelukan Widya terlepas dan beralih meraih tangan anak lelakinya yang berdiri dibelakang tubuh besar Maxwell sang ayah.
"Anyelir ini Devan, kalian seharusnya sudah saling kenal dulu" suara Widya begitu antusias sedang kan Krisna dan Maxwell hanya memperhatikan tingkah Widya yang sedang berusaha mengenal kan anak-anak mereka.
Belum lepas rasa kaget anye akan pelukan Widya kini dia harus menahan jantungnya agar tidak lepas dari tempatnya karena lelaki yang berdiri dihadapannya ini ternyata lelaki yang ia selamatkan dan dia tinggalkan di apartemen miliknya.
'S**l dunia sempit sekali, semoga dia tidak mengenaliku, bisa kacau kalau papa tau aku pergi ketempat terkutuk itu walau sekedar mengantar Vania' batin anye yang mulai was-was
Sedangkan bertolak belakang dengan Devan, ia merasa aneh ketika melihat ekspresi terkejut yang sempat ditampakkan gadis yang berada di depan nya ini saat pertama kali mereka berhadapan, namun sekejap gadis ini mampu menampilkan wajah datarnya seperti sedia kala.
"Devan...." mengulurkan tangan kepada Anye sambil tersenyum manis.
"Anyelir.." membalas uluran tangan Devan sesaat lalu menarik kembali dengan cepat, tanpa membalas senyum Devan.
hal ini tidak lepas dari pengamatan orang tua mereka berdua yang sibuk dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1