
"Dev.., cepat turun, ada yang aku bicarakan sebelum semua orang Bangun" bunyi pesan dari George mengalihkan pandangan Devan pada sosok gadis yang terlelap di hadapannya.
Devan semalaman sengaja menemani anyelir tidur di kamarnya tentu saja seijin Krisna, meskipun mereka telah bertunangan dan hampir menikah tetap saja mereka menjaga norma kesopanan yang berlaku.
Devan pun menuruni anak tangga dengan tergesa ke halaman belakang kediaman Krisna.
George sudah menunggu di bawah pendopo di tepi kolam.
"ada apa sepagi ini George, ada hal yang penting kah?"
"rasanya aku tau kenapa Anyelir berdiam diri tadi malam, coba lihat" George menunjukan gambar pada ponselnya dimana ada seorang lelaki dengan penampilan yang tegap dan paripurna untuk dilihat memasuki sebuah mobil, yang dikenali sebagai mobil Bramantyo, setelah keluar dari restoran tempat pertemuan Anyelir dan anak dari Bramantyo tersebut.
Devan masih tidak paham, dia merasa tidak mengenali wajah itu, karena baru pertama kali melihatnya.
"dia Damian!!" ucap George tegas
"Damian??"
"Ian anak buahku, dan juga senior Anyelir di kesatuan, mereka sering melakukan kerjasama sebagai pasangan setiap ada tugas intelijen dan Anyelir sangat menghormati Damian karena kepiawaiannya dalam kesatuan"
"jadi maksudnya Damian itu anak angkat Bramantyo?"
"aku masih belum bisa memastikan sepenuhnya Dev, namun dari informan yang mengawasi kediaman Bramantyo, memang ian tinggal disana saat ini"
"jadi ini yang membuat Anye tidak nyaman semalam"
"aku rasa demikian Dev, ada baiknya kita bicarakan ini dengan Anyelir, akan sangat berbahaya untuk Anyelir jika dia berhadapan dengan Damian, lebih baik kita urus Murphy saja dulu"
"tapi aku rasa anye tidak akan tinggal diam, bila memang Damian bersekutu dengan Bramantyo, pasti anye akan tetap maju untuk melindungi papa Krisna"
keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
sedangkan dari atas balkon kamar yang menghadap ke arah kolam, anyelir sedang memperhatikan mereka berdua, dan ia bisa tau bahwa mereka sedang membicarakan tentangnya dan Damian.
Anyelir adalah Intel yang dapat membaca gerak bibir seseorang meskipun dalam jarak 10 meter.
apa yang harus aku lakukan...ya tuhan kenapa jadi rumit seperti ini,
__ADS_1
lebih baik aku urus Damian sendiri, tapi Devan pasti tidak akan tinggal diam.
Tok...tok..tok
"Anye....sayang kamu sudah bangun, ini papa" ketukan di pintu membuyarkan lamunan anyelir
"sudah pa...masuk"
"kita sarapan nak...?" Krisna masuk dan merentangkan kedua tangannya.
Anyelir berlari ke arah papanya dan mereka berpelukan.
"kalau belum mau cerita sama papa...setidaknya jangan buat yang lain khawatir nak" Krisna mengusap lembut kepala sang putri
"anye ga pernah bisa sembunyi ya dari papa" tersenyum dan melepaskan pelukannya lalu menggandeng sang papa turun untuk sarapan bersama.
"nih dia si Cinderella baru bangun...udah berubah jadi Upik abu semalem?? bikin orang stres aja Lo" baru saja anye dan papanya mendekati meja makan si sepupu ga da akhlak langsung nyinyir kayak emak-emak komplek lagi ghibah.
"eh... emak-emak, pagi-pagi jangan nyanyi, tuh jemuran banyak ..Sono ngejemur!!" anyelir juga tidak mau kalah adu mulut dengan sepupu tengilnya.
"kalian ini, ga bisa kita makan tenang kah?" tegur Krisna yang membuat keduanya akhirnya memutuskan diam.
"Devan, bagaimana perkembangan kamu dengan keluarga Jhonson".
"aman pah, rencananya aku dan dia akan duel di arena pekan ini, sampai hari ini aku juga belum bisa bertemu untuk melihat seperti apa keturunan keluarga Jhonson ini" jawab Devan yang saat ini sudah berganti panggilan menjadi ayah terhadap calon mertuanya.
"kamu mau balapan??" tanya Anyelir merasa kaget karena dia baru tahu ternyata Devan sudah membuat janji untuk berduel dilapangan dengan keluarga Jhonson.
"Jonas yang mengatur semuanya, dia cukup piawai untuk hal ini" melakukan toss dengan Jonas.
"seharusnya semua berjalan lancar andai devan bisa memenangkan satu pertandingan, dan mendapatkan kepercayaan sebagai kawan baru bagi keluarga Jhonson" tutur George.
"terus gimana sama Lo, dinner sama anak Bramantyo, ada bapaknya yang tengil juga kemarin?" tanya Jonas
"sudah, semua aman, mungkin nanti aku akan atur kembali pertemuan dengannya bila sudah dirasa perlu"
tutur anye berusaha menyembunyikan tentang identitas dari Damian.
__ADS_1
Devan dan George saling bertatapan, mereka yakin bahwa Anyelir pasti akan bertindak sendiri, namun hal itu tidak akan terjadi, sebab mereka telah memiliki rencana.
"pah...aku ijin mau bawa anyelir ke suatu tempat untuk beberapa hari sebelum aku ikut balapan dengan keluarga Jhonson apakah boleh?"
semua menatap Devan yang tiba-tiba saja ingin mengajak anyelir pergi dalam situasi seperti ini, sebenarnya hal ini adalah pengalihan saja, sementara George akan berusaha untuk menghubungi Damian dan akan memikirkan langkah selanjutnya setelah dia bertemu dengan anak angkat Bramantyo tersebut.
"boleh..!"
"tidak..!"
Krisna dan Anyelir menjawab secara bersamaan.
"Dev...kita tidak seharusnya pergi saat seperti ini, lagipula kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Anyelir
"papa rasa tidak ada salahnya kalian berdua pergi berdua sementara waktu, bukankah akan sangat jarang kalian akan memiliki waktu bersama jika kita sudah masuk dalam permainan ini??" Krisna menimpali pertanyaan Anyelir.
Devan tersenyum penuh arti kepada Krisna, setelah dekat dan sering tinggal bersama bapak dan calon anak menantu ini telah memahami karakter masing-masing dengan sangat baik, Krisna percaya pada Devan sebagaimana ia mempercayai Maxwell sahabat nya.
"aku harus mengurus beberapa hal selama kalian tidak ada kalau begitu, tetaplah berhubungan kala sempat" ujar George.
"Dev...Lo yakin ga mau naik pesawat pribadi aja, sampe harus pergi ke bandara kayak gini" Jonas yang mengantar pasangan yang hendak berlibur dadakan tersebut bertanya dengan kesal
"ga selamanya fasilitas keluarga bisa kita gunakan untuk kepentingan pribadi jo"
"yah kalo ada yang gampang ngapain ribet sih...plus Lo berdua nyusahin gua" timpal Jonas lagi
Anyelir hanya tersenyum melihat kelakuan sepupu dan kekasihnya yang bila bersama seperti cerita kartun Tom and Jerry, tidak pernah sedikitpun mereka bisa akur,
Devan turun dari mobil dan mengambil barang-barang mereka lalu menggandeng tangan Anyelir.
"ayo...kita hampir terlambat"
"Jo...titip papa ya, kalau ada apa-apa kabarin kita secepat mungkin" tutur Anyelir
"tenang aja pasti itu, jangan tinggalin ponsel kamu sembarangan nye...and dev jaga kesayangan gua...pulang awas aja kalo sampe lecet, sunat dua kali Lo.." mengepalkan tinjunya ke udara dan dijawab Devan dengan menjulurkan lidahnya.
hampir saja mereka bertengkar lagi kalau saja anyelir tidak segera menarik tangan Devan agar pergi meninggalkan tempat itu
__ADS_1