
"Tuan Murphy, saya melihat ada yang aneh dalam laporan ini" Devan yang saat ini menyamar sebagai James sedang berada di dalam ruangan Murphy
"oh ya...apa masalahnya?"
"coba anda baca ulang, sepertinya anda tidak melakukan pemeriksaan dengan benar, kita bisa merugi jika hal ini terjadi lagi"
"sepertinya kau lebih menguasai pekerjaan administrasi ini, bagaimana kalau kau saja yang melakukan pekerjaan ini, dan aku melakukan pekerjaan lapangan?"
"apa maksud anda tuan, saya berharap kita bisa bekerja sama selama tuan Thomas tidak ada, bukankah secara pekerjaan posisi kita harus melakukan hal yang sama?"
"sebaiknya anda jaga bicara anda!!" anak buah Murphy menyela ucapan James, karena merasa James menyinggung bosnya
Murphy memberikan isyarat agar anak buahnya berhenti mencela James
"Kurasa kau benar, posisi kita memang sama disini, bagaimana kalau kita bekerja sama saja kalau begitu?"
"Bukankah dengan berada disini saya sudah menunjukan bahwa saya ingin bekerja sama dengan anda?"
"Baiklah..baiklah, kalau kau ingin bekerja sama denganku bagaimana kalau malam ini kau ikut aku"
"apa yang akan dilakukan pada malam hari?"
Murphy beranjak dari tempat duduknya, mendekati James
"malam ini kita akan bersenang-senang, hahahaha"
lalu Murphy melangkah meninggalkan James yang sangat kesal dengan perlakuan dari Murphy
sabar dev.. sabar...
drt...drt...drt
"halo.." Devan mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Thomas
"whoa... sepertinya mood mu sedang tidak bagus Dev, ada apa?"
__ADS_1
"bisakah kau menyediakan orang untuk berjaga-jaga di sekitarku malam ini?"
"ada masalah kah Dev? apa kau baik-baik saja?"
"aku malam ini akan pergi dengan Murphy, aku tidak tahu kalau berdekatan dengannya akan sangat menyebalkan seperti ini".
"kalian akan kemana?"
"dia bilang akan bersenang-senang, aku hanya ingin tahu, kemana dia pergi biasanya"
"baiklah Dev, aku akan tempatkan beberapa orang untuk menjaga mu"
"thanks thom.."
"sebaiknya kau berhati-hati Dev, jangan sampai terjebak kedalam rencana Murphy, sepertinya dia sengaja untuk menjauhkan dirimu agar tidak berada di perusahaan"
Thomas memberikan beberapa dokumen yang telah ia periksa dan tandatangani.
"kau benar, sepertinya dia juga sudah memiliki beberapa kaki tangan yang tidak berpihak kepadamu thom"
"tidak masalah, aku juga belajar banyak dari dokumen-dokumen yang datang ketempat mu, oh ya sebentar lagi produk baru mu keluar, anggaran yang kau masukan cukup besar untuk bagian promosi digital, apa itu tidak terlalu berlebihan? aku bisa membantumu untuk membuatnya lebih mudah dengan menggunakan sistem iklan"
"wah...kau cukup jeli ternyata, raja digital sistem memang pantas untukmu Dev.., tapi aku sedang dalam mencoba sesuatu yang baru, nanti kau bisa ikut untuk membahas bersama dengan orang ini"
"oh....baiklah, sepertinya aku layak untuk di gaji sebagai bawahan mu, thom"
"hahahaha....kau benar, tenang saja, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu"
Merekapun tenggelam dalam obrolan bisnis yang lain.
Bramantyo benar-benar kalut saat ini, karena baru saja ia mendapat kabar bahwa tujuh puluh persen saham perusahaannya sudah jatuh ke tangan orang yang belum ia ketahui identitasnya, dan sebentar lagi mereka akan mengadakan rapat pemegang saham dimana pemilik baru akan melakukan perubahan struktur besar-besaran.
"sial..., apa ini pekerjaan Murphy, tapi ia tidak akan mungkin melakukan ini bila tidak ada yang membantunya" Bramantyo bergumam sendiri tanpa menyadari bahwa duduk dihadapannya seseorang yang sedang menertawakannya dalam diam.
"sepertinya kau belum bisa lepas dari ku Bram" Murphy duduk dengan menyilang kan sebelah kakinya sambil memegang gelas wine yang ia temukan di meja kala Bramantyo sibuk dengan pikirannya sendiri saat itu.
__ADS_1
"KAU..!!! bagaimana kau bisa masuk kemari!!"
"bukankah hampir semua bawaha mu mengenalku dengan baik sebagai asisten mu Bram??"
"keluar dari sini!!" Bramantyo benar-benar tidak habis pikir bagaimana Murphy masih bisa dengan santai menemuinya saat ini
"whoa...santai Bram... , aku hanya ingin mengunjungi kawan lama, dan sepertinya kau sedang kesusahan saat ini?"
"apa ini semua rencana Murphy?"
"aku??" bagaimana bisa?" bukankah kau tadi mengatakan aku tidak mampu melakukan ini?" Murphy sengaja mengejek Bram melalu raut wajahnya yang sengaja ia buat untuk merendahkan Bramantyo
"Kau.....!!"
Bramantyo jatuh terduduk dan memegangi dadanya yang kian terasa sakit.
"UPS ..aku sebaiknya segera pergi dari sini" Murphy segera meninggalkan ruangan Bramantyo, dan memberitahukan sekretaris Bramantyo untuk masuk kedalam ruangan.
"Tuan...tuan...halo...kirim ambulans segera" terdengar teriakan dari dalam ruangan sebelum Murphy masuk kedalam pintu lift.
"sepertinya kau juga memiliki musuh lain selain aku Bram, ada baiknya aku tidak ikut campur, ada tangan lain yang sudah membuatmu hancur... hahahaha" Murphy tertawa bahagia didalam lift yang ia naiki bersama asistennya.
Thomas masuk kedalam galeri tempat Leah dan Anyelir memasang hasil-hasil karya mereka, terlihat Anyelir sedang bersama beberapa koleganya yang sedang berbicara tentang foto-foto yang ia tampilkan, ternyata foto-foto Devan yang ia ambil secara natura dan tidak disengaja justru banyak diminati oleh banyak tamu yang datang, dan salah satunya adalah majalah bisnis yang berisi banyak produk-produk yang sedang trend saat ini, majalah ini sangat tertarik untuk menjadikan Anyelir sebagai tokoh of the week begitu tahu bahwa anyelir berencana untuk bekerja sama dengan salah satu perusahaan yang akan mengontraknya melakukan foto-foto produk mereka.
"sebaiknya kau antri jika ingin bertemu dengan dia" Leah berdiri di samping Thomas dan memberikan Thomas segelas kopi yang sengaja dia beli di cafe depan galeri.
"oh...hai, te..terima kasih" Thomas cukup kaget menemukan Leah mau menyapa dirinya, karena dia sendiri masih belum tahu bagaimana sebenarnya perasaannya terhadap gadis ini.
"kau Thomas kan? lama tidak bertemu, kau....sedikit berisi Sekarang" Leah tersenyum melihat Thomas begitu canggung berbicara padanya, padahal dulu mereka begitu dekat, walaupun belum terucap kata suka ataupun cinta diantara mereka, namun siapapun yang melihat mereka kala itu yakin bahwa mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.
"oh..sungguh?" Leah menganggukkan kepala.
"mari kita duduk disebelah sana, princess dan aku punya janji makan siang bersama, pasti dia akan mencari ku jika sudah selesai dengan orang-orang itu"
Thomas pun menyetujui dan mengikuti Leah duduk di kursi tunggu yang telah disediakan oleh pihak galeri.
__ADS_1
Thomas mengamati leah dengan kelembutannya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah, mungkin ada yang berubah, Leah seperti memiliki aura yang tidak di miliki oleh gadis lain