
BRAKK.....
"Bodoh!!!" teriak Bram pada Murphy.
"ku kira kau pintar murph, kita bukan sedang main film yang ditonton orang banyak!?" sarkas Bram setengah berteriak pada Murphy
Murphy mengepalkan tangan yang berada dikantong celananya, diteriaki bodoh oleh orang tua Bangka yang sebenarnya dengan mudah bisa ia tumbangkan, namun tujuan untuk menguasai semua saham yang ada di perusahaan Bramantyo masih belum mencapai lebih dari 60 persen, arti nya ia masih harus bersabar sedikit lagi hingga bisa mendapat tua Bangka ini keluar dari singgasananya.
"kau dengarkan aku tidak!!?" teriak bram kembali pada Murphy.
"ya maaf, aku akan lebih berhati-hati lagi" sahut Murphy santai.
"jadi apa orang suruhan mu itu tidak akan buka mulut" tanya Bram pada Murphy lagi, ia sungguh tidak ingin orang mengetahui bahwa ia yang ada dibalik semua ini.
"sebelum ia sampai di kantor polisi tubuhnya akan mati rasa dan mati" jelas Murphy pada Bram.
Bramantyo menyeringai..."bagus"
_____
Jonas masuk kedalam kamar anye tanpa mengetuk pintu kamarnya, karena hal itu sudah biasa dilakukan Jonas sejak mereka masih kecil.
setelah perdebatan panjang tadi malam akhirnya Krisna memutuskan agar Jonas dan Devan tinggal bersama mereka sementara waktu sampai kondisi teror dan keselamatan anyelir terjaga.
Anyelir yang masih tidur dengan posisi tubuh yang memang selalu terbalut selimut tebal pada bagian atas hingga lututnya sedangkan ujung telapak kakinya menyembul keluar di ujung selimut.
"ish kebiasaan sekali sih anak ini, ga kunci pintu, tidur kayak kebo, aku kerjain baru rasa" gerutu Jonas sambil menyeringai usil.
Jonas mencari barang yang bisa ia gunakan untuk mengusili anye. dan ia menemukan pena berbulu di meja rias anye.
Jonas mulai aksinya menggelitik telapak kaki anye, awalnya anye hanya sedikit terusik menarik sebentar kakinya lalu tak lama dikeluarkan lagi, lama kelamaan anye merasa terganggu....ditariknya seluruh kakinya hingga hampir masuk kedalam selimut tebal yang membalut seluruh tubuh anye, namun gerakan anye kalah cepat karena Jonas menahan telapak kaki anye yang membuat anye refleks terkejut dan terguling ke lantai.
Brukkk...
Jonas yang sedari tadi menahan tawanya akhirnya tertawa terbahak bahak, melihat anye yang terjatuh ke lantai seperti kepompong terbelit selimut tebal dan agak kesulitan untuk keluar dari selimut yang membungkus tubuhnya, jonas segera berlari keluar kamar anye sebelum suara melengking anye terdengar memekakkan telinga.
"JONAS!!!!!!" anye berteriak bar bar, benar sesuai prediksi Jonas, Gadis itu memanggil nama sepupu gesreknya dengan kencang karena kesal jonas selalu mengganggu tidurnya.
__ADS_1
Devan yang baru saja keluar dari kamarnya yang tidak jauh dari kamar anyelir melihat Jonas keluar dari kamar anye setengah berlari sambil tertawa terbahak-bahak, sontak terkaget-kaget karena bersamaan dengan itu ia mendengar kekasihnya meneriaki nama Jonas cukup kencang, bingung untuk berlari mengejar Jonas atau masuk ke kamar kekasihnya untuk melihat apa yang terjadi.
"Anye...sayang...."akhirnya Devan memutuskan melihat anye terlebih dahulu dan masuk ke dalam kamar anye setengah berlari dan tidak menemukan apapun diatas ranjang, langkahnya mulai masuk lebih dalam mendekati sisi ranjang dan terlihat olehnya anyelir yang berada di lantai masih terbalut selimut dan sulit untuk keluar.
"sayang.....ya ampun, apa yang terjadi" Devan membantu anye keluar dari selimut tebal tersebut.
"Devan...." lirih anye saat ia teringat bahwa ada Devan dirumahnya.
Devan membantu anye berdiri, dilihatnya anye dengan rambut acak-acakan baju kaos kebesaran menutupi sebagian paha putih mulus dan muka bantal ciri khas orang bangun tidur, semakin membuat Devan gemas melihatnya.
anyelir yang sadar dengan tatapan Devan pada dirinya, langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, aliran darahnya meningkat dan ia rasakan panas yang menjalar di pipinya karena malu.
"ayo bersihkan dirimu, papa Krisna sepertinya sudah menunggu dibawah, aku akan tunggu disini" Devan mengacak rambut anye dan sedikit mendorong tubuh anye agar masuk kedalam kamar mandi.
Jonas yang tadi turun dari lantai dua dengan terbahak-bahak menghampiri Krisna yang sedang membaca koran, ia tau pasti ponakan nya ini habis mengganggu putri nya, Krisna hanya bisa menggelengkan kepala, pasti sebentar lagi akan ada perang antara anye dan Jonas kalau sudah seperti ini.
Anye keluar dari kamar mandi setelah ia menggosok giginya dan menggulung rambutnya kebelakang untuk dicepol, ia melihat Devan tengah merapihkan tempat tidurnya yang berantakan.
"Dev....kamu ngapain, iish udah ga usah diberesin, biar aku aja....."
"sstt..udah jangan berisik, cepat pakai celana kamu" titah Devan.
Devan sengaja menyibukkan dirinya dengan merapikan kasur anye karena sedari tadi pikiran liar Devan mulai berlarian di kepala Devan, teringat saat ia mengeluarkan anye dari dalam selimut dan mendapati paha putih anye terekspos.
"apa kamu akan turun hanya menggunakan kaos kebesaran ini, hmm??" Devan mendekatkan tubuhnya pada anye, menyadari bahwa ia hanya memakai short pant dan membuat Devan mengira ia tidak menggunakan apapun dibalik baju kebesarannya ini membuat anye tersadar dan mundur beberapa langkah.
"oh...maksudmu aku tidak memakai celana pendek dibawah sini" sambil menunjukan paha putihnya yang terekspos cukup jelas.
"sayang...jangan menggodaku, atau aku akan memakan mu disini" ucap Devan sambil mengalihkan pandangannya saat anye menunjukan paha putihnya itu.
"hahahaha...Dev sayang aku pakai short pant lihat" anye menaikkan ujung kaos yang ia kenakan.
Devan melirik ke arah anye dan lagi pikiran liarnya mulai berlarian, devan sadar diri sedang berada dimana saat ini, dan ia juga sudah berjanji tidak akan merusak kekasihnya ini sebelum mereka di resmikan dengan ikatan janji suci, Devan lalu berjalan mendekati anye, dikecupnya tiba-tiba bibir anye sekilas
"gantilah dengan yang lebih tertutup aku akan tunggu didepan pintu, ingat..semua yang ada pada dirimu hanya aku yang boleh melihatnya" bisik Devan di telinga anyelir.
tubuh anye meremang, aliran darah nya memacu lebih cepat, anye baru sadar kalau Devan juga lelaki normal yang akan berpikiran liar bila melihat apa yang ia lakukan tadi
__ADS_1
'anye.. bodoh' batin anye
"ba...baik" ucap anye terbata.
Devan mengacak pangkal rambut anye sambil tersenyum dan membalikan tubuhnya.
anye segera mengambil celana training dan segera memakainya lalu ia keluar dari kamar dan turun dari lantai dua bersama dengan Devan.
mendekati meja makan, anye yang memang sangat kesal pada Jonas segera berlari kearah Jonas dan memiting tubuh besar itu sambil mencubit seluruh tubuh Jonas hingga mereka terjatuh kelantai bersamaan dan bergulat layaknya orang bertanding sumo, panas akibat cubitan kecil anye membuat Jonas meliuk-liuk kan tubuhnya seperti cacing kepanasan, sedangkan Devan memijat pelipisnya pelan melihat pemandangan tidak biasa yang dilakukan oleh anye dan Jonas, dengan satu tangannya lagi terkepal diatas meja, bagi Devan, Jonas tetaplah pria dewasa dan normal, meskipun hubungan mereka saudara sepupu tapi bukan tidak mungkin kalau Jonas bisa saja tertarik pada anye, banyak kasus sekarang saudara sepupu mencintai atau bahkan menghamili saudaranya sendiri, ini tidak bisa dibiarkan, anye harus segera ia miliki agar hal yang seperti ini tidak terjadi lagi.
Krisna yang menyadari kecemburuan devan merasa bahagia karena perjodohan yang ia lakukan akhirnya berlandaskan cinta.
"Dev....kau tenang saja, Jonas tidak akan lebih menganggap putri om sebagai adiknya" diusapnya tangan Devan diatas meja yang sudah terkepal erat menahan emosi.
Devan menoleh kearah calon mertuanya dan tersenyum bahagia karena tahu bahwa calon mertuanya memahami kegundahan hatinya.
"Jonas, Anye STOP!!" Krisna sedikit berteriak yang membuat kedua manusia yang sedang sibuk bergelut ria itu menghentikan kegiatannya
anye mendengus pada Jonas."awas lw, ganggu lagi tidur gw kayak tadi..." sambil mengarahkan tangannya ke leher seolah mengancam Jonas akan di potong lehernya bila macam-macam lagi.
"wleeee...bodo, anak gadis tidur tuh pintu dikunci makanya, untung gw yang masuk coba kalo dia..." mengarahkan dagunya ke arah Devan dan menenggak habis air putih yang ada di gelas hingga tandas
"suka-suka, mending dia yang masuk kamar gw terus bisa ***-*** dari pada lw...eee"
Krisna dan Devan yang sedang menyeruput kopi dan teh saat itu tersedak bersamaan mendengar ucapan anyelir yang vulgar apalagi di depan Krisna.
"eeh....ga..ga...duh ini mulut asal banget sih" anye menampar bibirnya sendiri serta merutuki kebodohannya yang malah menyuarakan pikiran mesumnya apalagi di depan papanya.
"hahahaha......otak lw dah gesrek Nye...mesum banget, sabar...belum halal" goda Jonas dan tertawa terbahak bahak.
panas merambat pada tubuh dan wajah anye, mungkin sekarang wajahnya sudah seperti tomat rebus.
Devan yang mendapati anye bertingkat seperti itu terkekeh, ia gemas sekali melihat kelakuan anye, ingin sekali ia memeluk dan menciumi gadis itu sesuka hatinya, namun ia hanya bisa bersabar, jadi seperti ini aslinya gadis yang ia cintai, Devan semakin tidak sabar ingin segera memiliki anye...
Krisna yang tersedak atas penyataan vulgar anak gadisnya itu pun menggelengkan kepala lalu ia berkata, ia baru sadar bahwa gadis kecilnya ini telah tumbuh dewasa. lalu ia melirik ke arah Devan.
"kalian harus segera meresmikan pertunangan kalian...papa akan bicara dengan Daddy dan mommy mu Dev, sepertinya kau sudah banyak melakukan hal aneh pada putri ku" kini giliran Devan yang wajahnya memerah karena malu atas tuduhan yang dilontarkan calon mertuanya ini dan akhirnya makan pagi dimulai dengan anye dan Devan yang menjadi salah tingkah karena digoda habis-habisan oleh Krisna dan Jonas.
__ADS_1
'keluarga yang hangat' batin Devan.