Cewek Imut Tapi Jagoan

Cewek Imut Tapi Jagoan
Chapter 54


__ADS_3

"Aku tidak akan hilang seperti mu, rasanya tak perlu melihatku seperti itu thom"


Leah memulai pembicaraan yang sebenarnya dia sendiri merasa canggung dengan kondisi mereka harus berada berdua seperti ini


"ah...maaf" Thomas juga merasa canggung dengan kondisi ini.


"Berapa lama thom??"


Thomas menatap lekat pada Leah tidak mengerti akan maksud pertanyaan Leah barusan.


"berapa lama kita tidak bertemu dan kau menghilang begitu saja tanpa memberiku kabar?"


"oh..." rasanya Thomas ingin menghilang saja, entah kenapa tiap kali ia berhadapan dengan Leah, ia bahkan tidak mampu berbicara luwes seperti layaknya ia berbicara dengan gadis lain.


"bukankah banyak yang harus kita bicarakan thom?"


"y..ya...kau benar..banyak yang harus kita bicarakan, maafkan aku Leah..a..aku..."


"Hai...ternyata kalian disini.., aku mencarinya ke.."


"kau sedang sibuk, dan aku bertemu dengan Thomas" Princess datang setelah bincang-bincang nya dengan beberapa orang selesai, dan orang pertama yang ia cari adalah leah.


"ku lihat kalian sedang berbicara serius barusan, apa aku mengganggu??"


"tidak"


"tidak"


Thomas dan Leah menjawab bersamaan.


"wah..sepertinya kalian berjodoh, hahaha, ayo kita makan siang bersama" princess berdiri dari duduknya


Thomas dan Leah saling memandang dan akhirnya ikut berdiri juga mengikuti princess yang telah lebih dulu berjalan ke arah luar.


"kau duluan lah, aku harus mengambil tas ku di ruangan" Leah meminta Thomas untuk menyusul princess.


"perlu ku temani?"


"tidak usah, tunggulah di loby aku akan menyusul"


Thomas menatap punggung mungil yang mulai menjauh itu, andai dulu dia tidak ditemukan oleh keluarganya dan dibawa keluar negeri mungkin saat ini hubungannya dengan Leah sudah semakin jauh.


Princess menatap pasangan tersebut, tiba-tiba ia teringat akan Devan, tanpa terasa belur bening jatuh dari kedua sudut mata indahnya.


"ah..aku rindu padamu Dev" menatap langit dan menyeka bulir bening tersebut, berusaha kuat karena tujuannya harus tercapai, maka dengan begitu ia baru berani untuk datang ke pemakaman Devan.


Thomas yang menghampiri princess melihat hal tersebut, ia sedikit panik, mengapa gadis tersebut menangis.

__ADS_1


"kau baik-baik saja?" nada bicara Thomas menunjukkan bahwa ia khawatir.


"ah..kau sudah disini, mana Leah?"


"dia sedang mengambil beberapa barangnya, kau yakin tidak ada apa-apa"


"tidak thom, aku baik-buruk saja, bisakah kau lepaskan kedua tanganmu?"


"ah..ma.. mafia, aku hanya khawatir, karena kau tiba-tiba menangis" Thomas segera melepaskan kedua tangannya yang berada di kedua lengan anyelir, dan disaat yang bersamaan Leah berjalan ke arah mereka dan melihat semua itu dari kejauhan.


apa kau menyukai princess thom??...lalu bagaimana dengan aku dan anak kita


"Leah....!!" Princess melihat kearah Leah dan segera memanggil gadis itu agar mereka segera berangkat untuk makan siang bersama.


Maxwell dan James alias Devan sedang menikmati makan siang mereka, Maxwell sengaja ingin menemui putranya untuk membahas pekerjaan yang memang hanya Devan yang mengerti cara mengatasi masalah tersebut, Maxwell sengaja menyamarkan penampilan nya karena khawatir Murphy akan meminta orang untuk mengawasi Devan


hei bukankah itu Devan, bukankah itu ayahnya Devan, kenapa mereka bisa bersama, tapi kebetulan, aku tidak akan canggung jika ada Devan yang bisa makan siang bersama.


"James !!" Mereka semua menatap ke arah thomas yang menepuk pundak seorang laki-laki.


Leah dan Princess yang sedang berdiri dibelakang thomas hanya bisa saling tatap


"Thom?!" Devan dan Maxwell menatap Thomas bersamaan


"kau disini juga ternyata, kami boleh gabung?" Thomas pun memiringkan tubuhnya dan betapa Devan dan Maxwell terkejut bahwa di depan mereka berdiri seorang Anyelir dalam bentukan Princess.


Maxwell yang tidak ingin menambah kecurigaan Thomas segera berdiri dan menatap Devan, Anyelir yang menyadari bahwa di hadapannya adalah calon ayah mertuanya itu merasa canggung.


"ah..maaf apakah aku mengganggu kalian" Thomas yang merasa suasana sedikit tidak nyaman kembali membuka suara, sedangkan Anyelir hanya bisa menatap lantai karena tidak tahan melihat bagaimana Maxwell menatapnya.


"tentu saja tidak...., duduklah, tuan Max, anda juga bisa melanjutkan makan siang anda"


Maxwell yang tidak ingin emosinya tidak terkontrol, karena ia juga sama dengan Devan, sangat merindukan putrinya ini, mendengar bagaimana Anyelir terpuruk akan berita meninggalnya Devan, hingga mutuskan untuk berada dilingkungan berbahaya hanya untuk membalaskan dendam pada pembunuh putranya, akhirnya ia segera memilih pamit undur diri


"ah...sepertinya aku harus ke toilet dulu, Leah aku titip tas ya...kau pesankan aku makan siang" anyelir segera mengejar Maxwell dan ingin menjelaskan mengapa ia bisa bersama Thomas, karena khawatir Maxwell akan salah paham terhadapnya.


Devan yang terus menatap Anyelir tanpa memperhatikan bahwa dua pasang mata dihadapannya sedang memperhatikan dirinya saat ini.


"James, hati-hati terhadap matamu!"


Devan tersadar


"oh..maaf..aku..."


"princess memang cantik, dia sangat mudah menarik perhatian banyak orang, kau pasti langsung menyukainya pada saat melihatnya kan?" Leah mendahului Thomas menanggapi ucapan Devan.


"om tunggu !!"

__ADS_1


Maxwell berhenti setelah mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya.


Anyelir berlari mendekat dan berdiri di hadapan Maxwell


Anyelir meraih kedua tangan ayah dari kekasihnya.


Kedua mata mereka bertemu, Maxwell menarik tubuh Anyelir masuk dalam pelukannya.


"Maafkan Om sayang...maafkan Om"


Anyelir membalas pelukan Maxwell, ia tahu bahwa ayah mertuanya ini juga merasa terpukul dan anyelir merasa bersalah terhadap Maxwell.


harum tubuh Maxwell mengingatkan dirinya pada Devan, karena mereka berdua memiliki bau badan yang hampir mirip.


Thomas yang mencari toilet untuk menuntaskan hajatnya tanpa sengaja melihat Anyelir dan Maxwell berpelukan.


Ada hubungan apa antara mereka, siapa lelaki tua itu, kenapa banyak sekali misteri yang ingin aku ketahui tentang mu princess.


Maxwell mengurai pelukan mereka.


"bagaimana kabarmu sayang, maafkan Om, kau baik-baik saja"


"aku baik-baik saja Om, maafkan Anyelir, Devan...anyelir akan..."


belum sempat anyelir menyelesaikan perkataannya, Maxwell menarik tangan anyelir untuk mengikutinya masuk kedalam mobil, agar mereka bisa berbicara dengan tenang.


Thomas yang melihat itu memutuskan kembali ke meja tempat Devan dan Leah menunggu


"kau tidak bertemu princess di toilet"


Leah menanyakan Thomas begitu lelaki itu duduk disebelahnya.


"tidak, aku segera kembali kesini, apa dia belum kembali??"


"belum" Leah menjawab


"pesanlah thom, bagaimana kau bisa disini" Devan yang sudah bisa mengontrol diri mulai membuka pertanyaan sederhana.


"aku yang seharusnya bertanya James, ada banyak hal yang perlu kau jelaskan nanti" Devan paham akan pernyataan Thomas


"tentu thom...tentu.., ah nona Leah apa yang akan kau pesan.."mencoba mengalihkan pertanyaan dan mencairkan suasana akhirnya mereka terlibat obrolan santai.


"om minta kau berhati-hati sayang, lelaki tadi sudah ada di sekitar Thomas dan Murphy"


"om menyuruh orang untuk memantau mereka?!"


"ya..oleh karena itu, om tidak ingin kamu membahayakan diri mu"

__ADS_1


"tapi om..." menatap lekat kedua manik lelaki paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, anyelir melanjutkan.


"sudah tidak ada hal yang aku tunggu di dunia ini, bahkan aku tidak mampu mendatangai makan Devan karena aku merasa sangat bersalah, hanya saat aku bisa membunuh Murphy maka aku akan datang ke makam orang yang kucintai om.." air mata tak sanggup lagi Anyelir bendung, Maxwell merasa sakit dan sesak pada dadanya, ingin sekali ia mengatakan bahwa Devan masih hidup, dan mereka bahkan baru saja bertemu, namun jika itu ia lakukan maka semua yang telah Devan rencanakan mungkin tidak akan berjalan maksimal.


__ADS_2