Cewek Imut Tapi Jagoan

Cewek Imut Tapi Jagoan
Chapter 57


__ADS_3

Devan tidak terlalu suka untuk berlama-lama berada di tempat yang sama dengan Anyelir, terlebih dengan penyamarannya saat ini, ia tahu bahwa kekasihnya itu amat pintar mengenali orang, walaupun pertemuan pertama mereka tadi tidak menimbulkan kecurigaan.


"sepertinya Thomas sudah sangat akrab dengan temanmu" Devan memperhatikan Anyelir dan Thomas berbicara sambil beberapa kali tertawa.


"ya.. princess gadis yang ramah, tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekatinya di galeri.


"benarkah?"


"ya..termasuk salah satunya teman mu itu.."


"kau terlihat sedang cemburu"


"aku..?!"


"sepertinya ada masalah antara kalian berdua, maaf jika sedikit lancang, tapi baiknya kalian selesaikan dulu sebelum ada orang ke tiga diantara kalian".


Leah memandang ke arah Thomas dan anyelir


"baiklah, sampaikan pada Thomas aku menunggu diluar sepertinya aku tidak cocok berada didalam sini"


"aku ikut, tunggu!!" Leah mengikuti James alias Devan


"hei...kemana mereka pergi!?" Anyelir tidak sengaja melihat James dan Leah meninggalkan studio


apa yang kalian lakukan, Devan, Leah semoga saja kalian tidak membuka rahasia kalian masing-masing, Thomas membatin


Thomas hanya mengangkat kedua pundaknya tanda ia tidak tahu.


Anyelir yang melihat ekspresi wajah Thomas yang sepertinya mengkhawatirkan sesuatu angkat bicara.


"kalian sudah lama kenal bukan?"


"eeh...kalian?"


"kau dan Leah"


"oh..ya..,dulu kami teman satu sekolah"


"wah... sepertinya memang benar, kau seperti mengkhawatirkan sesuatu thom, sepertinya ada yang masih harus kalian selesaikan....jangan membuat dirimu menyesal thom, Leah wanita pekerja keras dan mandiri" Anyelir menepuk pundak Thomas dan berjalan melewatinya seolah mereka adalah kawan lama.


kau benar princess, Leah wanita seperti itu, aku justru malu padanya, tapi sejak kau hadir entah mengapa aku merasa sepeti anak belasan tahun yang merasakan getaran pada dadaku..


"siapa wanita itu"


"kami tidak tahu tuan, apa perlu kami selidiki?"


"selidiki dan...." ucapan lelaki itu tertahan kala melihat sosok yang sangat ia kenali berjalan bersama Thomas.


"princess..."


"maaf tuan...? maksud anda?" anak buah Murphy yang bingung melihat tuannya menyebut nama princess melihat ke arah pandangan Murphy.


Ternyata tanpa sengaja Murphy awalnya hanya melihat James dan Leah yang sedang mengobrol di depan sebuah studio, namun tanpa ia sangka, orang yang sangat igngin ia habisi keluar bersama Thomas.


"kau sudah memulai permainannya princess..., baiklah kita bermain sekarang" Murphy bergumam


"jalan...selidiki kedua wanita itu dan apa yang mereka lakukan bersama Thomas dan James


"baik tuan"

__ADS_1


Mobil yang ditumpangi murphy meninggalkan area tersebut.


"hei..kalian disini rupanya" Anyelir berjalan mendekat ke arah Leah dan James.


"kau sudah selesai?" tanya Leah


"ya..." Anyelir membalikkan tubuhnya menghadap Thomas


"Aku akan antar ke kantormu jika foto ini sudah ku cetak, nanti bisa kau pilih mana yang terbaik"


"oh...baiklah., kau pasti sudah tahu kantor ku berada dimana"


"tentu tuan muda Jhonson, aku tahu" menarik tangan Leah dan segera berjalan ke arah parkiran


James alias devan yang mendengar jawaban Anyelir langsung menatap punggung gadis tersebut, ia paham betul bahwa jawaban itu memiliki arti.


damn....apa kamu gila Nye..., jangan berperang sendirian, aku harus tanya George...ah tidak-tidak, bisa-bisa penyamaran ku terbongkar.


Thomas yang tadinya menatap kepergian dua wanita tadi saat ini menatap Devan dan menyadari perubahan pada raut wajah sahabatnya itupun mendekat.


"kau baik-baik saja Dev?"


"oh..ya" Devan segera berjalan ke arah mobil mereka.


ada apa dengannya


"ya sayang...mommy akan segera kembali, kau kemana? oh ya mommy tidak di galeri, apa bibi marry yang mengantarmu? baiklah tunggu mommy disana"


"wah kau penuh kejutan juga Leah, siapa itu"


"anakku!"


"ya..namun dari sesuatu yang tidak di sengaja"


"maksudmu?"


"sudahlah, kau akan dapatkan jawaban ketika kau bertemu dengannya nanti di galeri"


"oke"


Maxwell menunggu Devan di tempat yang telah mereka sepakati.


"Dadd..." Devan tiba dengan segera memeluk ayahnya.


"hai son..kau baik-baik saja?"


Devan melepaskan topeng yang menutupi wajahnya


"kau kurusan nak, berhentilah, kita hadapi Murphy bersama"


"tidak dad, oh ya aku bertemu anyelir hari ini"


"apaa!!"


"tenang saja dad...ia tidak mengenaliku, namun yang menjadi masalah, ia masuk dalam lingkup Thomas, dan ia akan ke kantor dengan wajah mendekati asli yang aku yakin Murphy akan mengenali dia"


Maxwell menghembuskan nafasnya


"Daddy sudah bertemu dengan Krisna, ia sudah menjelaskan rencana putrinya, dan sepertinya, Krisna juga merasa bersalah akan meninggalnya dirimu nak..., ku rasa kau sebaiknya muncul dan menjelaskan semua"

__ADS_1


"aku baru mendapatkan beberapa bukti kejahatan Murphy dad, dan itu semua belum mampu untuk membuat ia membusuk seumur hidup dipenjara, aku ingin hukum yang menghukumnya bukan kami"


"ya aku paham nak...sebenarnya Daddy punya berita yang mungkin berguna untuk mu"


Maxwell menyerahkan sebuah amplop yang berisi beberapa transaksi penggelapan dana oleh Murphy ke salah satu bank di luar negeri.


"dan ini...teman underground Daddy memberikan ini"


TOP SECRET PENJUALAN SENJATA NUKLIR


"WHAT!!"


"Murphy lebih gila dari yang kita kira nak, maka dari itu, kurasa kalian harus bersama, bukan terpecah seperti ini"


Devan memejamkan matanya dan menghembuskan nafas kasar


"biar kan aku seperti ini dad, simpan data ini baik-baik dan aku harap Daddy bicarakan ini dengan George dan om Krisna, karena hari ini aku mendengar dari mulut Anyelir bahwa ia akan mendatangi kantor Thomas dan itu pasti akan ada Murphy disana"


"baiklah...Daddy akan bantu kalian, kali ini kita harus bisa menyelesaikan masalah ini dan hidup dengan tenang"


"ya dad..."


Maxwell meninggalkan tempat itu, sebelumnya ia memeluk anaknya terlebih dahulu.


"jadi..anak itu??!"


Leah menganggukkan kepalanya.


"kau sudah bicarakan dengan Thomas?


"sudah, tapi dia butuh waktu untuk yakin bahwa itu adalah anaknya, kami melakukan itu hanya sekali saat terakhir aku bertemu dengannya"


"andai aku bisa melakukan itu dengan calon suamiku terakhir kali kami liburan, mungkin akan ada benihnya di dalam perutku yang bisa menggantikan dia di sisiku" Anyelir mengusap perutnya.


"princess??"


"kau beruntung Leah, setidaknya kau masih memiliki Noah yang bisa menjadi pengobat rindu mu pada Thomas, dan harusnya sekarang kalian bisa menyelesaikan ini dengan baik, aku yakin Thomas masih mencintai mu"


Leah hanya bisa tersenyum, ia mengenal Thomas, saat ini hatinya sedang terpecah oleh hadirnya gadis yang saat ini duduk dihadapannya, Leah tidak ingin mengatakan ini secara langsung kepada Princess, karena ia yakin bahwa gadis ini masih amat mencintai kekasihnya yang sudah tiada.


"mainlah sesekali ke rumahku, ada sepupu ku disana"


"oh ya...aku pasti datang"


"bawa sekalian Noah, aku yakin papa dan Jonas akan senang"


"bagaimana ibumu?"


Anyelir tersenyum kala ditanya tentang seorang ibu, karena ia telah lama tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


Leah yang melihat perubahan pada wajah bening itu paham bahwa pertanyaan nya membuat tidak nyaman.


"maafkan aku princess"


Anyelir tersenyum...


"boleh aku ajak Noah ke cafe depan untuk membeli coklat dan kopi panas?"


"tentu...ajaklah"

__ADS_1


__ADS_2