
"Whoaa....cantikkk" Anye begitu terpukau ketika mereka telah sampai di tempat yang akan ditunjukan oleh Devan.
Danau yang sekelilingnya tidak terlalu banyak semak belukar...dengan pantulan cahaya bulan tepat diujung danau ditambah dengan cahaya kunang-kunang yang menerangi beberapa sudut danau terpampang indah didepan mata mereka berdua.
"ini cantik Dev....."gumam anye yang telah berdiri ditepi danau dengan membusungkan sedikit dadanya menghirup wangi air...daun yang menghembus di sela dinginnya malam.
"kamu suka hmm?" tanya Devan yang saat ini berdiri di samping Anyelir dan memperhatikan ekspresi yang ditampilkan di wajah cantik Anyelir.
"suka....banget" jawab anyelir di barengi anggukan kepalanya
"tapi ...sayang ponselku maupun kameraku tidak kubawa" sahut Anyelir kembali, karena pemandangan ini menggugah sisi seni nya yang mencintai fotografi untuk mengambil gambar dengan posisi yang indah.
"kamu bisa pakai ini" Devan mengeluarkan ponselnya yang mahal dan sudah bisa dipastikan foto yang dihasilkan pun juga tidak kalah dengan kamera SLR yang biasa Anye gunakan untuk membidik spot-spot keren yang diabadikan dalam kameranya tersebut.
"ahhh.... serius??" sahut anye bersemangat, yang dijawab Devan dengan anggukan dan memberikan ponselnya pada anyelir.
Anyelir segera mengambil foto Devan dan langsung mengabadikan beberapa spot yang sekiranya bisa dia jual.
hampir satu jam anye bergelut dengan aktifitas fotografi nya, dan terasa angin malam kian menusuk kulitnya yang memang hanya dibalut dengan kaos oblong sedikit kebesaran dan celana jeans setengah lutut.
Devan memperhatikan semua hal yang anye lakukan, dan sesekali sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis melihat kelakuan anye jika ada pose dari anye saat mengambil gambar terlihat lucu dan menggemaskan.
"Dev.., ini.., terima kasih, nanti kirim via chat ya semuanya kecuali foto yg ada objeknya".
Anye menghampiri Devan sambil menyerahkan ponsel Devan dan menggosok tangannya karena hawa dingin mulai mengganggu suhu badannya yang kedinginan.
Devan menerima ponselnya dan memperhatikan gestur tubuh anye yang merasakan dingin saat itu, tanpa melihat lagi ponselnya Devan segera memasukan ponsel kedalam saku celana panjangnya dan memasangkan jaketnya di tubuh anye.
Anyelir sedikit kaget dengan perlakuan Devan, membuat semburat merah terlihat di pipinya, sungguh hal ini baru pertama kali nya ia diperlakukan seromantis ini oleh laki-laki, walaupun kadang adegan seperti ini beberapa kali terjadi antara ia dan Damian, tapi hal itu tidak membuat dadanya berdesir seperti saat Devan melakukannya tadi.
Mobil Devan berhenti disalah satu restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam, rasanya perlu mengisi tenaga dulu sebelum kembali ke apartemen apalagi jarak apartemen dan danau tadi cukup lumayan memakan waktu.
tidak banyak yang mereka bicarakan saat makan dan juga dalam perjalanan pulang tanpa sengaja anye tertidur.
"Anyelir....bangun...kita sudah sampai" Devan menyentuh pundak anye.
"eenghh" lenguh anye sebelum ia membuka matanya perlahan.
__ADS_1
"mau ku gendong ke atas,. hmm..?" tanya Devan sambil mengelus pucuk rambut di kepala Anyelir.
Sontak anyelir kembali pada kesadarannya..dengan wajah khas bangun tidur yang terlihat sangat lucu untuk Devan.
"tidak perlu ...gw bisa sendiri" Anyelir segera melepaskan seat belt dan berlalu dari parkiran meninggalkan Devan yang sedang terkekeh dan menggeleng kan kepala melihat tingkah anye.
"mandilah...kamu bisa pakai ini..." anye menyodorkan kaos polos dan celana training pada Devan.
"kamu....selalu stok baju laki-laki di apartemen ini?" tanya Devan agak ragu-ragu
"lw pikir gw bawa laki-laki disini buat bermalam!?" sahut Anye sinis
"eeh....bukan gitu...maksudku..."
"dengar baik-baik tuan Devan Morgan yang terhormat, anda adalah laki-laki pertama dan mungkin terakhir yang kubiarkan menginap di apartemen ini!!" sela anyelir saat Devan belum menyelesaikan perkataannya tadi, lalu ia beranjak menuju kamarnya.
"gw mau mandi, terserah kalau lw ga mau pake tuh baju...gpp"
'BRUK'
'god....salah lagi kan' Devan menjambak rambutnya frustasi, lalu beranjak menuju kamar mandi yang ada diruang tengah.
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Devan sedang membuat dua gelas coklat panas yang Ia temukan sambil menunggu anye selesai melakukan ritual mandinya.
Anyelir keluar dengan membawa bantal dan selimut untuk diberikan pada Devan, meskipun ia masih kesal dengan perkataan Devan tadi mengenai pakaian yang ia berikan pada Devan, apa devan tidak peka atau memang Devan sebenarnya bodoh, apa dia tidak bisa melihat jika anyelir biasa menggunakan kaos kebesaran yang di ikat simpulnya kesamping, ya anye memang lebih suka menggunakan baju-baju yang longgar dan juga baju-baju kerjanya dalam menjalani misi sebagai "princess" selama ia tinggal di apartemen, sedangkan koleksi pakaiannya bila di rumah papanya adalah pakaian perempuan yang lebih banyak dress dan blouse wanita.
"nih bantal sama selimut" anye menaruh bantal dan selimut yang ia bawa di sofa, dan hendak beranjak masuk ke kamarnya kembali.
Devan yang bertekad ingin agar malam ini hubungan mereka menjadi jelas hingga tidak ada lagi rahasia antara mereka kembali melancarkan aksinya.
"Nye...tunggu, aku buatkan coklat panas, minumlah dulu, mungkin kamu mau sekalian transfer foto yang tadi ke laptop mu??" Devan bertanya dengan harapan Anye mau menuruti permintaan nya.
"ah ya...foto..., wait aku ambil laptop" apapun yang berkaitan dengan foto, bisa membuat mood anye yang down menjadi lebih baik, point' itu yang diambil Devan sebagai senjata bila menangani anye yang tengah marah, perlahan Devan mulai memahami anye sedikit demi sedikit.
hanya butuh tidak lebih dari sepuluh menit untuk anye memindahkan semua foto pemandangan danau dengan spot terbaik, sedangkan beberapa foto tetap ia biarkan berada di ponsel Devan.
"ini.... thanks" Anye memberikan ponsel kepada Devan, yang langsung diperiksa oleh Devan.
__ADS_1
"hei.....rasanya aku ga pernah foto dengan pose ini" tanya Devan pada anye...yang hanya dijawab senyuman oleh anye.
"kamu foto ini tadi!??" tanya Devan lagi pada anye
"yeah...hope u like" Anye telah selesai merapikan laptopnya dan hendak beranjak kembali ke kamarnya.
"Anyelir...."lirih Devan
Devan menarik kedua bahu anyelir dengan lembut hingga mereka berdua berhadapan. anyelir yang belum siap sedikit terkejut.
"Anyelir....bisakah kamu jawab pertanyaan saya tadi siang??" Devan sudah tidak bisa menahan dirinya lagi untuk segera memastikan agar ia benar-benar bisa memiliki hati anyelir sebelum perjodohan ini berlanjut, meskipun mereka sempat menyetujui didepan kedua orang tua mereka, namun masing-masing dari mereka tau bahwa kala itu apa yang mereka setujui sebatas karena untuk kebahagiaan orang tua mereka saja, namun setelah beberapa kali bertemu dan menghabiskan waktu bersama-sama, entah kapan benih cinta itu muncul dihari mereka berdua.
"ma... maksudnya?" anyelir berpura-pura tidak tahu dengan maksud Devan, ia bahkan masih takut untuk menerima Devan karena masih banyak ganjalan dihatinya mengenai misi menemukan dalang kecelakaan yang menimpa mamanya, tentang masa lalu dirinya sebagai Intel dan banyak hal lain yang rasanya perlu ia selesaikan secepatnya.
"aku mencintaimu... sangat mencintaimu, apakah kamu merasakan hal yang sama?? aku ingin kita menjadi sepasang kekasih, bukan karena perjodohan ini, tapi karena memang karena kita saling mencintai" dari bahasa tubuh dan perlakuan anye beberapa waktu belakangan ini, Devan pun menyadari bahwa mereka memiliki perasaan yang sama, namun sepertinya anyelir masih ragu untuk menyatakan perasaan yang sebenarnya.
"g...gw....., Dev..boleh gw minta satu permintaan sebelum gw jawab" tanya anyelir masih dengan nada ragu.
"apapun....aku akan berusaha menjawab dan lakukan bila aku bisa.." jawab Devan tegas.
Anye menarik nafas panjang..
"kalau kita menjadi sepasang kekasih nanti, maukah lw bersabar untuk tau semua hal tenang gw, sampai gw sendiri yang akan ceritakan semua hal apapun tentang kehidupan gw diluar, paham kan maksudnya" memang hal ini perlu anye tegaskan sebelum ia melanjutkan kesepakatan ini, karena sebelum rencana pertunangan mereka dilakukan beberapa bulan lagi dengan alasan mereka butuh waktu untuk saling mengenal lagi, anye harus segera menyelesaikan kasus yang selama ini ingin sekali ia ketahui.
"janji...aku akan bersabar buat kamu, tapi jika aku mengetahui sesuatu tentang mu tanpa sengaja, berjanjilah untuk menceritakan semuanya padaku ya..!!??" jawab Devan penuh penekanan.
Anyelir tersenyum melihat keseriusan Devan dalam hubungan yang akan mereka jalani kedepannya,. rasanya tidak adil menyembunyikan sesuatu dari orang yang kita cintai dam mencintai kita, namun saat ini menurut anye itu yang terbaik.
"deal..." sahut anye semangat.
Devan yang masih terkaget dengan tindakan antusias anye membeo sesaat lalu setelah ia sadar....
"i..ini serius kan Nye?? kamu terima aku?? jadi kita sekarang resmi pacaran!!??" tanya Devan menggebu-gebu
anye mengangguk kan kepalanya, dan Devan langsung memeluk anye dan membawanya berputar saking senangnya.
"DEVAAN..."
__ADS_1