
Devan dan Anyelir mengikuti Mr. Tian membelah lautan manusia yang berada di ballroom hotel tersebut, akhirnya mereka sampa di hadapan beberapa orang yang sedang berbincang-bincang, sebenarnya ayah anyelir diundang namun karena Jonas saat ini sedang melakukan penyelidikan mengenai pelaku penggelapan uang yang ada di perusahaan yang sejak dibantu oleh Devan mulai menemukan petunjuk maka tugas Krisna menjadi bertambah.
"Selamat datang tuan-tuan, apakah menikmati jamuannya" sapa Mr. Tian pada beberapa lelaki yang menggunakan suite yang elegan menandakan kemapanan mereka secara materi.
"yang punya acara ternyata baru terlihat" sahut lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan tongkat Garuda di tangan kirinya.
"Hallo tuan Rudolf, bagaimana kabar anda??" sapa Mr.tian dan menjabat tangan tuan Rudolf.
disisi lain, Bramantyo menyunggingkan senyum smirk saat melihat gadis yang berada di samping lelaki muda yang ia kenali sebagai Devan Morgan.
'Kris, akhirnya aku temukan putrimu, tak perlu repot-repot mencarinya ternyata ia datang sendiri.... hahahaha' batin Bramantyo tertawa puas.
"ah ya...sampai lupa, kenalkan ini pengusaha muda nan sukses, Devan Morgan bersama kekasihnya" Mr.Tian memperkenalkan Devan pada orang2 yang berada di sana.
mereka pun berjabat tangan dengan Devan dan Anyelir secara bergantian, namun Anyelir merasa aneh pada tatapan dan cara orang tersebut menggenggam tangannya saat berkenalan dan orang tersebut adalah Bramantyo.
"Wah...tuan Devan sayang sekali anda telah memiliki kekasih, bila tidak akan saya pastikan anak saya untuk mendekati Anda" celoteh pria tambun berbadan gembal tuan Simon namanya.
"ya...demikian juga dengan saya, pasti akan saya jodohkan dengan anda tuan Devan, namun sepertinya nona cantik ini sangat beruntung bisa mendapatkan anda tuan" kali ini tuan Rudolf yang bicara dengan nada sini sambil melirik pada Anyelir.
Beginilah kehidupan para pebisnis bila menemukan pengusaha yang sukses berpasangan dengan orang yang tidak mereka kenali dalam dunia bisnis, dan benar bagaimana mereka mau mengenai anyelir bila gadis ini saja tidak pernah dimunculkan oleh papanya kedepan publik.
Devan yang merasa anyelir direndahkan berusaha mengontrol emosinya, jika saja dirinya tidak berada dalam undangan pesta, bisa dipastikan ia akan menghajar dua lelaki tua Bangka ini dengan sekali tendangan.
"ah....anda terlalu berlebihan tuan Simon, dan tuan Rudolf sepertinya anda salah, bukanlah dia yang beruntung mendapati saya tapi saya yang beruntung mendapati dirinya, dan satu lagi...,nona ini bukan kekasih saya melainkan calon istri dan ibu untuk anak-anak saya..." Devan sengaja menegaskan bahwa anye adalah calon istrinya agar tidak direndahkan lagi oleh para pebisnis tua Bangka yang ada di kumpulan ini.
__ADS_1
Anye yang memahami bahwa Devan sedikit terpancing emosi atas perkataan orang-orang tadi segera menggenggam jemari Devan menyalurkan penenang untuk kekasihnya ini.
"Anda terlalu percaya diri sekali rupanya tuan Devan Morgan...bagaimana bila wanita yang ada disebelah anda direbut lelaki lain??" sebuah suara berat datang dari punggung Anyelir, dan genggaman tangan anyelir menjadi begitu erat pada Devan yang hampir saja meringis karena tenaga kekasih nya ini luar biasa untuk ukuran seorang perempuan.
Suara tadi sangat teramat dikenali oleh Anyelir, karena suara itu adalah suara orang yang telah ia lukai dengan brutal saat hampir saja melakukan pelecehan pada Anyelir saat menjalani kasus matrix, ya suara itu adalah suara Murphy Brown.
"well murp...jangan membuat masalah diawal kemunculan mu disini...," sela Bramantyo.
"perkenalkan ini adalah Murphy Brown, partner saya untuk wilayah Eropa" perkataan Bramantyo membuat degup jantung Riri berdetak sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Murphy menghirup wangi tubuh Anyelir yang kebetulan berada di sebelahnya saat itu
"Salam kenal tuan Morgan" murphy sengaja menyalami Devan terlebih dahulu
"ah...nona...siapa namamu" tanya Murphy yang kini sudah berada pada posisi didepan Anyelir dan Devan karena Devan sengaja memundurkan tubuhnya dan Anyelir agar tidak bersebelahan dengan lelaki yang bermulut tidak sopan itu.
"nama yang indah....perkenalkan nona, nama saya Murphy.... Murphy Brown" mengulurkan tangan ke arah anye, dan disambut oleh anyelir, namun saat punggung tangan anyelir ingin ditarik untuk dikecup layaknya para pebisnis berkenalan, Anye segera menarik tangannya kasar.
"Ma...maaf tuan, saya tidak terbiasa berkenalan dengan cara seperti itu" anyelir memohon maaf sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada, sedangkan Devan tersenyum penuh arti mendapati perlakuan Anye pada pria sombong tersebut.
"AH....Its oke Miss...mungkin kau merasa takut dengan topeng yang menutupi sebagian wajahku ini hmm...??" goda Murphy yang ditanggapi dengan kekehan dari beberapa pria yang ada disitu.
"Mr.Tian dan semua, mungkin saya dan Anye undur diri untuk mengambil minum...lain waktu mungkin kita bisa berbincang kembali, permisi" Devan yang merasa sudah muak dengan kondisi yang saat ini terjadi segera pamit undur diri,. Devan juga bisa merasakan genggaman tangan Anyelir begitu erat saat ia berbicara dengan lelaki yang bernama Murphy, Devan bertekad akan mencari tahu tentang lelaki tersebut karena sepertinya feeling Devan mengatakan berkenalan dengan nya adalah hal yang buruk.
Anye dan Devan berjalan menjauh dari kerumunan sambil mengambil soft drink, karena mereka berdua telah berkomitmen untuk tidak meminum minuman keras.
__ADS_1
"Sayang...maafkan aku, kejadian tadi mungkin bikin kamu merasa ga nyaman" Devan mengelus pundak anyelir saat dilihat anye menghembuskan nafas dengan kasar.
's**l...kenapa Murphy bisa ada disini, aku harus infokan George soal ini, baiknya aku ajak Devan pulang karena aku harus bersiap untuk ke negara B besok' Batin anyelir.
"sayang....hei...anye...kamu ga papa!!?" Devan mengguncangkan tubuh anye karena penyataan Devan sebelumnya tidak digubris oleh anye, seperti ia melamunkan sesuatu.
Guncangan pada Devan membuat anye tersentak.
"ah...maaf Dev, aku sepertinya masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, apa boleh kita kembali saja??" tanya anye dengan wajah memelas.
"hmm...baiklah jika kau sudah tidak merasa nyaman, aku pun merasakan hal yang sama, mari kita pulang" jawab Devan dan merekapun melangkah keluar melalui jalan taman agar tidak terlihat oleh banyak orang.
disudut lain dua pasang mata mengamati kepergian Anye dan Devan.
"Jadi....gadis tadi itu anak dari musuhmu??" tanya Murphy pada Bram.
"ya... aku harus mendapatkannya dan membuat Krisna bertekuk lutut dan menyerahkan segalanya padaku, dan itu adalah tugasmu murph" jawab Bram sambil terkekeh.
"kau tenang saja, tapi bolehkan aku mencicipi gadis itu sebelum kau menghabisinya bersama musuhmu" senyum smirk ala Murphy terukir disudut bibirnya.
"b******k kau murph...jangan pernah coba sentuh gadis itu, kau bisa aku berikan banyak wanita bila kau mau, tapi jangan gadis itu, aku menginginkan dirinya sebagai pengganti ibunya" sinis Bram, penuh penekanan.
"Ah...sayang sekali pak tua...padahal ia terlihat begitu polos" goda Murphy pada Bram, ya tentu saja Murphy tidak akan berani menentang Bram, karena ia berutang nyawa pada Bram saat kasus matrix tidak sesuai prediksinya yang hampir saja membuat dirinya terbunuh, namun siapa sangka ada seorang lelaki yang entah dari mana datangnya menemukannya dan menyelamatkan jiwanya hingga ia bisa menikmati banyak fasilitas seperti saat ini hanya dengan menjadi kacung kasat mata seorang Bramantyo.
"carilah princess mu itu dan bersenang-senanglah bersamanya, jangan kau sentuh anak Krisna!!" Bram berlalu dari Murphy
__ADS_1
'semoga saja juniorku bisa tahan Bram' gumam Murphy dalam hati sambil terkekeh