
"Aneh!!!" kata yang keluar dari bibir George setelah anye menceritakan pertemuan dengan Murphy.
"itu juga yang aku pikirkan George, dan hal itu juga yang menyebabkan aku agak sedikit tidak fokus dari tadi malam, mencoba menemukan kepingan puzzle mengenai hubungan mereka berdua" lirih anye pelan
"hmmm...princess aku harap kau tidak menunjukan wajah asli mu di negara ini" tukas George
"ya aku rasa lebih baik seperti itu, aku mengkhawatirkan keselamatan papaku" jawab anye dengan pandangan kosong kedepan
"satu lagi princess, sementara ini biarkan aku membantumu sendiri, aku tidak tau siapa musuh mu, dan aku juga ingin kamu fokus, paham" George menegaskan pada Anye mengenai apa yang harus ia lakukan
"ya aku rasa seperti itu lebih baik" jawab anyelir.
"aku akan membawa beberapa peralatan yang bisa kau gunakan dan bisa kau bawa kemanapun, aku tetap akan mengawasi mu oke, aku akan ke tempatmu segera setelah aku mendapatkan data orang yang membackup Murphy, tunggu aku disana dan kita akan susun strategi, ingat jangan kemanapun dulu saat ini" tegas george sekali lagi.
Mereka pun berpisah setelahnya, Anyelir memutuskan untuk membeli beberapa keperluan di Penthouse nya yang lama sudah tidak ia tempati lagi.
Sebenarnya menggunakan wajah asli itu lebih nyaman dibandingkan menggunakan wajah palsunya saat ini, namun untuk menjaga keselamatan dirinya dan juga keluarganya di masa depan anye terpaksa harus melakukan hal ini.
_________
"Jadi kau yakin bahwa tim mu juga tidak melihat gadis itu keluar dari penthouse selain wanita yang kau ikuti?" tanya Maxwell pada Paul
"saya yakin tuan, sengaja saya menempatkan orang untuk mengawasi nona Anyelir di Penthouse itu dan saya sendiri yang mengikuti wanita tadi, saat ini saya sedang menunggu data dari tim mengenai siapa lelaki dan wanita yang bertemu di sebuah cafetaria tadi" jelas Paul pada Maxwell yang diangguki oleh Maxwell
"Jam berapa Devan kira-kira sampai Paul, bawa dia kesini dulu dan kirim data yang kau tunggu itu padaku, ok, dan kau boleh keluar??!" Maxwell memberikan instruksi pada Paul dan meminta Paul meninggalkan ruangan kerjanya.
'sudah ku duga ada yang aneh, tapi dari kesemuanya aku belum melihat benang merah yang jelas, Krisna sepertinya tidak mengetahui pasti mengenai hal ini' batin Maxwell.
__ADS_1
Disisi lain, Jonas dan Krisna akhirnya menemukan titik terang siapa pelaku penggelapan uang perusahaan dan menyebabkan beberapa anak perusahaan Krisna mengalami kebangkrutan, Krisna tidak pernah menyangka kalau orang yang sudah memisahkan belahan jiwanya dulu belum puas untuk menghancurkannya lagi.
"hmm...apalagi yang kau inginkan Bram" gumam Krisna melihat laporan data hasil pencarian Jonas.
"om kenal sama orang ini?!" tanya Jonas penasaran, karena selama ia membantu Krisna mengelola perusahaan keluarga ini belum pernah bersinggungan dengan Bramantyo.
"panjang Jo ceritanya, om tau benar siapa Bramantyo ini, dan karena dia juga alasan Kuat kenapa om tidak pernah memunculkan Anyelir ke publik, om tidak ingin keselamatan Anye di pertaruhkan" Krisna menunduk menatap dinginnya lantai sedingin hatinya saat ini mengingat kembali bagaimana kisahnya dalam kisah cinta segitiga yang terjadi antara dirinya, Bram dan Ayumi.
"Keselamatan Anye??!" tanya Jonas penasaran
"Ikutlah dengan om ke rumah Jo, om akan tunjukan dsn ceritakan asal mula kenapa om menyembunyikan Anyelir" Krisna berdiri dan mengajak keponakan satu-satunya yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri sejak anak itu kehilangan kedua orang tua nya.
Mereka pun beranjak dari ruang kerja Jonas dan menuju ke rumah Krisna untuk mengetahui lebih lanjut mengenai rahasia yang selama ini disimpan om nya tersebut.
Jonas juga tidak ingin sepupu kesayangannya yang imut dan menggemaskan yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri terancam keselamatannya, dari kecil ia berjanji untuk selalu menjaga adik kecilnya itu pada diri sendiri sampai ada orang yang bisa menggantikannya untuk menjaga Anye.
_____
Anye sengaja menempatkan kulit wajah palsunya di manekin kepala di ruang tengah yang memang sebagai tempat khusus untuk itu, agar ia dengan mudah mengambil wajah palsu itu jika ada orang tidak dikenal datang ke penthouse nya, tak lupa juga anye mengambil beberapa koper barang yang ia miliki dalam menjalani misi seperti Pistol, pisau lipat, pisau belati, Shuriken, alat deteksi, mini camera, penyadap dsb nya.
Sambil memilih barang mana yang akan ia bawa, mungkin ia akan mulai menyelidiki dimana Murphy tinggal di negara asalnya sedangkan lelaki yang menjadi partner Murphy sedang di selidiki oleh George.
Ting...
bunyi bel rumahnya terdengar dari luar, ia dengan yakin tanpa melihat dulu siapa yang datang, karena ia yakin itu adah george.
'ah akhirnya datang juga kau george' batin anye sambil berjalan riang menuju pintu utama.
__ADS_1
ceklek.....
Anyelir berdiri mematung begitu melihat sosok yang berada di depannya, lelaki yang sama sekali tidak ia harapkan ada di sini demi keselamatannya, tubuh anye menegang, ia juga merasakan ritme jantungnya memompa lebih cepat karena terkejut, melihat lelaki ini berada di tempat yang sama saat ini.
Aura yang tidak pernah Anyelir rasakan kini terasa amat mencekam.
"De...Dev??!" lirih anye dengan terbata sungguh ia sama sekali belum siap bertemu dengan kondisi ini.
"Anyelir......atau harus ku panggil Princess?" suara Devan terasa dingin di telinga Anye dan apa itu...kenapa dia harus menyebutkan nama itu.
Devan memajukan langkahnya lebih dalam lagi dan jarak mereka begitu tipis hingga Anye bisa merasakan hembusan nafas Devan tepat di pangkal hidungnya, karena tinggi anye dan Devan hampir setara, meskipun berwajah imut Anye memiliki postur tubuh tegap dan tinggi.
"bolehkah aku masuk...hmm??!" suara berat Devan mengeluarkan hembusan di telinga Anyelir, jika anyelir bergerak sedikit saja, bisa dipastikan bibir Devan akan menyentuh telinganya.
Anye tersentak kala ia mengingat barang-barang yang ia akan persiapkan masih berada di ruang tengah.
'oh...s**t'
"ah....sebentar...ruangan ku berantakan sayang...tu..." belum sempat Anye menyelesaikan kalimatnya, langkah kaki Devan masuk lebih dalam tanpa menghiraukan perkataan Anyelir, dibelakang punggung tegap Devan anyelir mengacak rambutnya frustasi, dan segera menutup dan mengunci pintunya berlari mengejar Devan.
Melihat meja diruang tengah Anyelir penuh dengan perkakas militer yang sudah tidak asing bagi Devan, karena dulu ayahnya Maxwell salah satu anggota mafia di negara ini, dan Devan sudah terbiasa dengan peralatan tersebut, karena mengingat latar belakang nya dulu sebagai seorang mafia, maxwell ingin agar Devan, anaknya kelak bisa menjaga diri dari kemungkinan dosa masa lalunya yang hendak balas dendam karena sekarang Maxwell sudah benar-benar menjalankan bisnis bersih dan tidak ingin bergabung lagi dengan teman-teman nya dulu.
Devan segera duduk di depan semua peralatan yang disiapkan Anyelir dan sedikit memicingkan mata melihat manekin kepala berwajah cantik persis seperti data yang diberikan ayah ya dan Paul tadi bahwa wanita dengan wajah itu bernama Princess Kim nama belakang dari keluarga ibunya Anyelir - Ayumi Kim.
Anyelir berdiri di hadapan Devan ia sudah pasrah pada apapun yang akan terjadi nanti.
Deva baru sampai sore tadi dan dia dibawa oleh Paul langsung menuju ke perusahaan daddy nya Maxwell, semua telah dijelaskan oleh Maxwell, mengenai kecurigaannya pada identitas samaran yang dibuat oleh Anyelir.
__ADS_1
"Jadi....bisakah kau menjelaskan semua ini.....Anyelir Krisna Putri....atau harus ku sebut Princess Kim?" ujar Devan penuh penekanan dengan matanya yang menatap tajam pada Anyelir.