
Setelah menemui Maxwell, Anyelir merasa ia terbawa suasana hati yang tidak begitu bagus, rasa bersalah terhadap lelaki tua itu atas kehilangan anaknya membuat dada anyelir terasa sesak layaknya tertusuk pisau yang menembus tepat di jantungnya
Menutupi matanya yang sedikit bengkak dan merah dengan kaca mata hitam yang selalu berada di sakunya, Anyelir berjalan kembali ke meja tempat awal mereka bertemu.
"Thomas, Leah maaf kan aku, ada hal penting yang harus segera aku urus" menganggukkan kepala ke arah Devan lalu anyelir segera berbalik tanpa menoleh kembali.
"ada apa??!" Thomas menanyakan hal itu pada Leah, yang dijawab Leah hanya dengan mengangkat kedua pundaknya tanda ia tak tahu.
James alias Devan yang menyadari bahwa anyelir sedang tidak baik-baik saja, memutuskan untuk menyusul dan melihat kondisi anyelir, ia pun pamit undur diri.
"well, sepertinya hanya kita berdua sekarang thom..., adakah hal yang ingin kita bahas??" kesempatan berdua saja dengan Thomas yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi nanti, dimanfaatkan Leah untuk berbicara mengenai hubungan mereka dulu.
Thomas sejujur nya belum siap untuk berbicara dengan Leah, namun ia juga ingin memperjelas hubungan mereka.
Devan melihat Anyelir menaiki sebuah taksi dan ia pun melakukan hal yang sama dan mengikuti Anyelir.
"hallo dad..apakah tadi kalian berbicara?!" Devan sengaja melakukan panggilan telepon dengan Maxwell.
"*Dev, anyelir amat terpukul dengan berita meninggalnya kamu, Daddy ingin sekali memberitahu bahwa kamu masih ada, namun Daddy khawatir ia akan salah paham nak, kau harus mengatakannya sendiri"
"aku sedang mengikutinya dad, ia tidak jadi makan bersama kami"
"awasi dia nak.., Daddy benar-benar khawatir"
"aku tutup teleponnya*"
Taksi yang di tumpangi anyelir berhenti di sebuah tempat yang sangat familiar untuk Devan.
"tempat ini..." Devan segera membayar dan turun dari taksi setelah melihat Anyelir sudah berjalan masuk kedalam jalan setapak yang akan menuju danau, dengan air terjun di dekatnya.
Tempat ini adalah tempat yang biasa mereka datangi bila suasana hati mereka sedang tidak baik-baik saja.
Devan merasa sesak, betapa kepergiannya ternyata berdampak begitu dalam untuk kekasihnya, anyelir tidak sekuat yang ia tampilkan, gadis itu tetaplah rapuh di dalam.
Baru saja Devan akan beranjak untuk mendekati Anyelir sebuah selongsong pistol bertengger di ujung kepalanya.
"Angkat tanganmu!!" suara dibelakang meminta Devan dengan nada mengancam.
Devan lupa bahwa saat ini ia sedang di awasi oleh Murphy
sial aku bisa saja membahayakan Anyelir, aku harus segera pergi dari sini.
"apa mau kalian!!"
"berbalik dan jalan!!"
__ADS_1
Devan membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari jalan setapak tersebut.
semoga mereka tidak melihat Anyelir.
plok...plok....plok
"well, sepertinya ada sesuatu yang membawamu ketempat ini" Murphy muncul dari belakang mobil tempat mereka mengepung Devan.
"apa yang membuatmu berpikir begitu, bukan kah kau yang terlalu berlebihan hingga harus mengirim orang mengikuti ku dan sekarang bahkan kau pun disini, apa yang anda khawatir kan tuan Murphy"
Murphy merasa tersinggung dengan kalimat James
"sepertinya kau sedang ingin bermain denganku tuan James"
Murphy memberikan kode kepada anak buahnya.
"maaf tuan, tapi gadis yang di ikuti tadi menghilang, kami tidak bisa menemukan nya" jelas sang pengawal yang ternyata mengejar Anyelir.
"sial !! bodoh kalian!!"
Murphy memutar tubuhnya dan kembali ke dalam mobil diikuti anak buahnya yang turut menyeret James ikut bersama mereka
seperti nya Anyelir sadar akan bahaya, semoga kamu baik-baik saja.
"apa yang harus kita lakukan dengan orang ini" anak buah Murphy bertanya tentang James
"baik tuan"
sepertinya mereka sudah pergi, lelaki itu bukannya orang yang dibawa om Maxwell ke dalam perusahaan Jhonson, apa dia sudah ketahuan, aku harus memberitahu kan hal ini pada om Maxwell..eh tidak-tidak nanti dia akan semakin cemas, aku harus segera masuk ke dalam perusahaan Jhonson
Anyelir keluar dari persembunyiannya dan segera pergi dari tempat itu.
"GILA...untung kau selamat Dev..., apa kita langsung saja habisi dia agar semua selesai" Thomas amat marah ketika pulang menemukan tubuh Devan dengan beberapa luka, untuk saja penyamaran nya tidak terbongkar karena Devan menjaga agar wajahnya tidak terkena pukulan
"hal termudah seperti itu, tapi kita tidak akan pernah tau apakah jaringan Murphy sudah berkembang atau tidak, kita akan basmi sampai dia tidak memiliki sekutu kan thom..ingat itu"
"aku ingat dengan jelas Dev, tapi lihat..ah, bahkan dia memukuli mu dan mengatakan agar kau tidak memberitahuku"
"sudahlah thom.., bukanya kau ada urusan yang lebih penting, ku lihat Leah keluar dari apartemen ini tadi dengan wajah yang tidak biasa, sejak kapan kau membawa wanita kesini thom, bukannya ini berbahaya untuk kita??"
Thomas membanting tubuhnya ke sofa
"entahlah Dev..kenapa banyak hal yang terjadi sejak kepulangan ku ke negara ini, rasanya hidupku lebih tenang saat aku bertemu keluarga besarku"
"apa ada hal yang perlu aku ketahui thom??"
__ADS_1
"aku punya anak Dev!!"
"hah....!!"
"ya...begitulah ekspresi ku tadi saat aku berbicara dengan Leah".
"aku tidak paham thom, apa maksud mu?"
"sepuluh tahun lalu sejak aku ditemukan kembali, aku melakukan itu bersama Leah saat kami mabuk bersama, awalnya kami hanya minum karena aku tahu bahwa aku tidak akan bisa menemui nya lagi setelah aku pergi"
"jadi...Leah....mengandung anak mu?"
"ya...dan ia sudah besar saat ini, Leah memberi tahu padanya bahwa ayahnya sedang pergi jauh untuk mengubah nasib mereka...dan apa yang dikatakan Leah benar ...aku memiliki segalanya sekarang..tapi.."
"bagaimana perasaanmu terhadap nya thom"
"entahlah Dev..., aku pun ragu akan perasaan ku padanya sejak bertemu gadis itu"
Devan menaikan satu alisnya
"gadis?"
"aku menemukan seseorang yang bisa membuat dadaku kembali bergemuruh Dev, dulu perasaan itu hanya terjadi bila aku berhadapan dengan Leah, namun sekarang...aku hanya merasa bersalah jika bertemu dengan Leah"
Devan ikut duduk di sofa yang sama dengan Thomas.
"kau tahu thom..., aku melakukan semua ini untuk menjaga dan melindungi calon istriku, aku bisa saja menunjukan padanya bahwa aku baik-baik saja, tapi itu akan beresiko untuk nya, hubungan kami begitu kompleks dan rumit diantara cinta dan dendam orang yang mengincar dirinya".
"maksudmu?!"
"aku bisa tenang untuk kembali dan menjalankan hidup normal bersamanya bila aku bisa memastikan Murphy dan sekutu-sekutunya telah dihukum mati atas perbuatan mereka"
"kenapa kau tidak memberitahuku siapa gadis itu"
"kau akan tahu bila saatnya tepat, aku tidak ingin kau jatuh hati nanti padanya"
"aku??" menunjuk pada dirinya
"ya...kau..apalagi sekarang aku tahu kalau kau sudah jadi seorang ayah, ayah yang tidak bertanggung jawab"
"hei ...jaga bicaramu, kau kira aku akan lepas tanggung jawab
"jika tidak, maka nikahi gadis itu thom...!" Devan berjalan masuk kedalam kamarnya meninggalkan Thomas yang mulai tersulut emosi.
"ah...sial kau dev...., " memutar tubuhnya dan ikut masuk juga ke dalam kamarnya
__ADS_1
"