Cewek Imut Tapi Jagoan

Cewek Imut Tapi Jagoan
Chapter 15


__ADS_3

Seorang gadis dengan kacamata bertengger di hidungnya dengan elegan melangkah keluar dari bandara Negara B, tanpa memperhatikan kanan dan kirinya karena pikirannya saat ini sedang tidak fokus, ia terus saja memikirkan bagaimana mungkin seorang Murphy bisa kenal dengan Bramantyo.


Anyelir sempat mencari tahu mengenai Bramantyo sepulangnya dari acara pesta tadi malam, karena jiwa Intel nya merasa ada aura yang sangat kuat saat Bramantyo menyentuhnya saat Mereka bersalaman, seperti ada dendam yang amat kuat dalam diri seorang Bramantyo.


"loh...dad...itu bukannya anyelir" tanya Widya pada Maxwell, saat mereka berada di lounge dan posisi duduk mereka menghadap kaca yang bisa transparan melihat keluar namun gelap bila dari luar melihat kedalam.


"bukannya semalam mereka mendatangi pesta kliennya Devan??" Maxwell pun menyuarakan rasa penasarannya


"aku samperin dulu ya" Widya hendak berdiri dari duduknya.


"tunggu...sepertinya Paul belum jauh mungkin masih di parkiran aku akan suruh Paul untuk mengikuti Anyelir, aku coba hubungin Krisna dan Devan"


larangan dari Maxwell mutlak, Widya tidak dapat berbuat apa-apa jika maxwell sudah memutuskan.


dilain sisi, anyelir sedang berjalan menuju pintu kedatangan untuk mencari taksi bandara


drt...drt...drt..


"halo pah" anye menjawab sambungan jarak jauh dari papanya.


"........."


"iya maafkan anye tidak sempat info papa, tahu sendirilah kalau ada job fotografi anye pasti langsung berangkat kan?"


"........"


"Anye belum kasih tahu Devan, nanti kalau anye sudah di tempat istirahat pasti anye hubungi"


"........"


"sebentar saja, bila sudah selesai anye akan kembali, sementara anye akan sulit dihubungi ya pah"


"........"


"ya...papa jaga kesehatan juga ya"


panggilan dari papa Anyelir pun ditutup.


drt...drt...drt


panggilan dari ponsel inteligentnya saat ini yang berbunyi dan muncul nama George

__ADS_1


"ya George..."


"......."


"aku naik taksi saja"


"........."


"nanti malam di cafe biasa ya"


"......"


"ya...aku akan istirahat dulu, bye G"


'ah baru sampai sudah bikin pusing' gerutu anye dalam hati.


Anyelir menaiki taksi yang memang berada dalam antrian penjemputan tamu-tamu yang keluar dari bandara, setelah menyebutkan alamat yang akan ia tuju, anyelir pun menghubungi Devan via chat karena bila harus telepon makan Devan akan segera tahu posisi anye ada dimana saat ini, dan itu anye tidak mau, sedangkan papanya, anye sangat yakin kalau papanya tidak tahu posisi anye karena selama ini memang tidak perlu mencari anye sendiri yang akan datang pada papanya.


Mobil Hitam mengikuti taksi yang ditumpangi Anyelir dan mobil itu adalah milik Paul, orang suruhan dari Maxwell, Paul termasuk orang kepercayaan Maxwell dan ia sangat ahli untuk menyelidiki seseorang.


Tiba di Penthouse miliknya tidak butuh waktu lama anye membersihkan diri, dan melanjutkan istirahat dari jetlag karena perjalanan jauh


Bunyi pesan chat dari ponsel Devan menghentikan acara packing Devan saat ini, ya...Devan telah mendapatkan informasi mengenai anyelir dan ia benar-benar sangat kaget mengetahui anyelir telah berada di lintas negara padahal mereka baru saja berada di mobil yang sama setelah menghadiri pesta Mr. Tian.


//Sayang...maaf, aku ada urusan pemotretan dan tidak sempat menghubungi kamu, aku sedang berada di luar kota, jangan kangenin aku yaa...


Pesan chat anyelir membuat genggaman pada ponsel Devan mengeras ia begitu kesal dengan anyelir yang bahkan tidak bercerita apapun sejak mereka keluar dari pesta itu dan hal ini Justru membuat devan mulai mengaitkan potongan puzzle dari sikap anye saat bertemu dengan Bramantyo dan Murphy tadi malam.


"whoaaaam"


"ah rasanya ini tidur ter nyenyak yang ku miliki" gumam anye.


Terbangun karena alarm yang menunjukkan pukul lima sore setelah anyelir tertidur hampir empat jam lamanya, setelah membersihkan diri, anye pun masuk keruang kerjanya, berbeda dengan apartemen miliknya di negara A, tempat yang dimiliki anyelir saat ini lebih luas berisi tiga ruangan kamar dimana salah satunya adalah ruang kerja Anye lengkap dengan segala atribut inteligen nya yang sengaja memang tidak pernah ia bawa ke negara asalnya, sedangan 2 ruangan lainnya salah satunya adalah kamar tidur anyelir, sengaja ia menyiapkan satu kamar lagi karena terkadang George atau Damian bermalam di kediaman jika sudah terlalu larut untuk pulang ke kediaman masing-masing.


Anye menyiapkan atribut Intelnya termasuk dengan kulit wajah samaran sebagai Princess, selesai dengan wajahnya anye beralih kepada beberapa alat yang biasa ia gunakan dalam misinya.


"perfect" puji anyelir pada diri sendiri sambil tersenyum di depan cermin dihadapannya


Anyelir menaiki kendaraan yang memang ia persiapkan selama berada di negara B, tanpa anyelir ketahui Paul diam-diam telah mengakses hampir sebagian area penthouse ini dengan kecanggihan dari perusahaan Maxwell yang bisa menempatkan alat yang kasat mata sebagai kamera tersembunyi maupun microphone, hingga pergerakan anyelir saat keluar dari kediamannya bisa terdeteksi.


Paul sedikit tercengang tak kala mendapati data yang ia cari megenai pemiliki tempat tinggal yang dimasuki anyelir tadi dan melihat seorang wanita lain keluar dari penthouse tersebut.

__ADS_1


Awalnya saat wanita itu keluar Paul merasa tidak perlu mengikuti wanita itu, namun ada sesuatu yang dibawa oleh wanita tersebut yang sangat ia kenali sebagai milik anyelir.


Sangat tidak mungkin anyelir membiarkan orang lain menggunakan barang pribadi nya khususnya pemberian dari anak tuannya Devan, paul ingat betul mengenai tas tersebut karena ia yang bertugas kala itu untuk hunting tas tersebut, Paul pun segera mengikuti wanita tersebut.


"Hai....sudah lama menunggu George" Anyelir tiba di cafe tempat ia bertemu dengan George yang ternyata sudah tiba lebih dulu


"princess.....Hmm....tidak sampai aku diganggu semut karena terlalu manis saat menunggu mu" kekeh George dan tersenyum pada anyelir.


"hah..... tetap saja kau semut pahit yang tidak enak" jawab anye asal tanpa memperhatikan bahwa kening George berkerut.


"apa kau di ikuti orang hmm??" tanya George pelan sambil mencondongkan badannya.


"tidak, memang kenapa??" Anye hendak memutar badannya melihat sekitar


"STOP!! kita pergi dari sini" kemudian George berdiri dari kursinya dan menarik tangan Anyelir keluar dari cafe tempat mereka janjian.


'sial....sepertinya lelaki itu bukan orang sembarangan, aku bahkan bisa terdeteksi dengan baik olehnya' batin Paul.


Akhirnya Paul memutuskan untuk mengakhiri misinya mengikuti Anye, ia akan mencari tahu siapa lelaki dan wanita tadi dan melaporkan kepada Maxwell.


"memang siapa yang kau lihat" tanya anye penasaran.


"oh ayolah princess baru beberapa bulan kau tidak bertugas tapi kepekaan mu mulai luntur" geram George.


"hei jaga bicaramu...tentu saja aku masih peka...jika aku fokus" lirih anye


"apa ada masalah dengan kekasihmu?" tanya George


"tidak...bukan dia...kau tau George aku bertemu Murphy semalam" Anye menjelaskan dengan amat pelan namun masih bisa di dengar oleh Goerge


CKIIIIIITT......


George amat kaget dan mengerem mendadak mendengar apa yang di katakan Anye..


"WHAT!!!!!" teriak George dan segera menepikan mobilnya yang untung saja berada dijalan yang tidak terlalu ramai dan bisa menyebabkan mereka berdua kecelakaan tadi.


"KAU GILA GEORGE, kita hampir saja celaka!!!" seru anyelir dengan napas tersengal-sengal karena kaget.


mobil telah terparkir sempurna di pinggir jalan dan George dengan tidak sabar menanyakan pertemuan Anyelir dengan Murphy.


"Ceritakan!!" tegas george pada anyelir

__ADS_1


__ADS_2