Cewek Imut Tapi Jagoan

Cewek Imut Tapi Jagoan
Chapte 17


__ADS_3

Anye menarik nafas panjang lalu ia pun berjalan ke arah sofa yang ditempati Devan.


"Maafkan aku" hanya itu yang bisa anyelir katakan pada Devan, saat dirinya telah duduk tepat di samping Devan yang lekat memandang gadis yang ia cintai namun memiliki misteri yang bahkan baru bisa ia ketahui hari ini.


Devan menghela nafas kasar, jujur ia masih begitu kesal, namun tetap saja rasa cintanya pada gadis ini tidak berkurang sedikitpun bahkan semakin menguat seiring dengan fakta yang ia temukan, pastinya kekasih nya ini memiliki maksud dan tujuan yang masih belum bisa ia bagikan bersama Devan, awalnya memang devan terobsesi pada sosok Anyelir dalam wujud Princess yang menolongnya malam itu di klub, namun perlahan obsesinya tumbuh menjadi cinta yang tulus pada gadis dihadapannya ini dalam wujud Anyelir, gadis imut, periang yang terlihat lemah dan membutuhkan Devan sebagai penjaganya.


Namun apa yang didapatinya dari informasi yang ia terima hari ini dari papanya ternyata diluar dugaan, sosok gadis yang ada di hadapannya ini bahkan bisa membunuhnya hanya dalam hitungan detik.


Gadis ini satuan khusus inteligen terbaik dari kesatuannya, memiliki banyak reputasi dari kinerjanya di satuan tersebut.


Devan bertekad mencari tahu apa sebenarnya tujuan anyelir mengapa ia melakukan semua ini dan tanpa diketahui oleh Krisna Ayahnya.


"Apa yang perlu aku maafkan dari mu hmm??" suara berat Devan kini sudah tidak sedingin tadi, ada rasa hangat menjalar di hati Anyelir, ia berharap Devan mau memaklumi dan mungkin saja tidak merubah perasaan yang ada pada mereka berdua karena jujur anyelir sudah jatuh terlalu dalam pada cinta seorang Devan.


Devan menghadapkan tubuh Anyelir agar menghadap pada dirinya, dipandanginya gadis didepannya ini yang masih tertunduk dan belum mau menatapnya seperti hari-hari yang biasa mereka lalui.


"Jawab aku sayang....apa yang perlu aku maafkan dari mu?" Devan meraih ujung dagu anye agar wajahnya dapat terlihat.


Pandangan mata mereka pun terpaut satu sama lain, menjelajah pikiran masing-masing dan entah siapa dan bagaimana dimulainya dua benda kenyal itu pun ikut terpaut, saling mencecap, ******* mengalirkan rasa rindu dah kasih sayang yang tulus antara mereka berdua.


"Hss...Hss...hss.." Anye sudah kehabisan pasokan oksigen ke paru-paru nya dan melepaskan tautan mereka, kening mereka pun bertumpu menjadi satu.


"Jangan pernah ada rahasia lagi antara kita hmm...??" tanya Devan ketika dirasa nafas anye sudah mulai kembali normal.


hanya anggukan kepala yang bertumpu menjadi jawaban anyelir atas pertanyaan Devan.


Devan pun melepaskan tautan kening mereka, mengusap sisa Saliva di sudut bibir anye

__ADS_1


"I love you" bisik Devan dan memeluk Anyelir kedalam dekapannya.


Mendapati perlakuan Devan saat ini membuat dinding pertahanan Anyelir pun runtuh, tanpa terasa bulir bening pun mengalir di sudut kedua mata anye, ia tidak menyangka kalau Devan akan berlaku seperti ini, ia pikir Devan akan marah padanya karena kebohongannya selama ini dan akan pergi meninggalkannya.


Devan merasakan tubuh Anyelir sedikit berguncang dan ada air yang mengenai dada bidangnya yang tertutup kemeja berwarna biru itu.


"hei...jangan menangis...aku ga mau kamu nangis saat bersamaku, ceritakan padaku semuanya....oke!!?" Devan melepaskan pelukan Anyelir dan mengusap air mata yang telah membasahi pipi calon istrinya ini, ya Devan sudah putuskan, ia akan menikahi anyelir, ia takut akan kehilangan anyelir.


"Kamu ga mau kasih lelaki tampan ini minum atau makan, aku jauh-jauh datang belum makan loh, setelah makan baru kita bicara..." Devan berusaha mencairkan suasana kembali


"Ahh..iya..maafkan aku..se..sebentar aku akan panaskan makanan yang aku masak tadi" jawab Anyelir masih kikuk


"boleh aku numpang mandi dulu selagi kamu siapkan makanan" tanya Devan sambil mengambil tas ransel yang ia bawa dari negara A karena memang ia tidak membawa banyak pakaian saking buru-buru untuk mengejar kekasihnya.


"ya...ya..pakailah kamar yang ditengah" Seru anyelir sambil memanaskan makanan yang tadi sudah ia masukan ke dalam lemari pendingin.


"Sayang.." anye yang sedang merapihkan peralatan di meja tengah itu menoleh, dan ia mendapati devan yang masih membawa handuk sedang sibuk mengacak-acak rambutnya agar kering, tetes air pada rambutnya pun masih mengalir mengenai kaos putih yang melekat pada tubuh atletis Devan.


Anyelir mendekati Devan dan dengan lembut menarik tubuh Devan agar duduk di sofa, lalu ia mengambil handuk yang dipegang Devan dan membantu mengeringkan rambutnya.


Anye tidak sadar bahwa posisi anye yang berada di hadapan Devan dan sedikit menunduk saat ini membangunkan sisi primitif seorang Devan, hanya dengan satu saja Devan bisa pastikan wajahnya bisa ia benamkan ke dada anye yang sedikit terlihat karena kaos yang anye pakai menggunakan kerah model V.


Pikiran Devan sudah mulai berfantasi tidak jelas untung saja kewarasannya masih mengambil alih otaknya, ia tidak mau ambil resiko baku hantam dengan calon istrinya ini jika saja devan tiba-tiba berlaku mesum pada Anye.


"aku lapar...ayo kita makan" devan menghentikan tangan anyelir yang masih mengeringkan rambutnya.


"iya...ayo, aku juga sudah buatkan teh hangat untukmu" sahut Anyelir dan mengikuti Devan menuju ruang makan.

__ADS_1


//bagaimana??


//aman tuan, sepertinya tuan muda Devan dapat mengatasi nona


//baguslah, teruslah awasi mereka, aku juga tidak ingin anakku terluka


//baiklah tuan


percakapan singkat antara Paul dan Maxwell, Paul sengaja di kirim untuk mengawasi Devan karena saat Devan mengetahui status Anyelir wajah Devan seketika tidak terbaca, Maxwell yang paham dengan karakter anaknya pun merasa khawatir, karena Devan pernah memiliki sisi kejam dimasa lampau dan itu hampir saja mencelakakan dirinya sendiri karena bertindak berdasarkan emosi dan hampir menyebabkan ia kehilangan nyawanya.


Devan mengambil pistol yang ada di ruang tengah Anyelir, ia mengokang pistol tersebut lalu berjalan ke arah manekin kepala tempat anyelir menempatkan kulit wajah palsunya disana, diusapnya wajah itu dengan ujung pistol tersebut, semuanya tak luput dari penglihatan anye, dan saat ini anye sudah dalam mode siaga, biarpun Devan kekasih dan calon pendamping hidupnya kelak tapi tetap anyelir harus waspada, kita bahkan tidak pernah tau mana kawan dan mana lawan.


"ini kah wajah yang menolongku malam itu..., atau wajah itu.." Devan memberi pertanyaan terakhir dengan menodongkan pistol yang di genggamnya ke arah Anyelir


Sontak anyelir tampak kaget namun segera bisa ia kendalikan dan dengan tenang anyelir berjalan mendekati Devan.


Devan kagum dengan cara anyelir menutupi rasa terkejutnya tadi dengan cepat dan tanpa takut ia malah mendekati dirinya yang jelas-jelas menodongkan benda berbahaya yang bisa saja melenyapkan nyawa gadis yang berada di depannya kini.


Devan sekarang baru menyadari bahwa kekasihnya ini bukanlah gadis sembarangan dan ia bangga sekaligus sedih memiliki Anyelir, belum sempat Devan menurunkan pistol yang ada di tangannya anyelir dengan hitungan detik telah maju dan menempelkan ujung pistol yang sudah di kokang itu di dahinya.


Beruntunglah anyelir karena Devan sudah terbiasa dengan benda tersebut hingga tidak sampai menarik pelatuknya bila tidak entah bagaimana dunia Devan tanpa gadis dihadapannya.


"Berani menembak ku...hmm??" bisik anyelir dan segera Devan menjatuhkan pistol tersebut lalu memeluk kekasihnya.


"tolong sayang...ceritakan semuanya padaku, apa yang membuatmu menjalani hidup seperti ini...apa yang kamu cari...aku ingin tahu segalanya, a..aku ga akan sanggup membayangkan nyawamu terancam dengan barang-barang s****n itu"


Devan mendekap erat anye dalam pelukannya dan seakan tidak rela bila harus kehilangan anye.

__ADS_1


__ADS_2