
Murphy menatap nanar pada foto yang ada di hadapannya, foto seorang gadis dengan rambut di kuncir kuda berada dalam sebuah cafe bersama dengan lelaki yang sangat ia kenali, mereka berdua yang menyebabkan Murphy harus bersembunyi selama ini dan membangun kerjasama dengan beberapa mafia di negara B.
Sejak peristiwa penangkapannya kala itu, Murphy benar-benar mengasingkan diri dari dunia luar hampir 1 tahun lebih dan kini ia telah berhasil mendapatkan kepercayaan seorang pengusaha ternama yang kekayaanya mampu membeli sebuah pulau, namun sayangnya kekayaan itu akan ikut mati bersama dengan kematian pemiliknya.
benar, pengusaha yang dimaksud adalah Bram, selama kurang lebih satu tahun ini, Murphy berada dibawah kuasa Bram,. demi mendapatkan ikan yang lebih besar, Murphy rela untuk menjadi orang kedua untuk menjalankan aksinya.
'aku akan menyiksamu, akan aku pastikan itu' batin Murphy.
__________
"Thanks sudah datang George, setidaknya aku bisa tenang karena ternyata orang yang kita hadapi benar-benar gila" Lucy membuka percakapan dengan George di kedai kopi dekat kantor Bram.
"ya..aku tau, sepertinya memang tidak bisa menangani sendiri, lalu informasi apa yang sudah kau dapatkan selama berada di perusahaan Bram" tanya George kembali
"Murphy...dia menggerogoti hampir setengah dari aset Bram namun sepertinya Bram tidak sadar, sudah beberapa petinggi ada di genggaman Murphy, dan aku telah menaruh penyadap di ruangan Bram, ini hasilnya, kurasa kau harus mendengarkan ini, karena akan sangat berguna untuk menjebloskan keduanya ke penjara" Lucy menyerahkan suara rekaman yang langsung diputar oleh George menggunakan headset, ia tidak mau hal yang seperti di dengar orang lain, karena bisa berbahaya.
//Sudah sejauh mana rencana mu murph...ingat, aku tidak ingin sampai putrinya Krisna menikahi anak dari keluarga Morgan, itu akan membuat sekutu dari Krisna semakin kuat, aku mengenal sepak terjang Morgan sebelum ia pensiun dan memutuskan menjalani hidup bersih beberapa tahun terakhir//
//tenang saja, akan ku buat pengantin wanitanya tidak akan bisa hadir dalam acara pernikahan yang mereka gelar//
//kau yakin murph???!//
//ya...bahkan Krisna pun akan ikut bersama putrinya...hahahahahaha///
//bagus!!!.....aku ingin Krisna mati dan putrinya bisa ku jadikan pengganti Ayumi....hahahaha//
George mematikan percakapan tersebut dan kemudian ia mengeluarkan alat untuk mengcopy data tersebut dan terkirim ke emailnya dan juga ke email Princess/Anyelir
"baiklah, kau hati-hati, kurasa Murphy juga akan melakukan aksinya terhadapmu, aku akan memasang pelacak agar kami mudah mencari mu bila sesuatu terjadi" George mulai mengkhawatirkan Lucy.
"ya...untung saja pak tua itu tidak jadi menukar ku untuk jadi sekretaris Murphy" George mengerutkan keningnya.
"kenapa!!" tanya George penasaran.
"Bram meminta Murphy untuk fokus pada keluarga Krisna dulu, karena ia pikir Murphy menyukai ku, bahkan Bram hampir saja melecehkan ku jika saja aku tidak melakukan sesuatu" jelas Lucy pada George
Mendengar hal ini, George sebenarnya kasian menjadikan gadis dihadapannya ini sebagai tumbal namun ia juga tidak bisa mengorbankan anyelir karena statusnya bukan lagi menjadi bagian dari intelijen dan dia berhak bahagia.
sayangnya mereka menemukan musuh yang salah.
______
drt....drt....drt..
ponsel Devan berbunyi,saat ia sedang melakukan pertemuan dengan kliennya, dan tebak lah siapa klien barunya itu...Murphy
Murphy melirik sekilas pada ponsel Devan yang menampilkan nama Anyelir
"diangkat saja tuan Devan, sepertinya dari kekasihmu" pinta Murphy.
__ADS_1
"hmm ... sebentar tuan Murphy" Devan tidak menjawab panggilan namun mengirimkan pesan pada Anyelir, Bahwa ia sedang bersama. Murphy
Ting....
kali ini pesan masuk melalui ponsel Murphy, raut wajah Murphy tiba-tiba menjadi sangat menyeramkan karena tersungging senyum mematikan disudut bibirnya , seolah ia mendapatkan Jackpot.
'akhirnya kamu milikku Princess' Murphy membatin tetap dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Devan yang sudah mengirimkan pesan pada anyelir agar mereka berbicara di apartemen anyelir sore ini, melirik ke arah Murphy yang sedang tersenyum menatap ponselnya.
'apa yang ia rencanakan sebenarnya' batin Devan.
"ekhmm...maaf tuan Murphy jadi bagaimana??" Devan mencoba menyambung kembali percakapan yang sempat terputus.
"oh...yaa...maaf tuan Devan, sampai mana tadi kita" lanjut Murphy.
mereka akhirnya membahas kerjasama bisnis yang ditawarkan oleh Murphy.
________
Anyelir tiba di apartemennya, ia sengaja membawa beberapa bahan makanan agar ia bisa memasak untuk makan malam mereka berdua, anye sudah ijin pada Krisna kalau ada hal yang harus mereka berdua bicarakan, Krisna sendiri saat ini tidak terlalu khawatir lagi untuk melepas anye setelah mengetahui bahwa anye pernah menjadi Intel profesional, tak lupa juga anye menitipkan keselamatan ayahnya pada Jonas, walau dengan perdebatan alot yang intinya Jonas melarang anye berduaan dengan Devan sebelum mereka resmi menikah beberapa hari lagi, seharusnya mereka dipingit tidak boleh bertemu, namun Krisna akhirnya yang menjadi penengah dan memperbolehkan anye bertemu dengan Devan.
Setelah meletakkan tas selempangnya di meja ruang tamu, anye segera berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam sambil menunggu Devan datang.
Pintu lift yang menuju apartemen anyelir terbuka, lelaki tampan berjalan menuju apartemen anye dan membuka pintu apartemen dengan kartu akses yang sengaja ia minta untuk memudahkan akses keluar masuk kekasihnya ini.
pintu apartemen terbuka dan wangi harum masakan buatan anye mengenai penciuman Devan, seketika Devan pun merasa lapar ia segera bergegas menuju dapur setelah menutup dan mengunci rapat pintu apartemen anye.
punggung mungil dengan lekukan tubuh bak gitar spanyol terpampang dihadapan Devan, membuat Devan mengulas senyum nakal sambil menyandarkan tubuh kekarnya diambang di pojok dinding yang ada di belakang anye.
'bukankah kita sudah sepantasnya menikah princess' batin Devan dengan tatapan nakalnya.
Anye yang memiliki kebiasaan memasak dengan earphone yang terpasang dikedua telinganya tanpa menyadari kehadiran Devan disana yang menatapnya penuh gairah, entah mengapa belakangan ini pikiran mesum selalu hadir saat Devan berdua saja dengan anye.
"ekhmm...." suara berat Devan yang setengah berteriak memecah konsentrasi anyelir
"devan....kau mengagetkan saja, apa sudah lama berdiri disitu?" tanya Zoe yang membalikkan badan ke arah Devan.
Devan memperlihatkan senyum tampannya pada anye
"bahkan sangat lama untuk memandangiku dari belakang..." goda deva yang membuat anye tertawa dan kembali memutar balik tubuhnya melanjutkan memasak.
"ada-ada saja..., bagaimana kalau aku jantungan dan tiba-tiba sa........"
tubuh anye meremang saat sepasang tangan kekar melingkar diperut ratanya, hembusan nafas menyapu hingga membuat tengkuknya bergidik.
Devan menempelkan wajah tampannya pada tengkuk anye dan memberikan kecupan disana.
wajah anye serasa terbakar, aliran darahnya bergerak begitu cepat mengalir ke otaknya, anye menahan diri agar tidak terpengaruh namun rasanya sangat sulit
__ADS_1
"Devan..." sahut anye pelan
"aku merindukan sayang..." bisik Devan yang semakin membuat anye sulit mengontrol dirinya.
"jangan seperti ini Devan" rengek anye
"kenapa..? apa aku tidak boleh memeluk kekasihku sendiri?" bisik devan kembali.
Anyelir menelan saliva nya dan mencoba menarik diri dari Devan, namun sepertinya usahanya sia-sia,. Devan semakin mengeratkan kedua tangannya pada tubuh anye
"sepertinya memang....kau sudah pantas jadi seorang istri sayang..." bisik devan lagi.
jantung anye berdegup kencang membuat Devan mengulas senyum kemenangan.
"Devan....ma ..masakannya sebentar lagi siap...tunggulah dimeja" seru anye terdengar gugup.
Davin tertawa puas saat mendengar suara anye terdengar gugup dan ia segera mematikan kompor yang menyala sambil menarik anye dan membalikkan tubuh gadis itu hingga berhadapan dengan nya, devan menyandarkan tubuh anye pada pinggir meja makan lalu ditatapnya lekat wajah anye sambil tersenyum.
"apa aku bisa mencicipi bibir ini sebelum makan malam?" goda devan
Anye tersenyum malu mendengar permintaan Devan yang keluar dari bibir tipis itu.
Tanpa menunggu persetujuan anye, Devan mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan, kecupan lembut terbenam di bibir anye, membuat anye pasrah menerimanya.
kecupan yang berubah menjadi intim itu membuat keduanya larut dalam gairah yang sulit di kontrol, Devan menuntun kedua tangan anye agar mengalung indah dilehernya.
jemari Devan yang semakin diluar kendali mulai turun meremas b****g sintal milik anye dibawah sana. lenguhan yang sejak tadi tertahan berhasil anye layangkan membuat akses devan menjadi lebih mudah menjelajahi isi mulut anye
"aahh......"
Devan semakin hilang kendali mendengar ******* dari bibir anye, membuat sistem syaraf nya seakan tersetrum.
Devan mengangkat tubuh anye dan mendudukkan nya diatas meja lalu melanjutkan kembali ciumannya.
tidak dapat dipungkiri jika anye juga ikut menikmati aksi kekasihnya ini, ia semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Devan.
"apa aku sudah bisa melakukan nya sekarang?" ucap Devan frustasi
Anye merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana. rasa bersalah membuat ia menghentikan aksi devan.
Anye memeluk Devan erat dan berbisik "kita pasti akan melakukan nya nanti, kita sudah janji kan didepan kedua orang tua kita".
ucapan anye membuat Devan melepaskan pelukannya, kecewa..
ting....tong
suara bel apartemen membuat keduanya menoleh ke arah pintu apartemen.
"Bukalah pintunya sepertinya ada tamu, aku ke kamar mandi dulu" Devan melangkah menuju kamar anye untuk menuntaskan hal yang menyesakkan dibawah sana
__ADS_1