Cewek Imut Tapi Jagoan

Cewek Imut Tapi Jagoan
chapter 30


__ADS_3

Anyelir mengintip dari lubang yang ada di pintu apartemen nya untuk mengetahui siapa yang datang,


dan ia pun tersenyum senang kala mengetahui George yang ada di depan pintu.


klek...


"Princess....gawat..." George tampak terlihat khawatir dan sangat kacau, anye semakin khawatir.


"hei...ada apa!? ayo kita masuk"


anye menuntun George keruang tengah setelah ia menutup pintu apartemennya.


Raut wajah George terlihat khawatir


"Princess....Lucy hilang, aku tidak bisa menemukannya di apartemennya pagi tadi"


"APPAAA!!" sahut anyelir bersamaan dengan Devan yang keluar dari dalam kamar anyelir dengan wajah yang terlihat lebih fresh.


George menatap anyelir dan Devan bergantian, keningnya berkerut menunjukkan ada sesuatu yang sedang bergelut dalam pikirannya,. anye yang menyadari perubahan mimik wajah dari George segera membuka suara.


"hei...ini tidak seperti yang kau pikirkan dikepalamu George" gerutu anyelir, membuat George terkekeh namun kembali memasang wajah serius saat Devan telah duduk disebelah anyelir.


"Lucy kenapa George?" tanya Devan


"Lucy menghilangkan Dev..., padahal kami baru saja bertemu saat ia memberikan aku rekaman suara Bramantyo dan Murphy yang akan melakukan sesuatu terhadap keluarga princess" Devan mengerutkan keningnya, dan melirik ke arah Anyelir.


"ini yang ingin aku bicarakan" sahut anye yang paham benar maksud dari tatapan Devan padanya tadi


"oke aku jelaskan kembali pada kalian berdua ya" jelas George pada Devan dan anye yang dibalas anggukan oleh keduanya


George menceritakan mengenai pertemuan nya dengan Lucy dan apa saja petunjuk yang diberikan Lucy lalu kapan terakhir mereka bertemu dan kapan Lucy menghilang, semua di ceritakan oleh George dengan gamblang.


Anyelir mengepalkan kedua tangannya, ia tahu pasti ini perbuatan Murphy, ternyata Lucy tidak setangguh tampilannya sampai bisa terjebak oleh Murphy.

__ADS_1


Devan yang melihat perubahan sikap anye segera menggenggam erat tangan anye yang terkepal.


"tenanglah....kita hadapi bersama, bisa aku minta rekaman itu?" tanya Devan pada anye dan juga George.


"aku akan kirim padamu!" George segera mengirim rekaman tersebut ke ponsel Devan, lalu Devan segera berdiri dan menelpon seseorang sedangan anye dan George terlibat percakapan serius.


___________


Sementara itu di ruang gelap tanpa jendela dan begitu pengap, seorang gadis terbaring di atas lantai dingin yang membuat bulu kuduknya meremang, lenguhan kesakitan keluar dari bibir gadis tersebut.


"Akhirnya kau bangun juga my little princess!!" suara dingin dan berat terdengar menggema di ruangan gelap dan Sempit itu, gadis yang dipanggil dengan sebutan 'little princess' itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia bisa dengan jelas melihat sosok bayangan yang duduk dihadapannya.


"apa maumu!!" suara tercekat keluar dari bibir mungil gadis yang tak lain adalah Lucy-princess palsu yang telah berhasil di sekap oleh orang-orang Murphy saat ia sedang bersama Devan tadi.


"hmm...kau tanya mau ku baby??!" lagi suara dingin dan sinis yang tak lain adalah suara Murphy terdengar seperti belati yang siap mengoyak-ngoyak jantung Lucy yang saat ini berdegub kencang.


Murphy berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Lucy terbaring setengah tengkurap dengan kedua tangan terikat ke belakang, posisi yang tidak memungkinkan untuk ia melakukan perlawanan apapun.


tubuh menjulang itu berdiri didepan Lucy, seringai kejam jelas tercetak di wajah menyeramkan milik Murphy, ia berjongkok dihadapan Lucy, ditariknya ujung dagu Lucy hingga wajah yang selama ini selalu hadir dalam mimpi buruk Murphy sekarang berada di hadapannya dalam keadaan tidak berdaya.


______


Setelah perdebatan alot antara Devan, anye dan George akhirnya anye mengalah, ia akan mengikuti alur permainan Murphy, padahal dengan bukti yang ada anye ingin segera membenamkan Murphy dan juga Bram ke dalam penjara sampai membusuk, sesak dadanya membayangkan rencana gila yang akan dilakukan Murphy kepada ayahnya.


George berpamitan pada Devan dan anye, setelah mereka makan malam bersama setelah perdebatan panjang mereka.


Setelah pintu apartemen ditutup Devan segera menarik tubuh anye masuk kedalam dekapannya.


"Jangan pernah mengambil tindakan bodoh yang bisa membahayakan nyawamu, ingat itu!!" lirih Devan


anye dapat merasakan degup jantung kekasih nya berdetak begitu cepat, lewat pelukan itu anye bisa merasakan kekhawatiran Devan yang teramat sangat, anye ikut mengeratkan pelukannya pada pinggang Devan mengikis jarak antara keduanya, menyalurkan rasa cinta yang begitu tulus antara mereka, hingga Devan melepaskan pelukannya.


"sebaiknya aku antar kamu pulang....aku takut tak bisa menahan diriku seperti tadi" goda Devan sambil mentowel ujung hidung anyelir, rasa panas terasa di kedua pipi anyelir saat ini karena malu mengingat apa yang telah mereka lakukan tadi sebelum George datang.

__ADS_1


Devan melangkah masuk kedalam ruang tengah di ikuti anye dibelakangnya.


Mobil Devan tiba di pelataran rumah anye, yang sudah terlihat gelap sebagian, mungkin penghuninya telah beristirahat.


"sayang...." Devan menggenggam tangan anye.


"mulai malam ini, tolong jangan pernah lepas kalung ini dari tubuhmu, please" pinta Devan dengan wajah memohon


Anye mengerutkan keningnya tanda bingung Atas pernyataan Devan.


"jangan pasang wajah seperti itu sayang....oke...kalung itu sudah aku isi dengan pelacak hal ini untuk menjaga sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi...aku..aku ga mau kehilangan kamu Nye...." perkataan Devan membuat Anyelir tersentuh dan mengusap wajah tegas yang ada di hadapannya yang terlihat sendu saat ini.


"terima kasih...untuk cintamu yang besar" anye mengucapkan itu sambil tersenyum lebar, merasa beruntung mendapatkan Devan.


Devan meraih tangan mungil milik anye dan mengecup punggung tangan anye dengan sayang.


"istirahatlah, aku bukakan pintu" Devan segera keluar dan memutari mobil untuk membukakan pintu mobil.


kini mereka berdua berhadapan, tangan keduanya tertaut, Devan mengecup kening anye sekilas, semburat merah kembali menerpa wajah Anye yang malu mendapatkan perlakuan manis dari kekasihnya ini.


"ekhm....udah kecup-kecupnya..awas bablas nunggu berapa hari aja ga sabar amat" suara yang tiba-tiba mengagetkan anye dan Devan ternyata adalah Jonas sepupu tengilnya anye.


"Jo....!!" teriak anye pada sepupunya yang seperti jerampung, datang tak diundang pulang tak diantar


"masuk Nye..., om dah nunggu dari tadi sampe ketiduran itu disofa" gerutu Jonas memerintahkan anye layaknya seorang bapak yang memergoki anaknya pacaran.


"hei....tuan Jonas...jangan perintah-perintah seenaknya ya!!" kesal Devan.


Anye yang sudah lelah melihat gelagat yang tidak baik dari dua lelaki dihadapannya ini segera menengahi.


"sudah-sudah..oke aku masuk..., sayang pulang lah, terima kasih" anye mengecup pipi Devan sekilas dan berlari meninggalkan Jonas dan Devan yang masih melongo tidak percaya dengan yang anye lakukan tadi.


"nyee.....tunggu!!" Jonas pun ikut berlari masuk mengejar anyelir setelah ia mendengus sebal pada Devan.

__ADS_1


Devan tersenyum puas, ia pun kembali masuk mobilnya dan melajukan kendaraanya kembali kerumahnya, ia butuh istirahat untuk mempersiapkan diri di hari pernikahan sebentar lagi.


__ADS_2