
George berada di kantor Krisna bersama dengan Jonas dan juga Maxwell, meskipun Devan sudah dianggap tiada, namun Maxwell tidak sedikitpun menganggap hal tersebut terjadi karena ia tahu bahwa anaknya masih hidup, oleh karena itu ia tetap berhubungan baik dengan Krisna.
"Jadi, maksudmu, saat ini anyelir sedang mendekati pewaris keluarga Jhonson agar bisa masuk dalam lingkungan keluarga Jhonson dan bertemu Murphy"
"ya... kira-kira seperti itu"
"tapi kenapa harus dengan cara seperti itu, bagaimana dia bisa berpikir seperti itu disaat kekasihnya belum lama tiada, apakah itu adil untuk Devan!!"
Maxwell meninggikan suaranya, ia sangat menyayangkan kenapa tidak dengan cara lain, anaknya pun sedang melakukan hal yang sama, bagaimana jika Thomas menyukai Anyelir, bukankah hal itu bisa menjadi semakin rumit, pemikiran tersebut terlintas di benak Maxwell begitu saja kala teringat betapa mudahnya anyelir membawa diri dan bisa bergabung dalam level sosial masyarakat manapun.
"kenapa kau berkata seperti itu, apa menurutmu Anyelir semudah itu melupakan Devan??? dan kenapa sepertinya begitu marah, seolah Devan masih hidup max??" Krisna merasa ada yang aneh dengan Maxwell
sadar kalau sikapnya bisa memancing kecurigaan, Maxwell pun segera merubah sikapnya.
"ah..tidak....maksudku kenapa tidak kita amati dulu pergerakan Murphy, kenapa harus membahayakan diri masuk dalam keluarga Jhonson, bukankah saat ini juga Anyelir masih belum baik-baik saja??, bahkan Devan saja terenggut nyawanya ketika hendak menemui orang tersebut"
"Anyelir adalah senjata paling berbahaya dalam inteligen jika saja kau tahu cara kerjanya, dia juga paham bahwa Murphy telah mendapat perlindungan dari keluarga Jhonson, untuk mencapainya tanpa terlihat juga saat ini agak tidak mungkin, karena mata-mata ku yang berada di perusahaan Jhonson, mengatakan bahwa Murphy saat ini menjadi orang kepercayaan Thomas"
"bukankah, Thomas saat ini menempatkan seseorang untuk memantau gerak gerik Murphy, sepertinya Thomas juga sudah sadar bahwa Murphy berbahaya"
Maxwell tanpa sadar memancing kembali kecurigaan orang yang ada di sana.
"om....seperti nya tanpa kami tahu, om juga sedang menyelidiki dan memasukan orang kesana, kenapa kita tidak saling bekerja sama, aku juga ingin agar sepupuku aman, jika saja aku bisa dan diijinkan untuk masuk ke perusahan itu, aku pasti akan membantu anyelir"
Ting...
pesan masuk dalam ponsel George, membuat George tersenyum
"kalian tenang saja, aku yakin tuan muda Jhonson sudah masuk dalam permainan kita, lihatlah..." George menunjukan pesan masuk dari ponsel Anyelir yang berisi gambar Thomas yang duduk di depannya sambil minum kopi di sebuah cafe.
Maxwell yang melihat hal itu segera berdiri, dan berpamitan membuat semua orang yang ada disana merasa heran dengan sikap Maxwell.
"kurasa dia hanya merasa kecewa terhadap anyelir yang begitu cepat bisa berubah, apalagi mendekati laki2 dan duduk bersama sambil minum kopi, padahal belum genap satu bulan Devan tiada" Krisna mencoba menjelaskan kondisi sahabatnya tersebut.
drt...drt ..
ponsel Devan berbunyi
"ya dad..."
"kau dimana nak, ada yang harus aku bicarakan, ini penting"
__ADS_1
"aku ada di kantor Thomas"
"apa Thomas ada bersamamu"
"tidak, dia sengaja meninggalkan ku, agar lebih banyak waktuku bersama Murphy"
"temui Daddy di tempat biasa sekarang son" Maxwell mematikan ponselnya, ia harus memberitahu Devan tentang anyelir, ia tidak ingin ada kesalahpahaman nanti diantara mereka berdua.
"ada apa sebenarnya" Devan bergumam, dan segera bergegas meninggalkan ruangan Thomas, tak lupa ia mengirim pesan pada Thomas bahwa ada hal penting yang harus ia urus
Sedangkan di ruangan lain, Murphy menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit melalu jendela ruangannya yang transparan
"belum selesai urusanku dengan Bramantyo, kenapa harus muncul lagi satu tikus untuk dibereskan"
"besok ada transaksi yang harus aku jalani, semoga saja orang itu tidak mengikuti ku, menyusahkan saja !!"
Murphy berbicara pada dirinya sendiri melihat usahanya saat ini belum membuahkan hasil namun ada hal lain yang datang dan sepertinya bisa mengancam mulusnya rencana yang sudah ia buat.
Sedangkan di kantin Bramantyo sedang terjadi kehebohan, dimana beberapa project yang sedang dilakukan oleh Bramantyo berpindah tangan ke orang lain, dan yang lebih mengejutkan lagi untuk nya adalah menghilangnya Damian dengan membawa setengah dari pengalihan aset dan saham atas namanya.
"BODOH !!!!! aku bayar kalian mahal, tapi masih bisa kecolongan untuk hal seperti ini!!... Ian sialan, dimana anak itu!!" Bramantyo berada di ruangan gan bersama beberapa petinggi perusahaan dan juga pengacaranya yang hanya bisa saling tatap tanpa suara.
"Saya mendapatkan surat kuasa anda tuan, dan juga bukankah kita juga sempat berbicara di telp dan anda menyetujuinya" pengacara tersebut menjelas
"aaaght...bagaimana mungkin aku memberikan apa yang aku punya pada anak pungut itu..!! dan kapan aku berbicara padamu...aght..keluar kalian" menggebrak meja dan duduk kembali ke kursinya,
ternyata kau sangat pintar Ian, aku salah telah membuang mu, sekarang apa yang harus aku lakukan, dimana kamu Ian...,
Bramantyo membatin di dalam hatinya.
Murphy menutup telpnya mendengar laporan dari anak buahnya yang ia tempatkan pada perusahaan Bramantyo.
"ternyata cacat saja tidak membuat otakmu ikut lumpuh ian, kau pintar, aku sedikit terlambat, tapi aku akan membuat sisa dari aset itu menjadi milik ku!!"
Murphy mendatangai kantor tempat James berada.
"mohon maaf tuan, tadi ruang James bergegas pergi, apakah ada yang anda perlukan??" sekretaris Thomas berdiri dihadapan Murphy saat melihat Murphy akan memasuki ruangan Thomas.
"ada berkas yang harus aku ambil didalam, aku akan masuk" belum sempat Murphy membuka pintu ruangan tersebut, ia di hentikan oleh sekretaris Thomas.
"Maaf kan saya tuan Murphy tapi sepertinya tuan tidak bisa memasuki ruangan ini karena tuan James mengunci ruangan ini.
__ADS_1
"apa!!"
'benar tuan, tadi tuan James berpesan bahwa selama dia tidak ada di perusahaan, maka ruangan ini tidak akan ada yang bisa memasukinya
Murphy merasa geram, baru saja ia hendak memasuki ruangan tesebut untuk menjalankan aksinya, namun sepertinya orang yang bernama James ini sangatlah hati-hati
"baiklah, Kabari aku jika dia kembali"
Murphy berbalik dan meninggalkan tempat itu
Sedangkan dilain tempat, Devan setengah berlari menghampiri Sanga ayah yang sudah berada di tempat yang menjadi persembunyian Devan.
Tring..
bunyi pintu apartemen terbuka,
"Dad....", devan menghampiri ayahnya yang berdiri menghadap ke jendela luar.
"son..." Maxwell memeluk anaknya
"ada apa?? ibu baik2 saja??"
"baik..., sebentar lagi aku akan memberi tahukan padanya bahwa kau masih hidup"
"apakah itu tidak beresiko dad??"
"tidak Dev...biar bagaimanapun kau anaknya, jangan membiarkan dia terpuruk dengan kebohongan yang kita buat"
Devan menghela nafas, ia tahu bahwa ayahnya tidak akan membiarkan istrinya menderita demi aksi balas dendam
"baiklah dad, tapi aku harap hanya Daddy dan mommy yang tahu keberadaan ku"
"nak...aku tidak tahu apakah rencana mu untuk masuk kedalam keluarga Jhonson dan berada di dekat Murphy itu adalah ide yang bagus atau tidak, karena sepertinya pemikiran kalian berdua sangat terkoneksi dengan baik, aku hanya tidak ingin terjadi salah paham kelak"
"apa maksudmu dad??" Devan tidak mengerti siapa dan apa yang di maksud oleh Maxwell.
Maxwell berjalan ke sofa dan mendudukinya, diikuti oleh devan
"apa kau tahu nak...saat ini anyelir sedang bersama dengan Thomas"
"apaa!!"
__ADS_1