
Devan kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa baju dan juga peralatan kerjanya, di perjalanan menuju rumahnya ia sempat dihubungi pihak kepolisian mengenai pelaku tindakan percobaan penculikan terhadap anyelir mendadak meninggal dunia, sepertinya orang tersebut terkena serangan jantung.
Devan benar-benar tidak habis pikir, mana ada orang dengan kelainan jantung dipekerjakan untuk menculik seseorang.
Devan menghubungi tim nya yang berada di negara A untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai orang yang bernama Bramantyo, Daddy Maxwell sudah mengatakan bahwa Devan tidak bisa main-main menghadapi lawannya kali ini, karena orang yang berada di belakang Bram bukan orang sembarangan, Devan pun teringat akan Murphy, dan cerita yang diberikan George dan anye mengenai siapa Murphy itu, Devan harus main halus agar ia tidak kecolongan lagi seperti kemarin.
drt...drt ..drt....
panggilan pada ponsel Devan berbunyi, nama daddy nya muncul disana.
"hei bocah....kau sudah apakan saja gadis itu" tiba-tiba saja suara menggelegar Maxwell diujung sana memekakkan telinga Devan.
"dadd!!! ya tuhan....kenapa berteriak padaku??" Devan yang kaget pun jadi kesal pada Daddy nya.
"aku bertanya padamu bukan malah kau balik bertanya, kau sudah apakan gadis itu Dev??" tanya Maxwell sekali lagi.
"gadis siapa.....aku apakan...dadd...
bicaralah yang benar!!"
"Devan Morgan...kau sudah melakukan hubungan sejauh mana dengan Anyelir Krisna Putri!!" suara penekanan dari Maxwell terdengar dari ponsel Devan.
"hah....apa...?" Devan kaget dan bingung mengapa Daddy tiba-tiba menanyakan hal yang sangat privacy seperti itu.
"jawab Daddy.. son..!!?" tegas Maxwell
"aku belum apa-apa kan anye dadd....
meski aku ingin, aku tak mungkin melakukan hal yang diluar batas, aku masih menghargai anye sebelum kami resmi menikah... memangnya berita apa yang Daddy dengar" jelas Devan sedikit kesal.
terdengar Maxwell menghela nafas panjang.
"syukurlah kau ternyata bukan pria b******k yang mencuri kesempatan saat diijinkan tinggal satu atap dengan kekasihmu" ia pun terkekeh mengejek anaknya sendiri.
__ADS_1
"oh ayolah dadd....kau membuat ku jantungan saja, dengan pertanyaan aneh itu" gerutu Devan
"aneh....kau pikir aku menjodohkan mu itu aneh!?" sarkas Maxwell pada anaknya itu.
"bukan itu maksud ku..."
"kalian akan menikah dua Minggu lagi, persiapkan dirimu, Krisna hanya akan mengijinkan anaknya keluar rumah dengan pria yang sudah terikat dengan keluarganya" jelas Maxwell yang membuat Devan menelan saliva nya.
"du...dua Minggu lagi?? WHAT!!"
"ya..dua Minggu lagi persiapkan dirimu, bisa jadi ini hari baik atau mungkin hari terburuk mu kita akan pancing singa keluar dari kandangnya, Daddy akan kerjakan sisanya" Maxwell menjelaskan pada Devan bahwa pernikahan mereka juga merupakan pancingan agar musuh mereka keluar dan semuanya akan selesai.
__________
"Papa....please..., ini terlalu cepat, papa bilang kami hanya akan bertunangan kenapa sekarang menikah" anye merajuk pada papa nya setelah sang papa mengatakan apa yang ia inginkan setelah berbicara dengan Maxwell melalui sambungan telpon tadi
bukan anye tidak ingin segera menikah dengan Devan, namun masih banyak yang harus ia kerjakan terlebih lagi ia belum tenang jika Murphy masih berkeliaran, keselamatan banyak orang sangat dipertaruhkan disini.
"Dengar sayang, setelah papa pikirkan lagi tadi sebaiknya memang kamu menikah secepatnya dengan Devan, musuh papa mengincar mu nak, papa tidak ingin kamu terluka, dan akan lebih baik jika semakin banyak pihak yang melindungi mu semakin bagus untuk keselamatan mu" terlihat semburat penyesalan terpancar di raut wajah Krisna, ia menyesali kebodohannya di masa lalu yang sudah menghancurkan Bram dan keluarganya tanpa memikirkan dampak perbuatannya di masa kini
"anye janji akan turuti semua kemauan papa" ia pun memeluk papanya
Asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi pada keluarga Krisna dan melihat pemandangan tersebut ikut berkaca-kaca menahan tangis, mereka tahu betul bagaimana perjuangan Krisna demi menutupi keberadaan Anyelir untuk menjamin keselamatan putri kesayangannya itu pasca kecelakaan yang menimpa istri nya.
Semilir angin malam menerpa pipi putih seorang anyelir yang saat ini sedang berada di pinggir kolam renang, disaat anye merasakan gundah hati maka, hal yang biasa ia lakukan adalah melakukan olah pernapasan dengan melakukan renang ataupun yoga, setelah percakapan dengan papanya saat malam malam tadi, ia segera melakukan panggilan jarak jauh dengan george, dan George menyarankan agar anyelir tetap menjalankan rencana pernikahan tersebut, George berpikir ini adalah salah satu cara untuk memancing orang yang mengincar anye untuk menunjukan jati diri sebenarnya, awalnya anye merasa keberatan, namun melihat situasi dan kondisi yang ada, memang itu adalah jalan yang terbaik, lagi pula ternyata George telah berhasil memasukan princess palsu di perusahaan Bramantyo dan menjabat sebagai sekretaris Bram, hal ini akan membuat pikiran Murphy terpecah belah, karena George yakin, teror dan ancaman dan yang dilakukan pada anye merupakan ide dari Murphy juga.
Jonas tiba lebih dulu di rumah Krisna, ia tiba dengan satu koper besar yang diseretnya dibelakang tubuhnya.
Tanpa dipersilahkan oleh si empunya rumah, Jonas langsung masuk kedalam, dilihatnya rumah begitu sepi hanya ada beberapa orang asisten rumah tangga yang masih berada di area seputaran dapur.
"Bu..om sama anye dimana" tanya Jonas pada salah satu asisten rumah tangga tersebut.
"eh...den jonas...tuan ada di ruang kerjanya, kalau nona ada di kolam" jelas asisten tersebut.
__ADS_1
'kolam lagi...kolam lagi..pasti ada yang ganggu pikiran dia' Jonas membatin
"baiklah Bu, kalau gitu aku akan ke kolam aja, boleh tolong bawain koperku ke kamar yang biasa, aku mau bikin coklat panas dulu" pinta Jonas pada sang asisten untuk membawa kopernya
"mau saya yang buat coklatnya den...nanti baru saya bawa kopernya ke kamar" asisten itu menawarkan diri.
"eeh...iya boleh Bu, kalo ga keberatan ya...heheh" Jonas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, meskipun sebenarnya Jonas berhak mengatur ini itu di dalam rumah anye karena memang sudah dianggap anak oleh Krisna tapi Jonas tetap saja selalu bertutur kata baik, dan tidak pernah sombong pada asisten rumah tangga yang ada disana,. dan itu yang membuat Jonas disukai oleh orang banyak, selain memiliki wajah yang tampan, tubuh yang atletis, Jonas juga mempunyai karakter yang sopan, kecuali saat ia bersama anye, maka sikap tengil dan urakan yang lebih menonjol.
"baik de, tunggu di ruang tengah saja nanti saya antar kesana".
" oke Bu" jawab Jonas.
Baru saja ia akan membalikkan badannya, ia mendapati devan yang baru saja masuk kedalam rumah besar tersebut juga dengan menggeret koper, namun koper yang dibawa Devan memang tidak sebesar milik Jonas.
"loh...baru Dateng?" tanya Jonas pada Devan yang diangguki oleh Devan.
"anye mana, apa udah tidur?" tanya Devan pada Jonas.
"berenang....,biasa dia kalo ada pikiran gitu, gw lagi nunggu coklat panas buat bawain dia ke kolam" jelas Jonas pada Devan.
"Ooooo.., om Krisna?" Devan bertanya kembali mengabsen pemilik rumah yang tidak kelihatan batang hidungnya.
"ruang kerja, lw mau ketemu om Krisna apa anye sih" gerutu Jonas
"ya anye lah.., tapi kan perlu tau juga bapaknya dimana, ya kali masuk rumah orang main nyelonong aja" Devan menimpali Jonas juga dengan kesal.
"kalian sudah datang" suara berat yang berasal dari ujung tangga membuat Devan dan Jonas menoleh.
"om.." sahut Devan dan Jonas bersamaan.
"bisa om bicara pada kalian sebelum kalian ketemu anyelir, ada hal penting yang ingin om sampaikan" pinta Krisna pada dua laki-laki yang ada di hadapannya.
Jonas dan Devan menyetujui permintaan Krisna dan merekapun mengikuti Krisna menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
kira-kira apa yang ingin Krisna sampaikan yaa.....