
Mobil yang dinaiki oleh Princess dan James membelah jalanan ibukota, kedua insan di dalam mobil tersebut tenggelam dalam pikiran masing-masing.
drt...drt...drt
suara ponsel Princess alias Anyelir bergetar memecahkan kesunyian di dalam mobil tersebut
"Ya George...aku baik-baik saja, ya.. wartawan cepat sekali mengambil berita..., katakan pada papa aku baik-baik saja...aku akan kembali jika sudah selesai.., akan aku update" percakapan princess melalui telpon dapat dimengerti oleh James.
Anyelir baru sadar jika laju kendaraan mengarah pada tempat yang tidak ia kenali.
"kita akan kemana??" tanya Anyelir
Devan menepikan kendaraannya, pikiran nya sedikit kalut mendengar percakapan anyelir dan George, ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu, tidak berapa lama suara jawaban dari pesan yang ia kirim masuk.
Anyelir merasa aneh dengan lelaki yang seperti tangan kanan Thomas ini.
"kau ingin aku antar kemana??" nada suara James alias Devan sedikit berbeda dari biasanya
Anyelir merasa ia harus waspada terhadap hal ini
"ada apa dengan anda tuan James?"
Devan menyalakan kembali mobilnya dan melajukan mobil tersebut, dan benar dugaan nya bahwa ada sebuah mobil lain yang mengikuti mereka.
"Sepertinya kau tidak bisa pulang kerumah mu nona.., kalau kau sadar dan tidak melamun maka pasti akan menyadari bahwa sejak kita meninggalkan gedung tadi ada mobil yang mengikuti kita"
Anyelir melihat dari spion mobil dan benar adanya, sebuah mobil SUV mengikuti mereka dari belakang.
"sebaiknya kita mengecoh mereka agar tidak mengikuti kita lagi"
"tidak perlu, aku punya rencana lain"
tidak berapa lama mobil yang di kendarai Devan dan Anyelir masuk ke sebuah hotel bintang 5 yang belum pernah anyelir masuki sebelumnya.
"untuk apa kita disini"
"akan lebih sulit untuk mereka mencari jika kita berada diarea umum"
Anyelir memang sependapat dengan hal itu, tapi ia juga belum bisa mempercayai laki-laki yang ada di sebelahnya, karena James seperti menyimpan sesuatu
"kita turun dilobi" mobil berhenti dan Devan keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu.
mereka pun turun dan berjalan bersama masuk kedalam hotel tersebut
"tuan...mereka masuk ke dalam hotel"
"bodoh!! itu artinya mereka tau kalian membuntuti mobil mereka"
"kami sudah menjaga jarak aman"
"tidak cukup aman bila sampai mereka bisa tau keberadaan kalian, pasang alat pelacak, jangan bilang kalau kalian tidak bawa??!"
__ADS_1
"baik tuan, akan kami pasang, kebetulan mereka sudah masuk kedalam hotel"
"bagus.. lakukan"
percakapan seorang laki-laki yang mengikuti mobil yang dinaiki oleh Devan dan Anyelir dengan seseorang disana yang tak lain adalah Murphy
sedangkan didalam loby, Devan meminta Anyelir untuk menunggu di dekat lift yang berbeda dari lift yang digunakan oleh tamu sedangkan Devan mengambil kartu akses ke meja resepsionis, anyelir awalnya ragu namun akhirnya ia menunggu juga
Tidak berapa lama James alias Devan menghampiri dan mengajak anyelir untuk naik ke lift tersebut
Masih belum ada percakapan antara mereka berdua, semakin kesini sikap James seperti orang yang ia kenal
pintu lift terbuka dan mereka berada di koridor dengan hanya ada satu pintu di depan mereka.
"Boleh aku bertanya?!"
"masuklah dulu, nanti akan aku jelaskan semua" James alias Devan membuka pintu menggunakan kode sandi dan kartu akses tadi
ternyata pintu tersebut adalah pintu sebuah penthouse
Princess alias Anyelir menghapal kode sandi dan juga memperhatikan dimana James alias Devan menyimpan kartu akses tadi
"duduklah..aku akan ambilkan minum"
Anyelir sedikit aneh dengan sikap James yang berubah-ubah, namun ia tetap menghargai lelaki itu.
James menyerahkan coklat hangat kepada Anyelir
"minumlah...sebentar lagi makanan akan datang"
"tempat ini...milik Thomas?" Anyelir sedikit ragu karena sepertinya tidak mungkin ini milik James
Ting tong
bunyi bell membuat James alias Devan tidak menjawab pertanyaan Anyelir dan segera membukakan pintu tersebut.
Beberapa pelayan masuk membawa makanan dan juga terdapat dua buah paper bag hitam disana.
setelah menata makanan ditempat yang ditunjuk oleh James, mereka pun pamit undur diri.
"kamu bisa ganti bajumu dengan ini, tapi makan lah dulu" Devan menyerahkan salah satu paper bag tersebut kepada Anyelir dan ia pun melangkah dan duduk di meja yang berisikan makan malam mereka
"aku akan hubungi Thomas, aku tidak enak seperti ini, mungkin Thomas dan Leah bisa ikut menginap disini, kurasa Leah juga dalam bahaya"
"tidak perlu, makanlah dulu setelah itu baru kita bahas masalah ini, aku tahu kamu belum makan dengan benar tadi"
Anyelir merasa perkataan itu tidak asing untuknya, kata-kata itu selalu ia dengar dari seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
perlahan Anyelir berjalan mendekati meja dan ia terpaku melihat menu makanan yang ada di meja tersebut sama persis dengan makanan yang mereka pesan saat mereka pergi liburan bersama.
Anyelir memundurkan tubuhnya dan menatap ke arah James
__ADS_1
"siapa kamu?!"
Devan mengambil nafas panjang, jujur ia sudah tidak bisa menahan diri sejak kejadian tadi, apalagi saat ini Murphy benar-benar menargetkan anyelir dengan terang-terangan, ia tidak ingin berada jauh dari Anyelir.
"makanlah dulu"
"tidak!!"
"Anyelir...makanlah dulu, aku akan ceritakan semuanya tapi tidak dengan perut kosong!" Devan menegaskan suaranya.
"kau....., bagaimana kamu tau nama asliku!!"
"aku akan katakan semuanya setelah kamu makan dengan benar, kemari lah"
perlakuan James mengingatkan anyelir pada Devan
dengan terpaksa namun tetap ia harus waspada, Anyelir mendekat dan duduk dihadapan James.
"makanlah..setelah itu kita bicara"
Melihat raut wajah James yang tidak bisa dibantah akhirnya anyelir menuruti perkataan James namun sebelumnya ia bertanya
"bagaimana aku tahu jika makanan ini aman"
"maka aku akan mati lebih dulu setelah memakannya" James mengambil makanan yang ada diatas meja dan memakannya, dan tidak terjadi apapun.
Mereka akhirnya makan dalam dia, James tersenyum dan bersyukur dalam hati karena Anyelir bisa makan dengan benar
Devan memberikan minuman kepada Anyelir ketika piring makan anyelir hampir kosong.
Anyelir menghentikan makannya
"aku sudah selesai, sekarang sebaiknya kau katakan, siapa kau sebenarnya"
Devan memasukan tangannya kebagian dalam baju yang ia kenakan, anyelir berjaga-jaga khawatir lelaki itu akan mengambil senjata yang ia sembunyikan di dalam pakaiannya.
"Bagaimana dengan suara ini, apa kau mengenalinya?"
Devan menatap Anyelir dengan tatapan sendunya, anyelir terkesiap mendengar perubahan suara yang ia dengar
"ti...tidak mungkin..."
James alias Devan berdiri dan ia membuka blazer dan kemejanya dihadapan anyelir, Anyelir memalingkan wajahnya. Devan membuka kulit silicon yang membungkus wajah aslinya tersebut
"sayang...lihat aku.."
Anyelir tanpa menitikkan air mata pada sudut matanya dan perlahan ia memalingkan wajahnya ke arah suara orang yang sangat ia rindukan
Devan membentangkan kedua tangannya.
anyelir setengah berlari menghambur dalam dekapan Devan, ia pun menangis dengan kencang
__ADS_1
"jaa...hat....kau jahat Dev..." sambil memukul kecil punggung telanjang Devan
Devan melepaskan pelukan anyelir dan merengkuh wajah gadis itu yang telah basah dengan air mata, ia kecup lembut kedua mata gadis yang masih menangis tersedu, hingga ia mengecup lembut tutur gadis itu hingga keduanya saling ber pagutan melepaskan rindu yang tertahan.