
Hembusan angin menerpa wajah tirus gadis yang sedang berdiri di balkon sebuah rumah kayu di tepi pantai.
sorot matanya kosong seolah ia sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang sedang menari-nari di dalam kepalanya nan mungil.
Sepasang tangan melingkari tubuh mungil tersebut dari belakang sang gadis.
"apa kamu suka berada di sini?"
Anyelir memalingkan wajahnya dan pandangan mereka pun bertemu.
"apa yang sedang kamu dan George rencanakan Dev?"
menghela nafas berat, Devan tahu bahwa anyelir pasti akan mengetahui bahwa ini hanya pengalihan agar ia tidak perlu tahu rencana George dan dirinya.
"aku sedang berusaha menyelamatkan calon istriku, aku ingin kita segera menikah, memiliki anak dan hidup sewajarnya seperti saat ini...aku ingin kita membangun keluarga kita disini.."
Anyelir memutar tubuhnya menghadap Devan, diusapnya pipi laki-laki yang sangat ia cintai.
"aku akan jaga diriku baik-baik, tapi tolong jangan suruh aku untuk tidak ikut campur dalam masalah ini, yang memiliki masalah itu keluargaku Dev, bukan kamu.."
"kamu bagian dari diriku Nye...kalau kamu kenapa-kenapa maka aku juga tidak akan baik-baik saja"
memutar kembali tubuhnya menghadap lautan.
"namanya Damian, aku biasa memanggilnya Ian, kami besar bersama di kesatuan, segala sepak terjang kami sudah kami pahami satu sama lain"
"aku tahu..justru itu pentingnya kamu tidak terlibat di dalamnya, karena setiap gerakan mu sudah pasti akan terbaca oleh nya"
"aku mungkin tidak akan percaya jika dia tidak mengatakan sendiri bahwa ayahnya jauh lebih penting dari pada perasaanya, sebesar itukah hutang yang ia tanggung untuk membela laki-laki brengsek seperti Bramantyo"
"balas Budi jauh lebih penting untuk seorang laki-laki dibandingkan perasaannya sendiri" digenggam nya jemari Anyelir untuk memberikan kekuatan.
"lalu, bagaimana denganmu dev??"
"maksud kamu??"
"bagaimana jika kamu harus kehilangan aku untuk membalas Budi seseorang atas tindakannya di masa lalu?" Devan memutar tubuh anyelir.
dikecupnya bibir mungil itu, membuat anyelir terkejut.
"jangan pernah keluarkan kata-kata itu lagi...aku ga suka, lebih baik aku mati dari pada harus kehilangan kamu demi mementingkan ego orang lain" jawab Devan dan mendekap tubuh Anyelir.
Sementara itu George mendatangi perusahaan Bramantyo.
__ADS_1
"Sepertinya sekarang urusan interpol berubah menjadi urusan pribadi untukmu George"
Damian menatap ke arah pusat kota melalui jendela ruangannya.
"sepertinya kau menikmati posisimu saat ini Ian"
"aku tidak pernah menjalani kehidupan ini untuk diriku George, berhenti berpikir seolah kau mengerti posisiku"
"lalu apa yang kau lakukan saat ini??"
"menjalankan tugasku sebagai seorang anak yang telah dibesarkan dengan baik oleh laki-laki yang menjadi target kalian"
"kau tau Ian, laki-laki itu bersekongkol dengan Murphy, dan kau pun tau kita telah kehilangan salah satu agen kita karena masalah ini, apa aku harus tinggal diam?"
"pekerjaanmu sudah cukup baik George, kau bisa lanjutkan, namun aku harap jangan pernah mengusik keluarga Bramantyo, khususnya Ayah angkat ku!!"
"Ayah angkat yang kau bela hampir saja merenggut partner dan juga gadis yang kau cintai Ian!!".
Damian mengepalkan tangannya.
"Gadis itu tidak memilihku George, kau harus ingat itu, prinsip ku, ketika kau lepaskan maka jangan pernah kembali"
"jadi ini keputusanmu meskipun ayah angkat mu menginginkan kehancuran keluarga bahkan gadis itu sendiri??"
"aku rasa tak ada yang bisa ku ubah Ian, kalian pasti akan bertemu suatu saat, pastikan kau tidak akan menyesal berada di pihak yang salah"
George bergegas meninggalkan ruangan Damian, ia harus bisa menemukan cara untuk mendapatkan Bramantyo tanpa harus berurusan dengan Damian.
maafkan aku George, aku tidak akan mungkin menyakiti Anyelir, namun bila hal itu terpaksa aku lakukan maka aku sendiri yang akan mengakhiri hidupku bersamanya.
Drt...drt...drt..
"aku sudah menemuinya, sebaiknya kau yakinkan Anyelir, bahwa apapun yang terjadi, keselamatannya dan juga ayahnya adalah yang utama bagi kita, tidak peduli lawan yang harus kita hadapi adalah Damian"
Devan menatap pesan yang masuk kedalam ponselnya.
"sayang...,kita akan makan diluar atau kamu sudah pesan makanan"
Anyelir mendekat, sambil membawa coklat panas yang ia buat untuk Devan.
"sepertinya berjalan sepanjang pantai sampai kita menemukan tempat yang bagus untuk makan bukan ide yang buruk"
Anyelir duduk disebelah Devan sambil menatap laut lepas
__ADS_1
"boleh juga, aku juga belum terlalu lapar"
"sayang..ada hal yang ingin aku sampaikan" Devan menggenggam jemari Anyelir.
"apa??"
"menikahlah denganku secara hukum terlebih dahulu, agar aku bisa selalu ada di sampingmu"
Anyelir menatap laki-laki yang selalu ada di pikirannya sejak pertama kali mereka bertemu saat dijodohkan oleh kedua orang tua mereka.
"apakah dengan menikahi ku akan membuatmu jauh lebih tenang?"
"ya..aku akan jauh lebih tenang bila selalu melihat dan menghabiskan setiap malam seperti ini bersamamu"
Anyelir tersenyum menatap Devan, jelas sekali terlihat kekhawatiran mendalam di mata teduh lelaki itu.
"baiklah, kita akan menikah setelah kau melakukan balapan itu, anggap saja ini hadiah yang akan aku berikan kalau kau memenangkan pertandingan itu dan kembali padaku dengan selamat"
"sungguh....!!!" Devan tidak percaya dengan apa yang ia dengar, karena ia pernah mengajukan ini namun anyelir selalu mengatakan bila ia tidak akan bisa menikah jika belum menyelesaikan urusannya dengan Murphy.
Anyelir membalas genggaman tangan Devan untuk meyakinkan bahwa apa yang dia katakan adalah benar.
Mereka akhirnya memutuskan melanjutkan untuk menghabiskan malam dengan berjalan disepanjang pantai dan menemukan tempat makan yang berada di dekat pantai tersebut.
Di kediaman Maxwell.
"Sepertinya masalah ini semakin panjang Kris, anak angkat Bramantyo ternyata adalah partner kerja Anyelir"
"aku tau Max, itulah sebabnya aku kesini untuk mendiskusikan hal ini dengan mu"
"kau tenang saja, aku sudah memasukan orang ku, sebelum Damian datang ke negara ini, orang-orang kepercayaan ku sudah berhasil mengambil 60 persen saham perusahaan Bramantyo, namun ternyata, Bram memiliki usaha ilegal yang luput dari pengamatan kita"
"kau benar max, aku juga baru mengetahui hal itu beberapa waktu ini"
"Devan ahli mengenai persenjataan, aku akan memintanya untuk menangani masalah ini"
Krisna percaya bahwa ia telah menitipkan anaknya pada orang yang tepat, pada akhirnya, ia akan merasa tenang untuk menjalani sisa hidupnya.
Jika Anyelir mampu menutupi pekerjaan nya dulu, maka Krisna lebih dari mampu untuk menutupi mengenai kondisi kesehatannya.
Dokter telah melakukan pemeriksaan total dan diagnosa mengenai penyakit tersebut tidak dapat dihindari.
Krisna memiliki keinginan agar ia dapat melihat anaknya menikah sebelum tuhan merenggut nyawanya nanti.
__ADS_1