Cewek Imut Tapi Jagoan

Cewek Imut Tapi Jagoan
Chapter 38


__ADS_3

Kecupan lembut dan hangat dirasakan oleh Anyelir, kehangatan menyelinap dalam relung hatinya mendapatkan lelaki yang saat ini berdiri dihadapannya begitu dalam mencintainya.


Anyelir sendiri tidak pernah menyangka akan menemukan sosok yang bisa membuat hatinya terbuka lagi setelah dirinya nyaris kehilangan satu-satunya harta yang paling berharga dari seorang wanita, hingga ia bertemu Devan, ia yakin bahwa Tuhan sengaja menyelamatkan dirinya kala itu untuk lelaki yang saat ini bersamanya.


"aku mencintaimu Dev..." kata-kata yang selama ini nyaris ia ragukan akhirnya terlontar begitu saja melihat laki-laki dihadapannya terlihat sangat mengkhawatirkan keselamatannya.


'oh tuhan...kali ini aku mohon jangan biarkan aku kehilangannya'


"aku juga mencintaimu, Anyelir. Aku mencintaimu hingga nafas ini berakhir" Devan semakin mengeratkan pelukannya, mengikis jarak antara mereka.


Tidak ada alasan lain lagi untuk anyelir meragukan perasaan laki-laki yang kini memiliki posisi tertinggi dihatinya.


laki-laki yang ia cintai juga mencintainya begitu dalam.


Setelah melepaskan belenggu di hati mereka dengan berpelukan hingga beberapa menit berlalu, pasangan itu kini duduk di bangku taman yang ada di dekat mereka.


Anyelir membenarkan posisi dirinya, duduk di dalam dekapan Devan.


"Anyelir??"


"hmm..?" merebahkan kepalanya pada dada bidang Devan.


"Aku akan ikut dalam lomba balap mobil itu dan bergabung dalam bisnis keluarga Jhonson" Devan mengeratkan pelukannya pada bahu Anyelir.


Tubuh anyelir menegang, tampak dengan jelas perubahan pada raut wajah nya mendengar pernyataan Devan, dan itu cukup menjadi jawaban protes saat Devan mengutarakan maksudnya.

__ADS_1


alih-alih merespon pernyataan Devan, anyelir malah mengajukan pertanyaan pada Devan.


"kenapa harus dengan melakukan balap mobil?" tanya anyelir masih dalam posisi yang sama


"Kenapa memangnya dengan balap mobil?" tanya Devan kembali


"kau bertanya kenapa??!!", sahut anyelir yang tidak suka dengan pertanyaan balik dari Devan. Ia sampai harus melepaskan dekapan nyaman dari laki-laki yang dicintainya itu hanya untuk bisa menangkap kesungguhan dari ucapan Devan tadi.


Devan menautkan kedua alisnya melihat gadis yang sangat ia cintai saat ini sedang menahan emosi mendengar jawaban Devan tadi.


"aku hanya ingin masuk kedalam bisnis mereka dan bisa menemukan Murphy, orang yang selama ini kita cari". membelai wajah ke kasihnya yang saat ini sudah mulai berkaca-kaca.


"aku....aku khawatir Dev, aku tak ingin sesuatu terjadi padamu" Anye menatap sendu pada sang kekasih.


"aku bisa menjaga diriku, selama kamu berjanji tetap ada di sisiku,.princess", Devan mengusap lembut pipi Anyelir, sedikit lagi, ya tinggal menunggu sebentar lagi sebelum ia bisa memiliki gadis yang ada dihadapannya ini.


"Dad..." suara berat namun lembut itu menyapu pendengaran Bramantyo.


"Son...., kau kembali!!" Bramantyo memeluk hangat pria tampan dan gagah yang ada di hadapannya.


Anak angkatnya telah kembali, Bramantyo berharap banyak pada sosok yang ada di hadapannya ini, agar bisa membalaskan dendam pada keluarga Krisna.


"Duduklah!" laki-laki tersebut mengikuti langkah pria paruh baya yang sudah menjadi orang yang berjasa untuknya sejak ia ditemukan hampir merenggang nyawa dulu.


"Bagaimana kabarmu dad?" tanya pria tersebut dengan sopan.

__ADS_1


"Aku...tidak baik!" mendengus kesal, tatapan matanya tertuju pada sosok lelaki yang dulu ia temukan tidak berdaya, dan karena ia ingin memiliki seseorang untuk membantunya dimasa depan maka pemuda ini akhirnya ia tolong demi untuk menjadi pelindung nya kelak, dan saat ini ia berencana menggunakan lelaki ini untuk menjadi tameng dan juga menjadi alat balas dendamnya terhadap Krisna.


Di tempat yang berbeda, Murphy pun saat ini sedang melebarkan senyumnya karena ternyata ia menemukan partner yang lebih kuat dari pada Bramantyo, kali ini ia juga menargetkan Bramantyo sebagai salah satu lawannya.


Rencana baru telah di susun dan ia sangat yakin bahwa apa yang akan ia lakukan akan berjalan mulus.


Sedangkan pria dingin yang ada dihadapannya menaikan tipis sudut bibirnya, tanpa bisa terlihat oleh Murphy, pria itu merasa bahwa saat ini Tuhan tengah berpihak padanya, setelah pencarian panjang, akhirnya tuhan mempertemukan orang yang telah hampir 10 tahun ia cari, hingga ia rela menyembunyikan jati dirinya pada dunia, sejak takdir kembali mempertemukannya dengan keluarga besarnya yang sesungguhnya dalam keadaan koma, ditinggal begitu saja bagai seonggok sampah, setelah mendapatkan perlakuan tidak normal dari pria bermata satu yang kini ada di hadapannya, dan kini ia kembali untuk membalaskan dendamnya, saat menemukan Murphy yang sudah tidak berdaya, ingin rasanya segera menghabisi lelaki itu namun ia urungkan, karena ia ingin menikmati terlebih dahulu apa yang sebenarnya Murphy inginkan dari orang-orang yang ia targetkan sebagai musuhnya, apakah cara yang sama akan Murphy lakukan pada orang-orang itu seperti yang dulu pernah ia alami, ataukah ada kemajuan dalam sepak terjang Murphy yang sekarang.


Delapan tahun merupakan waktu yang cukup untuk membentuk tuan muda Jhonson saat ini untuk menjadi pria yang tidak punya hati pasca koma yang disebabkan oleh manusia serakah seperti Murphy.


'kau bisa tertawa sepuas mu saat ini pria busuk, kita akan tunggu apa yang sebenarnya kau rencanakan!!' Jhonson muda meminum wine yang ada di tangannya sambil membayangkan pembalasan seperti apa yang akan dia berikan untuk seorang Murphy.


Damian termenung memandangi sebuah foto yang diberikan ayah angkatnya saat pembicaraan tentang aksi balas dendam yang ingin dilakukan olah sang ayah.


"kenapa harus kamu princess, apa yang sudah ayahmu lakukan terhadap ayah angkat ku?? kenapa takdir harus sekejam ini padaku, bahkan saat aku memutuskan untuk kembali, agar bisa bersamamu, jurang diantara kita semakin luas, apa tidak ada kah kesempatan bagi kita untuk bersama..?"


Bukan hal ini yang di inginkan Damian saat memutuskan berhenti dari kesatuan, ia berencana untuk menyaingi Devan sebagai pengusaha menggantikan Bramantyo, agar ia bisa merebut hati Anyelir, namun kenyataan yang harus ia hadapi sangat jauh dari apa yang ia harapkan.


tok..tok...tok..


"tuan muda, makan malam sudah siap" suara di depan pintu kamar Damian memutus lamunan dan bayangannya tentang Anyelir.


Pintu kamar itu pun terbuka, munculah Damian dalam kondisi yang tidak bisa dibilang baik-baik saja, matanya sangat merah, pakaiannya tidak beraturan, dan auranya pun membuat pelayan yang ada dihadapannya mundur kebelakang mendapati tuan mudanya yang terlihat sangat menyeramkan.


"katakan pada ayah, aku butuh istirahat malam ini, tidak perlu untuk menyiapkan makan malam, dan jangan ada yang datang ke kamar ini sebelum aku sendiri yang keluar dari kamarku... mengerti!!" suara dingin dan tegas Damian mengalun di telinga sang pelayan, yang sudah mulai meringis dan menahan takut.

__ADS_1


"Ba...baik tuan muda...permisi" terbata dan teramat takut pelayan itu segera melarikan diri turun ke bawah saat bersamaan suara pintu dibelakang nya tertutup kencang.


'ternyata tuan muda lebih menakutkan dari pada tuan besar' pelayan tersebut membatin.


__ADS_2