
"APA!!!" Widya berteriak dan berdiri di depan dua anak manusia yang saat ini memutuskan untuk menunda pernikahan mereka sampai menemukan Murphy.
lucu..ya benar-benar tidak masuk akal, bagaimana bisa mereka memutuskan hal ini begitu saja, Widya juga tidak ingin anak dan calon menantunya ini kenapa-kenapa.
Maxwell meraih tangan Widya berusaha menenangkan istrinya itu, sedangkan Krisna mengusap wajahnya kasar, dan Jonas yang ikut serta dalam rapat keluarga yang membicarakan mengenai rencana pernikahan sepupunya itu hanya bisa ternganga mendengar pernyataan pasangan yang menurutnya bodoh...
"mom..ini sudah jadi keputusan kami, tolong hargailah.." tutur Devan dengan lembut, berharap sang ibu bisa memaklumi kegundahan hati dari calon istrinya itu.
"tidak Devan, mommy ga mau ya kalau kalian berniat memburu si mata satu itu...haaah..biarkan saja pihak berwajib yang menanganinya, atau kita bayar orang untuk mencarinya dan menyerahkan pada pihak berwajib, jangan kalian menjadi gila karena ini!!" hardik Widya.
"mommy!!" Maxwell menegur istrinya yang sudah berkata kasar pada anaknya bahkan juga pada calon menantunya.
"oh ayolah dad..jangan bilang Daddy setuju dengan ide gila ini, dan kamu juga Krisna, kalau saja Ayumi masih ada pasti dia akan melarang hal gila ini" lirih Widya yang akhirnya terduduk lemas didampingi suaminya.
Maxwell meraih tangan istrinya dan mengusap lembut punggung tangan istrinya itu untuk memberikan ketenangan.
Hening sejenak hingga akhirnya anyelir bersuara yang membuat semua orang yang ada disana tidak dapat berkata apa-apa.
"Anye tahu kalau permintaan kami ini mungkin diluar nalar kalian, kalaupun tante dan om tidak mengijinkan Devan untuk ikut dalam hal konyol ini, maka anye akan melepaskan Devan agar bisa mencari pendamping lain yang mungkin lebih baik dari anyelir...."
"ANYE..!! Baby..." Devan tidak meneruskan kata-katanya saat anye mengangkat sebelah tangannya agar Devan berhenti bicara.
"semua ini berawal dari kesalahan anye saat menjalankan tugas yang menyebabkan adanya dendam dari lawan anye, hanya Murphy...ya hanya Murphy dari sekian banyak target yang berhasil hidup dan kabur dari kejaran agency kami"
semua orang terkesiap mendengar hal itu...
"jadi anye harus menuntaskan apa yang seharusnya diselesaikan dimasa lalu, anye hanya tidak ingin bila pernikahan dilakukan justru malah mengancam nyawa orang-orang disekitar anye bahkan mungkin calon nyawa yang akan hadir dari hasil pernikahan kami.."
__ADS_1
mengeratkan tautan tangannya Devan berusaha menguatkan kekasihnya ini untuk melanjutkan apa yang ada di dalam hatinya.
"anye ingin hidup normal setelah melepaskan status pekerjaan anye dulu, namun yang terjadi tidak sesuai apa yang anye harapkan, anye tidak sanggup harus kehilangan papa, om, tante, Jonas bahkan Devan bila kami menikah, itu artinya kalian akan menjadi keluarga anye yang sewaktu-waktu bisa dijadikan target oleh Murphy bila masih dibiarkan berkeliaran di luar sana..." menarik nafas dalam anyelir mengutarakan kembali isi hatinya saat itu, dan semua itu tidak lepas dari pandangan Maxwell yang sepak terjangnya dalam dunia hitam sudah tidak perlu diragukan lagi, ia sangat tahu bahwa tekat menantunya ini cukup kuat, beruntung Devan bila memiliki istri seperti anyelir maka bibit-bibit penerus keluarga nya akan sangat luar biasa, seulas senyum tersungging dibibir lelaki tua itu.
"jadi, bila om dan Tante keberatan dengan semua ini, maka anye akan melepaskan Devan!."
mengeratkan genggaman tangannya pada anyelir, Devan mencoba menyuarakan protes nya lewat genggaman tangan mereka.
"saya setuju!" tegas Maxwell
"daad....??!" protes Widya
"apa yang dikatakan Anyelir benar, kita harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai" tersenyum teduh pada anyelir, hal itu membuat beban dipundak anyelir seolah terangkat karena ada calon mertuanya yang bahkan mendukung keputusan yang ia buat saat ini.
"om akan membantu kalian" dan bila Maxwell sudah memutuskan maka Widya tidak akan dapat berbuat apa-apa selain menyetujuinya.
"bagaimana Kris? kamu setuju?!" tanya Maxwell pada Krisna yang sedari tadi belum bersuara.
"pasti om!" tegas Devan.
"gw ikut!!" Jonas yang juga ingin menjaga adik sepupu kesayangannya itu pun angkat bicara.
"tidak!"
"no!"
Krisna dan anyelir menjawab bersamaan, membuat Jonas terkejut.
__ADS_1
"WHAT!!" teriak Jonas
Anyelir melepas genggaman tangannya dari Devan dan berjalan menuju sepupu kesayangannya itu.
"Jo...gw butuh Lo untuk jaga papa, please..." meraih kedua tangan Jonas dan menggenggam Kuat, berharap sepupunya mau mengerti.
"dan saya butuh kamu untuk menghancurkan bisnis Bramantyo" kata-kata Krisna adalah sebuah perintah untuk Jonas.
menghela nafas akhirnya "baiklah, Devan gw minta Lo jaga baik-baik adik kesayangannya gw, jangan bikin dia kenapa-kenapa karna nanti ga ada lagi yang gw ajak ribut!" menghadapkan kepalanya pada Devan dengan mata berkaca-kaca,
dan membuat semua orang tersenyum geli dengan tingkah Jonas yang terlihat lucu dimata mereka.
suasana tegang pun mencair, akhirnya mereka melanjutkan obrolan dengan berita-berita yang sempat heboh beredar di internet mengenai pasangan pebisnis yang gagal menikah, dan telah hilang dari laman internet manapun karena sudah dibereskan oleh Maxwell.
"Aku yakin kedepannya ini ga akan mudah Dev....apa kamu yakin bisa menunggu?"
saat ini mereka tengah berada di tepi danau di ujung kota, pertanyaan anyelir sedikit menggelitik hati Devan, sanggupkah ia bertahan, sampai berapa lama mereka bisa menemukan Murphy yang bahkan jejaknya saja tidak terdeteksi.
"apa...kamu ga yakin?" tanya Devan sambil menyelipkan anak rambut pada telinga anyelir yang menutupi sebagian wajahnya.
"entahlah Dev..., hanya saja, aku merasa akan banyak hal tak terduga yang akan terjadi, semoga kita sanggup bertahan" anyelir menggosok kedua telapak tangannya yang mulai terasa dingin karena hari juga semakin mendekati malam.
Devan meraih kedua lengan anyelir dan membawa tubuh mungil tersebut berhadapan dengannya "apapun yang terjadi nanti, cobaan apapun yang mungkin membuat kita salah paham atau bertengkar, yakinkan diri kita masing-masing bahwa kita ditakdirkan untuk bersama,...oke??!"
menarik nafas dalam anyelir menatap mata cerah Devan untuk mencari keraguan di dalam sana, namun hanya ketulusan dan kejujuran yang dapat ia temukan, "baiklah, tarik aku kembali kala aku menjauh, dan jangan menjauh dariku kalau kamu sudah lelah, temui aku dan kita putuskan bersama' tegas Anyelir.
Devan menganggukkan kepala dan menautkan kening mereka berdua, entah siapa yang memulai kini kedua benda kenyal menyatu, tidak ada nafsu saat bibir mereka menyatu, masing-masing menyalurkan perasaan ketulusan, dan juga kejujuran atas perasaan masing-masing, pagutan yang tidak memakan waktu lama itupun terhenti kala ponsel milik anyelir berbunyi.
__ADS_1
"Yes George?.." mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari George.
"aku menemukan petunjuk, tapi sepertinya seseorang telah melindungi dan membantunya, akan sangat sulit karena ternyata orang tersebut bukan orang sembarangan...kau harus segera kemari!" jawab George dengan cepat dan anyelir segera mematikan ponselnya lalu menarik Devan untuk segera meninggalkan tempat tersebut.