
Jonas merasa ia orang paling bodoh yang ternyata bisa kecolongan dengan semua informasi mengenai diri anye, ia pikir dirinya yang paling tau semua hal mengenai sepupu kecilnya ini, nyatanya, anye menyimpan begitu banyak misteri dari kehidupan yang ia jalani selama ini.
Krisna dan Devan bergidik ngeri mendengar semua cerita anye mengenai perseteruannya dengan Murphy, sungguh mereka tidak menyangka gadis imut yang mereka sayangi ini ternyata gadis imut tapi jagoan yang memiliki segudang rahasia yang luar biasa.
"whoaaaa......hei gadis tengil... ternyata...bikin gw speechless (ga bisa ngomong)" memandang sepupunya ini dengan pandangan takjub dan memuja.
"ekhmm....itu mata bisa dikondisikan ga" sela Devan yang tidak suka melihat tatapan Jonas pada anye.
"cih... mata-mata gw napa juga lw yang ribet" celetuk Jonas sarkas.
"sudah-sudah, jangan bertengkar, nanti om bawa anye pergi aja" kali ini Krisna yang angkat bicara melihat dua pemuda yang berebut anaknya itu.
"JANGAN.!!" keduanya menjawab bersamaan membuat Krisna dan Anye tertawa bersamaan.
Akhirnya mereka larut dalam pembicaraan serius terkait rencana pernikahan Anye dan Devan untuk memancing para penjahat itu untuk keluar dan segera menyelesaikan permasalahan balas dendam di antara mereka.
Anye yang sengaja bangun pagi mendapati ayahnya telah duduk berdua bersama Devan di ruang makan ditemani dua cangkir kopi diantara mereka.
"Papa...Dev..., ini masih jam 6 kok tumben sudah disini" tanya anye bingung karena ini masih jam enam pagi dan mereka berdua malah sudah berkumpul di ruang makan, gagal rencana anye untuk membuat sarapan untuk mereka semua hari ini.
"oh...putri kesayangan papa sudah bangun...., iya papa sama Devan habis Olah raga...ternyata kami berdua sama-sama tidak bisa tidur semalaman" Krisna tersenyum sembari menarik kursi di sebelahnya untuk di tempati anyelir.
Devan memperhatikan gadis yang ia cintai dengan lekat, melihat anye dengan penampakan rambut setengah acak yang di Cepol keatas menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus, dengan kaus kebesaran yang memperlihatkan setengah bahunya yang terbuka, dan ujung kaos yang menjuntai satu jengkal diatas lutut itu membuat gelenyar aneh di diri Devan, hasratnya tiba-tiba dengan kurang ajar muncul dan menyesakkan.
Krisna sebagai sesama lelaki memahami perubahan sikap Devan sebelum dan saat anye berada di hadapannya, hanya terkekeh, anak tunggal keluarga Morgan ini ternyata bisa luluh juga terhadap putrinya, karena berita mengenai Devan yang tidak menyukai perempuan itu sudah menyebar dikalangan pebisnis, ternyata memang tipe yang diinginkan Devan adalah putrinya.
"ekhmm...Dev... sepertinya keputusan saya dan Daddy kamu untuk cepat-cepat menikahkan kalian itu sudah benar..." melirik ke arah Devan yang langsung salah tingkah karena tertangkap basah sedang memikirkan yang iya...iya pada anak gadisnya.
__ADS_1
"ehh...ah...om bisa aja..."Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil melirik anye yang cuek dan tidak peka sama sekali dengan sindiran papanya.
"om...Devan boleh pinjem anye sebentar aja?" tanya Devan kemudian, mengingat ada hal yang ingin ia sampaikan.
"Hmm..." Krisna menganggukkan kepalanya sambil mengambil cangkir kopi yang ada didepannya.
anyelir mendongakkan kepalanya saat devan mengatakan hal itu sambil berdiri dari tempat duduknya.
"ayo Nye,..." Devan mengulurkan tangannya.
"ya..., papa anye tinggal sebentar ya"
Setelah mereka sampai di taman belakang dekat kolam, Devan yang sudah menahan hasratnya segera memeluk tubuh anye dari belakang sambil mencium bahu anye yang putih mulus dan halus..di hirup nya bau khas tubuh anye yang membuatnya kecanduan.
Tubuh anye menegang, ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seintim ini, tubuhnya meremang.
"akan ada Devan junior nanti didalam sini" sambil mengeratkan pelukannya.
"Dev.." suara anye tercekat saking gugup dan malu setengah mati, gimana kalau tiba-tiba papanya melihat mereka seperti ini.
"Hmm.." sambil mencium lembut pundak terbuka anye.
Sentuhan Devan pada bahunya, membuat aliran darah dalam tubuh anye melesat naik ke otak membuat tubuh anye terasa panas terbakar...ah ini tidak benar...
"ja..jangan seperti ini Dev...papa bisa liat kita" anye mulai merasakan ada yang aneh pada tubuh bagian bawah Devan.
"jangan pernah pakai baju seperti ini lagi saat ada banyak lelaki dirumah..hmm, aku bisa tergoda" bisik Devan.
__ADS_1
anye menelan saliva nya, ia baru sadar kalau penampilan khas bangun tidurnya ini membuat Devan jadi berpikiran mesum.
"oke....!!!" anye segera melepaskan diri dari pelukan Devan, ia pun memegang dadanya yang berdetak sangat kencang.
"aku akan mandi..." anyelir berlari meninggalkan Devan yang tersenyum sambil mengikuti dibelakangnya, ia pun harus segera mengeluarkan sesuatu yang menyesakkan dibawah sana.
Krisna memperhatikan dari kejauhan, ia tersenyum melihat kekonyolan kedua manusia itu, ia jadi teringat akan kisahnya yang hampir mirip saat bersama Ayumi istrinya.
"Anak kita sudah bisa merasakan cinta..ay..semoga kamu bahagia, beruntung ia mendapatkan anak dari sahabat dekatmu...semoga kau bahagia disana, tunggu aku ay.." Krisna memejamkan matanya dan butiran bening keluar di sudut mata renta itu, kerinduan akan istrinya hanya bisa terobati saat ia bisa bermanja-manja dengan anyelir.
_______
"Selamat Pagi Tuan" sapa seorang wanita cantik di samping Murphy saat ia berada di depan lift khusus petinggi perusahaan, Murphy pun menolehkan wajahnya ke arah suara tersebut, dan betapa ia terkejut, tubuhnya menegang, tangannya mengepal melihat wanita yang selama ini ia cari ternyata berdiri di sampingnya tanpa ada rasa khawatir dan juga bersalah atas apa yang telah ia perbuat pada Murphy.
"Kalian masih disini" suara lantang Bramantyo menggagalkan rencana Murphy untuk menarik wanita tersebut pergi dari tempat ini.
"Murphy, ini princess, sekretaris pengganti Debby" jelas Bram pada Murphy.
Princess palsu yang sebenarnya bernama Lucy itu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Murphy.
"Salam Kenal tuan, saya princess" Lucy mulai memainkan perannya, dapat ia lihat ekspresi amarah yang ada dalam diri Murphy, ia harus berhati-hati mulai sekarang karena Murphy sepertinya memang sangat membenci princess.
Murphy membalas uluran tangan Lucy dan menggenggam erat seraya memajukan tubuhnya hingga wajah mereka berdua cukup dekat.
"kurasa kau tau betul siapa aku..princess!!" bisik Murphy dingin, untung saja posisi kali ini wajah princess diperankan oleh lucy yang notabene sudah memiliki jam terbang lebih lama dari pada anyelir, hingga ia bisa mengontrol emosionalnya dengan baik, agar Murphy dan juga Bramantyo tidak curiga padanya.
Bram yang melihat hal ini menyimpulkan bahwa Murphy menyukai princess, bersamaan dengan terbukanya pintu lift Anton mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Diluar jam kerja dia milikmu murph jangan ganggu dia di kantor." Bram melangkahkan kakinya masuk kedalam lift diikuti oleh lucy dan Murphy yang tersenyum menyeringai mendengar ucapan Bram yang merupakan Jackpot untuk dirinya.