
Duduk berdua dengan lelaki yang baru saja ia kenal kembali, meskipun mereka pernah berteman dulu terasa canggung untuk Anye terlebih lelaki didepannya ini memiliki aura yang membuat degup jantung Anye terasa tidak beraturan.
Selepas makan malam tadi Devan sengaja mengajak Anyelir untuk ke taman belakang, dengan alasan ingin lebih mengenal lagi.
hal ini tentu disambut baik oleh kedua orang tua Devan maupun Krisna.
sedang anye sendiri merasa kesal dengan permintaan Devan yang tidak mungkin ia tolak kan??
Devan sengaja ingin berbicara berdua dengan gadis ini, ia tidak sabar ingin segera menyelesaikan makan malam tadi dengan cepat agar bisa berbicara berdua saja dengan gadis ini dan menghirup kembali wangi vanila yang berasal dari tubuh anye, karena tanpa sengaja saat anyelir berjalan beriringan dengan Devan menuju ruang makan, Devan mendapati wangi vanila yang sama persis dengan yang ada di apartemen gadis yang menolong nya, tapi melihat bagaimana tampilan dari gadis disampingnya kini yang begitu feminim dan terlihat lemah, rasanya tidak mungkin kalau gadis ini yang menolongnya.
"ehmm....apa kita akan berdiam diri seperti ini terus? suara Barito milik Devan terdengar seperti ancaman untuk anye.
"lw mau ngomong apa?" sahut anye tegas.
devan terkesiap sesaat ia cukup kaget dengan bahasa yang di gunakan anyelir karena menurut Devan dengan tampilan yang gadis ini tunjukan maka tutur bahasanya pun pasti akan sangat jaim, namun ternyata ....cukup unik!!
"eeh...ga kok...cuma kalo boleh saya mau kenal kamu lebih dekat" jawab Devan masih dengan nada yang formal.
"ga usah formal gt, santai aja, kita bukan dalam lingkungan kantor" sahut Anye yang tetap fokus memandang ke depan ke arah taman.
"mommy bilang dulu saat kita masih kecil sempat dekat karena sering bermain bersama, apa kam...eh lw masih ingat?" tanya Devan dengan sangat kaku menggunakan bahasa lw-gw dan membuat Anye tidak bisa menahan tawanya.
"hmfft..... hahahaha...lw ga pernah pake bahasa kayak gini ya tiap hari??" sambil masih menahan tawa dan memperhatikan raut wajah Devan yang terlihat aneh saat Anye tertawa lepas tadi dan ia terlihat begitu cantik, ditambah adanya lesung pipi membuat gadis ini sangat menggemaskan.
"eeh ...so sory bukan maksud gw menghina..."
__ADS_1
anye menyesal sudah tertawa begitu lepas dan khawatir lelaki ini akan merasa tersinggung..
"gpp...gw kayaknya harus belajar banyak ya" Terkekeh dan sambil mengacak asal rambut pucuk kepala Anye.
deg '
Hati anye berdenyut menerima perlakuan yang tidak pernah ia rasakan dari lelaki manapun termasuk Damian partnernya saat mereka menjalani misi pun tidak pernah anye menemukan adegan seperti ini, ada perasaan asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hatinya.
Devan yang merasa jika ia sudah lancang segera meminta maaf pada anye, entah mengapa ia tiba-tiba bisa berbuat seperti itu, rasanya begitu nyaman, terlebih berdekatan dengan Anyelir dan menghirup wangi vanila dari tubuh gadis ini membuat devan merasa betah dan tak ingin jauh dari gadis itu.
akhirnya mereka berdua tertawa bersama dan obrolan mereka pun terlihat lebih natural setelahnya.
sedangkan di balik jendela yang menghadap ketempat anye dan devan berada ketiga orang tua tersebut tersenyum sumringah, rasanya perjodohan ini akan sangat mudah kedepannya.
______
Tak jarang pula Anyelir menghabiskan weekend dengan berada di tempat Devan maupun sebaliknya, Devan sendiri saat ini sudah tidak terlalu canggung bila berdua dengan Anye, malah ia sudah melupakan gadis yang dulu sempat menolongnya karena posisi gadis tersebut sudah benar-benar digantikan oleh anyelir.
masalah perjodohan pun tidak pernah disinggung lagi oleh kedua orang tua mereka karena sepertinya hubungan anye dan devan juga berjalan lancar, mereka hanya akan menunggu waktu yang pas untuk berbicara agar kedua anak mereka ini bisa segera meresmikan tanggal pertunangan mereka.
"Dad...., Dev...Kris.."Widya berlari kearah anak dan suaminya dengan membawa sebuah bingkai foto berisikan dirinya yang berada di pinggiran laut dengan rambut terurai terkena hembusan angin dan diambil secara candid, dan itu sangat indah,
Widya sampai menitik kan air mata haru saat anyelir mengatakan akan memberikan sesuatu sebelum Widya kembali ke negara B sebagai kenang-kenangan dan ternyata itu adalah foto dirinya dalam posisi terbaik yang belum pernah ia miliki.
Maxwell, Devan dan juga Krisna yang sedang membahas mengenai pekerjaan pun sontak dibuat kaget deengan teriakan Widya, terlebih Devan yang sampai loncat dan berlari menuju arah mommy nya berada karena khawatir.
__ADS_1
"Dev, lihat....ini bagus sekali kan?? mommy cantik kan?? ", Widya menunjukan bingkai foto yang diberikan oleh Anyelir.
Devan memperhatikan foto tersebut keningnya berkerut dan sepertinya ia pernah melihat posisi foto tersebut karena rasanya pose yang ada di foto tersebut mengingatkan Devan pada seseorang.
'deg.....gadis itu!!! '
Widya meninggalkan Devan dan berjalan menuju suaminya karena melihat ekspresi Devan yang biasa saja malah terlihat bingung, padahal menurut Widya angel foto yang diambil oleh anye ini begitu natural dan indah.
Devan memperhatikan Anyelir yang menuruni tangga dengan tatapan Anye masih mengarah pada Widya sambil menggelengkan kepala, entah mengapa Devan merasa sedari awal ada yang mengganjal dihatinya mengenai sosok Anyelir, seperti ada hal yang disembunyikan gadis ini dan Devan harus memastikannya saat ini juga.
'aku harus tau siapa dia sebenarnya' Devan membatin.
"hei....lw kesambet Van??", Anyelir menepuk lengan Devan dan melambaikan tangan di depan wajah devan, saat sudah berada dihadapan lelaki yang baru ia ketahui akan di jodohkan olehnya.
Devan menangkap tangan Anyelir cukup kuat
"siapa kamu sebenarnya Anyelir!!? " tanya Devan penuh penekanan, dan sorot mata tajam mengarah pada kedua mata Anyelir.
Anyelir meringis saat tangan Devan mencekal tangannya, jika saja ia tidak sedang berada dirumah papanya dan juga tidak ada orang tua Devan, sudah dipastikan anyelir akan membalas lebih dari apa yang Devan lakukan saat ini.
"le..lepas Devan..sakit" jawab Anye.
"kita harus bicara Nye.." sahut Devan sambil menarik tangan anyelir secara paksa menuju ruangan tempat dimana orang tua mereka berada.
"om Krisna, aku ijin ajak Anye keluar ya...boleh kan om? " tanya Devan pada Krisna yang langsung di iyakan oleh Krisna.
__ADS_1
Mobil Devan membelah jalanan kota sore itu, Anye hanya bisa pasrah dia hanya diam sambil memalingkan wajahnya ke arah luar, entah kemana Devan akan membawanya dia tidak peduli.
mobil Devan berhenti tepat di gedung yang sangat familier untuk anye, benar ini adalah gedung apartemennya.