Cewek Imut Tapi Jagoan

Cewek Imut Tapi Jagoan
Chapter 48


__ADS_3

Devan yang saat ini berada di sudut koridor rumah sakit mengepalkan tangannya kala melihat Damian menggenggam tangan Anyelir.


"Apa yang kalian bicarakan, kenapa kamu harus bertemu dengan orang itu, apa yang kamu rencanakan" Devan sangat penasaran dengan percakapan Damian dan Anyelir, namun ia juga tidak kuasa untuk melakukan apapun, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Murphy dan menjadi bagian dari anggota orang kepercayaan Thomas untuk menemani Murphy dalam kesehariannya.


Hal ini agar mudah bagi Devan untuk mengikuti sepak terjang Murphy terlebih jika ia mengancam keselamatan kekasihnya


"tunggu aku nye..tunggu aku sebentar lagi, kau tidak perlu lakukan apapun" Devan berbalik dan melangkah tanpa menoleh lagi kebelakang, ia melakukan ini agar Anyelir tidak akan melarangnya, karena jika itu membahayakan maka sudah pasti anyelir tidak akan menyetujui idenya ini untuk berada di sekitar Murphy.


"aku antar kembali ke kamar" anyelir hendak mengambil alih kursi roda untuk di dorong namun Damian mencegahnya.


"kembali lah..., aku masih ingin disini"


"baiklah...aku tinggal, jaga dirimu Ian, semoga kita bertemu kembali"


Anyelir melangkah menjauh meninggalkan Damian.


"entah kapan kita bisa bertemu kembali princess, aku akan menghilang dari kehidupan mu, semoga kau berhasil membalaskan dendam mu" Damian berkata dalam diam.


Damian berencana akan meninggalkan negara ini untuk menata kembali hidupnya, dan membuat kakinya bisa berjalan kembali.


"om..om.., gawat, anyelir tidak ada di kamarnya!!!"Jonas berlari menuruni tangga


"apa!!! jangan bercanda Jo!!"


Krisna dan George yang saat ini sedang berada di ruang keluarga terperanjat dan berlari ke arah Jonas.


"Cek Cctv om...ayoo"


"tunggu!!" George menahannya.


"seperti nya kita terlambat" George kembali bersuara


"apa maksudnya George!" Jonas terlihat begitu emosional, sedangkan Krisna kembali duduk dan tertunduk..menyadari akan maksud dari George tadi.


"Tuan Krisna, biarkan saya yang mencari Anyelir, sepertinya saya tahu kemana harus mencarinya"


"aku ikut!!"


"tenanglah jo" Krisna menahan Jonas


"tapi om..aku khawatir, kondisi Anyelir saat ini...." belum selesai Jonas mengutarakan pemikirannya Krisna mencela kembali.


"om rasa, saat ini yang paling mengerti apa yang akan dilakukan anyelir hanya George, Ingat Jo..mereka pernah bekerja bersama" tatapan memohon Krisna membuat Jonas akhirnya kembali duduk


"baiklah, aku percayakan adik ku padamu George, bawa ia kembali, kami sangat berharap dia kembali dengan selamat"


George kemudian berpamitan pada Krisna dan juga Jonas, ia segera menuju ke sebuah tempat yang ia yakini ada anyelir disana.


Anyelir mengeluarkan semua alat-alat yang biasa ia gunakan ketika ia bertugas dulu

__ADS_1


Apartemen ini merupakan tempat yang hanya ia, George dan Devan yang tau.


aku akan ikut permainan mu Murphy, tunggu tanggal kematian mu.


Anyelir menancapkan pisau diatas meja, bertepatan dengan bunyi bel tanda ada orang yang datang.


"siapa yang datang?" menghampiri pintu dan melihat George melambaikan tangan dengan tersenyum


pintu apartemen terbuka, George segera masuk kedalam.


"aku bawakan makanan favoritmu princess" George meletakkan bungkusan di meja dan terdiam saat melihat banyak sekali senjata tajam di meja tersebut dan ada satu pisau yang menancap di meja jati yang cukup mahal itu


"aku sedang tidak selera untuk makan, tapi terima kasih George"


menghela nafas dan duduk di hadapan Anyelir


"Ayahmu menitipkan mu padaku, ia paham kalau putrinya sedang dalam mode balas dendam"


"aku sedang tidak ingin bercanda George"


"hei siapa yang bercanda..aku serius, ayolah Nye..apa yang kamu rencanakan, jangan gegabah dan bertindak sendiri"


"diam lah George, aku akan memburu si mata satu itu, dan jangan halangi aku"


"dia ada bersama keluarga Jhonson bagaimana kau bisa masuk kesana, aku dengar sekarang ini dia selalu menggunakan pengawal, kemanapun dia pergi"


"dia bukan bodoh, tapi pintar menjaga dirinya"


Anyelir tersenyum sinis mendengar jawaban George.


"maka aku akan menjadi orang bodoh yang akan masuk kedalam lingkungan mereka dan segera menghabisinya"


"bisakah kau beritahu apa rencana mu"


"tidak ada!!" sambil mengangkat kedua bahu


"ya Tuhan.. Anyelir sadarlah, jika kau memang akan mengincar Murphy maka ceritakan apa rencana mu aku akan membantu"


"tidak perlu George, aku hanya tinggal menusuknya berkali-kali saat ia muncul dari tempatnya bersembunyi, dan selesai"


George menggelengkan kepalanya, karena anak didiknya yang satu ini keras kepalanya bukan main jika dalam keadaan amat marah


"lalu kau akan masuk berita dan menjadi pembunuh, begitu maksudmu??"


"tenang saja George, walupun aku tahu otak dari kecelakaan itu adalah dia, aku tidak akan membunuhnya di depan umum"


"maka ceritakan apa rencana mu, kita susun bersama, akan lebih mudah menghabisinya karena ia juga masih target dari interpol"


Menyandarkan kepalanya ke sofa Anyelir menatap langit-langit apartemen tersebut dan teringat kembali kenangan nya bersama Devan ditempat ini.

__ADS_1


"kau tau George apa yang kami rencanakan setelah kembali dari liburan kemarin??"


George mendengarkan perkataan Anyelir.


"aku tidak tahu"


"kami berencana untuk menikah setelah semua urusan dengan Murphy selesai, tapi ternyata kami kalah langkah, harusnya aku juga ikut dalam balapan itu, jadi dia akan menargetkan diriku saja, tidak dengan Ian dan Devan"


bulir bening nampak di ujung kedua mata Anyelir.


George bisa membayangkan betapa sakitnya gadis ini setelah kebahagiaan sementara yang di rasakannya harus terhempas karena dendam masa lalu, ia mendekatkan diri dan duduk di samping Anyelir


"bersabar lah, aku yakin Tuhan punya rencana yang indah dan terbaik untukmu"


"aku menemui Ian tadi pagi"


"lalu"


"aku benar-benar merasa bersalah terhadapnya George"


"aku yakin Ian tidak akan menyalahkan mu"


"kau benar, ia tidak menyalahkan ku, tapi..hiks...hiks..."menutupi wajahnya dan terisak mengingat ekspresi ian, senior yang selalu melindunginya dan membelanya, harus duduk tidak berdaya karena dirinya.


George menepuk-nepuk pundak anyelir memberikan dukungan agar Anyelir dapat tabah melewati semua ini.


"aku yakin Ian juga tidak akan tinggal diam, aku percaya ia pasti akan berjuang untuk kesembuhannya"


"bantu aku George, bantu aku melenyapkan dia"


"kau tenang saja, keberadaan kita disini memang untuk mengejar orang itu, kau tidak perlu mengotori tanganmu bila tidak terpaksa" George memberikan semangat kepada Anyelir, dalam hati ia pribadi juga ingin segera menangkap Murphy yang sudah banyak menelan korban jiwa.


"aku akan masuk ke dalam lingkungan Jhonson, kau bisa bantu aku untuk bertemu secara tidak sengaja dengan lelaki itu?"


"akan aku usahakan, informasi yang kudapat dia sering pergi ke sebuah galeri seni di pusat kota, kudengar dia penyumbang tetap di galeri tersebut"


"artinya aku harus memainkan peran sebagai pengamat seni yang jeli, atau mungkin sebagai seniman"


"kau benar, harusnya bukan hal sulit, namun belakangan ini, dia selalu dikawal oleh seseorang, sepertinya orang baru"


" baiklah, ayo kita bekerja"


"tunggu, makanlah dulu baru kita lanjutkan" George menarik tangan anyelir agar tidak beranjak dari duduknya dan segera membuka bungkusan makanan yang dia bawa


" kau seperti papa ku saja"


"benar, dirumah kau punya papa krisna, diluar kau punya papa George" anyelir mau tidak mau tersenyum melihat kekonyolan atasannya itu.


George ikut tersenyum melihat anyelir bisa di ajak bercanda kembali, setelah ini ia harus menghubungi Krisna dan memberitahunya bahwa Anyelir baik-baik saja

__ADS_1


__ADS_2