CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Angin Ribut


__ADS_3

Prajurit wanita itu menyerang teman-teman Ellena. Seketika kota kian ricuh. Warga berlindung di berbagai tempat, menjauh dari sumber kegaduhan. Kekacauan pun terjadi.


Semuanya saling berperang. Yuya The Insect Charmer mampu menggunakan segala senjata yang dimiliki serangganya yang ia pegang. Saat ini ia memegang Navi, maka Yuya bisa menyemprot sarang putih yang lengket. Dengan cekatan gadis kecil itu mengarahkan sarang putih ke para prajurit wanita yang menyerangnya.


Sementara di sisi lain, Hanae dan Mae mengarahkan anak panah dan kerikil kematian mereka untuk melindungi diri. Varl dengan tombaknya yang ia ambil dari tas ajaib. Rupanya pria berambut ikal itu sangat mahir menggunakan tombak yang ujungnya terbuat dari gigi salah satu spirit dragon.


Tubuh Varl sangat lentur dan mampu melakukan trik andalannya seraya memutar tombak yang sudah terukir dengan baik itu dan tentu saja sudah dilapisi sihir miliknya. Beberapa prajurit merasa kewalahan dengan Varl.


“Minggirlah, Nona-nona! Aku tidak tega menyakiti kalian!” Varl berhenti mengarahkan tombaknya. Ia memang segan bertarung dengan wanita sekalipun itu adalah prajurit terlatih milik Charlotte yang kekuatan satu wanita bisa setara dengan seratus pria.


“Jangan remehkan kami!” tolak salah satu prajurit. Ia membidik Varl.


Mendengar itu, Varl terkekeh. “Tugas seorang pria adalah melindungi wanita, Nona. Semakin kalian liar padaku, semakin aku ingin melindungi kalian.”


Seperti biasa, Varl menebarkan pesonanya. Kalimat manis yang terucap dari bibirnya seakan menghipnotis mereka. Sontak saja tiga wanita yang menyerang Varl berpipi merah, tersipu malu.


Namun, orc si pemimpin itu menyadarkan. “Jangan tertipu! Dia hanyalah seorang pria yang bisa menyakiti hati kalian!”


“Oh ya?” Varl memutar tombaknya sejenak lalu menodongkannya pada orc yang tadi berniat menyerang Ellena. “Bukankah kau juga... seorang pria?” Senyum Varl mengembang, tatapannya menantang. Ia tidak gentar sedikit pun meski pada seorang orc yang tubuhnya dua kali lebih besar darinya.


“Cih,” decih sang orc. Ia merasa direndahkan oleh ras manusia biasa, bahkan hanya memiliki Berkah Pengembara saja. Berbeda dengan si orc itu. Di lubuk hatinya, ia pun merasa lebih tinggi. Rasanya ia bisa mengalahkan manusia lemah semacam Varl.


Seringainya pun tak kalah lebar dari pria pengembara itu.


Pertarungan pun kian sengit. Ellena kebingungan, awalnya ia hendak menyerang si orc angkuh itu. Ia bertekad untuk meruntuhkan topeng kesombongan yang sangat memuakkan dari wajah orc. Kesal. Namun, si orc yang sudah termakan hasutan malah berlari ke lawan lain.


Sementara di sisi lain, Steven berdiri dengan tubuh gemetar karena tiga prajurit mengelilinginya seraya menggoda. Ia enggan dan muak, tetapi tak bisa melakukan apa pun. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Steven.


“Hentikan! Hentikan!” racau Steven. Namun, para prajurit itu senantiasa menyentuh Steven tanpa menyerang sedikit pun, membuat pria berstatus pangeran itu seperti mati berdiri.


“Ah, Pangeran Steve mengapa kau bersama cecunguk itu?”


“Sayang, ayo pulang. Kami sudah merindukan Anda.”


“Kenapa Pangeran Steve semakin ganteng saja? Aku sungguh rindu.”


Semuanya menggoda. Melihat itu, Ellena memasang wajah jijik apalagi tampak di sana Steven tak bergerak. Agaknya lelaki itu memang pingsan! Bahkan manik hitamnya tidak tampak!

__ADS_1


Ellena makin kebingungan. Ia berdiri di tengah-tengah kekacauan yang dibuat oleh prajurit istana. Kepalanya jadi pening. Ia muak. Sudahlah, cukupkan saja!


Gadis itu tak suka melihat pertikaian. Suara dentingan antar senjata masing-masing membuat telinga Ellena pengang. Semua saling unjuk kemampuan hingga seakan terbang ke nirwana, merasa hebat.


Hawa semakin mencekam karena diselimuti aura busuk kebanggaan yang merendahkan! Ellena kesal!


Berkah yang mereka punya menjadi suatu hal untuk menyakiti satu sama lain dan mengangkat diri sendiri. Apakah begini cara dunia Wolestria bekerja?


Cukup!


“HENTIKAN!” teriak Ellena. Kedua mata dan telinganya ia tutup, tak mau lagi menyaksikan atau sekadar mendengar pertikaian dua kubu yang saling meninggikan diri sendiri, melawan tanpa sebab.


Sedetik kemudian, angin ribut datang seraya membawa perasaan yang menyesakkan dada. Angin itu memorak-porandakan kota dan juga pasar. Beberapa barang ikut terbang seperti termakan badai angin yang datang setelah teriakan Ellena.


Wus.


Wus.


Wus.


Ellena membuka mata. Kedua netranya bercahaya. Birunya begitu terang dan tajam. “Hentikan semua ini!” kata Ellena dengan tegas di tengah-tengah badai ribut. Ia seperti bukan dirinya lagi. Ellena menyebarkan hawa aneh. Cahaya biru mengelilinginya, sementara matanya menatap tajam pada kebengisan yang tengah terjadi.


Sorot netranya memancarkan kebencian yang terpendam di dalam dirinya. Sementara semua orang berusaha berlindung dari amukan angin yang datang setelah teriakan Ellena. Sedangkan teman-teman Ellena tercengang dengan perubahan sikap Ellena yang menjadi serius.


“Yang Mulia Ratu?” lirih orc tersebut melihat betapa seriusnya Ellena saat ini di tengah amukan badai yang kian menyiksa udara kota, bahkan siap menghancurkan apa saja yang ada di sini.


Tatapan Ellena, sama seperti Charlotte saat ia hendak merapalkan mantra untuk mengangkat istananya ke atas langit. Tatapan kebencian yang sudah terpendam lama, orc itu sangat tahu sebab ia sudah hidup lama dengan Charlotte.


Glek.


Pemimpin prajurit itu meneguk saliva. Kharisma yang terpancar dari diri Ellena sama persis dengan Charlotte. Orc itu berpikir, mungkin saja Charlotte sedang mempengaruhi otak gadis itu.


Namun, orc itu tercengang tatkala melihat punggung tangan Ellena yang tidak terlukis Berkah apa pun. Dalam sekejap, Ellena melemparkan dua puluh prajurit wanita itu hanya dengan menggerakkan tangan kanannya.


Wus.


Seketika semua prajurit terpental dalam satu serangan. Tinggal satu yang tersisa karena ia menahan kekuatan dahsyat Ellena. Ya, hanya orc itu yang tidak berkutik sedikit pun. Namun, matanya masih menatap tak percaya. Ia tertegun pada gadis asing yang berwibawa seperti Charlotte. Bahkan sebenarnya ia juga ikut terpental, tetapi Ellena sengaja menyerang kecil.

__ADS_1


Setelah semua terpental hingga terbatuk saking banyaknya debu yang ikut mengamuk bersama angin, Ellena berjalan ke depan menuju orc yang mematung menatapnya. Sorot mata Ellena masih tajam, menukik pada orc penuh arogan itu.


Tubuh si orc pun gemetar. Kesombongannya runtuh seketika. Badannya menolak untuk melawan. Kekuatan Ellena terlampau besar untuknya. Ia hanya bisa pasrah sebab melawan pun yang ada ia bisa mati. Orc itu tak mau jika alurnya menjadi buruk.


Ia memilih untuk diam seraya menunggu apa yang hendak Ellena lakukan padanya. Mata orc itu terpejam dengan kuat. Keringat dingin tak henti-hentinya membanjiri tubuh. Di dalam hati, orc tersebut berdoa dan berharap bahwa esok ia masih bisa bernapas lagi.


Apakah orc masih bisa hidup?


Apa yang akan Ellena lakukan padanya?


Semua orang menunggu dengan cemas, bahkan mereka menatap tidak percaya pada perubahan Ellena yang ceria menjadi manusia dengan tatapan bak pemburu, tajam dan tak ingin melepaskan mangsanya.


Teman-temannya menduga bahwa Ellena akan melenyapkan orc si angkuh itu. Namun, rupanya tidak.


Ellena memang saat ini tidak sadarkan diri, bahkan ia tak tahu siapa yang mengendalikan tubuhnya. Namun, sekilas terdengar suara Miko yang memanggilnya. Ellena pun mulai tersadar.


Ia mencoba kembali mengambil alih tubuhnya. Kekuatan ini begitu dahsyat, membuat jiwa Ellena dikalahkan oleh kekuatannya sendiri. Meski begitu, Ellena masih bisa kembali lagi.


Dalam sekejap, Ellena tersadar. Namun, ia tercengang tatkala di sekeliling angin mengamuk. Ellena kembali memejamkan matanya.


Kemudian, dia berbisik, “Prohibere!”


Entah mantra dari mana, otak Ellena hanya menemukan satu kata itu dan seketika angin kembali mengalun dengan tenang, tidak kacau seperti sebelumnya. Perlahan, semua kembali membaik, angin ribut telah pergi.


Warga Everfalls pun keluar dari persembunyian. Tubuh mereka masih gemetar, tetapi memandang kagum pada Ellena yang memancarkan sosok seorang ratu laiknya Charlotte. Semua kembali tenang, bibir Ellena mengalun syukur.


Tidak ada yang terluka, tetapi seisi kota porak-poranda. Angin ribut yang muncul secara tiba-tiba itu hampir menghancurkan seisi kota, untung saja Ellena segera sadar. Mungkin bisa jadi Everfalls lenyap seketika jika Ellena tidak kembali mengendalikan tubuhnya.


Ellena menoleh, semua mata tertuju padanya tanpa terkecuali. Gadis itu berdiri di tengah-tengah kota sehingga semua orang mudah melihatnya.


“A-ada apa ini?” heran Ellena. Ia yang sebelumnya menjadi gadis figuran yang penyendiri dan hanya memiliki satu teman, kini ia malah menjadi pusat perhatian seisi kota!


Glek.


Kini keringat dingin mengucur deras di tubuh Ellena. Jantungnya berdegup kencang. Ia gelisah. Di dalam perutnya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan. Ellena menjadi gugup karena semua orang memperhatikannya. Ia benar-benar takut dipelototi orang-orang.


Mendadak, orc bertanya, “Siapa kamu?”

__ADS_1


****


__ADS_2