
Sementara di tempat tadi, Varl membuka matanya. Sebenarnya, Ellena, Varl, Yuya, dan Ciel berada dalam satu ruangan yang sama. Hanya saja, karena lampu redup dan Ellena seperti setengah sadar, ia tidak menyadari akan teman-temannya di tempat itu.
Perlahan, Varl melihat atap yang dihiasi emas murni dengan ukiran bulu merak. Namun, ada satu yang membuatnya terkejut sebelum ia menatap atap itu.
Wajah cantik menghalanginya dari memandang atap. Segera saja, Varl bangkit. “E-Elise?!”
Ia mendapati Elise di pinggir ranjangnya, menatap dengan tatapan sendu bahkan, matanya membengkak. “Tuan, akhirnya Anda bangun.” Elise tampak lega diselingi helaan napasnya yang selama ini berembus sesak.
Kepala Varl menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekitar. Mendadak saja, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia pun mengaduh kesakitan, “Aw!”
Hal itu membuat Elise menjadi panik. “Tuan, kalau Anda masih belum sanggup lebih baik—”
“Di mana Ellena?” tanya Varl seketika, menyergah perhatian Elise yang sangat mengkhawatirkan tuan barunya.
“Aku... aku tidak tahu dia ke mana. Aku baru saja datang karena khawatir kepada Anda dan saat saya masuk, Nona Ellena sudah tidak ada di ranjangnya. Hanya ada Nona Yuya dan Tuan Ciel.”
Varl menoleh pada ranjang Yuya dan Ciel. Masih ada, Varl bersyukur. Namun, saat dia melirik pada ranjang Ellena, gadis itu memang sudah tidak ada!
“Haish, ke mana sih dia?!” Varl mengepalkan tangannya, lalu ia bangkit dengan tekadnya. “Elise, ayo kita segera mencari Ellena!” Tatapan Varl menjadi sangat tajam dipenuhi keyakinan.
“Tapi, kondisi Anda—”
“Tidak perlu mengkhawatirkanku! Sekarang, yang perlu kita pikirkan adalah Ellena!” Varl menaikkan nada suaranya, membuat Elise meringkuk karena tak bisa melawan. “Dengar, ini adalah wilayah Charlotte, jadi... aku khawatir jika Charlotte akan melakukan hal yang buruk lagi kepada Ellena!”
Kepalan tangan Varl semakin kuat, sedangkan diam-diam Elise masih menyimpan kecemasan yang besar kepada tuannya. Namun, perasaan itu seakan berbeda dari sebelumnya. Hubungan antar Tuan dan Pelayan terasa lebih dari itu.
Namun, Elise tidak bisa mengungkapkannya. Alasan malam ini ia tidak bisa tidur adalah karena mencemaskan Varl yang seharian penuh tidak sadarkan diri. Elise hanya ingin menjenguk dan untungnya Varl sudah siuman, tetapi pria itu malah mencemaskan gadis lain.
“Daripada itu, bagaimana jika kita langsung saja menyelesaikan misi Anda, Tuan.” Elise mengalihkan perhatian Varl dari Ellena.
__ADS_1
Kedua alis Varl bertautan, keningnya mengerut. “Apa maksudmu? Ellena—”
Elise menghela napas panjang, lalu ia bangkit dari kursinya. “Aku yakin, Nona Ellena pasti baik-baik saja. Tapi, sekarang adalah kesempatan kita untuk langsung menyerang intinya mumpung ini masih tengah malam,” saran Elise penuh semangat, bahkan matanya sampai berbinar-binar.
Sejenak, Varl berpikir. Ia membandingkan banyak hal, sekiranya mana yang perlu ia selesaikan lebih dulu. Sembari berpikir, ia melirik kepada Yuya dan Ciel yang masih terpejam.
Meski Yuya selalu mengerjainya dengan serangga milik gadis itu, tetapi sebenarnya Varl sudah menganggap Yuya sebagai adiknya, sama seperti pandangannya terhadap Ciel meski ia tidak ada hubungan darah sama sekali dengan bocah elf itu.
Mereka bertemu saat Varl tengah mengembara dan kembali ke kampung halamannya. Mulai saat itu, Varl menyusun rencana epiknya. Namun, selama ini rencana tersebut selalu tertunda apalagi ia jadi banyak bertemu orang-orang.
Walau begitu, Varl tidak menyesalinya apalagi bertemu Ellena yang berasal dari dunia lain. Varl jadi tahu bahwa masih ada dunia selain Wolestria.
Namun, inilah waktu yang tepat untuk beraksi. Bertahun-tahun lamanya menyusun rencana dan ia tinggal bertindak saja, apalagi sudah ada Elise jadi Varl tidak perlu bingung mencari ‘sumber’ masalah itu.
“Baiklah, ayo kita selesaikan malam ini juga.” Seringai Varl mengembang dari sudut bibirnya. Tatapannya tajam seakan sudah melihat masa depan gemilang di depan sana.
Keduanya pun bergegas, keluar dari ruangan itu menuju ‘ruangan’ lain yang sangat rahasia, hanya pelayan-pelayan istana saja yang tahu. Tentu, Elise sang mantan pelayan istana juga sudah tahu di mana letak sumber masalah itu selama ini.
Elise memimpin di depan, menggandeng tangan Varl menuju ke sebuah tempat. Dari belakang, Varl menaruh curiga. “Ada apa ini? Bukankah Elise selama ini tidak pernah mau menurut denganku? Tapi, kenapa sekarang dia malah berinisiatif membantuku?” batin Varl bertanya-tanya.
Pikirannya dipenuhi kelicikan Elise. Ya, ia yang selalu curiga dengan orang yang tak dipercayainya pasti memikirkan tentang kebusukan orang tersebut, padahal tidak semua yang dilihatnya adalah kebenaran.
“Apakah Elise memiliki rencana jahat terhadapku? Haish, kenapa aku berprasangka seperti ini?” Varl mengacak-acak rambutnya sembari terus mengekor pada Elise walau ia tak berniat begitu sebab tangan Elise menggenggamnya kuat.
“Tuan, kita akan melewati jalan pintas saja,” kata Elise dengan senyumnya yang mengembang.
Deg.
Deg.
__ADS_1
Deg.
Jantung Varl mendadak menari gembira melihat seorang gadis cantik dari ras angel tersebut menampakkan senyum termanisnya. Pipi Varl langsung memerah sedangkan dadanya bergemuruh akibat perasaan asing yang mendadak datang bersamaan dengan senyum Elise.
Melihat Varl tampak berbeda, Elise pun berhenti. “Tuan, Anda kenapa? Apakah demam?” tanya Elise, ia mendaratkan telapak tangannya di dahi Varl. Kini, ia mengikis jarak dengan tuannya.
Semakin dekat, makin tampak wajah cantik gadis itu. Bagaimana tidak, Elise juga termasuk ras angel yang terkenal akan kesetiaan dan kecantikan wajahnya.
Saking menggebunya perasaan aneh tersebut, Varl mendorong tubuh Elise. “Tolong jangan dekat-dekat!” Varl memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah semu.
Sementara Elise merasa lemas. “Apakah Tuan Varl tidak menyukaiku?” tanyanya di dalam hati. Jujur, ia kecewa. Namun, ia segera sadar bahwa hubungannya sekarang dengan Varl hanyalah antara tuan dan pelayan saja.
Elise pun mundur pelan-pelan, ia berusaha menyadarkan diri untuk terus membatasi agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan lagi yang mungkin bisa menyakiti hati. Kemudian, Elise pun melanjutkan perjalanan, tetapi kali ini ia tidak menggandeng tangan Varl.
“Sakit sih, tapi... dia adalah tuanku dan aku hanyalah budaknya saja.” Elise menunduk, melihat tanda budak di antara dua tulang belikatnya.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan.
Namun, mendadak ada sebuah ruangan dengan pintu berlapis emas yang dihiasi dengan ukiran bulu merak. Varl langsung berbinar. Tanpa sadar, ia melangkah mendekati pintu tersebut.
“Tuan, jangan ke sana!” sergah Elise. Ia sudah tahu ruang apa itu.
Ruang tersebut bukanlah sebuah ruang. Di balik pintu emas itu, ada alam khusus untuk Charlotte yang hanya bisa dimasuki oleh Charlotte sendiri. Jika ada makhluk lain yang masuk tanpa seizin wanita itu, maka ia tidak akan pernah bisa keluar hingga menjadi bangkai sekalipun.
Sekuat tenaga Elise menarik tangan Varl yang terus melangkah maju dengan mata antusiasnya menatap pintu nan indah tersebut. Jika Varl masuk, maka ia tak akan pernah bertemu pria itu lagi.
“Tuan, tolong jangan masuk!” pinta Elise kuat-kuat. Ia menjelaskan apa yang ada di balik pintu tersebut.
“Benarkah?” Varl sampai bergidik. Ia jadi enggan ke sana karena sangat menyeramkan, pikirnya.
__ADS_1
Namun, mendadak ia mendengar suara Ellena walau samar-samar. Segera saja Varl menembus pintu itu dan masuk dengan secepat kilat. “Ellena!”
****