CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Pahlawan Kemalaman


__ADS_3

“Lepaskan dia atau kau akan bertemu Navi dan Pyon!” Segera, Yuya mengeluarkan dua teman andalannya, seekor tarantula besar dan kelabang yang panjangnya seperti lengan pria dewasa.


Di sebelah Yuya, Varl bergidik ngeri. Ia langsung menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Ruby yang lebih mini dari Yuya. Ruby saat ini tengah melayang di udara dengan sayap kecilnya. Gadis berjambul merah itu pun hanya menepuk jidat atas kelakuan Varl yang bergidik hanya karena dua serangga milik Yuya.


“B-bagaimana bisa kalian sampai di sini?” tanya Ellena segera. Kedua matanya terbelalak dengan hebat. Ia tak menyangka teman-temannya akan datang. Ini keajaiban!


Meski ia sempat tercengang, hatinya tetap berbunga mekar. Ia tersenyum lega, rupanya Ellena memang tidak ditinggal. Ia masih punya teman yang bisa dipercaya.


Ellena memang terkejut akan kedatangan ketiga temannya, tetapi yang paling tak menerima keadaan adalah Gao. Ia mematung sejenak dengan mulut yang membulat sempurna.


Hening.


Tak ada reaksi lebih selain itu. Agaknya lelaki jenius itu tengah mencerna keadaan.


“Cepat lepaskan Ellie, Trenggiling bau!” Yuya kembali menunjuk pada Gao yang masih menganga, didukung oleh tarantula yang barusan ia taruh di atas kepalanya sementara kelabang panjang berada di tangan kirinya.


Bayangan Yuya, Varl, dan Ruby sangat menakjubkan. Ketiganya bermandikan cahaya rembulan yang malam ini tampak bersinar lebih terang. Mereka bak pahlawan kemalaman yang mengagumkan, kedua netra Ellena sampai berbinar penuh harap dan kekaguman.


“Cih, beraninya kalian datang! Darimana ras seperti kalian bisa sampai ke sini?!” Raut wajah Gao menampakkan kekesalan yang begitu dalam. Ia seperti tengah melupakan sesuatu, tetapi malah hal itu ditemukan oleh orang lain.


“Ini bukan masalah ras kuat atau tidak! Semua sama. Di mata Ellie kami, semuanya sama dan tidak ada bedanya! Kami memang ras rendah yang tidak memiliki kejeniusan otak dan kekuatan dahsyat seperti kau! Tapi, kami bisa sampai di sini dengan hati yang besar untuk menyelamatkan teman kami!”


Deg.


Kalimat Yuya si bocah yang berusia tujuh tahunan itu membuat Gao kembali mematung dengan mulutnya yang menganga. Benar juga, meski mereka adalah ras rendah dan tak memiliki kekuatan seperti Gao, tetapi mereka bisa sampai menembus penghalang istana Charlotte demi menyelamatkan teman yang selama ini menyadarkan mereka.


“Tak perlu tercengang seperti itu, Gao.” Mendadak saja Varl mulai membuka mulutnya. Ia kembali ke mode serius meski sebenarnya di sisi lain ia mengabaikan serangga-serangga Yuya. Ah, walau begitu masih tampak! Serangga-serangga itu menggeliat, tetapi Varl berusaha untuk tak melihatnya. “Kami bisa karena kami terbiasa.”


“Apa maksudmu?” Kedua alis Gao bertautan hingga kening lelaki itu mengerut. Agaknya Gao memang kebingungan.


“Tidak peduli setinggi apa ras kita atau sekuat apa kekuatan yang Tuhan berikan lewat Berkah. Setiap ras apa pun di Wolestria sudah memiliki Berkah yang luar biasa. Hanya saja kita perlu menggunakannya secara maksimal.” Varl mengetuk-ketuk pelipisnya. Seringai kemenangan berhias di wajahnya.


Mendengar kalimat Varl, senyum Ellena merekah. Ia merasa lega karena teman-temannya tidak terpaut lagi dengan Berkah dan perbedaan tingkatan ras yang mereka puja selama ini. Berkah hanya sebagai identitas saja, bukan untuk unjuk kesombongan.


Hening.


Gao masih mencoba menerima kalimat Varl.

__ADS_1


“Lagi pula, kau hanya anak angkat yang manja seperti Steven. Kau tidak pernah tahu seberapa keras dunia ini bekerja, wahai Gao The Alchemist!” Varl berjalan mendekat tanpa keraguan. Sementara Gao mulai gemetar.


“Berhenti di situ atau aku akan melakukan—”


“Kau akan melakukan apa, Trenggiling bau?!” sergah Yuya cepat.


“Ellie bukan makhluk yang bisa kau kalahkan begitu saja dengan keegoisanmu!” Yuya mengarahkan Pyon ke arah Gao.


Lelaki alkemis itu menahan amarahnya. Ia tetap berusaha untuk berdiri tegap meskipun musuh menggentarkannya, mengusir segala keberanian yang selama ini dibanggakannya. “Cih, dasar hama-hama kecil! Lawan aku sebelum kalian merebut dia dari—”


Wus.


Belum sempat Gao mengajukan perlawanan, secepat kilat benang putih lengket mengikatnya. Ya, Yuya mengarahkan senjata andalannya yaitu sarang putih lengket yang ia dapatkan dari Navi si tarantula super.


“Kau banyak cakap, Kak.” Yuya memutar bola matanya dengan sungkan.


Sementara di sisi lain, Varl mencoba membuka gembok yang memenjarakan Ellena.


Krak!


Krak!


Krak!


Di sisi lain, Ruby juga membantu. Ia mencoba menguatkan kekuatan ujung tombak yang terbuat dari gigi spirit dragon itu. Wus. Hingga pada akhirnya...


Kratak.


Gembok terbuka dengan sempurna. Semuanya pun tersenyum lega, akhirnya Ellena bisa bebas dengan bantuan teman-temannya. Ia pun segera keluar dari ‘kandang’ yang memenjarakannya sepanjang malam ini.


Sementara itu, Gao yang sudah tergantung dan dililit sarang putih itu terus meronta minta dilepaskan. Sesekali ia memaki Yuya dan teman-temannya. Kesal. Ah, si alkemis jenius itu bisa-bisanya kalah dari gadis kecil.


“Lepaskan aku!” raung Gao. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang sudah tertutup penuh oleh sarang putih dan hanya bersisa kepalanya saja.


Melihat itu, Yuya tertawa dengan puas. Senyumnya begitu lebar. Lagi-lagi ia bisa mengalahkan lelaki yang lebih dewasa darinya. Sungguh, bocah ajaib!


“Ayo, kita segera bergegas!” ajak Ellena cepat. Ia tak mau berlama-lama di sini meskipun ini kesempatan yang bagus untuk menemui Charlotte. Namun, Ellena merasa bahwa dirinya masih belum mempunyai rencana yang matang. Ellena memilih untuk mundur dahulu. Ia bertekad untuk kembali. Ya, ia akan kembali sesegera mungkin.

__ADS_1


Semuanya pun berlari keluar menuju ke lapangan istana. Di sana sudah ada kuda hitam yang pernah menjadi tunggangan Gall si komandan prajurit istana. Kening Ellena mengerut.


“Ini...”


“Ya, dia adalah Kuro si kuda hitam milik Gall.” Varl menjelaskan.


“Tapi, bukankah seekor kuda terbang biasa tidak mampu sampai di atas istana ini? Bagaimana kalian bisa berada di sini?” tanya Ellena yang masih belum memahami rencana Varl dan kawan-kawannya.


Mendengar pertanyaan itu, Varl tersenyum bangga. Ia kembali menebarkan pesonanya dengan mengibas rambut, tetapi Ellena tidak melihat. Ia hanya memperhatikan Kuro si kuda hitam yang saat ini tengah menggigit rumput di tengah lapangan.


“Benar, Nona. Namun, kita menggunakan ini.” Varl kembali menunjuk pelipisnya, membuat Ellena semakin menaruh banyak pertanyaan di otaknya. “Si Gao itu sebenarnya jenius tetapi tidak teliti. Bisa-bisanya dia tak menutup lubang tanah yang menjadi medianya datang menyerang kita.”


Hening.


Ellena baru tersadar!


Ya, benar sekali. Saat Gao datang, ia tidak menggunakan apa pun selain tanah yang dikendalikannya. “Lalu?”


“Kami mengikuti lubang itu dan rupanya itu mengarah pada portal untuk menuju istana ini.”


“Kalian sudah menemukannya?!” Suara Ellena tinggi saking senangnya. Akhirnya mereka menemukan portal penghubung yang menjadi teleportasi antara istana Charlotte dengan abyys Everfalls.


“Sst, suaramu keras sekali, Ellena!” Varl mendaratkan telunjuknya di atas bibir. “Ya, kami sudah menemukannya. Kami sekalian membawa Kuro sebagai jaminan dan juga tumpangan. Di sana, Gall sedang ditahan oleh Leonie. Kau tahu seberapa kuat dia, ‘kan?” Varl tampak bergidik.


Mendengar itu, Ellena terkekeh. Benar-benar kelompok yang sangat unik.


“Ellie, ayo pulang.” Mendadak saja Yuya memegang tangan Ellena yang mulai dingin.


Ellena pun tersenyum lembut, kepalanya mengangguk menyetujui ajakan Yuya yang rautnya menyimpan kecemasan besar terhadap gadis asing dari dunia lain itu.


Kemudian, semuanya pun naik ke atas punggung Kuro. Bersiap, mulai berlari!


Kuro melesat dengan cepat. Langkahnya kencang diiringi suara sepatunya yang seirama. Namun, mendadak saja Varl berguling sementara Kuro masih berlari. Sontak Ellena dan yang lainnya menoleh.


“Varl!”


“Pergilah! Aku akan di sini dahulu! Bawa mereka ke portal, Ruby!” Varl berteriak sebab Kuro kian berlari menjauh.

__ADS_1


Sebenarnya, apa yang akan Varl lakukan?


****


__ADS_2