
Tanpa ragu lagi, Varl berlari ke lain arah. Sementara Kuro si kuda hitam semakin melesat menuju tempat tujuan yang sebenarnya.
Dalam pelariannya, Varl tersenyum puas. Akhirnya ia bisa bebas. “Ah, cepatlah pergi dari sini dan biarkan aku menyelesaikan misiku! Aku sudah tak membutuhkan kalian lagi! Aku punya misi dan caraku sendiri,” batin Varl merasa bangga.
Pria berambut ikal itu terus mengambil langkah panjang, menembus rintangan demi mewujudkan misi. Hatinya yakin, inilah kesempatan emas itu yang sudah lama ia nantikan. Varl tak peduli lagi akan segala hal yang menghalanginya, ia akan menuntaskannya dengan cepat.
Napas Varl terengah. Keringat sudah banjir. Ia tak peduli lagi pada Kuro yang membawa teman-temannya menuju portal tersebut, sebab Varl sudah menaruh kepercayaan pada si kuda hitam itu.
“Aku harus segera menyelesaikan misiku! Aku tak mau mereka tahu!” Varl masih terus berlari. Sesekali ia menoleh pada sudut istana yang kiranya dapat mempercepat tujuannya.
Malam terasa sangat panjang. Inilah kesempatannya mumpung masih berada di tempat yang seharusnya. Varl tak mau menyerah!
Ia berlari menuju ke dalam istana, sesekali ia mengendap bahkan terkadang bersembunyi tatkala dirinya hendak berpapasan dengan pelayan istana. Jantung Varl berdegup begitu kencang. Baru kali ini dirinya yang menjadi seorang pengembara, kini harus bertingkah seperti pencuri kecil.
Hingga pada saatnya, ia hampir saja menabrak salah satu dayang Charlotte yang baru keluar dari sebuah ruangan. Ada dua dayang yang keluar sembari berbincang.
“Semakin hari, Ratu kian tak berekspresi. Aku jadi sedih melihatnya.”
“Benar. Semenjak aku lahir dan rupanya diriku mendapat Berkah dayang istana, aku tak pernah melihat Ratu menangis atau tertawa. Bahkan meski beliau cemas, wajahnya datar.”
Varl terus mendengarkan dua dayang itu. Ia mengekor, terkadang bersembunyi tatkala para dayang menoleh karena merasa ada yang mengikuti.
“Sebenarnya, apa yang membuat Ratu jadi seperti ini, ya?” tanya salah satu dayang yang rambutnya lebih pirang dan panjang.
“Tidak tahu. Aku dengar, di masa lalu seseorang telah mengkhianatinya makanya istana ini melayang sampai sekarang.”
“Sudah berapa lama Ratu hidup?”
“Entahlah, mungkin sudah lebih dari seratus tahun.”
Kedua mata Varl terbelalak mendengar hal ini. Ia semakin ingin tahu tentang Charlotte sebab ada sesuatu yang terasa ganjil.
Apakah benar yang dikatakan para dayang itu?
Namun, Varl tak dapat mendengar banyak berita baru lagi sebab saat ini dua dayang tersebut masuk ke sebuah ruangan khusus dayang. Varl pun berdecih. Ia mengeratkan gigi-giginya. Kesal.
Daripada terus terpaku, ia memilih untuk mencari jawabannya sendiri dan menyelesaikan misi yang selama ini tertunda karena dirinya harus berpura-pura bergabung dengan Ellena dan teman-teman bodoh lainnya.
__ADS_1
“Dimana sebenarnya si sumber kekacauan?!” kesal Varl di dalam hatinya. Tangannya merogoh tas ajaib. Ia mengeluarkan sebuah Specula yang berbentuk seperti kacamata dengan lensa bening yang sudah mengandung sihir pelacak. Specula tersebut juga biasa disebut dengan Magical Tracer, yaitu pencari jejak sihir apa pun.
Varl mengenakannya. Sontak ia melihat aura sihir berwarna hitam yang mengarah ke sebuah tempat. Tentu saja seringai kepuasan tampak di sudut bibirnya. Hati Varl mekar seperti taman bunga.
Ia berhasil!
Ya, tinggal selangkah lagi.
“Aku akan segera mendapatkanmu dan tak lama setelah itu aku akan menghancurkan dirimu! Kesombonganmu sudah cukup sampai sini, aku akan melenyapkan dirimu!” batin Varl berkata dengan yakin tanpa ragu sedikit pun. Ia tak akan kalah!
Perlahan, Varl mengikuti ke mana jejak sihir mengarah. Sesekali ia berlari, terkadang juga mengendap, bahkan Varl bersembunyi tatkala ada orang-orang kerajaan yang tak sengaja bertemu dengannya.
Namun, sudah lama ia mengikuti jejak sihir dengan Specula tetapi ia tak kunjung menemukan sesuatu yang selama ini ia incar.
Apakah Varl akan menyerah begitu saja?
“Tidak, aku tak boleh putus asa! Aku yakin, sebentar lagi aku akan menemukannya!” Varl si pengembara yang sudah banyak melewati rintangan di alam liar pun kali ini berusaha untuk tegar juga. Ia siap menghadapi segala halangan yang ada.
Semakin lama diikuti, jejak sihir hitam itu kian menyesakkan dadanya. Rasa haus, amarah, benci, dan segala hal sifat negatif membuat Varl kesulitan bernapas. Jejak sihir itu agaknya perlahan menyerang Varl.
Rasanya Varl muak melihat energi negatif yang kian berusaha menyelimuti dirinya.
“Aku harus menutup hidung!” Varl mengangkat lengannya dan meletakkannya di atas hidung agar energi sihir yang tersisa itu tidak menghancurkan dirinya.
Varl terus berjalan menyusuri istana dengan mengikuti sisa sihir hitam tersebut. Sesekali ia mendengar suara tawa meski samar-samar, ada juga tangisan, dan paling menyesakkan dada adalah teriakan minta tolong dari beberapa suara.
Ngeri.
Bulu kuduk Varl seketika meremang. Ia merasakan kekalutan di hatinya. Sejenak, ia menutup telinga, tetapi suara-suara yang mencampuri pendengarannya itu amat mengganggu! Ia benci, tetapi dirinya harus tetap tegar demi tercapainya misi yang selama ini sudah ia susun pembalasannya dengan sempurna.
Sekuat tenaga Varl menolak energi negatif itu yang kian lama semakin mengambil alih tubuhnya.
“Argh!” Mendadak saja Varl meraung. Ia sangat tersiksa dengan energi sihir hitam yang teramat kuat ini.
Tubuh pria itu gemetar, keringat kian membasahi tubuh, pikiran juga semakin kacau.
“Hentikan! Tolong hentikan!” Varl terus meracau. Sementara suara-suara itu kian menggema di telinganya. Sesak. Dadanya bahkan kembang kempis tidak karuan. Jantung berdebar hebat.
__ADS_1
Sejenak, Varl berjongkok. Ia kembali melihat sisa sihir yang masih mengarah ke suatu tempat yang ia tak tahu di mana. Varl berusaha mengatur napasnya yang berembus tidak teratur. Sesak. Sekali lagi, Varl merasa dirinya sudah berada di ambang batas.
Apakah ia akan berakhir di sini?
Mendadak, terdengar suara yang memanggilnya meski terkadang teredam bersama suara-suara aneh dari jejak sihir hitam itu.
“Varl! Varl! Bukalah matamu!” lirih suara yang terus memanggilnya. Saat ini, Varl sudah tak sanggup menggerakkan kakinya, ia seperti ditahan oleh sihir hitam yang mengerikan.
“Varl!”
Dalam sekejap, Varl mendelik.
“Tidak, aku harus segera bangkit dan menyelesaikan semuanya demi dia!” Varl berusaha melawan takdir yang membelenggunya. Ia bertekad dengan yakin pada janji yang sudah ia ucapkan untuk seseorang.
Meski tubuhnya mendadak berat, Varl terus melawan arus. Ia tetap memaksa badannya untuk menembus penghalang yang membuatnya lemah. Walau susah, Varl akan tetap berusaha!
“Teruslah berjalan!” Varl semakin memaksa diri, begitu pula jejak energi sihir hitam yang tersiksa itu. Energi negatif kian membesar seakan menahan Varl untuk melangkah lagi.
Varl terus melawan. Ia yakin, dirinya pasti akan sampai!
Namun, rupanya tidak begitu. Jejak energi sihir itu membuat Varl jadi tersesat. Semuanya tiba-tiba saja tampak gelap dan Varl tak dapat melihat apa pun selain aura hitam yang melekat di sekitarnya.
“Aku tak boleh kalah!” Varl semakin melawan. Ia berusaha melewati aura negatif itu. Namun, tindakannya membawa ia ke sebuah tempat yang begitu indah!
Tak sengaja, Varl masuk ke sebuah ruangan. Ia pikir, dirinya sudah bebas dari sihir tersebut dengan bersembunyi di sebuah ruangan yang tak sadar ia temukan.
Ah, memang benar. Saat ini ia tak melihat aura itu dari dalam ruangan ini. Namun, Varl terkejut bukan main. Suasana yang mendamaikan terlalu nyata buatnya!
Beberapa bulu merak putih berceceran di mana-mana. Terdengar tetesan air yang menggema di dalam ruangan. Hening dan damai. Varl suka. Tak hanya itu, bau harum bunga-bunga menyapa hidungnya.
Harum.
Dan juga... menakjubkan.
Namun, “C-Charlotte?!”
****
__ADS_1