
Mentari sudah naik. Cahayanya menyelimuti istana kokoh milik Charlotte. Sayup-sayup terdengar seruan yang menggema. Meski tubuh seperti remuk, sekuat tenaga Ellena membuka matanya.
Terkejutlah ia tatkala melihat ribuan prajurit bersorak ramai mengelilinginya, mereka duduk memenuhi podium.
“Tamatlah riwayat kalian!”
“Hama-hama itu akan mati!”
“Habisi mereka, Yang Mulia!”
Semuanya menyerukan kalimat semangat pada Charlotte yang kini berdiri tak jauh dari Ellena. Kembali terkejut, kini tubuh yang terasa seperti sudah hancur di dalamnya pun terikat bersama dengan teman-temannya yang lain.
“Ada apa ini?” batin Ellena tak menyangka. Ia menoleh ke kanan dan juga kiri, tampak wajah Varl dan Yuya yang masih terpejam. Di belakang Ellena persis, tubuh mungil Ruby juga ikut terikat bersamanya.
Mereka berempat menjadi tontonan para prajurit wanita sebab saat ini tak hanya diikat saja, mereka juga dijemur di tengah lingkaran ubin yang terukir lambang sihir. Sontak kedua mata Ellena kian terbelalak.
Apakah mereka akan menjadi bahan persembahan?
“Varl, Yuya, Ruby! Buka mata kalian!” seru Ellena seraya menggeliat, berusaha melepaskan ikat sihir yang membelenggunya.
Namun tak ada respons. Ellena kian panik. Semua mata tertuju pada Ellena dan teman-temannya yang sudah menjadi buronan istana.
Glek.
Sekali lagi Ellena menelan salivanya. Semua wajah prajurit tampak bersemangat melihat buronan tengah bermandikan cahaya mentari yang menjadi saksi. Mereka terlihat begitu senang. Bagaimana tidak, sumber keresahan Charlotte adalah kelompok Ellena yang seperti hama pengganggu.
“Lepaskan kami!” jerit Ellena. Ia tak mampu melakukan apa pun. Meminta bantuan para angin saja sepertinya tidak bisa. Mereka tak menjawab panggilannya. Apakah kekuatan Ellena disegel?
“Selama kau berada di lingkaran itu, maka Berkah atau kekuatanmu tidak akan berguna.” Mendadak saja Charlotte berkata demikian, menarik perhatian Ellena yang sedari tadi gelisah sebab ia tak dapat melakukan apa pun sementara hukuman segera tiba.
Kedua netra Ellena menangkap sosok Charlotte yang dulunya hanya sekadar hadir di dalam imajinasi Ellena. Masih sama, wajah Charlotte tidak berekspresi dengan rambut perak yang bergelombang begitu indah. Kedua mata Charlotte juga masih meredup seperti hatinya yang kian mati.
Sejenak, Ellena mengagumi keindahan dan keanggunan wanita yang kini menjadi tujuannya. Binar netra gadis dari dunia lain itu bersinar terang menangkap kecantikan wanita yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
__ADS_1
“Cantiknya,” lirih Ellena. Dalam sekejap, ia seperti melupakan penderitaan yang tengah ia alami. Meski ia berkata demikian, tetapi Ellena juga mendapatkan sesuatu yang langsung membuat dadanya terasa sesak.
Melihat gaun hitam yang terpapar sinar mentari itu membuat Ellena tak bisa berkata apa pun. Rasanya sangat menyakitkan. Di sana, Ellena merasakan sebuah penyesalan dan kesedihan yang memancar dari gaun hitam itu.
“Yang Mulia,” panggil Ellena. Sementara Charlotte yang sedari tadi membaca mantra pun tersentak. Suara Ellena terlalu menarik perhatiannya, bahkan membuat ratu penguasa negeri ini menjadi kehilangan fokus.
Hening.
Meski Charlotte tertarik dengan gadis perusuh itu baginya, Charlotte tidak ingin berkata apa pun. Ia menunggu Ellena mengatakan keinginannya sebelum penjatuhan hukuman dilaksanakan.
Ya, saat ini Charlotte hendak menjatuhi hukuman kepada keempat mangsa yang sedari semalam mengacaukan segalanya. Charlotte kadung murka dan ia pun berniat untuk segera melenyapkan hama-hama itu dengan tangannya sendiri.
“Apa Anda ingin menangis?” tanya Ellena membuat Charlotte mengerutkan keningnya, bahkan para prajurit yang tengah menonton dari kursi-kursi podium juga tercengang.
Seorang gadis biasa mengatakan hal yang membuat Charlotte sampai terkejut bukan main. Pertanyaan macam apa itu, pikir mereka. Sebuah pertanyaan lancang yang bisa-bisa mengundang amarah Charlotte.
Hening.
Sang Ratu masih belum mengatakan apa pun meski pertanyaan Ellena sangat menusuk hatinya, tetapi Charlotte bersikap tenang. Mata peraknya menangkap sosok Ellena yang saat ini tengah tersenyum kepadanya.
Hm, bahkan Charlotte saja tidak tahu apa itu ‘tersenyum’. Baginya, semua sama saja. Dunia terasa sangat sepi dan membosankan. Hatinya sudah mati, bahkan untuk merasakan indahnya Everfalls saja Charlotte sudah enggan.
Ia tak butuh wajah polos Ellena. Tanpa menunggu lama lagi, Charlotte mulai merapalkan mantra. Seketika saja, cahaya hitam mulai keluar. Ia kembali menggunakan sihir kutukan yang sama seperti semalam.
Angin kembali ribut. Semua yang melihat upacara penjatuhan hukuman itu tercengang. Mereka berusaha menutup mata dan telinga dari amukan pasir dan angin akibat kemurkaan sang ratu.
Sungguh, mereka berharap bahwa seseorang bisa menghentikan amukan Charlotte, jika amarah ratu mereka tak kunjung mereda, maka bisa-bisa Everfalls akan lenyap seketika tanpa harus menunggu Pohon Atma menghapuskan sejarah Everfalls.
Ngeri.
“Hentikan amarahmu, Ratu Charlotte!” teriak Ellena. Ia kerahkan seluruh tenaganya agar suara yang keluar dari mulutnya dapat terdengar hingga ke telinga sang ratu. “Sadarlah! Kau hanya perlu melawan sesuatu yang mengendalikan tubuhmu!”
Tanpa persiapan.
__ADS_1
Ya, tak pernah terpikirkan oleh Ellena bahwa ia akan mengatakan hal ini. Aksara yang tersusun dan keluar dari mulutnya terjadi begitu saja. Meski begitu, Ellena berharap bahwa Charlotte akan mengerti.
Namun, Charlotte sudah kadung bermuram durja. Kedua mata peraknya menyala. Angin kian ribut bahkan sampai membuat rambut perak Charlotte ikut berkibar. Suasana menjadi tegang. Lagi-lagi angin mengitari mereka.
Meski begitu, Ellena tidak akan gentar. Ia siap melawan ratu negeri ini demi membawanya kembali kepada rakyat yang sudah lama menunggu. Keduanya pun saling menatap meski memiliki arti yang berbeda-beda.
Kacau.
Tanah bahkan bergetar hebat. Di ujung sana, Gao melihat. Ia baru saja keluar dari ruangan penjara bawah tanah setelah semalaman dirinya terlilit benang putih. Kedua matanya pun terbelalak, mulutnya menganga.
“Ratu, hentikan!” teriaknya kemudian. Namun, suara Gao terlampau kecil sebab hembusan angin yang kian murka meredam segala perintah apa pun sebab para angin saat ini hanya tunduk kepada Charlotte.
Ribut.
Semua semakin tak terkendali, tetapi Ellena masih belum berputus asa. Ia akan melawan meski tubuhnya harus hancur karena kemarahan Charlotte.
“Jika Anda butuh teman untuk berbagi, maka saya, Ellena Smith siap menjadi teman Anda, Yang Mulia!” Ellena kembali berteriak. Dirinya berharap, suara yang ia keluarkan hingga membuat otot lehernya menyembul dapat tersampaikan dengan baik ke telinga Charlotte.
Deg.
Seketika Charlotte berhenti merapalkan mantra meski mata peraknya masih menyala. Jantungnya seakan diremas-remas. Banyak bisikan yang mulai memenuhi telinganya. Tiba-tiba saja Charlotte menjadi tak fokus. Amukan angin pun semakin kacau karena lepas kendali.
Teman?
Apakah selama ini Charlotte membutuhkan seorang teman?
Sesak.
Dadanya kian sesak seperti ada sesuatu yang menekan. Bahkan napas Charlotte menjadi tidak karuan. Tubuhnya seperti dikendalikan oleh sesuatu, tetapi ia tak mampu merebutnya kembali.
Keringat dingin pun bercucuran. Charlotte berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan. Sesekali ia meraung kesakitan. Cahaya sihir berwarna hitam kian banyak, mengitari seluruh tempat.
Mendadak.
__ADS_1
“Ellena, kami datang!” Suara Leonie mengejutkan Ellena yang tengah menatap Charlotte dengan iba.
****