CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Budak Baru


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya.


Varl terus mengikuti ke mana aura sihir itu mengarah meski jejaknya menguar ke mana-mana. Ia hanya bisa mengikuti instingnya. Tak peduli seberapa sulit rintangan di depannya, Varl akan menghabisi siapa saja penghalang yang mengganggu.


“Dasar hama!” kata Varl tatkala tiga pelayan istana ras angel yang menghalangi jalannya. Ia menodongkan tombak kesayangan miliknya yang terbuat dari salah satu gigi Spirit Dragon.


Matanya masih menggunakan Specula, sementara cincin perak terus menyalurkan kekuatan yang super dahsyat.


Varl menyeringai licik. “Kalian pikir, otakku tidak kotor, huh?” Semakin para pelayan menunjukkan taringnya, maka semakin liar juga rencana yang ada di pikiran si Varl.


Kretek.


Kretek.


Dua kali Varl mematahkan lehernya, tidak tulangnya. Ia hanya melemaskan otot leher yang menegang.


“Ayo lawan aku!” Varl memberi ancang-ancang. Kakinya membentuk kuda-kuda.


Tanpa menunggu lama, para pelayan itu juga mengeluarkan senjata mereka dari sudut tubuh mana pun sesuai kemampuan mereka. Ada yang keluar dari perut, dada, dan telapak tangan.


Melihat itu, membuat Varl sedikit merinding. Namun, itu tidak membuat dirinya gentar. Senjata itu keluar dari bagian tubuh para pelayan, sama konsepnya dengan tas ajaib.


“Luar biasa,” lirih Varl.


“Jangan banyak cakap, kau manusia bau!” maki salah satu pelayan yang mengepang rambutnya. Tampak cantik, tetapi tatapannya begitu tajam bahkan mengandung kebencian yang mendalam.


Ia memang sudah beberapa kali melawan Varl dan hari ini, dirinya kembali berhadapan dengan musuh yang sama.


“Jujur saja, aku muak melihat—”


“Haish, bilang saja kalau aku tampan, Nona.” Varl berjalan mendekat seraya mengibas rambut ikalnya. Tak lupa, ia mengulas senyum paling oke yang ia punya.


Ketiga pelayan istana itu mematung. Entah mengapa mereka seperti tertahan oleh kekuatan yang lebih dahsyat. Ya, tentu itu adalah efek dari cincin perak yang Varl kenakan di jari tengahnya.


Varl mulai melempar jurus andalannya dengan mengusap lembut dagu tiga wanita itu dalam sekejap. Ia menggoda, seperti biasa. Padahal, sebenarnya mereka bertiga enggan dan sudah muak akan kelakuan Varl.


Bahkan, jika mereka bisa bergerak sedikit pun, maka sudah langsung membiru si wajah Varl itu dalam sekejap. Namun, apalah daya. Mereka sama sekali tak bisa menggerakkan tubuh seakan dibelenggu oleh kekuatan super dahsyat.


Sayap mereka yang lebar di belakang punggung saja tak dapat berkutik. Mereka benar-benar seperti patung, tetapi area wajah masih bisa merespons.

__ADS_1


“Cih,” decih salah satu mereka. Muak. Benar-benar kekalahan telak.


“Jangan kasar seperti itu, Nona. Aku adalah pria paling lembut dan ba—”


“Tidak ada pria baik di dunia ini!” sergah si pelayan berambut kepang. Ia berdiri di tengah-tengah pelayan lainnya. Sungguh, rautnya memasang kebencian. Ia tak bisa memaafkan hama pengganggu sang ratu.


Mendengar makian si pelayan, Varl melirik penuh arti. Senyumnya juga mengembang dengan banyak makna. “Hm, siapa namamu?” tanya Varl seraya memegang dagu si pelayan itu.


“Namaku tidak pen—”


“Sungguh penting, Nona. Jika dirimu tidak memberitahu namamu, bagaimana aku bisa mengatakan apa rencanaku?” ramah Varl.


“Apa kau berjanji akan membeberkan rencanamu setelah aku memberitahu namaku?”


Mendengar itu, Varl sedikit terkekeh. Namun, ia kembali menatap gadis itu. “Tentu, Sayang.”


“Elise. Namaku Elise The Maid. Cepat katakan apa maumu!”


“Sabar.” Varl berdiri dengan tegap, mengangkat dada bidangnya dan menatap ketiga gadis yang menghalangi jalannya. Kemudian, Varl mengarahkan cincin peraknya kepada tiga gadis itu, seketika mereka menjerit kesakitan.


“ARGH!”


Suara mereka menggema, bahkan burung-burung yang tengah bertengger di ranting pohon beterbangan saking terkejutnya. Para hewan kecil di balik rerumputan juga kabur, mereka takut.


Setelah beberapa saat ia menyiksa tiga gadis itu, Varl menghentikan serangan listrik tersebut. Ia kembali menyeringai penuh maksud.


“Sialan!” umpat Elise. Sungguh, ia sebenarnya menyesal sebab telah menyebutkan namanya di hadapan Varl.


“Sekarang dirimu sudah menjadi budakku, Elise.” Varl kian menyeringai. Listrik tersebut adalah sihir perbudakan secara paksa, salah satu sihir terlarang yang sebenarnya tak boleh dirapal oleh ras mana pun sebab hal itu akan membatasi hak orang lain dan bisa jadi disalahgunakan. Syarat untuk melakukannya adalah dengan menyebut nama si calon budak.


Sementara yang tidak menyebutkan namanya akan pingsan selama beberapa saat. Ya, kini yang masih berdiri kokoh hanya Elise. Tubuhnya sudah bisa bergerak, tetapi dirinya tak dapat menyerang tuan barunya.


“Ck. K-kau!”


“Aku tidak berbohong. Aku akan menepati janjiku padamu, Elise.” Varl memasukkan tombaknya ke dalam tas ajaib. Ia memang tak berniat untuk melakukan pertikaian lagi. Jujur, tubuhnya sudah lelah sebab semalam suntuk ia berada dalam ketegangan.


Ini sudah mendekati subuh dan Varl belum mendapatkan apa pun. Ah, sungguh malam yang teramat panjang di dalam hidupnya.


“Katakan apa maumu, baj—”

__ADS_1


“Sst, kasar sekali mulutmu, Nona.” Varl mendaratkan telunjuknya segera di depan bibir Elise, membuat wajah gadis itu memerah sebab Varl mendekatkan juga wajahnya pada gadis itu.


Sebelum mengatakan apa rencana Varl, sejenak pria berambut ikal itu melirik ke sana kemari, bahkan kepalanya tengok ke sana-sini. Ia memeriksa apakah di sekitar sudah aman atau belum.


Setelah memastikan, Varl mulai bersikap serius. “Cepat katakan kepadaku di mana ‘itu’ berada?” tanyanya. Tatapan Varl tajam mengarah pada kedua mata Elise yang maniknya secerah langit siang Everfalls.


Bukannya langsung menjawab, Elise malah bersedekap. Kemudian, gadis itu terkekeh. “Hahaha, jangan bodoh! Aku tak akan—”


Mendadak saja...


Blizzrt.


Aliran listrik menyerang sekujur tubuhnya, membuat ia tersiksa selama beberapa detik. Setelah itu, napas Elise tersengal. Dadanya naik turun. Sementara Varl hanya menatap saja, tanpa berekspresi.


Jujur, sebenarnya ia merasa kasihan dan bersalah sebab melakukan hal ini. Namun, jika tidak dilakukan, maka ia tidak akan pernah tahu tempat yang selama ini ditujunya. Istana Everfalls terlalu luas. Varl tak bisa menjelajahinya hanya semalam saja.


“Aku sudah bilang ‘kan bahwa kau sekarang budakku.” Telunjuk Varl mendarat tepat di bawah kedua tulang belikat Elise. Di sana ada tanda seperti ukiran tajam. Sementara di tengah ukiran itu ada tanda Berkah Varl yang seperti mata angin, tetapi lebih kecil.


Tanda itu mengartikan bahwa Elise adalah budak Varl. Tidak ada yang bisa memutuskan hubungan itu kecuali taruhannya adalah nyawa. Itulah sebabnya juga mengapa sihir perbudakan sangat dilarang.


“Jika dirimu melawan, maka sengatan itu akan menyiksamu hingga kau mati.” Tatapan Varl kian tajam kepada gadis itu. “Berhentilah menyakiti dirimu dan ikuti apa mauku.”


Setelah mengatakan itu, Varl berlalu sedangkan Elise mau tak mau mengekor kepada tuannya.


“Tunjukkan aku di mana tempat Kristal Keabadian itu berada!” pinta Varl dengan suara lantangnya, bahkan sampai membuat Elise terperanjat.


“Tak mau!” Langkah Elise terhenti. Dalam hitungan detik, sengatan listrik mulai menyerangnya.


Blizzrt.


Elise sampai mengigil, membuat Varl jadi cemas. Ia segera menangkap tubuh Elise yang hampir limbung. “Apa kamu bodoh, huh?! Nilai Kehidupanmu bisa berkurang!” Suara Varl begitu keras.


Ia berdecih beberapa kali, merasa kesal dengan kelakuan si Elise. “Apa salahnya kau sedikit menurut?!”


Cukup.


Varl tak mau melihat kesakitan lagi. Sudah banyak orang yang menderita hanya karena keegoisan satu pihak. Sungguh, di lubuk hati yang paling dalam, Varl banyak-banyak minta maaf sebab ia telah melakukan sihir terlarang pada Elise sampai gadis itu menderita karenanya.


Pria itu tahu, dirinya amat gegabah. Namun, hanya ini cara yang terpikirkan olehnya tanpa mengulas dua kali. Sekali dapat, ia langsung laksanakan.

__ADS_1


Namun, mendadak saja Ellena muncul dan memergoki dirinya. “Varl, apa yang sedang kau lakukan?!”


****


__ADS_2