
“Mau ke mana kau malam-malam begini?” Varl bertanya lagi. Sementara Ellena hanya mematung. Saat ini, ia tidak berani menatap wajah Varl. Sudah pasti Ellena menampilkan ekspresi yang mencurigakan, sebab gadis itu tak pandai berbohong.
Hening.
Ellena masih bungkam dan belum berani menghadap ke arah Varl. Namun, mendadak saja terlintas sedikit memori yang muncul. Ia ingat bahwa Mae pernah menyuruhnya untuk selalu berani menghadapi masalah yang ada di depan, jangan lari. Begitulah kiranya nasihat elf itu.
Glek.
Sesekali Ellena meneguk ludahnya, mencoba membasahi tenggorokan yang terasa mengering saking terkejutnya. Dengan tubuh gemetar, perlahan ia menoleh ke belakang, bersiap menghadapi Varl dan pertanyaannya.
“Mau ke mana kamu?” tanya Varl lagi tatkala Ellena sudah menunjukkan wajahnya tepat di hadapan Varl. Keringat dingin mengucur, bibir Ellena mendadak kelu.
“A-aku... aku mau...” Sejenak Ellena menjeda kalimatnya. Tatapannya tunduk ke bawah, tak berani menatap langsung pada Varl yang kini tengah menginterogasinya. “I-ini bukan urusanmu! Aku... aku hanya ingin mencari angin.”
“Dengan jubah? Mengapa kau keluar dengan jubahmu seakan dirimu hendak pergi jauh?” Varl semakin melempar banyak kecurigaan pada Ellena. Sungguh, ia saat ini benar-benar menuntut jawaban gadis dari dunia lain itu.
Mendadak.
“Varl... Varl, di mana kamu?” teriak seseorang. Raut wajah Varl berubah seketika, tampak resah.
“Itu suara Ciel, ya?” tebak Ellena dengan benar. Tentu itu adalah suara Ciel. Ellena baru ingat bahwa Ciel adalah nama yang pernah Varl sebut tatkala pria itu bertelepati saat ada Manta si pari besar datang ke Everfalls. Segera, Ellena baru tahu bahwa Ciel adalah salah satu kerabat Varl bahkan sampai saling bertukar darah di atas tanda Berkah untuk bisa bertelepati.
Mendengar pertanyaan itu, Varl melirik sinis. “Bukan urusanmu!” katanya dengan dingin. Setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan Ellena di lobi penginapan itu.
Fyuh.
Ellena menghela napas lega. Hatinya amat bersyukur sebab Ciel secara tidak sengaja menyelamatkannya dari terkaman Varl yang begitu menekan. Untung saja Ciel sudah seperti seorang anak yang sangat menempel pada ayahnya.
Sejenak Ellena tersenyum simpul mengingat betapa menggemaskannya wajah Ciel. “Pasti Varl sangat menyayanginya. Pria itu bahkan tidak bisa mengatakan tidak pada Ciel.” Lagi, kali ini Ellena sedikit terkekeh atas hubungan unik dua orang itu.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi lagi, Ellena kembali melangkah untuk melaksanakan misinya dengan segera. Ia sudah tak sabar lagi jika harus menunda. Charlotte harus segera dibawa kembali kepada rakyat, jika tidak, maka seluruh keindahan dan rakyat Everfalls akan segera dihapuskan oleh Pohon Atma.
Ellena menuju ke kandang Manu dan Kuro. Ia membuka pintu kandang dan mengeluarkan Kuro. Melihat itu, Manu meringkik.
“Ngiik.”
Meski tidak tahu apa yang tengah disampaikan oleh kuda putih tersebut, Ellena menjawab, “Maaf ya, aku bawa Kuro dulu. Kamu jangan bilang siapa-siapa. Oke?” Setelah mengatakan hal tersebut, Ellena mengelus kepala Manu dengan lembut, membuat kuda itu nyengir.
Ellena segera menaiki punggung Kuro setelah ia menutup pintu kandang. Beberapa kali matanya tajam mengawasi barangkali ada seseorang yang melihatnya. Setelah dirasa aman, ia menyuruh Kuro untuk berlari meninggalkan tempat penginapan.
Jujur saja, sebenarnya Ellena tidak tahu harus ke mana untuk menuju ke istana Charlotte. Namun, ia yakin bahwa pasti ada jalan di depan sana yang tidak banyak diketahui orang.
Ellena terus melaju bersama dengan Kuro menembus kota yang diliputi malam dengan bintang-bintang. Wus. Secepat kilat mereka melewati banyak hal. Hingga pada ujung kota, Kuro mulai mengepakkan sayapnya yang lebar.
Wus.
Mereka pun terbang dengan perlahan seraya masih memikirkan banyak cara untuk bisa menggapai istana Charlotte yang ada di atas sana.
Wus.
Angin mendorong mereka untuk terus terbang ke atas. Dalam hati Ellena, ia sungguh berharap akan terjadi keajaiban. Namun, mendadak saja kekuatan Kuro melemah padahal tinggal sebentar lagi mereka sampai di istana Charlotte.
Kuro tak sanggup lagi untuk terbang ke atas, ia memilih untuk terjun. Jika saja ia bisa bicara, maka sungguh Kuro ingin meminta maaf. Namun, Ellena tahu bahwa tindakannya ini terlalu gegabah.
“Terra.” Ellena memerintahkan Kuro untuk mendarat saja dengan memasang wajah yang sedikit kecewa dan suara yang keluar dari mulutnya terdengar amat lesu. Bagaimana tidak, ia masih belum bisa meraih istana Charlotte meski dengan paksaan dan rencana yang tidak matang.
Tanpa menolak sedikit pun, Kuro pun mendarat di tepi bukit. Ellena turun dari punggung Kuro. Berulang kali dirinya menghela napas, sementara pikirannya amat kalut dengan rencana yang belum tentu berhasil.
Sebenarnya, Ellena tidak memiliki rencana yang matang, tetapi dirinya tidak bisa menunggu lagi. Charlotte harus segera dibawa kembali pada rakyat.
__ADS_1
Tatapan Ellena menunduk, sungguh ia sangat kecewa. Ah, padahal sebelumnya ia sudah berhasil menerobos masuk walau dengan cara diculik oleh Gao. Namun, ia telah melakukan kesalahan sebelum dimulai. Charlotte membuangnya tanpa belas kasihan.
“Sakit,” lirih Ellena. Bulir bening secara perlahan meluruh, membasahi pipinya. Jika diingat, Ellena juga merasakan betapa ratu penguasa negeri ini amat menderita di balik gaun hitam penuh kesedihan itu.
Ellena sangat merasakan perasaan aneh itu, bahkan melihat wajah datar tanpa ekspresi milik Charlotte membuat hati Ellena seakan diremas-remas, sesak.
“Aku ingin melihat senyumnya, aku ingin tahu bagaimana dia menangis, dan bagaimana caranya dia tertawa. Aku ingin melihat semuanya.” Pecah. Tangis Ellena kian meruah. Ia tak sanggup lagi. Rasanya ingin sekali ia segera membawa Charlotte.
Di bawah rembulan nan bersinar begitu terang, Ellena terus menangis disaksikan oleh para bintang. Sedih dan juga... kecewa. Ia yang hampir saja berhasil malah meratapi kegagalannya.
Mendadak, Kuro meringkik dengan keras. Namun, Ellena tidak menggubris. Ia sudah sangat terlarut dengan kesedihan yang mendalam akan kegagalannya membawa Charlotte. Sekuat apa pun dan seberani bagaimana pun, Ellena masih belum bisa melaksanakan misi itu.
“Ngiik.” Lagi, Kuro kembali meringkik seakan hendak mengatakan sesuatu kepada Ellena. Namun, tetap saja gadis itu masih sibuk dengan tangisnya.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Hingga pada akhirnya...
Bug!
Kuro menendang Ellena hingga gadis itu mencium tanah. Kuro sedikit kesal akan Ellena yang abai terhadapnya. Kepala Kuro menunjukkan sesuatu di depan sana. Sementara Ellena bangkit meski sedikit memaki dan merintih kesakitan, bahkan wajah Ellena penuh dengan dedaunan kering yang menempel sebab sebelumnya wajah Ellena basah karena air mata.
Di depan sana, tak jauh dari mereka ada angin beliung kecil yang berputar seraya membawa beberapa daun kecil juga. Mereka seakan ingin mengatakan sesuatu kepada Ellena. Segera, Ellena memfokuskan pendengarannya.
Gadis itu memejamkan mata dan menajamkan telinganya untuk segera mendengar informasi apa yang disampaikan oleh angin beliung kecil ini.
__ADS_1
Mereka mencoba berbicara kepada Ellena. “Kami akan membantumu, Ellena.”
****